NovelToon NovelToon
PENGEMBARA DARI DESA

PENGEMBARA DARI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Djafar S

Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 UJIAN PERTAMA

Cahaya lampu sorot dari tiga truk pengangkut alat berat membelah kegelapan malam di Dusun Ciherang, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas tanah halaman rumah Raka. Suara mesin diesel berkapasitas besar menderu kasar, menggetarkan kaca jendela rumah panggung dan mengusik keheningan malam yang seharusnya damai.

Warga desa yang rumahnya berada di sekitar lokasi mulai mengintip dari balik celah dinding bambu, hati mereka bergemuruh cemas menyaksikan kepungan preman bayaran korporasi yang datang dari kota.

Di tengah halaman yang diterangi cahaya lampu sorot kendaraan, Raka berdiri tegak tanpa sedikit pun rasa gentar. Kedua tangannya terselip santai di dalam saku jaket lapangannya, sementara aliran energi hangat dari *Welingan Sejati* berputar tenang di dalam inti tubuhnya, memberikan ketajaman luar biasa pada setiap indranya. Ia bisa mendengar detak jantung pria berjas di depannya yang berdegup kencang karena arogan dan amarah yang tertahan.

"Bagaimana, anak muda?" seru pria berjas—yang belakangan diketahui bernama Hendra, perwakilan utama dari perusahaan pengembang swasta—sambil melangkah maju dengan angkuh, didampingi oleh preman bertubuh raksasa berwajah penuh tato yang dipanggil Bos Guntur. Sementara beberapa orang anak buahnya mengitari Raka.

"Apakah surat pelepasan tanah itu sudah kau kumpulkan, atau kau benar-benar ingin melihat alat-alat berat ini meratakan desa tempat tinggal ibumu menjadi abu?"

Hendra tersenyum sinis, menatap Raka dengan tatapan meremehkan seolah pemuda di hadapannya hanyalah kerikil kecil yang bisa disingkirkan dengan sebelah tangan. Di belakang Hendra, selusin preman bayaran memegang pentungan besi dan balok kayu, bersiap menebar teror fisik jika perundingan malam itu menemui jalan buntu.

Raka tidak langsung menjawab. Ia mengambil waktu sejenak untuk melangkah turun dari anak tangga terakhir, berdiri tepat di atas tanah halaman rumahnya sendiri. Dengan tatapan tajam dan tenang, ia menatap mata Hendra lekat-lekat.

"Kalian datang di tengah malam, membawa preman bayaran, dan mengancam warga desa yang tidak tahu apa-apa," suara Raka meluncur tenang, namun bergema jelas menembus deru mesin diesel, membuat para preman di belakang Hendra mendadak tertegun. "Cara-cara kotor seperti ini hanya membuktikan satu hal: perusahaan kalian tahu bahwa izin yang kalian pegang adalah ilegal dan penuh kebohongan."

Wajah Hendra seketika berubah merah padam mendengar ucapan telak tersebut. Harga dirinya sebagai utusan perusahaan besar terluka di hadapan para anak buahnya. "Kurang ajar! Bocah desa sepertinya berani menceramahiku? Guntur, beri anak ini pelajaran agar dia tahu di mana tempatnya!" bentak Hendra penuh amarah.

Bos Guntur, si pria bertubuh raksasa, menyeringai lebar menampakkan deretan giginya yang kekuningan. Dengan tubuh gempal setinggi hampir dua meter dan otot lengan sebesar batang pohon kelapa, Guntur melangkah maju sambil meretakkan buku-buku jarinya hingga berbunyi krotok nyaring. Ia menghunus sebilah pisau belati bergagang perak dari balik pinggangnya, memainkannya dengan gerakan berbahaya di udara.Sambil menyeringai ia mendekati Raka.

"Tenang saja, Pak Hendra. Aku akan membuat anak ingusan ini memohon-mohon ampun di tanah sebelum subuh," desis Guntur dengan suara berat yang mengerikan.

Para warga desa yang mengintip dari kejauhan menahan napas mereka. Ibu Raka, Siti, yang baru saja keluar dari pintu dapur dengan wajah pucat, hampir berteriak histeris melihat putranya dikepung oleh preman bertubuh raksasa. Namun, sebelum Siti sempat bersuara, Raka melayangkan pandangan sekilas ke arah ibunya, memberikan isyarat mata yang penuh keyakinan—isyarat yang menyuruh ibunya untuk tetap tenang di dalam rumah.

Guntur tidak menunggu lama. Dengan teriakan menggelegar, ia menerjang maju bagaikan banteng ngamuk. Kepalan tangan kanannya yang berukuran sebesar batok kelapa melayang cepat mengarah langsung ke rahang Raka, mengerahkan seluruh tenaga dalam preman jalanan itu untuk melumpuhkan lawannya dalam satu pukulan telak.

Bagi mata orang biasa, gerakan Guntur tampak begitu cepat dan mematikan. Namun, bagi Raka yang kini telah menyerap intisari *Welingan Sejati*, gerakan sang preman raksasa itu tampak begitu lambat, terbaca, dan penuh celah. Aliran darah Raka berdesir hangat, memperkuat refleks tubuhnya berkali-kali lipat.

Tepat saat kepalan tangan Guntur hampir menghantam wajahnya, Raka melangkah ringan ke samping kiri dengan gerakan sehalus hembusan angin malam. Pukulan Guntur meleset jauh, memecah udara kosong dengan suara *wush* yang nyaring.

Sebelum Guntur sempat menarik kembali tangannya yang kehilangan keseimbangan akibat tenaga pukulannya sendiri, Raka mengulurkan tangan kanannya dengan presisi luar biasa. Telapak tangannya menyentuh titik syaraf di pergelangan tangan dan bahu Guntur secara bersamaan, mengalirkan gelombang energi kejut kecil yang melumpuhkan tenaga lengan pria besar itu seketika.

Bugh!

Dengan sedikit dorongan rotasi pinggul yang memanfaatkan momentum tubuh Guntur sendiri, Raka memutar tubuh preman raksasa itu dan menjatuhkannya telungkup ke atas tanah berlumpur di halaman rumah. Debu dan lumpur berhamburan saat tubuh seberat lebih dari seratus kilogram itu menghantam bumi dengan suara benturan yang keras.

Suasana halaman mendadak menjadi senyap total. Deru mesin truk seolah tenggelam oleh kebisuan yang mencengkeram. Hendra terperangah dengan mulut ternganga lebar, tidak percaya melihat anak buahnya yang paling ditakuti dan berbadan raksasa bisa roboh hanya dalam waktu kurang dari tiga detik tanpa Raka terlihat mengeluarkan keringat sedikit pun.

Guntur mengerang kesakitan di atas tanah, mencoba bangkit dengan tangan yang terasa lumpuh dan kaku, namun ia tidak lagi sanggup berdiri tegak. Ia mendongak menatap Raka dengan mata terbelalak penuh rasa ngeri dan takjub; ia sadar pemuda di hadapannya bukanlah manusia sembarangan.

Raka merendahkan sedikit tubuhnya, menatap tajam ke arah Hendra yang kini mundur perlahan dengan rasa takut yang mulai merayap di dadanya.

"Katakan kepada pimpinan kalian di kota," ucap Raka dengan suara tenang namun bernada dingin yang menusuk tulang, "Desa Ciherang bukan tempat bagi orang-orang serakah. Pergi dari sini sekarang, atau kalian tidak akan pernah bisa keluar dari lembah ini dengan utuh."

Hendra yang kehilangan nyalinya menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak berani berkata-kata lagi. Dengan tangan gemetar, ia memberi isyarat panik kepada para preman lainnya untuk segera mengangkat tubuh Guntur yang tak berdaya dan memasukkannya ke dalam mobil.

Dalam hitungan menit, konvoi kendaraan mewah dan truk alat berat itu berputar arah secara terburu-buru, meninggalkan halaman rumah Raka dengan kepulan debu tebal dan suara decitan ban yang bergesekan panik di atas jalan berbatu.

Raka berdiri tegak di tengah halaman yang kembali sunyi. Malam itu, ujian pertamanya telah berhasil dilalui dengan sempurna. Ia tahu ini baru permulaan dari badai yang lebih besar, namun di dalam dadanya, keyakinan telah tumbuh menjadi karang yang tak tergoyahkan.

1
Myz Pena
kebiasaan orang2 di kampung kalau ada orang yang udah naik mobil mewah lalu di bawa ke kampunh pasti jadi tontonan warga kampung 🤭
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Betul😄
total 1 replies
Myz Pena
keuarganya raka sangat sederhana apalagi penggambaran sosok ibundanya 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: iya, memang tokoh pendamping kadang kurang kita perhatikan
total 1 replies
CNNTAYY
utusan juga itu ngeremehin+songong banget untung ada raka/Proud//Proud/
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih CNNTAY ku😍
total 1 replies
iorlif
sepertinya mirip kejadian di suatu tempat
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Mungkin juga sih, tapi murni kok dari imaginasi ku👍
total 1 replies
Siti Aisyah
Kalau ngomongin tentang gabah dan dijemur dihalaman jadi teringat ibu waktu dikampung 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!