Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : TIKET PULANG
Angkasa masih duduk kaku di restoran hotel Luminor. Dua piring ayam bakar dan sop buntut di depannya sudah dingin. Bon tulisan tangan Devan tadi masih tergeletak. Ia merasa bodoh. Sangat bodoh.Ia menyetir 45 menit dari Surabaya dengan kecepatan 120 km/jam, menerobos hujan, hanya karena satu foto. Dan yang ia temui adalah Bintang yang tidak selingkuh, tapi sedang kerja.
Di kamar 312, Bintang tidak menangis lama. Ia ibu suri yang mandiri, ingat? Air mata satu tetes tadi adalah yang terakhir untuk malam ini.
Ia membuka sebuah Aplikasi online.
Klik.
Klik.
Travel Sidoarjo - Surabaya. Keberangkatan 21.00 malam ini. 1 kursi. Penumpang: Bintang Kejora. Status: CONFIRMED.
Pekerjaannya sudah selesai. MoU 350jt sudah TTD di lobby dengan Devan. Laporan audit 12 halaman sudah ia kirim ke email direksi. Gudang sudah ia evaluasi, Mandor Anggara sudah ia beri SP1 via HRD. Tidak ada lagi alasan untuk tinggal di Sidoarjo. Bahkan tidak ada alasan untuk menunggu Angkasa yang datang tanpa faedah itu.
Bintang berkemas. Koper kecilnya ia tutup. Helm proyek kuning ia kembalikan ke tas. Ia turun ke lobby dengan kopernya, sudah memakai hoodie hitam dan masker.
Siap pulang.
Angkasa yang melihat Bintang turun dengan koper langsung berdiri.
"Bintang? Mau kemana kamu?" tanya Angkasa panik.
Bintang menatapnya datar.
Tidak ada lagi panggilan "Sa" yang manja.
"Pulang. Pekerjaan saya sudah selesai, Pak Dirut. Travel saya jam 9 malam ini. 15 menit lagi datang," jawab Bintang sambil menunjukkan e-tiket di HP-nya.
Angkasa terpaku. Jadi kedatangannya sungguh-sungguh unfaedah. Tidak ada yang perlu diselamatkan. Tidak ada istri yang perlu dijemput karena istri sudah pesan tiket sendiri.
"Kamu... kamu pesan travel sendiri? Kenapa gak bilang? Tang kita bisa pulang bareng. Aku bawa Alphard," kata Angkasa, suaranya mulai memelas.
"Saya tidak ada meminta kamu harus jemput." Tolaknya dingin.
"Tang, aku suami mu. Batalkan saja Tiket itu. Berapa ini harga Tiket." Angkasa jelas ingin mereka baikan.
"Bukan tentang harga tiket, tapi amanah dengan sesuatu yang sudah di pesan. Se amanah kamu jaga Damar dan Bintang." Sindirnya. Sumpah Bintang tuh masih kesal dua malam di tinggal pergi demi Bumi dan Damar.
Kalimat itu kini ia tancapkan tepat di jantung Angkasa.
DING! Klakson travel Avanza putih berbunyi di depan lobby hotel.
"Travel saya sudah datang," kata Bintang. Ia berjalan melewati Angkasa.
Tidak menoleh.
Kopernya beroda, bunyinya berdecit di lantai marmer hotel. Angkasa ingin menahan tangan Bintang. Tapi ia tidak berani. Ia hanya bisa melihat punggung Bintang yang semakin jauh. Punggung wanita keras kepala yang di cap tidak pengertian oleh ibunya sendiri, tapi kini justru terlihat paling kuat.
Saat Bintang sudah naik ke travel dan mobil itu melaju pergi meninggalkan Sidoarjo, Angkasa masih berdiri di lobby. Devan yang kebetulan kembali ke hotel karena tertinggal kunci workshop-nya, melihat Angkasa berdiri sendirian.
"Pak Angkasa belum pulang?" tanya Devan sopan.
Angkasa menoleh.
Menatap Devan dari atas ke bawah.
"Jaga MoU itu baik-baik. Kalau kitchen set-nya cacat satu saja, saya batalkan," kata Angkasa dingin, kembali ke mode Dirut.
Devan mengangguk.
"Siap Pak. Itu amanah Bu Bintang. Saya akan jaga."Jawaban itu lagi-lagi menampar Angkasa.
Amanah Bu Bintang. Bukan amanah Pak Dirut.
Malam itu, ada dua mobil yang melaju di Tol Sidoarjo - Surabaya.Di depan, travel Avanza putih yang membawa Bintang. Bintang memandang hujan di jendela, memutar lagu Kunto Aji - Rehat, dan akhirnya bisa bernapas lega tanpa harus mengerti perasaan orang lain.
Di belakang, Alphard hitam yang membawa Angkasa. Angkasa menyetir pelan di belakang travel itu, mengawal dari jauh. Tidak berani menyalip, tidak berani klakson. Hanya memastikan travel yang membawa istrinya sampai Surabaya dengan selamat.
Kedatangannya ke Sidoarjo unfaedah? Ya.Tapi setidaknya malam ini, ia belajar satu hal: Bintang tidak lagi butuh dijemput. Bintang butuh dipercaya.
Bersambung...
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......