JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bualan Manis di Atas Genangan Darah
Ancaman Pangeran Nataniel yang berniat melebur Mutiara Laut Dalam menjadi debu halus masih bergaung tajam di dalam gendang telingaku. Rasa gemetar hebat di seluruh persendianku belum sepenuhnya surut akibat aksi komedi gila-gilaan yang kupamerkan semalam. Mutiara itu adalah satu-satunya tiket kebebasan dan obat penawar bagi Ayah di daratan, namun kini benda berharga itu terancam hancur hanya karena kepuasan ego sang Penguasa Siren. Di bawah kekuasaan sosok bertangan dingin ini, tidak ada istilah waktu untuk bersantai atau sekadar menghela napas lega.
Pagi baru saja menyingsing di alam bawah samudra Teluk Bayangan, meski tak pernah ada pendaran sinar matahari hangat yang sanggup menembus dinding karang yang menjulang megah ini. Kegelapan abadi selalu melingkupi istana koral, digantikan oleh pendaran redup dari lumut gaib dan kristal dasar laut yang dingin.
Aroma amis darah segar bercampur bau garam pekat merayap naik, menyusup tajam menembus indra penciumanku saat aku dipaksa mengekor di belakang langkah tegap Pangeran Nataniel. Langkah kakinya yang tenang namun mantap membelah lorong-lorong batu karang yang sepi. Kami akhirnya tiba dan berdiri di atas tebing koral hitam yang teramat curam. Tempat ini adalah titik tertinggi di pinggiran istana, lokasi di mana angin laut berhembus sangat kencang dan membawa riak air basah yang menusuk kulitku yang hanya terbalut bikini perak mini dan selendang rumbai tipis yang minim bahan.
Nataniel berdiri anggun di paling ujung tebing. Punggungnya yang kokoh terbalut jubah perak berkilau yang melambai ditiup arus air, sementara jemari esnya yang panjang menggenggam longgar gagang tombak perak bermata tiga yang dihiasi ukiran naga laut purba. Aura kepemimpinan mutlak memancar kuat dari figur tubuhnya, menenggelamkan siapa saja yang berada di dekatnya dalam ketakutan yang mencekam.
Di bawah tebing koral tempat kami berdiri, sebuah lubang raksasa berisi kubangan air keruh dan berlumpur menjadi arena eksekusi yang sangat mengerikan. Beberapa tawanan manusia dari kapal pedagang asing yang tertangkap dua hari lalu tampak meratap histeris dari dalam sana. Tubuh mereka penuh luka goresan cambuk, terikat rantai batu koral yang amat berat dan membekukan. Pakaian mereka sudah koyak-koyak, menunjukkan betapa nyatanya penderitaan yang mereka alami sejak diseret ke dalam Istana Siren.
"Mohon ampun, Paduka! Ampuni kami! Kami hanya pedagang kecil yang tersesat di perairan ini!"
"Kami punya anak dan istri yang menunggu di daratan! Tolong jangan bunuh kami!"
Jeritan memelas, tangisan ketakutan, dan doa-doa panik menggema bersahut-sahutan dari dalam kubangan eksekusi tersebut. Suara mereka memantul di dinding-dinding karang, menciptakan simfoni keputusasaan yang memilukan. Namun, para prajurit Siren bersisik kelabu yang berjaga di sekeliling area sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Wajah-wajah prajurit itu kaku bagaikan topeng batu. Setiap kali mata tombak prajurit itu menghujam tubuh tawanan yang mencoba merangkak naik, lolongan kesakitan yang memilukan memecah hening malam, disusul semburan warna merah pekat yang perlahan mewarnai air laut di bawah sana menjadi merah membara.
Nataniel memiringkan kepalanya sedikit. Iris mata keemasannya memantulkan pemandangan berdarah itu tanpa ada riak emosi sedikit pun. Raut wajah tampannya begitu dingin, bagaikan ukiran es purba yang tak pernah tersentuh oleh rasa iba atau kemanusiaan.
"Lihatlah bangsamu, Babu," ujar Nataniel mendadak. Suara beratnya terdengar begitu tenang, dalam, dan datar di tengah riuh jeritan kematian yang membumbung dari kubangan eksekusi di bawah sana.
Aku menahan napas, meremas jemari tanganku yang gemetar hebat di atas paha. Aku menundukkan kepala serendah-rendahnya, mencoba menata detak jantungku yang berpacu liar. Aku tidak berani menunjukkan tatapan horor, iba, atau simpati yang bisa dengan mudah dibaca oleh sang pangeran dan memancing amarahnya yang mematikan.
Nataniel perlahan memutar tubuhnya. Ia melangkah mendekat dengannya gerak-gerik penuh dominasi mutlak, menghentikan ujung boot peraknya tepat di depan lututku yang berlutut gemetar di atas batu koral basah. Ia menggunakan ujung mata tombak peraknya yang runcing untuk mengungkit daguku secara perlahan, memaksaku menengadah dan menatap lurus ke dalam iris mata keemasannya yang berkilat mengintimidasi.
"Mereka meratap. Mereka memohon hidup dengan cara yang amat menjijikkan," desis Nataniel dingin. "Manusia selalu mengaku sebagai makhluk paling bermartabat di atas muka bumi. Kalian merusak laut tanpa ampun, membantai kaumku saat kalian memegang kendali di atas kapal-kapal kayu kalian, dan merasa paling berkuasa di alam semesta. Tetapi saat posisi itu dibalik... lihatlah, betapa hinanya bangsamu saat dibantai di kubangan eksekusi."
Ujung mata tombaknya yang dingin dan tajam menekan halus kulit daguku, meninggalkan sensasi ngilu luar biasa yang seketika membekukan seluruh aliran darah di tubuhku. Aku bisa merasakan pendar sihir pembunuh yang tipis merambat dari mata tombak itu, seolah siap merobek tenggorokanku jika aku melakukan gerakan gegabah.
"Mengapa bangsamu begitu munafik, Alessia?" tanya Nataniel lagi. Suaranya kali ini terdengar rendah namun penuh dengan cemoohan yang sangat merendahkan. "Mengapa kalian bersimpuh dan memohon pada makhluk yang selalu kalian sebut sebagai iblis laut? Di mana harga diri manusia yang selalu kalian banggakan dalam cerita-cerita dongeng kalian itu?"
Jantungku berdegup kencang seraya menahan napas yang terasa sangat menyesakkan di dalam dada. Aku tahu betul ini adalah bentuk ujian mematikan lainnya setelah ancamannya mengenai Mutiara Laut Dalam semalam. Pria di hadapanku ini bukan sekadar ingin mendengarkan jawaban biasa. Ia sedang memancingku. Salah mengucapkan satu kata saja, atau jika aku nekat membela bangsa ku dengan nada emosional, Nataniel tidak akan ragu melemparkanku detik ini juga ke kubangan eksekusi itu untuk bergabung dengan para pedagang malang tersebut.
Brain storming otak kreatifku bekerja secepat kilat. Aku harus menelan bulat-bulat rasa kemanusiaanku. Aku harus menindih rasa iba pada sesama manusia demi menyelamatkan nyawaku sendiri. Aku harus mengarang bualan paling manis, paling beracun, dan paling menjilat demi mempertahankan leher dan keselamatan mutiaraku!
Aku membasahi bibirku yang kering, memaksa otot-otot wajahku untuk memperagakan raut wajah penuh kekaguman dan kepatuhan mutlak. Aku membiarkan mata cokelatku berbinar palsu di hadapan tatapan emasnya.
"Paduka yang Maha Tinggi dan Agung..." suaraku terdengar agak gemetar di awal, namun perlahan kubuat mantap dengan intonasi yang penuh pemujaan serta kepasrahan. "Apakah Paduka benar-benar heran mengapa manusia-manusia itu meratap tanpa malu di hadapan keagungan Paduka?"
Alis tebal Nataniel terangkat sebelah. Ia tidak memotong ucapanku, memberiku ruang dan panggung untuk melanjutkan pertunjukan lidah beracunku.
Aku perlahan mengangkat kedua tanganku yang gemetar, menyatukannya di depan dada dengan sikap menyembah yang teramat patuh.
"Mereka bukan hanya ketakutan akan kematian fisik semata, Paduka," kataku seraya menyunggingkan senyuman tipis penuh kepasrahan yang sengaja dibuat konyol namun dalam. "Mereka meratap karena jiwa mereka yang kerdil akhirnya menyadari sebuah kebenaran yang teramat mutlak saat berhadapan langsung dengan keagungan dan kekuatan Paduka."
Nataniel menatapku datar, tidak memberikan respon fisik selain pandangan matanya yang makin menelisik. "Kebenaran apa yang kau maksud, Serangga?"
"Kebenaran bahwasanya manusia hanyalah debu tak bernilai jika dibandingkan dengan keagungan klan Siren, sang penjaga samudra!" seruku dengan intonasi suara yang mendayu-dayu namun penuh penekanan drama. "Manusia di daratan boleh saja berbohong pada diri mereka sendiri. Mereka boleh merasa berkuasa karena memiliki teknologi, meriam, dan kapal-kapal kayu perkasa yang melintasi lautan. Namun saat berdiri di hadapan Paduka yang Mulia, seluruh topeng kesombongan dan kebanggaan palsu itu hancur berkeping-keping tanpa sisa!"
Aku memberanikan diri menatap iris mata keemasannya lebih dalam, mengabaikan hawa membunuh dan tekanan aura dingin yang terus berhembus dari tubuh tegapnya.
"Klan Siren adalah penguasa sejati dari seluruh samudra ini," sambungku dengan bualan beracun yang makin menjadi-jadi dan makin meliuk-liuk. "Bangsa Paduka memiliki keindahan yang abadi, kekuatan sihir yang sanggup meremukkan batu karang terkeras sekalipun, dan aura kepemimpinan mutlak yang membuat seluruh makhluk laut tunduk bersujud. Manusia yang berada di kubangan itu tidak sedang mempertahankan harga diri mereka... mereka sedang menangisi takdir buruk mereka yang terlahir sebagai makhluk inferior di hadapan Pangeran Samudra!"
Aku menghela napas panjang yang terdengar berat, berpura-pura mengusap sudut mataku dengan telunjuk seolah-olah aku terharu oleh kesadaran dan ucapanku sendiri.
"Hamba pun sama seperti mereka, Paduka," bisikku pelan namun sangat jelas terdengar di antara hembusan angin tebing. "Hamba yang hanya seorang babu hina dari daratan ini merasa teramat beruntung. Setiap detik hamba bernapas di istana ini, hamba tidak pernah lagi melihat Paduka sebagai algojo pencabut nyawa, melainkan sebagai dewa pelindung samudra yang sedang membimbing hamba untuk menyadari betapa kerdil dan tak berharganya asal-usul hamba."
Keheningan membeku mendadak menyelimuti puncak tebing koral itu selama beberapa saat yang terasa sangat menyiksa. Hanya suara terpaan angin dingin dan jeritan samar tawanan yang kian melemah di bawah sana yang terdengar.
Nataniel menatapku tanpa berkedip sedikit pun. Tatapan mata keemasannya begitu tajam dan pekat, mencoba menguliti setiap detail kata, ritme napas, dan ekspresi wajahku untuk mencari setitik saja cela kebohongan. Aku tetap mempertahankan senyuman memuja, ekspresi pasrah, dan mata yang kubuat berkaca-kaca, membuang seluruh gengsi, martabat, dan harga diri manusia demi bertahan hidup satu hari lagi.
Perlahan-lahan, Nataniel menarik kembali mata tombak peraknya dari bawah daguku.
Sebuah senyuman miring yang dingin, tipis, dan penuh keangkuhan mutlak akhirnya terukir di bibirnya yang menawan. Ia terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang terdengar sangat berbahaya, berat, namun sarat akan rasa puas yang terpancing.
"Bualan manis yang teramat beracun, Babu," ujar Nataniel dengan nada suara yang sedikit melunak dari sebelumnya, walau aura intimidasinya tetap tidak berkurang. "Lidah manusiamu rupanya terbuat dari gumpalan gula yang sangat licik dan berbahaya."
"Hamba hanya menyuarakan kebenaran yang paling jujur dari dasar hati hamba yang terdalam, Paduka yang Agung," balasku cepat dengan mengulas wajah paling polos yang bisa kubentuk.
Nataniel membalikkan badannya yang tegap, kembali melayangkan pandangannya ke arah kubangan eksekusi yang kini telah tenang dan dipenuhi genangan merah pekat. "Kau memang pandai menyenang-nyenangkan hatiku dengan kata-kata. Namun ingat baik-baik di dalam otak kecilmu... lidah yang licik bisa dengan sangat mudah dipotong jika kau sampai melupakan posisimu atau gagal menghiburku nanti malam."
"Hamba tidak akan pernah melupakannya walau sedetik pun, Paduka yang Maha Agung," jawabku seraya menundukkan kepala sangat dalam, menyembunyikan raut wajahku yang sebenarnya.
Di dalam hati, aku menghela napas lega yang luar biasa besarnya. Rasanya seperti baru saja lolos dari jeratan tali gantungan. ("Terimakasih Tuhan... selamat lagi leher ku kali ini! Ternyata selain suka lihat menterinya didaur ulang jadi bahan lawakan, ini pangeran Siren gila emang suka banget dipuji-puji dan diagungkan kayak dewa! Untung stok kata-kata puitis dan teknik menjilat milik Pena Kira kagak ada habisnya!")
*(author : Dih! Jangan bawa-bawa nama ku lagi kampret!)*
Namun, rasa lega dan kemenangan kecil dari sandiwara penjelak itu sama sekali tidak bertahan lama.
Tepat saat Nataniel hendak memutar langkahnya untuk meninggalkanku di puncak tebing dan kembali ke dalam istana, mendadak suhu air laut di sekeliling Teluk Bayangan melonjak panas secara tidak wajar. Gelembung-gelembung udara raksasa meletup-letup dari dasar laut, dan warna air laut yang tadinya biru gelap mendadak berubah keruh kecokelatan serta kemerahan.
*CRASHHH!*
Gelombang air raksasa berhantam sangat keras ke dinding tebing batu koral tempat kami berdiri! Benturan itu begitu dahsyat hingga getarannya merambat ke seluruh permukaan batu. Tekanan sihir yang sangat berat, pekat, dan berbau busuk mendadak merebak di udara, membuat dadaku seketika terasa sesak luar biasa hingga aku kesulitan untuk menghirup oksigen.
Nataniel menghentikan langkahnya seketika. Raut wajahnya yang semula santai dan angkuh berubah drastis menjadi sangat tegang, tajam, dan penuh dengan ancaman kematian. Tangannya mencengkeram erat gagang tombak peraknya hingga buku-buku jarinya memutih dan urat-urat di tangannya mencuat keras.
"Sihir pelindung..." gumam Nataniel dengan suara rendah yang bergetar penuh amarah yang menakutkan.
*BOOOMM!*
Sebuah dentuman gaib yang teramat dahsyat menggelegar hebat dari arah perbatasan luar Teluk Bayangan! Gempa bawah laut yang sangat kuat mengguncang tebing koral tempat kami berdiri, membuat batu-batu karang berjatuhan hancur dan kubangan eksekusi di bawah sana terbelah menjadi dua bagian!
"Paduka!" seorang prajurit Siren melompat panik ke atas tebing dengan kondisi tubuh bersisik terkelupas dan tubuhnya bersimbah darah hitam. "Sihir pelindung utama Teluk Bayangan retak! Ada pergerakan musuh asing dalam jumlah besar di luar garis batas!"
Aku terperanjat hebat dan hampir terlempar, terpaksa berpegangan erat pada celah batu koral yang tajam agar tubuh mungilku tidak jatuh melayang ke dalam tebing. Mataku melotot lebar, menatap lurus ke arah lautan lepas di balik benteng sihir istana yang kini dipenuhi retakan cahaya keemasan.
Di balik kegelapan samudra keruh di luar sana, bayangan-bayangan hitam berukuran raksasa dengan mata merah menyala mulai bermunculan satu per satu. Jumlah mereka sangat banyak, puluhan bahkan ratusan, bergerak cepat dan ganas menerjang batas sihir pelindung yang kini memancarkan retakan-retakan cahaya emas yang kian melemah dan siap hancur!
Nataniel maju satu langkah ke paling ujung tebing, mengacungkan tombak peraknya yang kini menyala terang benderang dengan sihir keemasan murni yang membumbung tinggi menembus kegelapan laut.
"Pemberontak..." desis Nataniel dengan rahang terkatuk rapat, matanya berkilat murka bagaikan badai samudra yang siap meledak dan meratakan apa saja di depannya.
hawa panas di udara mendadak memuncak seperti berada di titik didih. Suasana intimidasi seketika berganti menjadi bahaya perang yang amat mengerikan. Bahaya besar baru saja mengetuk pintu Istana Siren dengan sangat brutal!
⭐⭐⭐⭐⭐
Huwaa!! Bualan manis Alessia berhasil melunakkan Nataniel lagi, tapi bahaya besar langsung datang menghantam Teluk Bayangan!! 😱💥 Sihir pelindung retak dan bayangan raksasa bermata merah mulai mengepung istana!
Apakah Alessia bakal manfaatin kekacauan ini buat kabur, atau justru terjebak dalam perang mati-matian?
Yuk, jangan lupa klik **LIKE**, tinggalkan **KOMENTAR** emosi kalian, dan **VOTE** cerita ini ya! Siap lanjut ke Bab 12? ✨