Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Di Balik Tatapan Arvid
Pak Damar membuka rapat dengan menjelaskan arah pengembangan koleksi berikutnya. Bima kemudian memaparkan batasan material, perkiraan biaya produksi, serta waktu yang dibutuhkan untuk membuat purwarupa.
Setelah itu, giliran Nita menyampaikan evaluasi desain dari timnya.
Arvid mendengarkan sambil sesekali mencatat. Namun, ketika Pak Damar menyebut nama Zinnia, perhatiannya kembali terarah kepada perempuan itu.
“Selanjutnya, kita akan mendengar penjelasan Zinnia mengenai beberapa desain yang sudah ia siapkan.”
Zinnia berdiri. Ia mengambil ponsel dan menyalakan fitur pembaca teks. Setelah memastikan semua berkas siap, ia menghadap para peserta rapat.
“Silakan,” ujar Pak Damar memberi kesempatan.
Zinnia mengetik beberapa kalimat. Suara dari ponselnya kemudian terdengar di ruangan.
“Desain pertama mengangkat konsep keseimbangan melalui bentuk yang gak sepenuhnya simetris. Saya ingin menghasilkan perhiasan yang punya karakter kuat, tapi tetap nyaman dipakai sehari-hari.”
Ia menunjukkan sketsa pertama, kemudian menjelaskan pilihan material, ketebalan bagian tertentu, dan perkiraan proses pembuatannya.
Arvid tidak lagi mencatat. Matanya terpaku pada Zinnia.
Suara dari ponsel itu mengingatkannya pada cara perempuan tersebut berkomunikasi. Ia teringat potongan kejadian di pantai, meskipun ingatannya masih bercampur dengan rasa pusing dan kesadaran yang tidak utuh.
Zinnia beralih ke desain berikutnya.
“Untuk desain kedua, saya pakai ruang kosong sebagai bagian dari konsep. Namun, bagian terbuka ini perlu diuji kembali agar gak mudah berubah bentuk saat dipakai.”
Pak Damar mengangguk. “Gimana kamu nentuin ketebalan yang aman?”
Zinnia segera mengetik jawabannya.
“Ketebalan akhir perlu ditentukan lewat pengujian material dan pembuatan purwarupa. Saya belum bisa mastiin angka yang pas sebelum hasil pengujian ada.”
Jawaban itu membuat Pak Damar tersenyum puas. “Bagus. Kamu paham batas antara konsep dan hasil yang sudah teruji.”
Laras ikut mengamati sketsa tersebut dengan saksama. “Karakter desainnya cukup beda dari koleksi kita sebelumnya,” katanya. “Menurutku, ini bisa dikembangin jadi seri yang menarik jika konsistensi bentuknya dijaga.”
Zinnia mengangguk sebagai ucapan terima kasih.
Sementara itu, Arvid semakin sulit mengalihkan pandangan. Perempuan itu bukan sekadar sosok yang sekilas menyerupai seseorang dalam ingatannya. Cara ia menggerakkan tangan, ekspresinya ketika mendengarkan kritik, dan kebiasaannya menunduk sebentar sebelum mengetik jawaban terasa begitu familiar.
Arvid mencengkeram pena di tangannya. Nama perempuan itu tadi disebut dengan jelas.
Zinnia. Zinnia Arunika.
Ia pernah memerintahkan Juki untuk mencari seorang perempuan yang bahkan tidak mampu ia gambarkan dengan baik. Ia juga terus memikirkan cincin yang diberikannya malam itu dan kalimat yang diucapkannya sebelum meninggalkan pantai.
Cari aku dengan cincin ini.
Arvid menatap perempuan di hadapannya dengan dada menegang.
Apakah ini orang yang sama?
“Pak Arvid, gimana pendapat Bapak?” tanya Pak Damar.
Arvid tersentak kecil. Ia baru menyadari bahwa semua orang sedang menunggunya memberikan tanggapan.
Ia menunduk menatap sketsa di hadapannya, lalu kembali memandang Zinnia.
“Desain kedua,” katanya. “Bisa jelasin lebih lanjut gimana kamu pertahanin bentuknya tanpa bikin bagian yang terbuka mudah tersangkut pada pakaian?”
Zinnia sempat terdiam. Ia tidak menyangka CEO perusahaan akan mengajukan pertanyaan langsung kepadanya.
Namun, ia segera mengetik jawaban.
“Saya akan menguji beberapa variasi bentuk ujung dan ketebalan. Bagian yang terbuka juga perlu dibuat cukup halus agar gak punya sudut tajam. Jika hasil uji nunjukin risiko tersangkut masih tinggi, akan saya sesuaikan bentuknya tanpa ngilangin karakter utama desain.”
Arvid mengangguk pelan. “Lanjutin pengembangannya. Pastikan hasil pengujiannya dicatat sebelum desain ini masuk tahap produksi.”
Zinnia menatapnya sekilas. Pria itu berbicara dengan tenang, seperti CEO yang sedang menilai pekerjaan seorang karyawan. Tidak ada tanda bahwa ia mengenal Zinnia atau pernah bertemu dengannya di luar perusahaan.
Namun, Zinnia menangkap sesuatu dalam tatapan Arvid. Pria itu terus memperhatikannya.
Apakah ia mulai mengenalinya?
Zinnia buru-buru menunduk dan kembali duduk setelah menyelesaikan presentasinya.
Nita yang sejak tadi memperhatikan Arvid mulai merasa ada yang tidak beres. Biasanya, Arvid memang serius ketika membahas pekerjaan. Ia juga tidak segan memberikan pertanyaan sulit kepada siapa pun. Akan tetapi, kali ini ia tampak lebih sering mengamati Zinnia, bahkan ketika perempuan itu tidak sedang berbicara.
Nita melirik Zinnia.
Penampilannya sederhana. Riasannya nyaris tidak terlihat, tetapi wajahnya tetap menarik. Ia juga memiliki bakat yang membuat Pak Damar dan Laras memberikan perhatian khusus sejak proses seleksi.
Nita merapatkan jemarinya di atas meja. "Jangan-jangan Arvid tertarik sama dia?"
Pikiran itu membuat dadanya terasa panas. Namun, ia segera menepisnya. Tidak ada bukti bahwa perhatian Arvid memiliki arti pribadi. Bisa saja pria itu hanya sedang menilai karyawan baru. Meski begitu, Nita tidak menyukai kemungkinan tersebut.
Ia sudah bertahun-tahun berada di lingkungan Arvid. Ia mengenal keluarga pria itu, memahami kebiasaan mereka, dan sering mendampinginya dalam berbagai acara. Ia tidak ingin seorang karyawan baru tiba-tiba mendapatkan perhatian yang selama ini dianggapnya sebagai sesuatu yang wajar ia miliki.
“Kalo gak ada tambahan, kita lanjutkan dengan penentuan jadwal pembuatan purwarupa,” ujar Pak Damar, memecah keheningan.
Rapat kembali berjalan.
Arvid berusaha memusatkan perhatian pada angka, jadwal, dan keputusan yang harus dibuat. Namun, beberapa kali ia mendapati dirinya melirik Zinnia.
Setiap kali perempuan itu mengetik di ponselnya, Arvid teringat pada sosok di pantai. Ketika Zinnia mengangkat wajah, ia kembali merasakan kegelisahan yang sama.
Ini bukan sekadar bayangan. Perempuan itu benar-benar ada di sana. Dan ia bekerja di perusahaannya.
Arvid mengerutkan kening. "Sejak kapan?" tanyanya dalam hati.
Ia tidak pernah melihat Zinnia sebelumnya. Namun, perusahaan memiliki banyak karyawan dan ia tidak terlibat langsung dalam setiap proses perekrutan. Sangat mungkin perempuan itu baru bergabung tanpa pernah melewati jalur kerjanya secara langsung.
Arvid ingin menanyakan siapa yang merekrut Zinnia dan kapan perempuan itu mulai bekerja. Akan tetapi, ia menahan diri. Ia tidak bisa menginterogasi seorang karyawan di tengah rapat hanya karena memiliki dugaan pribadi. Terlebih, ia belum yakin bahwa Zinnia adalah perempuan yang dicarinya.
Ia membutuhkan bukti.
“Baik, kalo begitu, rapat hari ini selesai,” kata Pak Damar setelah seluruh keputusan dicatat. “Zinnia, nanti koordinasikan pengembangan purwarupa dengan Bima. Untuk sementara, jangan ubah konsep utamanya sebelum kita lihat hasil pengujian.”
Zinnia mengangguk, lalu mulai merapikan berkas.
Arvid menutup mapnya. "Sebentar."
Semua orang berhenti.
...🔸🔸🔸...
...“Ketika kita merasa terancam oleh kehadiran orang lain, yang perlu dipertanyakan bukan selalu kelebihan orang itu, melainkan rasa takut dalam diri kita sendiri.”...
...“Nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa lantang ia berbicara, melainkan oleh apa yang mampu ia tunjukkan melalui kemampuan, sikap, dan keberaniannya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
kasihan Zinnia....semoga dapat Perlakuan istimewa dari Arvid setelah kebebarannya terungkap....
Dan berharap Keluarga Danendra sangat baik tidak memandang sosial media
jangan di urungkan lagi niatnya ya Zinn....
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...