Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Malam itu, Paviliun Matahari Terbit berubah menjadi sarang penyiksaan yang berbau wangi.
“Yang Mulia, angkat lengan Anda,” perintah Nira sambil menarik kain sutra emas yang beratnya mungkin setara dengan satu karung beras.
Elara membiarkan tubuhnya dipasung dalam gaun upacara tingkat dua. Rambutnya disanggul dengan gaya Phoenix Terbang, yang berarti setidaknya dua puluh jepitan giok ditancapkan ke kepalanya. Jika ia menunduk terlalu cepat, ia yakin giok-giok itu akan jatuh dan memecahkan lantai marmer.
“Nira,” gumam Elara, suaranya terdengar tertahan oleh kerah gaun yang terlalu ketat. “Apakah Kaisar benar-benar butuh aku di perjamuan malam ini? Katakan padanya aku sedang batuk darah. Atau muntah darah. Apalah yang berbau darah.”
“Tidak bisa, Yang Mulia,” jawab Nira sambil merapikan selendang Elara. “Utusan dari Kekaisaran Utara baru tiba. Kaisar memerintahkan semua selir di sayap utama untuk hadir. Jika Yang Mulia absen, Kepala Pelayan akan…”
“Akan mencambukku. Ya, aku ingat,” potong Elara pasrah. “Tapi dengar, Nira. Nanti malam, tugas utamaku hanya satu: duduk di sudut paling gelap, menatap piring, dan mengunyah makanan tanpa bersuara. Kau harus membantuku.”
“Membantu Yang Mulia bagaimana?”
“Jika ada yang mengajakku bicara, pura-puralah aku sedang mengalami efek samping racun yang membuatku bisu sementara.”
Nira menelan ludah, tampak ngeri membayangkan kebohongan tingkat tinggi tersebut.
***
Aula Perjamuan Kenegaraan berkilauan oleh ribuan lilin dan perhiasan. Elara berjalan tertatih-tatih mengikuti rombongan selir, mencari kursi yang paling jauh dari singgasana Kaisar. Ia menemukan sebuah kursi di ujung belakang, di dekat pilar, yang nyaris tertutup oleh tanaman hias.
Sempurna, di sini aku bisa tidur dengan aman.
Ia baru saja duduk dan meraih sepotong panggang bebek dari piring sajian di meja ketika suara pengumuman bergema.
“Kaisar Lucian, Penguasa Aethelgard!”
Seluruh aula berdiri. Elara ikut berdiri, mengunyah bebeknya dengan cepat agar tidak ketahuan, dan menelan paksa. Rasanya enak, tapi ia hampir tersedak.
Kaisar Lucian duduk di singgasana, tampak megah dan menakutkan dalam jubah hitam dan emasnya. Di sisi kanannya, duduk Putri Mahkota Aurelia, tersenyum anggun namun matanya menyapu ruangan dengan tajam.
Dan kemudian, mata Kaisar Lucian bergerak. Ia menatap kursi-kursi di dekatnya. Kosong. Ia menatap ke belakang. Matanya terkunci pada Elara yang sedang menyeka sudut bibirnya dengan sapu tangan.
Kaisar tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat satu jari.
Kepala Pelayan langsung berbisik pada seorang pengawal, yang kemudian berjalan cepat menuju sudut ruangan.
“Selir Elara,” panggil pengawal itu dengan suara keras. “Kaisar memerintahkan Anda untuk pindah ke kursi di sebelah kanan Yang Mulia.”
Seluruh aula menoleh. Bisik-bisik langsung terdengar.
Elara menatap piring bebeknya dengan tatapan duka cita yang mendalam. Selamat tinggal, bebek panggang. Aku harus pindah ke meja para politikus.
Dengan langkah gontai, Elara berjalan membelah aula. Ia bisa merasakan tatapan Aurelia yang menusuk punggungnya seperti jarum. Ketika Elara duduk di sebelah Kaisar, ia langsung menunduk, menatap meja, dan berusaha menjadi sekecil mungkin.
“Kau terlambat,” bisik Kaisar Lucian tanpa menoleh, suaranya hanya terdengar oleh Elara.
“Saya sedang berlatih seni menyatu dengan lingkungan, Yang Mulia,” bisik Elara balik. “Tapi sepertinya bakat saya ketahuan.”
Sudut bibir Kaisar berkedut, namun ia kembali menatap ke depan saat Utusan Utara berdiri.
Utusan itu adalah pria bertubuh besar dengan jubah bulu serigala. Ia tersenyum arogan. “Yang Mulia Kaisar. Sebagai tanda persahabatan, Khan kami membawa sebuah teka-teki. Jika Aethelgard bisa menjawabnya, kami akan menurunkan tarif perdagangan di perbatasan utara sebesar sepuluh persen.”
Para menteri saling berpandangan. Ini adalah jebakan diplomatik.
“Silakan sampaikan teka-teki itu,” ucap Kaisar Lucian datar.
Utusan itu mengangkat tangan. “Di perbatasan kita, ada Sungai Biru. Setiap musim semi, sungai itu meluap dan menghancurkan ladang gandum di kedua sisi perbatasan. Para cendekiawan kami telah berdebat selama sepuluh tahun. Ada yang bilang itu kutukan dewa sungai, ada yang bilang kita harus membangun kuil, ada yang bilang kita harus mengorbankan perawan saat festival musim semi. Pertanyaannya: Bagaimana Aethelgard yang bijaksana menyelesaikan kemarahan Sungai Biru?”
Aula menjadi hening. Para menteri mulai berbisik.
Menteri Keuangan maju ke depan dan memberikan pidato panjang tentang alokasi dana untuk membangun kuil dan memberikan subsidi kepada petani. Menteri Pekerjaan Umum maju dan mengusulkan pembangunan tembok raksasa yang biayanya akan menguras kas negara selama satu dekade.
Utusan Utara tertawa meremehkan. “Jawaban yang bertele-tele. Aethelgard terlalu takut pada alam.”
Aurelia, yang duduk di sisi kiri Kaisar, tersenyum manis. Ia melihat ini sebagai kesempatan emas.
“Yang Mulia,” suara Aurelia terdengar merdu. “Hamba mendengar bahwa Selir Elara baru-baru ini menunjukkan... kebijaksanaan yang tidak biasa. Mungkin Yang Mulia bisa meminta pendapatnya? Sebagai simbol bahwa kebijaksanaan Kaisar merasuk hingga ke kamar tidur.”
Elara, yang sedang sibuk mengupas anggur, langsung berhenti. Ia menatap Aurelia dengan tatapan datar. Wanita ini benar-benar ingin menjatuhkanku. Dia ingin aku terlihat bodoh di depan utusan asing.