NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 SUKMA HARUMA TERLEPAS SESAAT
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT...
Jeritan panjang dari monitor detak jantung di ruang ICU itu perlahan-lahan mulai terdengar sumbang di telinga Haruma. Suara melengking yang menandakan berhentinya kehidupan itu perlahan memudar, seolah-olah ditarik menjauh ke ujung lorong yang tak berbatas.
Di atas ranjang medisnya, tubuh fisik Haruma sedang dihentak kuat oleh aliran listrik dari alat defibrillator milik Dokter Surya. Dadanya ditekan, diinjeksi dengan obat-obatan pemicu jantung, dan dikelilingi oleh kepanikan luar biasa dari para tenaga medis.
Di balik kaca, tangis histeris Nisa dan Zaki pecah mengoyak malam.
Namun, Haruma sama sekali tidak merasakan apa-apa.
Rasa sakit yang sebelumnya merobek perutnya, sensasi selang plastik yang mencekik tenggorokannya, dan hawa dingin dari mesin pendingin ruangan... semuanya menguap begitu saja. Digantikan oleh sebuah sensasi melayang yang teramat ringan, seolah gravitasi bumi tak lagi memiliki kuasa atas dirinya.
.....
.....
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
🛕🛕🛕🛕🛕🛕🛕
Haruma membuka matanya.
Tidak ada lagi lampu pendar putih yang menyilaukan dari langit-langit ruang ICU. Tidak ada lagi dinding-dinding steril berwarna pucat.
Semuanya berganti menjadi hamparan kegelapan yang pekat, sebelum akhirnya perlahan-lahan memudar bagai kabut yang tersingkap oleh embusan angin malam.
Saat penglihatannya mulai beradaptasi, Haruma menyadari bahwa ia tidak lagi berada di rumah sakit.
Ia sedang berdiri tanpa alas kaki di atas hamparan tanah liat yang berdebu dan bebatuan andesit yang kasar. Angin malam yang berembus di tempat itu terasa sangat berbeda; tidak membawa bau antiseptik, melainkan membawa aroma tanah basah, keringat, bau amis darah, dan kepulan asap kemenyan yang sangat tajam menyengat rongga penciumannya.
Haruma menunduk, menatap kedua belah tangannya. Napasnya seketika tercekat.
Tangan itu ada, namun tidak memiliki wujud fisik yang padat. Kulit dan jemarinya tampak semi-transparan, memancarkan pendar cahaya biru keputihan yang sangat redup. Ia mencoba memegang lengannya sendiri, namun jemarinya menembus begitu saja seolah menembus asap.
Di detik yang membekukan darah itu, alam bawah sadar Haruma menyadari satu kenyataan yang teramat mengerikan.
Tubuhnya sedang sekarat di atas ranjang rumah sakit, dan ini... ini adalah sukmanya.
Sukmanya telah terlepas dari raga, terlempar keluar dari garis waktu manusia, dan terperosok jatuh ke dalam dimensi gaib.
Haruma mengangkat wajahnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya membelalak lebar, diselimuti oleh horor dan kekaguman yang bercampur aduk menjadi satu.
Di hadapannya, menjulang siluet bangunan-bangunan batu raksasa yang menembus langit malam berwarna merah darah.
Itu adalah Candi Prambanan.
Namun, ini bukanlah bangunan utuh candi yang biasa ia lihat bersama Yuda dan Harumi saat latihan teater.
Bangunan-bangunan ini masih baru, beberapa di antaranya masih separuh jadi.
Ini adalah dimensi masa lalu.
Titik nol di mana legenda itu lahir ribuan tahun yang silam.
GRUUUMMM... DUM... DUM...
Suara gemuruh tanah yang diinjak oleh ribuan kaki bergaung memekakkan telinga. Haruma menoleh ke arah timur, dan apa yang ia lihat membuat seluruh keberaniannya luruh ke tanah.
Hamparan pelataran candi yang maha luas itu tidak dipenuhi oleh manusia. Pelataran itu dipenuhi oleh lautan makhluk mengerikan yang jumlahnya mencapai ribuan. Mereka adalah bangsa lelembut—jin, siluman, dan iblis berwujud raksasa yang dipekerjakan oleh sihir hitam.
Ada makhluk bertubuh sebesar gajah dengan kepala menyerupai babi hutan bertaring panjang.
Ada sosok bayangan hitam legam dengan banyak lengan yang memanjat tumpukan batu seperti laba-laba raksasa.
Ada pula entitas yang tubuhnya diselimuti api biru, melayang sambil membawa balok-balok batu andesit seberat puluhan ton seolah-olah batu itu hanya sekepal kerikil.
Ribuan lelembut itu bekerja dengan kecepatan dan kekuatan yang mustahil dilakukan oleh peradaban manusia mana pun. Membangun seribu candi dalam waktu satu malam bukanlah sebuah kiasan.
Haruma sedang menyaksikannya sendiri.
Kengerian yang absolut membuat sukma Haruma gemetar hebat.
Ia ingin berteriak, namun sukmanya tak memiliki pita suara untuk memecah keheningan. Untungnya, makhluk-makhluk gaib kelas pekerja itu tampaknya tidak menyadari kehadiran sukma Haruma yang menyempil di antara pilar-pilar batu.
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan mistis yang nyaris selesai itu, sebuah gelombang energi yang luar biasa besar dan kelam tiba-tiba menyapu seluruh pelataran.
Udara seketika terasa sangat panas dan menyesakkan. Ribuan lelembut yang sedang memanggul batu tiba-tiba menghentikan pekerjaan mereka. Mereka menunduk, bersujud ke arah tanah, memberikan jalan bagi sosok yang memancarkan aura kegelapan tersebut.
Dari sela-sela kabut merah, berderaplah langkah seorang pria dengan postur tubuh yang sangat tinggi, gagah, dan mengintimidasi.
Ia mengenakan zirah perang kerajaan berhiaskan ukiran emas yang memantulkan cahaya bulan sabit. Matanya menyala kemerahan, menyimpan kekuatan magis yang sanggup meratakan gunung.
ITULAH BANDUNG BONDOWOSO YANG SESUNGGUHNYA.
Sang ksatria sakti mandraguna, penakluk Kerajaan Baka, yang kini dikuasai oleh ambisi dan nafsu untuk meminang putri dari raja yang telah ia bunuh.
Dan tidak jauh dari hadapan Bandung Bondowoso, berdiri sesosok perempuan yang dikelilingi oleh beberapa dayang manusia yang gemetar ketakutan.
Mata sukma Haruma terbelalak sempurna saat melihat perempuan itu. Jantung gaibnya seakan berhenti berdetak.
Perempuan itu memiliki paras yang luar biasa cantik, bak bidadari yang turun dari kahyangan. Namun, wajahnya dipenuhi oleh gurat ketakutan, keputusasaan, sekaligus kebencian yang mendalam.
Ia mengenakan kemben batik berwiron dengan motif kuno, dan sebuah selendang berwarna merah darah melingkar di bahunya.
ITU ADALAH RORO JONGGRANG.
Dan pakaian yang dikenakannya... pakaian itu persis sama dengan pakaian yang dikenakan oleh sosok iblis bergaun merah yang merasuki adiknya, Harumi, di atas panggung!
"Tinggal satu candi lagi, Roro Jonggrang!" Suara Bandung Bondowoso menggelegar, membelah langit malam bagai suara guntur.
Suaranya sarat akan keangkuhan dan kemenangan. "Seribu candi yang kau minta sebagai syarat untuk menolakku, akan segera berdiri sebelum fajar menyingsing! Kau tidak bisa lagi lari dari takdirmu untuk menjadi permaisuriku!"
Wajah Roro Jonggrang semakin memucat.
Ia menoleh ke arah timur dengan gelisah, menanti sebuah rencana yang telah ia siapkan dengan penuh keputusasaan.
Tiba-tiba, dari kejauhan di arah timur, sayup-sayup terdengar suara ketukan lesung—alat penumbuk padi—yang bertalu-talu.
Tuk... Tak... Tuk... Tak...
Suara itu disusul oleh kokok ayam jantan yang saling bersahutan memecah malam, dan semburat cahaya kemerahan yang seolah-olah menandakan fajar telah tiba, hasil dari jerami yang dibakar oleh para wanita desa atas perintah sang putri.
Mendengar suara itu, kepanikan massal melanda ribuan bangsa lelembut.
Mereka adalah makhluk malam yang takut pada cahaya matahari.
Mengira fajar benar-benar telah menyingsing, ribuan jin dan iblis pembangun candi itu menjerit ketakutan. Mereka menjatuhkan balok-balok batu raksasa itu begitu saja hingga tanah bergetar hebat.
Dalam hitungan detik, lautan lelembut itu berhamburan, berubah menjadi asap hitam yang masuk kembali ke dalam pori-pori bumi, meninggalkan candi ke-seribu yang belum sepenuhnya selesai.
Bandung Bondowoso terdiam.
Aura kemenangannya seketika berubah menjadi kebingungan, yang dengan cepat bertransformasi menjadi kemurkaan yang meledak-ledak saat ia menyadari bahwa fajar di ufuk timur itu hanyalah sebuah tipuan.
"KAU MENIPUKU, JONGGRANG!!"
Raungan Bandung Bondowoso menggetarkan seluruh dimensi gaib. Gelombang sihir hitam memancar dari tubuhnya, menghancurkan bebatuan di sekitarnya menjadi debu.
Dayang-dayang Roro Jonggrang jatuh pingsan akibat tekanan energi pembunuh yang begitu pekat.
Roro Jonggrang mundur beberapa langkah, kakinya gemetar, namun ia tetap mendongak menatap pria yang telah membunuh ayahnya itu dengan sorot mata penuh kebencian. "Lebih baik aku mati daripada harus bersanding dengan manusia iblis pembunuh sepertimu!"
Wajah Bandung Bondowoso menggelap.
Matanya yang merah menyala menatap Roro Jonggrang dengan kemarahan abadi.
Ia mengangkat tangan kanannya, mengumpulkan seluruh sisa sihir hitam dari pasukannya yang telah kabur, dan menudingkan jari telunjuknya tepat ke arah Roro Jonggrang.
Momen itu terjadi.
Kutukan legendaris itu diucapkan, namun dengan kengerian yang tak pernah tertulis dalam buku sejarah mana pun.
"Jika seribu candi ini butuh satu arca lagi untuk diselesaikan... MAKA KAULAH YANG AKAN MENJADI CANDI TERAKHIR ITU, RORO JONGGRANG!"
JLEEEEDAAAARRRR!!!
Sebuah kilat hitam kemerahan menyambar dari langit, menghantam tubuh Roro Jonggrang dengan kekuatan yang maha dahsyat.
Sukma Haruma menjerit tanpa suara saat melihat proses kutukan itu secara langsung. Itu bukanlah proses membatu yang damai.
Itu adalah penyegelan yang sangat menyiksa. Daging, darah, dan tulang Roro Jonggrang dipaksa mengeras, mengubah sel-sel manusiawinya menjadi bongkahan batu andesit yang dingin.
Namun, bukan hanya itu yang membuat Haruma ketakutan setengah mati.
Saat sihir kutukan itu menghantam Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso secara tak sengaja mengikat jiwa salah satu Panglima Jin pengikutnya yang paling ganas ke dalam tubuh sang putri.
Panglima Jin yang belum sempat kabur ke dalam tanah itu, ikut tersegel bersama jiwa Roro Jonggrang di dalam tubuh batu tersebut.
Saat wujud Roro Jonggrang hampir sepenuhnya menjadi arca batu yang bisu, di detik-detik terakhir, mata sang putri terbuka. Namun, itu bukan lagi mata Roro Jonggrang.
Mata itu telah berubah menjadi hitam pekat keseluruhannya—mata milik entitas iblis yang terjebak di dalamnya, mata yang menyimpan dendam kesumat yang akan membusuk selama ribuan tahun.
Dan entah bagaimana, di tengah pusaran dimensi yang mulai runtuh itu... mata hitam legam yang berada di dalam arca tersebut bergerak.
Menatap langsung ke arah sukma Haruma yang sedang bersembunyi di balik pilar.
Iblis itu bisa melihat Haruma.
Makhluk itu bisa mencium aroma 'Tulang Wangi' dari sukma Haruma yang tersesat melintasi ruang dan waktu.
Seringai mengerikan terbentuk di wajah arca batu yang kaku itu.
Sebuah bayangan tangan astral yang dipenuhi kuku hitam tajam menjulur keluar dari dalam batu, memanjang dengan kecepatan kilat, menyambar ke arah sukma Haruma untuk menarik jiwa gadis itu ke dalam kegelapan abadi sebagai tumbal pertamanya.
Kuku hitam itu berjarak beberapa sentimeter saja dari wajah sukma Haruma. Haruma tak bisa bergerak, lumpuh oleh teror absolut.
Namun, tepat sebelum kuku iblis itu merobek sukmanya...
.....
.....
BAMMM!!!
Sebuah tarikan energi yang jauh lebih kuat dari arah berlawanan menghantam punggung Haruma. Itu adalah sentakan dari alat defibrillator di dunia nyata.
Dalam sekejap mata, dimensi masa lalu Prambanan itu hancur berkeping-keping.
Sukma Haruma tersedot dengan kecepatan cahaya, tertarik mundur menembus lorong waktu yang gelap gulita, diiringi oleh jeritan kemarahan iblis kuno yang kehilangan mangsanya.
TIIIIII... TIT... TIT... TIT... TIT...
.....
.....
Haruma membuka matanya.
Napasnya tersedak keras, melawan tabung intubasi di tenggorokannya.
Cahaya lampu pendar putih ruang ICU kembali menyilaukan matanya, bersamaan dengan suara helaan napas lega dari Dokter Surya dan tangis syukur Zaki dan Nisa yang pecah di luar ruangan.
Sukmanya telah kembali ke dalam raganya.
Namun Haruma kini tahu satu hal yang teramat pasti: Kutukan itu bukanlah dongeng, dan entitas iblis bermata hitam yang merasuki adiknya itu...
BARU SAJA TERBANGUN SEPENUHNYA.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda