Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Empat Hari Tanpa Jeda
Pukul empat lewat tiga puluh, alarm kembali berbunyi.
Ervan membuka mata dan langsung menyesali keputusan untuk bergerak.
Seluruh tubuhnya terasa seperti baru saja dipukuli. Bahu kaku, paha berat, dan ketika ia mencoba mengepalkan tangan, lengan bawahnya masih menyimpan sisa getaran dari latihan semalam.
Ia duduk di tepi kasur cukup lama.
Jurnal latihan terbuka di atas meja.
Kondisi akhir: collapse.
Evaluasi: intensitas harus diatur. Menambah beban tanpa tujuan hanya membuang tenaga.
Ervan menatap dua baris itu sebelum akhirnya berdiri.
Hari ini ia tidak akan mengulangi kebodohan yang sama.
Udara pagi menyambutnya dengan dingin.
Ervan tidak langsung berlari.
Ia berjalan cepat beberapa menit, melakukan pemanasan lebih lama, kemudian memulai jogging ringan.
Sepuluh menit pertama, kakinya terasa seperti membawa beban tambahan. Paha yang masih pegal berkali-kali memintanya memperlambat langkah.
Kali ini Ervan menurut.
Tidak ada sprint.
Tidak ada tambahan satu kilometer karena merasa masih sanggup.
Tidak ada kalimat satu set lagi.
Ia hanya mempertahankan ritme.
Perlahan, ototnya mulai menghangat.
Napas yang semula berat kembali stabil.
Ketika menyelesaikan rute, Ervan menghentikan stopwatch dan melihat waktunya.
Lebih lambat dari kemarin.
Anehnya, ia justru merasa puas.
"𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘢𝘮𝘣𝘳𝘶𝘬 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮," gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil menepuk pelan pahanya yang masih pegal.
Setelah peregangan, ia memasukkan hasil latihan ke jurnal.
---
Beberapa jam kemudian, Ervan sudah berdiri di balik kasir minimarket.
Kakinya masih terasa berat setiap kali harus mengambil barang dari rak bawah. Bahunya sedikit tertarik ketika mengangkat kardus dari gudang.
Namun dibandingkan kondisinya semalam—
pemulihannya terlalu cepat.
Ervan memutar pergelangan tangan.
Tidak nyaman, tetapi bisa digunakan normal.
Harusnya masih lebih parah dari ini, kan?
Ia tidak tahu.
CORE miliknya baru mencapai installation seratus persen setelah bertahun-tahun berada di angka nol. Tidak ada pengalaman yang bisa ia gunakan sebagai pembanding.
Membuat kesimpulan sekarang hanya akan menjadi dugaan.
Jadi Ervan melakukan hal yang paling aman.
Mencatat.
Recovery setelah collapse: lebih cepat dari perkiraan.
Hanya itu.
Malamnya, ia kembali berlatih.
Begitu seluruh program selesai, Ervan berhenti.
Tidak menambah sepuluh repetisi.
Tidak memperpanjang plank.
Tidak mencoba membuktikan apa pun.
Setelah mandi, ia duduk di meja dengan ponsel dan beberapa materi Hunter terbuka.
Klasifikasi BETA.
Struktur CORE.
Sejarah Hunter.
Prosedur keselamatan ketika terjadi kemunculan BETA.
Ia membaca sampai matanya berat.
Kemudian tidur.
---
Alarm kembali berbunyi keesokan pagi.
Jogging.
Sarapan.
Kerja.
Pulang.
Latihan.
Belajar.
Tidur.
Hari kedua hampir tidak memberinya ruang untuk memikirkan hal lain.
Di minimarket, Ervan beberapa kali menguap ketika tidak ada pelanggan.
"𝘐𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘵𝘰𝘬𝘰 𝘴𝘦𝘱𝘪. 𝘒𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳?" tanya 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸 𝘁𝗼𝗸𝗼 dari ujung lorong.
Suara pemilik toko membuatnya menoleh.
"𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵. 𝘚𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘢𝘴𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘦𝘳𝘪, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil buru-buru menegakkan punggung.
"𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘮? 𝘔𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶," balas 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸 𝘁𝗼𝗸𝗼 seraya meletakkan papan stok di ujung meja kasir.
Ervan berpikir.
"𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘶𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨, 𝘴𝘪𝘩. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘢𝘭𝘢𝘳𝘮 𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 akhirnya, tangannya mengusap tengkuk.
Pemilik toko menatapnya datar.
"𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬, 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵𝘢𝘯," ujar 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸 𝘁𝗼𝗸𝗼.
Ervan terkekeh kecil.
"𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨, 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘮𝘢𝘯. 𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil menepuk laci kasir.
"𝘛𝘪𝘥𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘰𝘭𝘰𝘴," sahut 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸 𝘁𝗼𝗸𝗼 sambil mengacungkan telunjuk ke arahnya.
"𝘐𝘺𝘢, 𝘪𝘺𝘢. 𝘛𝘪𝘥𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Jawabannya keluar terlalu cepat.
Pemilik toko menyipitkan mata.
Ervan pura-pura sibuk merapikan barang di dekat kasir.
Saat toko kembali sepi, ia membuka jurnal di ponsel.
Waktu jogging membaik.
Jumlah repetisi efektif bertambah.
Recovery antarset sedikit memendek.
Tidak ada perkembangan ajaib.
Tidak ada kekuatan luar biasa yang mendadak muncul.
Hanya angka-angka kecil yang perlahan bergerak ke arah yang ia inginkan.
Naik.
Sedikit demi sedikit.
Bagi Ervan, itu sudah cukup.
---
Pada hari ketiga, sesuatu mulai terasa berbeda.
Rute lima kilometer yang dahulu seperti hukuman perlahan kehilangan taringnya.
Kilometer pertama terlewati dengan napas stabil.
Kilometer kedua tidak lagi membuat dada terasa terbakar.
Bahkan ketika memasuki bagian jalan menanjak yang biasanya memaksanya mengurangi kecepatan, langkahnya masih dapat dipertahankan.
Ervan melirik jam.
Lebih cepat.
Ia menaikkan tempo.
Angin pagi menghantam wajahnya.
Langkah kakinya semakin rapat.
Ketika mencapai titik akhir, Ervan memperlambat lari sambil mengatur napas.
Keringat tetap mengalir.
Dada tetap naik turun.
Namun ia tidak lagi harus membungkuk sambil menunggu paru-parunya berhenti memberontak.
Sudut bibirnya terangkat.
"𝘓𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯. 𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘭𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯," ucap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di sela napasnya, kedua tangan bertumpu di pinggang.
Sebuah suara pukulan membuat perhatiannya beralih.
Di area terbuka di seberang jalan, dua remaja seusianya sedang berlatih.
Emblem lembaga pelatihan Hunter terlihat pada pakaian mereka.
Salah satu mengangkat kedua tangan di depan wajah.
Yang lain bergerak memutari lawannya.
Jab.
Mundur.
Kaki bergeser.
Jab kedua datang.
Lawan memiringkan tubuh.
Pukulan melewati wajahnya beberapa sentimeter.
Sebuah counter langsung menyusul, berhenti tepat sebelum menyentuh rahang.
Mereka mengulanginya.
Lagi.
Dan lagi.
Tidak spektakuler.
Tidak ada Aura.
Tidak ada Magic.
Namun setiap gerakan memiliki tujuan.
Ervan memperhatikan beberapa saat.
Basic Combat.
Ia pernah melihat latihan semacam itu di internet.
Guard.
Footwork.
Dodge.
Counter.
Latihan refleks.
Semua belum masuk ke program latihannya.
Ervan mengusap keringat dari dagu.
Fisik dulu.
Menurutnya, keputusan itu masuk akal.
Tubuh lemah tidak akan mampu menopang teknik apa pun. Ia hanya punya waktu terbatas dan harus menentukan prioritas.
Kalau fondasiku sudah cukup, teknik bisa menyusul.
Ervan kembali berlari.
Ia tidak tahu bahwa beberapa hari lagi dirinya akan menyesali kalimat tersebut.
---
Alarm keempat berbunyi saat langit masih gelap.
Tubuh Ervan kembali bergerak sebelum pikirannya sempat mencari alasan untuk tetap tidur.
Empat pagi.
Empat sesi latihan.
Empat shift kerja.
Empat malam yang dihabiskan antara olahraga dan materi Hunter.
Rutinitas itu mulai menelan hari-harinya.
Namun hasilnya terlihat.
Pagi itu, ketika tiba di persimpangan rute biasanya, Ervan berhenti.
Jalan ke kanan akan membawanya menuju taman kota seperti biasa.
Ia melihat jam di tangannya.
Tubuhnya masih terasa ringan.
Rute yang sama mulai terasa pendek.
"𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘳𝘶𝘵𝘦. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘱𝘶𝘵𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pada dirinya sendiri sambil berlari kecil di tempat agar ototnya tidak keburu dingin.
Ervan mengambil jalan di sebelah kiri.
Awalnya tidak ada yang berbeda.
Rumah masih berjajar di kedua sisi jalan. Beberapa warung mulai membuka pintu. Kendaraan sesekali lewat menuju pusat kota.
Namun semakin jauh Ervan berlari, lingkungan perlahan berubah.
Deretan rumah mulai menghilang.
Trotoar dipenuhi retakan.
Bangunan berganti menjadi gudang tua, bengkel kosong, pagar seng berkarat, serta struktur beton yang tampaknya sudah bertahun-tahun tidak digunakan.
Ervan tahu kawasan itu.
Bekas zona industri lama.
Aktivitas sebagian besar sudah dipindahkan setelah jalur logistik baru dibangun.
Bukan wilayah terlarang.
Hanya jarang didatangi.
Ervan terus berlari.
Semakin jauh ia masuk, suara kota semakin samar.
Tidak ada klakson.
Tidak ada orang berbicara.
Hanya napasnya sendiri dan bunyi sepatu menghantam aspal.
Tak.
Tak.
Tak.
Beberapa menit kemudian, langkah Ervan melambat.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Ia menoleh ke kanan.
Gudang kosong.
Ke kiri.
Bangunan beton dua lantai dengan hampir seluruh jendelanya pecah.
Sunyi.
Ervan berhenti.
Bukan sekadar sepi.
Terlalu sunyi.
Tidak ada burung bertengger di kabel.
Tidak terdengar tikus dari tumpukan sampah.
Bahkan suara serangga yang biasanya mudah ditemukan di sekitar bangunan kosong hampir tidak terdengar.
Ervan menarik salah satu earphone dari telinganya.
Tidak ada apa-apa.
Tatapannya jatuh pada pagar kawat yang sudah roboh sebagian.
Di baliknya berdiri sebuah gedung tua.
Pada salah satu dinding terlihat tiga guratan panjang.
Ervan menyipitkan mata.
Goresannya dalam.
Jarak antarbekasnya tidak beraturan.
Ia mendekat satu langkah.
"𝘉𝘦𝘬𝘢𝘴 𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵? 𝘎𝘪𝘨𝘪 𝘦𝘬𝘴𝘬𝘢𝘷𝘢𝘵𝘰𝘳, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯," gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pelan sambil mendongak, matanya menelusuri guratan itu sampai ke ujungnya.
Ervan sendiri tidak yakin.
Posisinya terlalu tinggi.
Mungkin kerusakan lama.
Mungkin vandalisme.
Mungkin—
BRAK!
Suara benda jatuh menggema dari dalam gedung.
Ervan refleks berbalik.
Tubuhnya langsung menegang.
Ia menatap pintu gelap bangunan tersebut.
Satu detik.
Dua.
Tiga.
Tidak ada apa-apa.
Ervan mengembuskan napas.
"𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘢. 𝘗𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘭𝘢𝘧𝘰𝘯 𝘭𝘢𝘱𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪," ucap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, suaranya keluar lebih pelan dari yang ia niatkan, sementara bahunya yang kaku ia paksa turun.
Ia mulai berjalan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Krrrsshh—
Ervan berhenti.
Bulu kuduknya berdiri.
Suara gesekan itu datang dari belakang.
Cepat.
Bukan suara beton runtuh.
Bukan benda jatuh.
Ada sesuatu yang bergerak.
Ervan perlahan menoleh.
Pintu bangunan terbengkalai itu menganga seperti lubang hitam.
Awalnya ia tidak melihat apa pun.
Kemudian—
sesuatu bergerak di dalam bayangan.
Rendah.
Cepat.
Ervan menyipitkan mata.
Dua titik pucat muncul dari kegelapan.
Mata.
Bukan mata manusia.
Siluet berikutnya merangkak keluar perlahan.
Empat kaki menapak pada beton.
Tubuh kurus tetapi dipenuhi otot membungkuk rendah. Bahunya bergerak naik turun mengikuti napas kasar yang mulai terdengar dari kegelapan.
Ervan membeku.
Jantungnya menghantam dada.
Semua materi yang dibacanya beberapa malam terakhir mendadak terasa menghilang.
Tidak mungkin.
Kawasan ini masih terlalu dekat dengan pemukiman.
Seharusnya ada pengawasan.
Seharusnya seseorang mendeteksinya.
Seharusnya ada alarm.
Seharusnya Hunter sudah datang.
Namun tidak terdengar sirene.
Tidak ada petugas.
Tidak ada Hunter.
Hanya dirinya.
Dan makhluk itu.
Satu kaki makhluk tersebut maju.
Cakar panjang menyentuh beton.
Tak.
Telapak tangan Ervan mulai dingin.
Napasnya memendek.
Makhluk itu mengangkat kepala.
Rahangnya terbuka perlahan, memperlihatkan deretan gigi tidak beraturan yang basah oleh air liur.
Pada saat itulah otak Ervan akhirnya menerima satu fakta yang sejak tadi berusaha ditolaknya.
BETA.
Untuk pertama kalinya sejak memutuskan menjadi Hunter—
Ervan berdiri di hadapan makhluk yang sama sekali tidak peduli apakah dirinya sudah siap atau belum.
Dan kali ini, tidak ada tombol restart jika ia melakukan kesalahan.
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊