Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Arni tersenyum puas, dalam hati ia berseru penuh kemenangan kala calon mertuanya tersebut meneriakkan nama Raisa dengan marah sementara Steven segera menolongnya untuk berdiri.
"Apa yang kamu lakukan pada menantu saya?" Tanya wanita paruh baya itu mempelototi Raisa.
Raisa memutar bola matanya dengan malas, segera merebut ember ditangan Arni lalu berbalik, namun baru saja ia melangkahkan kakinya wanita paruh baya itu segera menarik rambutnya.
"Aaaaaa!" Pekik Raisa kesakitan.
"Mama, lepasin Ma!" Ucap Steven mencoba melerai.
"Istigfar, Ma. Aku yang salah, aku tadi mau bantuin kak Raisa menjemur pakaian tapi ngga sengaja kakiku tersandung sama kakinya kak Raisa, Ma" timpal Arni yang kembali bersandiwara.
"Halahhh, mama yakin dia sengaja membuat kamu terjatuh. Wanita ini wajahnya saja yang polos, hatinya kotor!" Seru wanita tersebut menatap jijik pada menantunya tersebut.
Raisa mengepal kedua tangannya kesal, jelas-jelas tadi Arni yang dengan sengaja menarik rambutnya, lalu menjatuhkan diri sebelum ia sempat membalas perbuatan gadis itu.
"Mama punya cctv kan, lihat saja rekaman cctvnya. Nanti kalian tahu sendiri siapa yang salah, siapa yang benar" satu kalimat yang diucapkan Raisa sebelum melangkah kedalam rumah membuat ketiga orang itu saling bertukar pandang.
Steven mengangguk pelan pada mamanya, pertanda setuju dengan ucapan Raisa barusan. Namun Arni segera merangkul tangan Steven, saat itu juga Arni bertindak cemas dengan tak sengaja melukai kukunya.
"Gawat, bisa ketahuan kalau aku yang mencari permasalahan lebih dulu dengan Raisa. Nggak bisa, nggak bisa. Aku harus mencari cara agar posisi dan citra ku sebagai calon menantu di rumah ini tetap aman" batin Arni licik.
"Ngga usah repot-repot sayang. Please, aku tidak mau hubunganku dengan kakak ku semakin memanas, nanti yang ada jarak diantara kami semakin renggang!"
Lagi dan lagi Steven hanya menurut, tak berani melawan ucapan Arni karena ia telah terperdaya dengan tipu muslihatnya. Adapun Laluna atau mamanya semakin membenci Raisa.
***
Raisa duduk dibawah ranjangnya yang hanya muat untuk satu orang itu, kamar diujung lorong yang seharusnya menjadi kamar untuk pembantu dirumah besar itu justru menjadi kamarnya. Ia mengganti pakaiannya sebab pakaian yang dipakainya sebelumnya telah kotor lalu kembali duduk diatas lantai, sebuah memar muncul di kakinya dan itu muncul beberapa waktu lalu.
Alih-alih merawat lukanya, Raisa justru berdiri lalu menutup pintu kamarnya dengan kuat. Kali pertama Angga mendengar suara pintu di ujung lorong itu terbanting kuat, suara itu mengundang rasa penasaran Angga hingga membuat lelaki itu mendorong kursi rodanya mendekati kamar kecil tersebut.
Sementara itu Raisa naik ke atas ranjang lalu berbaring menghadap tembok, perlahan air matanya mengalir hingga membuat pipi dan bantalnya basah. Perkataan Arni beberapa menit lalu membuat isi kepalanya berantakan, terlebih saat ia melihat cincin bermata berlian di jari manis gadis.
"Steven, dulu aku sangat menginginkan cincin itu namun kau terus menunda untuk membelinya. Sementara pada Arni, kau langsung membelinya begitu ia memintanya. Tuhan, siapa yang bener-bener mencintaiku di dunia ini? Mantan pacarku yang kini menjadi calon suami adik tiriku, suamiku yang hanya mencintaiku karena cemburu semata pada adik ku, atau mama angkatku yang hanya memanfatkan ku saja? Tak ada satupun tempatku untuk bersandar di dunia ini. Jadi apakah masih ada gunanya aku bertahan?" Batinnya penuh pilu.
Angga menekan kenop pintu dengan pelan dan perlahan pintunya terbuka, sepasang mata itu mendapati istrinya tengah meringkuk diatas tempat tidur, tanpa selimut, hanya memperlihatkan lekuk tubuh dibalik piyama berkaki pendek itu. Angga mengerutkan keningnya, tanpa ia sadari sedikit kekhawatiran datang menghampiri hatinya yang semula dingin.
"Sedang apa dia? Apa mungkin Arni mendorongnya terlalu keras?" Batinnya.
"Ahhh, tapi mengapa juga Aku peduli padanya? Aku bahkan tak sudi melihat wajahnya" ucapnya pelan sembari menarik kembali perlahan kenop pintu ditangannya.
"Perasaan apa ini? Aku merasa seseorang tengah mengawasi ku!" Seru wanita itu dalam hati, ia segera berbalik menatap kearah pintu namun sayangnya Angga sudah lebih dulu berada di balik tembok, hendak pergi ke kamarnya.
Melihat pintu yang sedikit terbuka membuat Raisa kebingungan, ia mengubah posisinya menjadi duduk.
"Aneh, aku yakin sudah menutupnya dengan benar tadi!" Seru Raisa.
Penasaran apakah pintu kamarnya tidak lagi berfungsi, ia beranjak turun dari atas ranjang dan segera memeriksa kenop pintu tersebut. Beberapa kali mencoba membuka-tutup pintu tersebut ia mendapati suaminya berada diambang pintu kamarnya, keduanya saling bertukar pandangan untuk beberapa saat sebelum Angga memalingkan wajahnya dengan kesal.
"Apa yang kamu lihat?" Ucapnya kesal tanpa menatap istrinya tersebut.
"Cepat kemari, aku mau turun bawah!" Titahnya lagi.
Raisa tak menjawab namun tetap menuruti kemauan suaminya. Dilangkahkannya kakinya menuju laki-laki dengan kursi roda itu lalu membawanya memasuki lift. Kotak besi itu lalu membawa mereka turun ke bawah, di depan sana telah duduk Laluna, Steven dan Arni membahas Raisa yang katanya sempat menyerang Arni tanpa sebab itu.
"Aku yakin mereka sedang membicarakan ku, aku tak ingin mengantarmu sampai kesana" ujar Raisa sembari melepaskan tangannya dari gagang kursi roda milik Angga.
"Begitukah caramu memperlakukan suamimu? KAU PIKIR AKU INI APA?" Angga dengan lantangnya meneriaki Raisa dihadapan semua orang, bahkan para pembantu rumah tangga yang tengah berada di dapur dapat mendengar teriakannya.
Nafas Raisa memburu cepat kala ia berbalik dan mendapati Arni tersenyum sambil menyunggingkan bibirnya, dengan terpaksa Raisa kembali mendorong kursi roda suaminya. Begitu mereka sampai di sofa, Raisa lalu membantu Angga duduk, namun begitu lelaki itu duduk diatas sofa, ia dengan kasar menepis tangan Raisa, sontak Raisa terkejut hingga tersungkur dan tanpa sengaja menyenggol vas bunga kesayangan Laluna.
TRANGGGG
Laluna yang melihat vas kesayangan telah terbagi menjadi kepingan kecil itu langsung berdiri lalu mendorong Raisa kembali.
Plakkkkk
"KURANG AJAR, APA KAU TIDAK BISA SEHARI SAJA TIDAK MEMBUAT MASALAHNYA DIRUMAH SAYA?"
Mendengar suara pekikan mertuanya membuat kedua pipi Raisa memerah menahan amarah dan malu, Steven berdiri dari tempat duduknya.
"Ma, sudah. Jangan begitu, malu dilihat pembantu!" Serunya menolong Raisa bangkit dari lantai.
"Singkirkan tanganmu dari istriku!" Tegur Angga kemudian.
Tatapannya tajam menatap adik semata wayangnya tersebut.
"Iya Steven, buat apa kamu menolong wanita murahan ini? Jangan bilang kalau kamu masih menyimpan perasaan padanya"
Steven yang kesal dengan kakak dan mamanya menarik tangan Raisa ke belakang tubuhnya, membuat Arni kesal hingga ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan dengan raut wajah masam kearah halaman.
"Arni, tunggu sebentar"
"Arniii"
Berulang kali Steven memanggil nama gadis itu dan mengejarnya, buru-buru ia menarik pergelangan tangan gadis tersebut untuk membujuknya dan menjelaskan padanya kalau ia tak lagi menyimpan perasaan pada mantan pacarnya tersebut yang kini menjadi kakak iparnya.
"Aku cemburu sayaang, aku tau dia kakakku, tapi aku tidak bisa melupakan kalau dia mantan pacarmu" ucapnya merengek.
Hal itu jelas terlihat oleh pasangan suami istri di ruang tamu tersebut, keduanya merasakan hal yang sama terlebih lagi Angga yang sudah muak dengan sandiwara Arni.
"Arni, apa lagi yang kamu rencanakan?" Batin Raisa.
"Lihat, gara-gara kamu calon menantu saya dan anak saya jadi ribut!"
"CUKUPPPP!"
Seluruh orang yang mendengar teriakan Raisa, terdiam tercengang. Terutama Angga yang tak pernah menyangka kalau istrinya akan berani membentak Laluna dihadapannya.
"Owhhh, kamu sudah berani melawan saya?"
"Sudah, saya sudah muak dengan perlakuan anda yang semena-mena!"
Plakkkkk
"IHHHHH, DASAR WANITA MURAHAN!"
Satu tamparan lagi mendarat di pipinya, ia memegangi wajahnya sambil menatap lekat mata suaminya. Matanya yang berkaca-kaca membuat pandangannya menjadi buram, tak ingin tinggal lama-lama untuk mendapatkan makian yang lebih hina Raisa berlari menaiki anak tangga, air matanya bergulir tanpa henti.
Begitu ia sampai ke kamarnya ia menutup pintu rapat-rapat merenungi nasib sialnya, wanita ini melepaskan pakaiannya hingga hanya menyisakan short pants dan kaos dalaman saja, dihadapan cermin yang menunjukkan bagaimana penampilannya yang sebenarnya membuat hatinya menangis pilu. Dahulu badan mungilnya begitu mulus dan lembut, rambut panjangnya selalu wangi dan berkilau, wajahnya selalu dihiasi riasan yang membuat fitur wajahnya selalu tampak lebih menarik dari hari ke hari. Namun sejak ia menikahi lelaki lumpuh itu ia tak pernah lagi memakai riasan sebab sekali ia mencoba memperbaiki penampilannya mertua dan suaminya malah menuduhnya menggoda Steven. Kini yang terlihat jelas hanya bekas luka dan memar di sekujur badannya.
"Sudah cukup Raisa, lima tahun sepertinya sudah cukup bagimu menderita. Mulai hari ini kau harus melawan. Ya, aku harus memutuskan apa aku harus bertahan dengan penderitaan atau mencoba hidup yang baru!" Ucapnya dalam hati sembari memeluk dirinya sendiri.
"Apa yang sedang kau lakukan dengan pakaian seperti itu?"