Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Api Hitam di Dermaga Dosa
Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam, ikan busuk, dan kayu lapuk. Distrik Pelabuhan Solaria pada tengah malam bukanlah tempat bagi kaum bangsawan yang terbiasa dengan karpet beludru dan teh kamomil. Di sinilah urat nadi ekonomi kotor ibu kota berdenyut dalam diam.
Aku berjongkok di atas atap seng sebuah menara pandang yang sudah ditinggalkan, menarik tudung jubahku untuk menghalau gerimis. Di bawah sana, sekitar dua ratus meter dari posisiku, berdiri Gudang Nomor 13. Dari luar, tempat itu terlihat seperti fasilitas penyimpanan gandum biasa yang dijaga oleh beberapa prajurit bayaran berwajah kantuk.
Namun, mataku yang kini diperkuat oleh Mana Kematian bisa melihat kebenarannya.
Bangunan reyot itu diselimuti oleh jaring sihir pendeteksi tingkat tinggi yang berkedip samar. Fluktuasi energi yang memancar dari dalamnya tidak berbau seperti gandum, melainkan berbau seperti baja yang baru ditempa dan sihir mesiu.
"Pangeran Keadilan kita ternyata punya selera yang mahal untuk urusan senjata ilegal," bisik Nox.
Gadis berambut perak itu duduk di sebelahku, kakinya menjuntai santai di tepi atap. Ia sedang mengunyah sepotong ikan asin kering yang entah dari mana ia dapatkan. "Kudengar dia mendanai Pasukan Singa Putih rahasianya menggunakan uang dari pajak daerah kumuh. Sangat bermoral, bukan?"
"Di balik cahaya yang paling menyilaukan, selalu terdapat bayangan yang paling pekat, Nox," balasku datar. "Julian membangun reputasinya di atas panggung terang dengan menghancurkan bangsawan korup seperti ayahku. Tapi untuk mempertahankan kekuasaan itu, dia butuh pasukan yang tidak terikat hukum. Gudang ini adalah jantung pendanaannya."
Aku berdiri, menatap dingin ke arah gudang tersebut. "Dan malam ini, jantung itu akan berhenti berdetak."
Aku menjatuhkan diri dari atap menara setinggi belasan meter itu. Bukannya mendarat dengan suara dentuman keras, aku mengalirkan sihir bayangan ke kedua kakiku. Meniru teknik Shadow Leap milik Serigala Bayangan yang telah kulahap tempo hari, tubuhku seolah mencair menjadi genangan asap hitam tepat sebelum menyentuh tanah berkerikil.
Dalam sekejap, aku melesat dari satu bayangan peti kemas ke bayangan lainnya, menembus rintik hujan tanpa suara.
Dua penjaga bersenjata tombak berdiri di depan pintu besi Gudang 13. Mereka sedang mengobrol sambil merokok, sama sekali tidak menyadari hawa dingin yang merayap dari bawah kaki mereka.
Aku muncul dari dalam bayangan tepat di belakang mereka. Sebelum salah satu dari mereka sempat menoleh, kedua tanganku melesat. Aku mencengkeram leher mereka dari belakang. Sedikit tekanan dari jari-jariku yang kini sekeras obsidian sudah cukup untuk menutup aliran darah ke otak mereka.
Keduanya pingsan dalam hitungan detik tanpa sempat mengeluarkan suara. Kuseret tubuh mereka ke balik tumpukan drum kosong.
Tantangan berikutnya adalah gembok besi raksasa berukir rune sihir yang mengunci pintu utama. Alih-alih meretas sihirnya dan membuang waktu, aku menjepit gembok baja setebal pergelangan tangan itu dengan ibu jari dan telunjukku, lalu meremasnya.
Krak.
Gembok baja yang dirancang untuk menahan ledakan meriam itu hancur layaknya biskuit kering. Kepadatan tulang dan ototku setelah menyerap Mandragora Kematian benar-benar berada di luar logika.
Aku mendorong pintu besi itu pelan dan melangkah masuk ke dalam perut gudang.
Begitu kakiku melewati ambang pintu, deretan obor sihir di dinding menyala otomatis, memperlihatkan isi ruangan yang luasnya menyamai tiga lapangan bola. Puluhan peti kayu berjejer rapi hingga ke langit-langit. Sebagian peti itu dibiarkan terbuka, memperlihatkan isinya: pedang, tombak, dan zirah yang terbuat dari Blood Iron—Besi Darah.
Bahan tambang terlarang yang hanya bisa didapatkan dengan mengeksploitasi pekerja paksa di wilayah terluar Kekaisaran. Ini adalah bukti pengkhianatan tingkat tinggi.
Aku berjalan menyusuri lorong antar peti, mencari sesuatu yang lebih berharga daripada tumpukan besi berdarah ini. Langkahku terhenti di sebuah ruangan kaca kecil di ujung gudang yang berfungsi sebagai ruang administrasi.
Dengan mudah kucabut engsel pintunya. Di atas meja kayu jati, terdapat sebuah brankas tebal. Aku meninju pintunya satu kali, membuat lempengan bajanya penyok ke dalam, lalu merobek pintunya dengan tangan kosong.
Di dalam brankas itu, terletak sebuah buku bersampul kulit merah. Buku Kas Besar.
Kubuka halamannya dengan cepat. Deretan angka, nama sandi, dan rute penyelundupan tertulis rapi di sana. Beberapa nama sandi di sana sangat kukenali dari novel, dan semuanya terhubung langsung dengan ajudan pribadi Pangeran Julian. Ini bukan sekadar senjata; ini adalah bom nuklir politik yang bisa menghancurkan citra 'suci' sang Putra Mahkota dalam sekejap.
Aku tersenyum miring, memasukkan buku kas itu ke dalam saku jubahku. Target utama diamankan.
Sekarang, waktunya meninggalkan kartu nama.
"Penyusup! Ada penyusup di ruang administrasi!"
Teriakan menggema dari arah pintu masuk. Rupanya, patroli shift kedua baru saja tiba dan menemukan rekan mereka yang kubuat pingsan di luar. Belasan prajurit elit berbaju zirah hitam merangsek masuk ke dalam gudang, menghunuskan pedang yang memancarkan aura sihir angin dan tanah.
"Serang! Jangan biarkan dia keluar hidup-hidup!" teriak komandan mereka.
Aku melangkah keluar dari ruang administrasi dengan tenang, sama sekali tidak berniat lari.
"Aku butuh satu orang untuk hidup dan menceritakan apa yang terjadi di sini besok pagi," gumamku pada diri sendiri.
Belasan prajurit itu menerjang secara bersamaan. Aku mengangkat tangan kananku perlahan. Pusaran Mana Core di dadaku bergolak, melepaskan energi yang telah kutahan sejak tadi.
"Vespera: Black Lotus," bisikku.
Ledakan api hitam pekat menyembur dari telapak tanganku, membentuk kelopak-kelopak bunga teratai raksasa yang menyapu seluruh lantai gudang. Api itu tidak memancarkan panas, melainkan hawa dingin yang membekukan jiwa.
Ketika api hitam itu menyentuh pedang para prajurit, sihir elemen mereka langsung tersedot habis. Ketika api itu menyentuh zirah mereka, bajanya seketika rapuh dan hancur menjadi debu korosif.
Jeritan panik bergema saat para prajurit elit itu tumbang satu per satu, bukan karena luka bakar, melainkan karena mana dan stamina mereka dilahap habis oleh kegelapan mutlak. Aku tidak membunuh mereka, hanya merampas seluruh energi kehidupan mereka hingga mereka lumpuh total.
Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, belasan prajurit itu tergeletak tak berdaya di lantai, mengerang ketakutan menatapku seolah melihat Dewa Kematian.
Aku berjalan melewati tubuh-tubuh yang gemetar itu, berhenti di depan sang komandan yang sedang merangkak mundur dengan wajah pucat pasi. Air kencing menggenang di bawah kakinya.
Aku berjongkok, menatap matanya yang membelalak ngeri.
"K-Kau... siapa kau?!" rintihnya, suaranya parau karena ketakutan yang mencekik tenggorokannya. "Sihir ini... kau Penyihir Hitam dari Hutan Merah itu!"
"Kau punya ingatan yang bagus," ucapku dengan suara yang sengaja kuserakkan dan kubuat menggema menggunakan manipulasi mana. "Sampaikan pesan ini pada tuanmu, Pangeran Julian. Katakan padanya: Cahaya palsunya terlalu menyilaukan, jadi aku memutuskan untuk meredupkannya."
Tanpa menunggu balasan dari pria yang menangis tersedu-sedu itu, aku menjentikkan jariku.
Seluruh kelopak teratai api hitam yang menjalar di lantai gudang langsung meledak membesar. Api kegelapan itu melahap peti-peti kayu, melelehkan senjata Blood Iron, dan menghancurkan seluruh fasilitas itu dalam hitungan detik. Anehnya, api hitam itu tidak membakar bangunan kayu penyangganya, ia hanya melahap semua barang ilegal milik Julian seolah memiliki kesadaran sendiri.
Aku memutar tumit, melangkah keluar dari gudang dengan santai, meninggalkan komandan itu untuk menyaksikan kehancuran kekaisaran kecil tuannya.
Di luar gudang, Nox sudah menunggu sambil memegang payung hitam untuk menghalau gerimis. Gadis itu menatap kobaran api hitam yang memancar dari jendela gudang dengan senyum puas.
"Kau benar-benar tahu cara membuat pesta yang meriah, Arthur," pujinya saat aku berjalan menghampirinya. "Buku kasnya aman?"
Aku menepuk saku jubahku. "Aman. Dengan buku ini, Julian tidak akan berani bergerak terang-terangan melawanku di masa depan. Jika dia menekan keluarga Pendelton, aku hanya perlu membocorkan satu halaman dari buku ini ke faksi oposisi, dan kursi Putra Mahkotanya akan hancur lebur."
Nox tertawa lepas, tawanya bercampur dengan suara gemuruh guruh di kejauhan. "Sangat jahat! Sangat sempurna! Oh, aku tidak sabar melihat wajah Julian besok pagi saat dia menerima dua kabar buruk sekaligus: kekalahan telak pahlawan kesayangannya di arena, dan hangusnya lumbung uangnya di pelabuhan."
"Mari kita pulang, Nox," kataku, menarik tudung jubahku kembali. "Besok, aku masih harus bersandiwara menjadi murid akademi biasa yang kebetulan memiliki tubuh yang kuat."
Kami berdua menghilang ditelan bayangan malam, meninggalkan Pelabuhan Solaria yang kini diterangi oleh api hitam yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh air. Panggung telah berbalik arah, dan sang Penjahat kini yang memegang tali bonekanya.