Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Keputusan Jove
Malam itu, setelah meninggalkan kafe tempat ia bertemu Nic, Jove memilih pulang tanpa mampir ke mana pun.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi percakapan mereka.
Tentang pernikahan.
Tentang cinta.
Tentang dua orang yang sama-sama tidak menginginkan hubungan yang dipenuhi perasaan.
Dan terutama tentang tawaran Nic.
Menikah tanpa mengharapkan apa pun dari satu sama lain.
Sesampainya di rumah, Jove langsung menuju kamarnya. Ia meletakkan tas di sofa, melepas sepatu, lalu berjalan menuju balkon.
Udara malam terasa cukup sejuk.
Jove berdiri di sana, memandang lampu-lampu taman yang menyala menyinari taman luas rumahnya.
Sudah dua tahun berlalu sejak hari yang mengubah hidupnya.
Dua tahun sejak ia membatalkan pernikahan yang sudah dipersiapkan dengan begitu matang.
Dua tahun sejak kepercayaannya kepada seseorang hancur dalam hitungan detik.
Selama dua tahun itu pula Jove selalu berpikir bahwa dirinya tidak membutuhkan pernikahan.
Ia bisa hidup sendiri.
Ia bisa bekerja.
Ia bisa mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung kepada siapa pun.
Lalu mengapa sekarang ia justru mempertimbangkan untuk menikah?
Jove memejamkan mata sejenak.
Karena Nic.
Bukan karena ia menyukai pria itu.
Bahkan sampai sekarang, Jove tidak bisa mengatakan bahwa ia benar-benar mengenal Nic.
Mereka hanya beberapa kali bertemu.
Mereka bekerja bersama di Bandung.
Berbicara seperlunya.
Sesekali makan bersama.
Dan mereka sama-sama tahu bahwa masing-masing pernah mengalami pengkhianatan.
Namun justru karena itulah Jove merasa sedikit lebih tenang.
Nic tidak memintanya untuk mencintai.
Nic tidak memintanya untuk mempercayainya.
Tidak ada janji bahwa pernikahan mereka akan sempurna.
Tidak ada kalimat manis yang mencoba meyakinkannya bahwa semua laki-laki berbeda dari mantan kekasihnya.
Nic hanya menawarkan sebuah kesepakatan.
Sebuah pernikahan tanpa tuntutan perasaan.
Jove membuka mata.
“Mungkin…” gumamnya pelan.
“Mungkin ini bisa dilakukan.”
Ia kemudian tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Bahkan dirinya sendiri merasa keputusan ini terdengar gila.
Menikah dengan seseorang yang sebenarnya belum terlalu dikenalnya.
Hanya karena mereka sama-sama tidak ingin jatuh cinta.
Namun semakin lama Jove memikirkannya, semakin ia menyadari satu hal.
Selama ini yang ia takutkan bukanlah pernikahan.
Ia takut kembali mempercayai seseorang.
Ia takut kembali memberikan seluruh dirinya kepada seseorang, lalu orang itu menghancurkannya untuk kedua kalinya.
Sedangkan dengan Nic…
Jove tidak perlu memberikan apa pun.
Setidaknya untuk saat ini.
Ia tidak perlu membuka hati.
Tidak perlu berharap.
Tidak perlu menggantungkan kebahagiaan kepada seseorang.
Kalau pernikahan itu hanya sebatas status, mungkin ia bisa menjalaninya.
Jove mengambil ponselnya dari atas meja.
Nama Nic masih berada di daftar percakapan terakhir.
Jarinya sempat berhenti di atas layar.
Ia bisa saja menunda.
Bisa memikirkan semuanya beberapa hari lagi.
Tetapi ada bagian dalam dirinya yang sudah tahu jawabannya.
Jove mengetik sebuah pesan.
Jove:
Aku sudah memikirkannya.
Tidak lama kemudian, balasan Nic masuk.
Nic:
Dan?
Jove menarik napas.
Kemudian mengetik.
Jove:
Aku setuju.
Pesan terkirim.
Tidak ada balasan selama beberapa saat.
Jove menatap layar ponselnya.
Kemudian ponselnya kembali bergetar.
Nic:
Kamu yakin?
Jove tersenyum tipis.
Entah mengapa pertanyaan itu justru membuatnya merasa sedikit lega.
Setidaknya Nic tidak menganggap keputusan ini sebagai sesuatu yang mudah.
Jove membalas.
Jove:
Tidak.
Nic membaca pesan itu cukup lama.
Satu kata.
Namun ia tahu ada banyak hal di baliknya.
Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya muncul.
Jove:
Tapi aku rasa aku tidak akan pernah benar-benar yakin untuk menikah lagi.
Nic terdiam di ruang kerjanya.
Ia memahami kalimat itu.
Karena dirinya pun merasakan hal yang sama.
Ia tidak yakin.
Tidak percaya pada cinta.
Tidak percaya pada pernikahan.
Tetapi mungkin mereka tidak harus percaya pada semua itu untuk bisa menikah.
Nic:
Kalau begitu, kita bicarakan semuanya dengan jelas sebelum kita melangkah lebih jauh.
Jove membalas singkat.
Jove:
Kapan?
Nic:
Besok malam?
Jove melihat kalender di ponselnya.
Tidak ada jadwal penting.
Jove:
Oke.
Ia meletakkan ponselnya.
Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, Jove baru saja mengatakan kepada seseorang bahwa dirinya bersedia menikah.
Anehnya, ia tidak merasa bahagia.
Tidak juga merasa sedih.
Hanya ada perasaan tenang yang sulit dijelaskan.
Mungkin karena kali ini ia tahu apa yang akan ia hadapi.
Atau mungkin karena untuk pertama kalinya, ia merasa memegang kendali atas keputusan tersebut.
Keesokan harinya, Jove tetap bekerja seperti biasa.
Tidak ada yang berubah dari caranya menjalani hari.
Ia datang ke kantor pagi-pagi, memeriksa laporan, mengikuti beberapa rapat, kemudian menyelesaikan berbagai pekerjaan yang menumpuk.
Namun, sesekali pikirannya kembali kepada percakapan dengan Nic.
Sementara itu, di Alva Corp, Nic juga menjalani harinya seperti biasa.
Ia tidak mengatakan apa pun kepada Arman.
Belum.
Sebelum keluarga mereka tahu, Nic ingin memastikan terlebih dahulu bahwa kesepakatan antara dirinya dan Jove benar-benar jelas.
Ia tidak ingin ada sesuatu yang salah dipahami.
Pukul tujuh malam, Nic tiba di sebuah restoran yang cukup tenang.
Beberapa menit kemudian, Jove datang.
Kali ini mereka tidak banyak berbasa-basi.
Setelah duduk berhadapan, Nic langsung membuka pembicaraan.
“Terima kasih sudah datang.”
“Aku yang bilang bersedia, jadi wajar kalau aku datang.”
Nic mengangguk.
“Aku ingin kita membuat semuanya jelas sebelum keluarga tahu.”
“Aku juga.”
Jove menatap Nic serius.
“Kalau kita benar-benar melakukan ini, aku tidak ingin ada kesalahpahaman.”
“Setuju.”
“Kita menikah karena kesepakatan ini. Bukan karena cinta.”
Nic mengangguk.
“Dan bukan karena keluarga.”
Jove menatapnya.
“Kalau begitu, apa yang sebenarnya kita jalani setelah menikah?”
Nic terdiam sesaat sebelum menjawab.
“Pernikahan.”
“Pernikahan tanpa rumah tangga?”
“Kita tetap tinggal sebagai suami istri.”
Jove mengerutkan kening.
“Di mana?”
“Di satu rumah.”
Jove terdiam.
Nic melanjutkan dengan tenang.
“Kita tinggal di bawah satu atap. Tapi masing-masing tetap menjalani kehidupan sendiri.”
Jove mengangguk perlahan.
Itu terdengar masuk akal.
Setidaknya bagi mereka.
“Tidak ada kewajiban untuk selalu bersama.”
“Tidak.”
“Tidak ada ikut campur urusan pekerjaan.”
“Tidak.”
“Dan kehidupan pribadi?”
“Selama tidak merugikan nama baik satu sama lain, kita tidak perlu ikut campur.”
Jove mengangguk.
Lalu Nic menatapnya lebih serius.
“Ada satu hal yang paling penting.”
“Apa?”
Nic berkata dengan suara datar, tetapi tegas.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
Jove menatapnya selama beberapa detik.
Tidak ada rasa tersinggung di wajahnya.
Justru kalimat itu membuatnya semakin yakin bahwa keputusan yang ia ambil mungkin tidak sepenuhnya salah.
Jove kemudian tersenyum tipis.
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Nic terdiam.
Untuk sesaat, keduanya hanya saling memandang.
Kemudian Jove kembali membuka pembicaraan.
“Kalau begitu, kita sepakat?”
Nic mengulurkan tangannya ke atas meja.
“Sepakat.”
Jove melihat tangan itu sejenak.
Lalu menjabatnya.
Tidak ada rasa hangat seperti pasangan yang sedang memulai hubungan.
Tidak ada debaran.
Tidak ada perasaan apa pun.
Hanya sebuah kesepakatan antara dua orang yang sama-sama ingin hidup tanpa cinta.
Mereka tidak tahu bahwa keputusan yang mereka buat malam itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Karena mereka mengira pernikahan itu akan berjalan sederhana.
Mereka hanya perlu hidup berdampingan.
Tanpa cinta.
Tanpa harapan.
Tanpa tuntutan.
Namun, mereka lupa satu hal.
Tidak ada seorang pun yang bisa benar-benar mengatur kepada siapa hatinya akan jatuh.