NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:718
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Jalan Di Kampung

BAB 16

Mentari pagi di Desa Kertajaya memancarkan pendar keemasan yang hangat, menembus celah-celah dedaunan pohon mangga di halaman depan kos Bu Ratna. Suara radio transistor milik tetangga sebelah yang memutar tembang campursari bercampur dengan deru mesin traktor petani di kejauhan dan suara kecipak air dari kamar mandi umum lantai bawah. Hari baru telah dimulai, dan suasana di kamar nomor empat kali ini tidak lagi dipenuhi kepanikan soal uang sewa.

Raka merapikan kemeja flanelnya yang sudah agak pudar di dekat meja kecil, sementara Bayu sedang sibuk menyisir rambutnya di depan cermin kecil berbingkai plastik merah yang digantung di dinding. Dimas duduk tenang di tepi kasur sambil mengenakan sepatu ketsnya yang sudah mengelupas di bagian depan.

Di sudut ruangan, Zahmira berdiri dengan anggun mengenakan gaun ungu panjang yang sulaman benang emasnya berkilau lembut diterpa cahaya pagi.

Sejak kejadian pisang goreng semalam, sang putri jin tampak lebih banyak diam, meskipun sorot matanya yang tajam tetap mengawasi setiap gerak-gerik tiga pemuda di depannya dengan rasa penasaran yang tersembunyi.

"Hari ini kita harus cari tambahan kerjaan lagi, entah itu jadi buruh panggul di pasar atau bantu-bantu di gudang Pak RT," ucap Raka sambil memasukkan beberapa lembar brosur lowongan kerja ke dalam tas ransel kusamnya. Ia menoleh ke arah Zahmira.

"Mbak Zahmira, berhubung siang ini kamar mau dibersihkan sama Bu Ratna pakai sapu lidi, mau nggak mau Mbak harus ikut kami keluar sebentar."

Zahmira langsung mengangkat dagunya tinggi-tinggi, melirik Raka dengan sebelah alis terangkat.

"Ikut keluar? Ke dunia luar yang bising dan penuh debu itu? Enak saja! Aku adalah bangsawan dari alam gaib, bukan gelandangan yang suka berkeliaran di jalanan kampung."

"Bukannya jadi gelandangan, Mbak," potong Bayu sambil menyemprotkan minyak rambut murahan ke telapak tangannya.

"Kalau Mbak tetap di dalam kamar sendirian pas Bu Ratna masuk bawa sapu lidi, nanti dikira ada penampakan kuntilanak nyasar. Bisa-bisa kamar kita disiram air kembang tujuh rupa sama beliau. Mau?"

Zahmira terdiam sejenak. Meskipun ia tidak tahu siapa itu kuntilanak, ancaman disiram air kembang oleh perempuan berdaster hijau lumut yang galak itu sepertinya bukan hal yang menyenangkan.

Dengan wajah cemberut dan gestur anggun yang dipaksakan, ia akhirnya mendengus pelan.

"Baiklah! Tapi ingat, jangan biarkan orang-orang fana itu menyentuh gaunku sedikit pun."

Sepuluh menit kemudian, rombongan kecil itu keluar dari area kos. Raka berjalan di depan, diikuti Dimas dan Bayu, sementara Zahmira berjalan di belakang mereka dengan langkah anggun, sesekali mengangkat sedikit ujung gaun ungunya agar tidak menyentuh jalan desa yang agak becek.

Suasana pagi di Desa Kertajaya tampak sangat hidup. Di sepanjang jalan setapak berbatu, anak-anak berseragam merah putih berlari kecil sambil tertawa riang menuju sekolah dasar setempat. Di teras rumah panggung bercat biru, seorang ibu paruh baya tampak sibuk menampi beras menggunakan tampah bambu, sementara asap tipis mengepul dari dapur rumah sebelah tempat warga merebus air gula aren.

Zahmira mengamati setiap sudut desa itu dengan mata terbelalak kagum yang berusaha ia tutupi di balik ekspresi dinginnya. Bagi seorang putri jin yang sepanjang hidupnya dikelilingi kehidupan istana yang serba mewah, dunia manusia ternyata sangat bising, penuh warna, dan dipenuhi aroma kehidupan yang begitu pekat mulai dari bau tanah basah, aroma masakan tumis teri, hingga wangi sabun mandi murah yang menguar dari rumah-rumah warga.

"Heh, itu benda kotak yang menyala di tangan anak-anak itu apa?" bisik Zahmira tiba-tiba, mendekatkan wajahnya ke bahu Raka sambil menunjuk dua orang anak kecil yang sedang asyik menatap layar ponsel pintar di teras warung.

Raka menoleh sebentar, tersenyum tipis melihat rasa penasaran sang putri jin. "Itu namanya smartphone, Mbak. Alat komunikasi jarak jauh."

Zahmira mengerutkan keningnya tidak suka. "Jadi benda itu bisa membuat manusia berbicara dari tempat yang jauh?"

"Betul, Mbak," sahut Bayu yang berjalan di sisi sebelah kiri. "Lewat benda itu, anak-anak bisa nonton video atau kirim pesan."

"Teknologi manusia benar-benar aneh," cibir Zahmira pelan.

Mereka terus berjalan menyusuri jalan desa menuju kawasan pasar kecil dekat balai desa. Suasana di sekitar pasar tampak jauh lebih padat dan ramai.

Suara tawar-menawar antara pembeli dan penjual sayur berpadu dengan deru mesin angkutan umum tua yang melintas pelan.

Di tengah perjalanan, langkah Raka tiba-tiba terhenti di dekat sebuah warung kopi sederhana beratap terpal biru milik Pak Jaya, seorang lelaki paruh baya berperut buncit yang sedang sibuk menyeduh kopi di balik meja kayu.

"Eh, Raka! Pagi-pagi sudah kelihatan ganteng aja bertiga. Mau cari muatan apa lagi hari ini?" sapa Pak Jaya ramah sambil mengangkat cangkir kopi hitamnya.

"Pagi juga, Pak Jaya! Belum tahu nih, lagi keliling cari kerjaan harian sekalian jalan-jalan," jawab Raka sedikit salah tingkah.

Pak Jaya tertawa terbahak-bahak. "Oh ya, kemarin saya dengar dari Bu Ratna kalau kalian sudah lunas bayar kos ya? Wah, hebat juga anak-anak kos nomor empat."

Raka tersenyum kaku sambil mengangguk sopan. "Alhamdulillah rezeki anak sholeh, Pak."

Sementara Raka asyik mengobrol dengan Pak Jaya, Zahmira mematung di pinggir jalan, menatap kagum ke arah deretan stoples kaca besar berisi berbagai macam kerupuk warna-warni yang dipajang di etalase warung kopi tersebut.

Bayu yang menyadari arah pandangan Zahmira langsung mendekat dengan senyum usil. "Kenapa, Mbak? Tertarik sama kerupuk udang? Rasanya gurih, kalau digigit bunyinya kriuuk."

Zahmira buru-buru menarik kembali pandangannya, menegakkan dagunya dengan angkuh. "Jangan meremehkaniku! Aku hanya sedang menganalisis struktur benda rapuh itu."

Tiba-tiba, dari arah timur jalan desa, terdengar suara teriakan nyaring seorang ibu-ibu yang sedang membawa keranjang belanjaan penuh sayur.

"Awas! Bebeknya lepas dari kandang!"

Kwek! Kwek! Kwek!

Sekawanan bebek peliharaan Pak RT berlari kencang berhamburan melewati gang sempit, dikejar oleh seekor anjing kampung berbulu belang yang menyalak garang. Suasana di depan warung Pak Jaya mendadak menjadi kacau balau.

Warga yang sedang duduk-duduk di warung langsung berdiri kaget, sementara Bayu dan Dimas refleks melompat ke atas bangku kayu.

Zahmira tertegun di tempatnya saat seekor bebek jantan berukuran cukup besar berlari lurus ke arahnya dengan kepakan sayap mengepak-ngepak panik.

"Menyingkir dari hadapanku, makhluk berbulu kotor!" seru Zahmira dengan nada tinggi, refleks mengangkat tangan kanannya ke udara.

Seketika, kilatan cahaya keperakan tipis memancar dari jemari Zahmira. Bebek malang yang berlari kencang itu tiba-tiba terpental lembut ke udara, berputar dua kali, lalu mendarat dengan mulus di dalam keranjang kosong milik seorang ibu penjual sayur tanpa menyentuh gaun ungu sang putri jin sedikit pun.

Suasana di sekitar warung mendadak hening seketika. Pak Jaya dan warga yang melihat kejadian aneh itu mengerjap-ngerjapkan mata mereka tidak percaya.

Bebek itu terbang sendiri tanpa ada yang melempar!

"Astaga... Tadi itu apa ya? Bebeknya bisa terbang kayak kesurupan angin puyuh?" gumam Pak Jaya kebingungan sambil menggaruk tengkuknya.

Raka, yang berdiri paling dekat dengan Zahmira, langsung tersadar dari keterkejutannya. Ia buru-buru memasang senyum paling canggung di hadapan Pak Jaya untuk mengalihkan perhatian warga.

"Mbak, jangan pakai sihir sembarangan di tempat ramai!" bisik Raka dengan gigi terkatup.

Zahmira balas mendelik dingin, seolah tidak merasa bersalah sama sekali.

"Ah, itu... itu pasti karena hembusan angin kencang dari balik gang, Pak!" dalih Raka cepat kepada Pak Jaya. "Maklum, cuaca hari ini agak aneh."

Pak Jaya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum heran. "Ada-ada saja... Desa kita memang makin hari makin unik."

Zahmira menurunkan tangannya dengan anggun, merapikan lipatan gaun ungunya, lalu melirik Raka dengan tatapan angkuh. Raka hanya bisa menghela napas panjang dalam hati, menyadari bahwa membawa putri jin jalan-jalan keliling desa ternyata jauh lebih mendebarkan daripada menghadapi Bu Ratna saat menagih sewa kos.

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!