Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Anggota baru
Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kelas 10D, membawa kehangatan yang seolah sejalan dengan suasana hati Danu hari ini. Hari baru menyambutnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Setiap langkah kakinya memasuki gerbang sekolah kini terasa seperti sebuah langkah mantap menuju masa depan yang lebih cerah, bukan lagi langkah gontai penuh beban seperti dulu.
Setibanya di kelas, Danu langsung meletakkan tasnya dan duduk tenang di bangkunya. Baru saja ia mengeluarkan buku, tiba-tiba Zahra sudah muncul dan menarik kursi untuk duduk menghadap ke arahnya.
"Danu!" panggil Zahra dengan raut wajah penasaran.
"Iya?" jawab Danu, menoleh sambil tersenyum kecil.
"Dari habis jam istirahat pertama kemarin, lu ngapain aja sih sama Rio? Kok tumben banget kalian hilangnya lama?" selidik Zahra.
"Hmm... aku sama Rio kemarin keliling sekolah, nyari kegiatan yang seru buaT dilakuin," jelas Danu dengan nada antusias yang jarang ia tunjukkan.
Mata Zahra sedikit membesar. "Jadi? Ketemu gak kegiatannya?"
"Ketemu... walau agak dramatis sih. Tepat di saat-saat terakhir waktu kita berdua lagi istirahat duduk di lantai, tiba-tiba ada suara gaduh banget dari ruang seni."
Dengan mata berbinar, Danu pun menceritakan kronologi lengkap kejadian kocak kemarin sore kepada Zahra. Mulai dari insiden ceroboh Kak Rizki—senior mereka yang kakinya terlilit kabel dan terperangkap di antara tiang cymbal—hingga kondisi ruang seni ekstrakurikuler musik yang berserakan debu bak kapal pecah.
Zahra tertawa pelan mendengar cerita itu. "Ohh, gitu ceritanya. Wah, kayaknya seru tuh! Kalau gitu, nanti aku join ya ekstra kalian!"
Danu mengangguk santai. "Ya, boleh-boleh saja. Makin ramai makin bagus."
Tak lama kemudian, sosok yang sejak tadi dibicarakan akhirnya muncul dari ambang pintu. Rio berjalan masuk dengan tas tersampir di satu bahu dan langsung mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Danu.
"Wihh, ada obrolan apa nih pagi-pagi? Gue kepo nih, bagi-bagi dong infonya," sahut Rio yang langsung nimbrung.
"Itu... Zahra katanya mau ikut ekstra musik bareng kita," beri tahu Danu.
Rio menoleh ke arah gadis itu sambil menaikkan sebelah alisnya. "Ohh, beneran lu mau ikut? Yaudah, lu izin dulu sana sama kakak seniornya, Kak Rizki. Biar dicatet namanya."
"Males ah kalau sekarang," tolak Zahra cepat. "Nanti ajalah barengan, sekalian pas aku ke sana sama kalian berdua aja."
Rio mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Ya terserah lu aja deh, yang penting gue udah ngingetin."
Tepat saat obrolan ringan mereka berakhir, bel tanda masuk berbunyi nyaring. Guru mata pelajaran pertama melangkah masuk ke dalam kelas, membawa setumpuk buku paket tebal di pelukannya. Jam pertama hari ini adalah pelajaran Sejarah.
Setelah menyapa kelas, sang guru langsung memberikan instruksi yang membuat suasana kelas seketika riuh. Para siswa-siswi diminta untuk maju ke depan satu per satu dan menjelaskan materi sejarah yang sudah ditentukan. Guru itu memberikan janji manis: penyampaian yang paling bagus dan lancar akan langsung mendapat nilai A.
Mendengar hal itu, mayoritas siswi di kelas langsung berantusias tinggi. Mereka buru-buru membuka buku, menggarisbawahi poin-poin penting demi bisa meningkatkan nilai rapot. Sebaliknya, reaksi kontras terlihat dari barisan para siswa. Sebagian besar anak laki-laki tampak tidak peduli, menelungkupkan kepala di meja atau diam-diam menghitung sisa uang jajan dari ibu mereka di balik laci. Walau begitu, tetap ada satu atau dua siswa yang diam-diam ikut bersemangat menyiapkan materi.
Namun, di tengah kesibukan para murid menghafal tahun dan nama tokoh pahlawan, Rio justru melakukan hal yang sama sekali berbeda. Anak itu malah keasyikan menunduk, membaca draf cerita fiksi di layar ponsel yang dipinjamnya dari sang pemilik tulisan, Danu.
Setelah menggulir layar cukup lama dengan wajah serius, Rio akhirnya menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Wih, Dan," panggil Rio dengan nada kagum yang tulus. "Tulisan lu bagus juga ya ternyata gue liat-liat. Bikin penasaran alurnya." Rio menyeringai lebar. "Hebat lu, sukses bikin gue yang asalnya malas baca panjang-panjang, malah jadi rajin baca ginian!"
Mendapat pujian langsung dari Rio, Danu tersenyum malu-malu, merasa usahanya menulis membuahkan hasil.
"Iyakah? Makasih apresiasinya, Yo," balas Danu tulus, hatinya semakin menghangat pagi itu.
Pelajaran Sejarah terus berlanjut. Giliran demi giliran, nama para murid dipanggil ke depan kelas untuk mempresentasikan materi tentang masa penjajahan. Danu yang sudah menyempatkan diri membaca buku paket sekilas malam sebelumnya, berhasil maju dan memberikan penjelasan yang cukup lancar. Meski suaranya sempat sedikit bergetar karena gugup ditatap banyak orang, ia akhirnya mendapat anggukan puas dari sang ibu guru dan bisa kembali ke bangkunya dengan perasaan lega.
Namun, nasib berbeda justru dialami oleh Rio. Karena terlalu asyik membaca kelanjutan draf cerita Danu di layar ponselnya, ia sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Rio! Giliran kamu maju ke depan sekarang," panggil guru sejarah dengan suara tegas memecah keheningan.
Rio terlonjak kaget di kursinya. Ponsel di tangannya nyaris saja terlempar ke udara. "Eh, i-iya, Bu!" jawabnya gelagapan sambil buru-buru menyembunyikan ponselnya ke dalam laci meja.
Dengan langkah berat dan wajah tanpa dosa, Rio berjalan lambat ke depan kelas. Bukannya menjelaskan sejarah kemerdekaan dengan benar, otaknya malah masih dipenuhi oleh alur cerita fantasi buatan Danu.
"Eee... jadi, pada masa itu... para pahlawan berjuang keras melawan penjajah, tak kenal lelah, sama halnya seperti para ksatria yang melawan naga raksasa di kerajaan utara demi melindungi desa..." oceh Rio ngawur, tanpa sadar mencampuradukkan materi sejarah di buku paket dengan adegan novel Danu.
Sontak, seisi kelas tertawa pecah, termasuk Zahra yang sampai memegang perutnya karena tak kuat menahan tawa. Guru sejarah hanya bisa menghela napas panjang, memijat pelipisnya melihat kelakuan murid yang satu itu, lalu menyuruhnya kembali duduk dengan peringatan.
"Lu ngaco banget sih, Yo!" ledek Zahra saat Rio kembali ke bangkunya dengan wajah ditekuk.
"Ya mau gimana lagi? Otak gue udah terlanjur kecuci sama jalan ceritanya Danu barusan," gerutu Rio membela diri.
Waktu terus berlalu. Setelah melewati beberapa jam pelajaran yang terasa menguras energi, bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Inilah saat yang paling ditunggu-tunggu. Sesuai obrolan pagi tadi, Zahra langsung merapikan bukunya dengan penuh semangat.
"Ayo, buruan! Katanya mau ngenalin aku ke kakak senior di ruang seni," tagih Zahra tak sabar.
"Iya, iya, sabar napa," balas Rio santai sambil menggendong tasnya. "Ayo, Dan, kita bawa anak baru ini menghadap Kak Rizki sekarang."
Ketiga sahabat itu berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi dari hilir mudik siswa, menuju ruang seni yang terletak di sudut bangunan. Sesampainya di depan pintu kayu bernuansa klasik tersebut, samar-samar terdengar alunan nada piano yang dimainkan dengan tempo sangat pelan, meski sesekali ada nada yang meleset dan terdengar sumbang.
Tanpa ragu, Rio langsung menekan gagang pintu dan mendorongnya. "Sore, Bang Rizki!" sapa Rio dengan suara lantang.
Di dalam ruangan, Kak Rizki yang sedang fokus duduk di depan piano langsung terkejut. Saking kagetnya, jari senior itu tak sengaja menekan tuts dengan keras, menghasilkan suara teng! yang memekakkan telinga.
"Eh! Rio, Danu! Kalian beneran dateng lagi hari ini," sambut Kak Rizki dengan wajah sumringah yang tak bisa disembunyikan. Ia segera berdiri dari bangku piano dan menghampiri mereka. Namun, langkahnya terhenti dan pandangannya langsung tertuju pada sosok gadis yang berdiri tepat di sebelah Danu. "Loh, ini... kalian bawa teman baru?"
Danu mengangguk pelan sambil tersenyum. "Iya, Kak. Ini Zahra, teman sekelas kami berdua. Dia dengar cerita soal ekstrakurikuler musik ini dan katanya tertarik mau ikut gabung juga."
Mendengar itu, Zahra langsung melangkah maju dengan penuh percaya diri dan mengulurkan tangannya. "Halo, Kak Rizki. Aku Zahra. Mohon bimbingannya ya, Kak!"
Kak Rizki mematung selama beberapa detik, tampak seperti orang yang baru saja kejatuhan durian runtuh. Matanya bahkan sedikit berkaca-kaca terharu saat membalas jabatan tangan Zahra.
"Wah! Seriusan kamu mau ikut ekstra yang sepi ini?! HORE! Terima kasih banyak, ya Tuhan! Anggota kita nambah lagi!" teriak Kak Rizki kegirangan. Senior jangkung itu nyaris saja bergerak maju untuk memeluk Zahra saking senangnya, sebelum Rio dengan sigap menarik kerah belakang seragam Kak Rizki.
"Eits, Bang! Ingat batasan, anak orang jangan main asal peluk aja," tegur Rio sambil terkekeh jahil.
Zahra hanya tertawa lepas melihat tingkah konyol senior barunya itu. Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang seni yang masih lumayan berantakan, namun menyimpan banyak potensi dengan berbagai alat musik yang tersedia.
"Jadi... besok kita udah mulai ngapain nih, Kak?" tanya Zahra dengan antusiasme yang menular.
Kak Rizki menepuk dadanya dengan bangga. "Besok, agenda pertama kita adalah... bersihin ruangan ini sampai kinclong bareng-bareng! Baru setelah itu kita mulai main musik!"
Mendengar instruksi tak terduga itu, Danu, Rio, dan Zahra saling bertatapan satu sama lain selama beberapa detik, sebelum akhirnya tertawa bersama-sama hingga suara mereka menggema memenuhi ruangan.
Sore itu ditutup dengan kehangatan yang manis. Sebuah langkah baru telah diambil oleh Danu, dan sebuah petualangan seru yang penuh tawa baru saja dimulai di ruang seni bersama orang-orang yang peduli padanya.