Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Srak.
Srak.
Langkah kaki Arga terdengar berat menyeret dedaunan busuk di lantai Hutan Hitam.
Pria itu mengayunkan goloknya ke kanan dan ke kiri untuk memotong akar gantung yang menghalangi jalan.
Napasnya terdengar memburu dan keringat dingin sebesar biji jagung membasahi seluruh wajahnya.
Di sekelilingnya, kegelapan malam terasa semakin pekat dan sangat mencekam.
Hanya cahaya kemerahan dari obor bambu di tangan kirinya yang menjadi satu-satunya sumber penerangan yang ia miliki.
Arga menelan ludah dengan susah payah saat matanya menangkap sesuatu di balik semak-semak.
Ada puluhan pasang mata menyala berwarna kuning dan merah yang sedang menatapnya dengan buas.
"Pergi kalian semua dari sini."
Arga berteriak dengan suara parau sambil mengayunkan obornya ke udara untuk menakuti hewan-hewan buas itu.
Beberapa pasang mata itu mundur sejenak namun kembali mendekat merayap saat Arga lengah.
Mereka seolah sedang menunggu obor itu mati sebelum berani merobek-robek tubuh pria nekat tersebut.
Tap.
Tap.
Beberapa ratus meter di belakang Arga, Gaga menghentikan langkah kakinya dengan sangat pelan.
Serigala raksasa itu merendahkan tubuhnya untuk bersembunyi di balik sebuah batu besar yang dipenuhi lumut.
"Kenapa kita berhenti di sini, Gaga?"
Natasya berbisik tepat di dekat telinga sahabatnya itu agar suaranya tidak terdengar keras.
"Apa ayahku sudah terlihat di jalan depan sana?"
"Ayahmu ada di depan sana sedang dikelilingi oleh sekawanan anjing liar yang kelaparan."
Gaga menjawab dengan suara sepelan mungkin sambil terus mengawasi pemandangan dari kejauhan.
"Anjing liar itu sangat takut dengan api, jadi mereka hanya berani mengikuti ayahmu dari jarak yang jauh."
Natasya menyipitkan matanya menembus kegelapan dan akhirnya bisa melihat cahaya obor ayahnya yang bergoyang-goyang.
"Syukurlah Ayah masih hidup dan baik-baik saja."
"Ayo kita hampiri Ayah sekarang juga, Gaga."
"Jangan lakukan itu sekarang, Natasya."
Gaga menahan tubuh gadis kecil itu yang baru saja hendak merosot turun dari punggung tebalnya.
"Kalau ayahmu melihatmu menyusul ke tempat ini, dia pasti akan sangat marah dan langsung menyuruhmu pulang."
"Ayah pasti akan memaksaku kembali ke desa sendirian atau mengantarku pulang sampai ke perbatasan lagi."
Natasya bergumam pelan setelah menyadari kebenaran mutlak dari ucapan serigala tersebut.
"Kalau Ayah mengantarku pulang, waktu untuk mencari obat bagi Ibu akan terbuang sia-sia dan Ibu bisa mati."
"Benar sekali, pikiran manusia dewasa itu sangat kaku dan sangat susah untuk diubah."
Gaga menyandarkan dagu besarnya di atas batu agar bisa terus memantau pergerakan Arga dengan nyaman.
"Kita ikuti saja pria keras kepala itu dari belakang secara diam-diam untuk memastikan dia tetap aman dari bahaya."
"Baiklah, kita akan mengawasinya dari dalam bayangan saja."
Natasya kembali memeluk leher Gaga dengan sangat erat dan menyamankan posisi duduknya.
"Terima kasih karena kamu sudah berpikir jauh ke depan untukku, Gaga."
Perjalanan Arga menembus wilayah awal Hutan Hitam berjalan dengan sangat lambat dan penuh kewaspadaan tinggi.
Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa putri kecilnya sedang mengikutinya dari jarak yang sangat aman.
Gaga berjalan tanpa menimbulkan suara sedikitpun seperti sebuah bayangan hantu yang berburu di malam hari.
Keahlian berburu serigala buas itu membuat langkah mereka benar-benar tidak terdeteksi oleh indra manusia.
Wushhh.
Angin malam tiba-tiba berhembus semakin kencang membawa aroma busuk yang terasa lebih pekat dari sebelumnya.
Natasya terpaksa menutup hidungnya rapat-rapat karena merasa sangat mual dengan bau udara yang membusuk tersebut.
"Kita sudah semakin masuk ke wilayah perbatasan terdalam yang lebih gelap."
Gaga mendengus pelan karena hidungnya yang sangat sensitif juga merasa sangat terganggu dengan bau itu.
"Area di depan ini adalah wilayah kekuasaan mutlak dari kelompok hewan yang paling menyebalkan di seluruh hutan."
"Hewan menyebalkan apa yang sebenarnya kamu maksud, Gaga?"
Natasya bertanya dengan rasa penasaran yang mendadak muncul mengalahkan rasa mual di perutnya.
"Apa mereka berukuran lebih besar dan lebih menyeramkan dari ular sanca penjaga pohon tadi?"
"Mereka sama sekali tidak menyeramkan secara fisik, tapi sifat mereka sangat licik dan suka mencuri."
Gaga menatap tajam ke arah dahan-dahan pohon besar yang saling bersilangan di atas kepala mereka.
"Mereka adalah sekawanan kera ekor merah liar yang sangat hobi mengganggu siapa saja yang kebetulan lewat sini."
Kik.
Kik.
Kik.
Tepat setelah Gaga menyelesaikan penjelasan singkatnya, suara pekikan nyaring langsung terdengar dari atas pohon di depan mereka.
Suara itu tidak hanya berasal dari satu sumber, melainkan ada puluhan suara yang saling bersahutan membuat telinga sakit.
Arga yang berada cukup jauh di depan langsung menghentikan langkahnya dengan posisi tubuh menegang kaku.
Pria itu mengangkat obornya tinggi-tinggi untuk menerangi kanopi hutan lebat di atasnya.
Dari celah dedaunan, puluhan bayangan kecil terlihat bergelantungan dan melompat lincah dari satu dahan ke dahan lainnya.
"Siapa di atas sana?"
Arga berteriak panik sambil menodongkan goloknya ke atas bersiap untuk menebas jika ada yang berani menyerang.
Napas pria itu semakin tidak beraturan karena rasa lelah fisik dan rasa takut secara mental mulai bercampur aduk.