Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Malam Pengakuan
Suasana di dalam kediaman utama keluarga Adijaya terasa sangat meriah. Malam ini adalah perayaan ulang tahun Kakek Surya yang ke-80. Deretan mobil mewah terparkir rapi di sepanjang pelataran, dan ratusan tamu dari kalangan pejabat serta pengusaha papan atas berkumpul untuk memberikan penghormatan pada sang legenda bisnis tersebut.
Aura Dania berdiri di depan cermin besar ruang rias khusus. Ia mengenakan gaun malam berwarna biru navy berbahan sutra lembut dengan aksen bordir emas tipis di bagian lengan. Gaun itu tidak mencolok, namun terpancar keanggunan yang sangat berkelas dari balik kesederhanaannya.
Pintu ruangan terbuka. Evan melangkah masuk dengan setelan tuxedo senada. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak, menatap bayangan Aura dari cermin dengan mata penuh rasa kagum yang tak lagi ia sembunyikan.
"Kau tampak sangat cantik malam ini," puji Evan pelan.
Aura menoleh, pipinya memerah hangat. Pria yang dulunya bersikap sedingin es ini kini tak ragu lagi melontarkan pujian tulus padanya.
"Terima kasih, Evan," jawab Aura malu-malu. Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangannya untuk merapikan dasi kupu-kupu Evan yang sedikit miring. "Bagaimana dengan kondisi Kakek?"
"Kakek sangat senang. Sejak tadi beliau terus menanyakan keberadaanmu," ujar Evan seraya menahan tangan Aura yang sedang merapikan dasinya, lalu menggenggam jemari wanita itu rapat-rapat. "Aura... soal kejadian di kafe kemarin..."
Aura menatap iris mata cokelat gelap Evan.
"...aku sungguh-sungguh dengan ucapanku," sambung Evan dengan suara rendah yang dalam. "Kau bukan lagi sekadar pelengkap kontrak bagiku. Kehadiranmu di rumah ini, perhatianmu, dan keberanianmu... telah mengubah segalanya."
Dada Aura berdesir hebat. Kata-kata itu meluncur begitu jujur dari bibir sang Presdir berdarah dingin. Sebelum Aura sempat membalas, pintu ruang rias diketuk pelan oleh Bimo.
"Tuan Presdir, Nyonya Aura... acara pemotongan tumpeng dan pengumuman saham akan segera dimulai," lapor Bimo dari luar.
Evan mengangguk. Ia menatap Aura sekali lagi, memamerkan senyuman tipis yang sangat tampan. "Mari kita temui Kakek."
Mereka melangkah bersama menuju ballroom utama. Sorot lampu dan tepuk tangan meriah menyambut kedatangan Evan dan Aura saat mereka berjalan bergandengan tangan menuju panggung utama tempat Kakek Surya duduk di kursi rodanya.
Siska Adijaya (ibu tiri Evan) berdiri di sudut panggung dengan wajah duka dan penuh kekalahan. Setelah kejadian Clara ditangkap dan aset keluarga Clara disita, Siska tahu ia telah kehilangan semua kartu as untuk menjatuhkan Evan. Raka, putranya, hanya bisa menunduk tak berani menatap mata Evan.
"Selamat ulang tahun yang ke-80, Kakek," ucap Evan seraya membungkuk dan memeluk sang Kakek penuh hangat.
Aura ikut berlutut di samping kursi roda Kakek Surya, menyerahkan sebuah kado sederhana: sebuah syal wol buatan tangannya sendiri yang ia rajut di waktu luangnya selama di penthouse.
"Selamat ulang tahun, Kakek. Semoga Kakek selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan," doa Aura tulus.
Kakek Surya membuka hadiah tersebut. Senyum haru mengembang di wajah tuanya saat menyentuh rajutan wol yang hangat dan lembut itu.
"Terima kasih, Nak Aura," ujar Kakek Surya seraya mengusap lembut kepala Aura. Pria tua itu kemudian meraih pengeras suara di sampingnya, membuat seluruh ruangan seketika hening.
"Hadirin sekalian," suara Kakek Surya mengudara tegas melalui pengeras suara. "Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan bagi saya. Di usia yang ke-80 ini, saya melihat cucu kesayangan saya, Evan Adijaya, telah menemukan pasangan hidup yang tulus, bijaksana, dan berhati mulia seperti Aura."
Tepuk tangan meriah kembali bergema.
"Sesuai dengan janji saya," lanjut Kakek Surya seraya mengisyaratkan pengacara pribadi keluarga untuk maju membawa seberkas dokumen resmi, "hari ini saya meresmikan pengalihan 30% saham utama Adijaya Group atas nama Evan Adijaya, sekaligus menetapkannya secara mutlak sebagai Komisaris Utama baru Adijaya Group!"
Seruan kagum dan tepuk tangan riuh memenuhi seluruh ballroom. Evan resmi memegang kendali penuh atas kekaisaran bisnis Adijaya.
Evan menandatangani berkas pengalihan saham tersebut di atas panggung di hadapan seluruh tamu undangan. Namun, begitu prosesi hukum selesai, Evan kembali mengambil pengeras suara. Tatapannya tidak tertuju pada para investor atau media, melainkan lurus pada Aura yang berdiri di sampingnya.
"Terima kasih atas kepercayaan Kakek," ucap Evan mantap. "Namun, kesuksesan dan takhta ini tidak akan ada artinya tanpa wanita yang berdiri di sampingku malam ini."
Aura tertegun. Jantungnya berdegup kencang.
Evan melangkah mendekati Aura, menggenggam kedua tangan wanita itu di hadapan ratusan pasang mata yang menyaksikan.
"Dua bulan lalu, aku berpikir bahwa pernikahan hanyalah sebuah transaksi bisnis dan lembaran kertas perjanjian," suara Evan terdengar begitu emosional dan jujur. "Tapi Aura Dania mengajariku bahwa pernikahan adalah tentang saling melengkapi, melindungi, dan mencintai. Malam ini, di depan Kakek dan seluruh tamu yang hadir, aku ingin menyatakan bahwa Aura bukan hanya istri sahku di atas kertas, tapi dia adalah pemilik tunggal dari hatiku."
Aura menahan napas, air mata kebahagiaan menetes perlahan membasahi pipinya. Rasa haru dan cinta yang selama ini ia tekan di dalam dadanya akhirnya pecah sepenuhnya.
Evan mengusap air mata di pipi Aura dengan ibu jarinya, lalu menundukkan kepala dan mengecup dahi Aura dengan sangat lembut dan lama sebuah kecupan tulus yang menandai berakhirnya kepura-puraan di antara mereka dan dimulainya kisah cinta sejati yang sesungguhnya.
______
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...