Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Pertemuan yang Tak Disangka
Mobil mewah Vano meluncur halus hingga berhenti tepat di halaman depan gedung pencakar langit S Viandra Corporation. Pintu terbuka, dan ia melangkah keluar — wajahnya kembali tenang, dingin, namun langkahnya terhenti seketika begitu menyadari suasana sepi di sekelilingnya. Di samping mobil, berdiri Reino — asisten pribadinya yang selalu setia menemaninya ke mana pun.
Vano melirik tajam ke arah pria itu, memelototinya dalam hati penuh kekesalan.
Kenapa kau tidak mengingatkanku hari ini libur?! batinnya menggerutu kesal.
Harusnya aku tidak perlu datang ke sini sia-sia!
Reino hanya menunduk hormat, tatapannya tenang namun tegas. Ia sudah mengingatkannya — tepat sebelum berangkat, di dalam mobil, bahkan saat baru saja tiba. Ia sudah mengucapkannya dengan jelas:
"Tuan, hari ini akhir pekan, kantor libur."
Namun pikiran Vano sedari tadi tertutup sepenuhnya oleh rasa muak dan kekacauan perasaan akibat kejadian semalam di hotel bersama Elona. Ia tak mendengar satu kata pun. Ia tak menyadari apa yang dikatakan padanya. Dan kini, Reino hanya berdiri diam, membiarkan tuannya menyadarinya sendiri.
Vano menghela napas kasar, menepuk keningnya sekilas.
Benar-benar tak waras… sampai lupa hari apa.
Pikirannya masih tertinggal di kejadian semalam, di rasa jijik yang menghantui, hingga ia tak mendengar apa pun yang dikatakan orang lain.
Namun tepat saat ia hendak berbalik, langkahnya terhenti kembali. Di sana, tepat di depan pintu putar itu, berdiri sosok yang tak asing baginya — Meloudy.
Ia mengenakan pakaian sederhana namun rapi, tas kecil tersampir di bahu, sepatu bersih, rambutnya diatur rapi. Di tangannya, ia memegang bungkusan kecil berisi makanan kesukaan ibunya yang sudah dibelinya sejak pagi tadi. Wajahnya tampak cemas namun penuh harap — siap berangkat, tak menyangka akan berpapasan langsung dengan atasannya di saat seperti ini.
Saat melihat Vano, Meloudy tertegun sejenak, lalu segera menunduk hormat, menyisihkan jalan.
"Selamat pagi, Tuan Vano," sapanya pelan, sopan, tak berani menatap terlalu lama.
Vano mengangguk pelan, sedikit canggung, kesal pada dirinya sendiri bukan pada orang lain.
"Pagi…" suaranya rendah, tidak setajam biasanya.
"Kau mau ke mana?"
Meloudy mengangkat wajah sedikit, terkejut bahwa ia justru ditanya.
"Maaf, Tuan… hari ini akhir pekan, saya izin berangkat ke rumah sakit menjenguk Ibu. Beliau dirawat di sana."
Vano mengangguk lagi, kini semakin sadar bahwa Reino benar — dan ia sendirilah yang tak mendengar. Ia tak menoleh lagi ke arah asistennya, tak ingin terlihat lebih bodoh dari yang sudah-sudah. Tatapannya kembali tertuju pada Meloudy — sorot mata itu, caranya berdiri, kelembutan yang tersembunyi di balik keteguhan… semuanya terasa begitu akrab, seakan pernah dilihatnya di suatu tempat yang jauh. Namun ia tak bisa menunjuk di mana.
"Ibumu… semoga lekas sembuh," ucapnya tiba-tiba, lembut, tanpa sadar.
Meloudy tertegun lebih dalam.
"Terima kasih, Tuan…" suaranya bergetar halus.
"Terima kasih banyak."
Ia menunduk lagi, berniat melangkah menyisihkan diri.
"Kalau begitu, saya pamit dulu."
"Tunggu."
Langkahnya terhenti. Meloudy menoleh kembali, bingung.
"Ya, Tuan?"
Vano mengeluarkan dompet dari saku jasnya, mengambil sejumlah uang yang cukup besar, lalu menyodorkannya.
"Ambil ini. Untuk kebutuhan ibumu. Jangan menolak."
Meloudy menatap tangan itu, lalu ke arah wajah pria itu — matanya tulus, bukan tatapan yang ingin memiliki, melainkan… rindu? Ia tak mengerti.
"Saya… tidak bisa, Tuan. Terima kasih, tapi saya…"
"Ambil, Meloudy." Suaranya tegas namun lembut.
"Anggap saja bantuan pribadi. Jangan pikirkan pekerjaan hari ini."
Meloudy menerima dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Terima kasih, Tuan… terima kasih banyak." Matanya berkaca-kaca, namun ia menahannya agar tak jatuh.
"Saya berjanji akan bekerja lebih giat saat kembali."
Vano mengangguk pelan, menyisihkan jalan.
"Pergilah. Semoga ibumu kuat."
Meloudy mengangguk hormat, lalu melangkah pergi — langkahnya cepat, penuh rasa syukur yang memenuhi dadanya. Ia tak menoleh, tak melihat bahwa Vano berdiri diam di tempatnya, menatap punggung wanita itu hingga hilang di kejauhan.
Ada apa dengan ku? batinnya bergumam pelan.
Mengapa setiap kali melihatnya, aku merasa seolah...
Ah... Entahlah!
Namun ia tak tahu. Meloudy pun tak tahu — bahwa pria yang berdiri di sana, yang terlihat begitu jauh dan tak tersentuh, justru memikirkan sosok yang ia sembunyikan di balik nama kanal Laudys, tanpa menyadari bahwa wanita yang baru saja berterima kasih padanya adalah orang yang sama.
...****************...
Vano melangkah masuk ke lobi yang kini benar-benar sepi, lalu menuju lift pribadi. Reino mengikutinya dari belakang, siap menekan tombol lantai atas, namun Vano mengangkat tangan pelan.
"Kau boleh pulang, Reino," ucapnya tanpa menoleh, suaranya tenang namun tegas.
"Istirahatlah. Aku sendiri ke atas."
Reino mengangguk hormat.
"Baik, Tuan. Semoga akhir pekan Anda menyenangkan."
Pintu lift tertutup, meninggalkan Vano sendirian di ruang sempit itu. Ia menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin dinding — wajahnya masih tampak lelah, namun ada sesuatu yang sedikit lebih ringan di dadanya. Hari ini, setidaknya, ia tak perlu berpura-pura di hadapan siapa pun.
Sesampainya di lantai teratas, ia melangkah lurus menuju pintu di bagian paling belakang ruang kerjanya — pintu yang tak ada kunci, tak ada papan nama, tak ada yang tahu fungsinya selain dirinya sendiri. Ruangan itu disiapkan khusus, kedap suara, terisolasi dari seluruh bagian gedung. Tak ada satu pun orang yang boleh masuk ke sana. Bahkan Reino pun tidak pernah tahu apa yang tersembunyi di balik pintu itu.
Ia membukanya, melangkah masuk, lalu menguncinya rapat di belakang. Ruangan itu remang, hanya diterangi cahaya lembut dari layar lebar yang menunggu di tengah ruangan. Vano duduk perlahan, menyalakan sistem, dan mengetik satu nama yang selalu ia cari, berulang kali, tanpa pernah bosan — Laudys.
Video-video lamanya muncul satu per satu, seperti pertemanan lama yang kembali menyapa. Ia menekan tombol putar, membiarkan alunan musik memenuhi ruangan tertutup itu.
Pertama, Until the End — petikan gitar yang tegas namun penuh perasaan mengalun lembut, setiap nada terangkut dengan ketepatan yang luar biasa.
Lalu Afterlife — tempo yang cepat, tenunan nada yang berputar lincah seakan menari di udara, membuatnya terpaku, seolah setiap getaran senar itu menyentuh sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam dirinya.
Almost Easy menyusul, melodi yang menenangkan namun menyayat hati, diikuti —
So Far Away — yang begitu dalam, begitu sendu, seakan mengisahkan perpisahan yang tak pernah benar-benar usai.
Vano mendengarkan dalam diam, matanya tak lepas dari layar. Wajah sosok itu selalu tersembunyi, dijauhkan dari lensa, namun setiap kali tangannya bergerak di atas gitar, ia merasa seakan mengenalnya.
Hingga satu judul muncul — video yang diunggah tepat satu tahun lalu, yang paling ia sukai, yang paling membuatnya tak bisa melupakan.
Colaborasi dengan Avenged Sevenfold — Nightmare.
^^^Bersambung...^^^
ah cowok kan emang begitu