Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kayla von Ardent yang Adrian kenal adalag wanita angkuh, manipulatif, dan haus kuasa itu telah hilang. Wanita di hadapannya ini adalah cangkang kosong yang hanya ingin mengakhiri eksistensinya.
"Tentu saja aku ingin mati," jawab Kayna, seolah hal itu adalah fakta yang paling jelas di dunia. "Kehidupan pertamaku menyedihkan, dan kehidupan keduaku akan berakhir dengan kepalaku dipenggal di tiang gantung kalau aku tidak melakukan sesuatu. Aku hanya ingin mengontrol caraku pergi. Kenapa semua orang di dunia ini begitu obsesif memaksaku untuk tetap hidup?"
Hening.
Adrian terdiam lama. Kata-kata Kayna terdengar seperti gema dari jiwa yang sudah hancur berkeping-keping jauh sebelum ia masuk ke dalam tubuh ini. Pria itu perlahan menurunkan tangannya dari hidung, tatapannya melunak sepersekian detik sebelum kembali dingin, meski kali ini bukan karena kebencian, melainkan karena kebingungan yang mendalam.
"Kehidupan pertama?" tanya Adrian pelan, mengabaikan kata-kata lain yang terdengar seperti omong kosong. "Apa maksudmu?"
Kayna menyadari ia keceplosan. Ia mengedikkan bahu. "Anggap saja itu metafora, Tuan Duke. Intinya, aku tidak bahagia di sini."
Adrian menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menoleh ke arah Rosa yang masih menangis di pintu. "Keluar. Bawa serta penjaga itu. Tutup pintunya."
"Tapi Tuan Duke, Nona—"
"Keluar, Rosa. Itu perintah," suara Adrian kembali datar dan penuh otoritas.
Rosa segera menyeret penjaga itu keluar dan menutup pintu. Terdengar suara kunci diputar dari dalam.
Kayna menatap Adrian dengan waspada. "Kau mau apa sekarang? Mau memukulku sampai mati? Silakan. Tapi ingat, itu akan membuatmu terlihat seperti pembunuh."
Adrian tidak menjawab. Ia melangkah maju, lalu dengan gerakan yang mengejutkan, ia duduk di kursi di samping tempat tidur, berhadapan langsung dengan Kayna. Ia menyilangkan kaki, menatap Kayna dengan tatapan yang tidak bisa Kayna artikan.
"Kau tidak akan mati hari ini, Kayla," ucap Adrian tenang. "Dan kau tidak akan mati besok. Atau lusa."
"Kau tidak bisa menghalangiku selamanya," balas Kayna datar. "Aku akan menemukan celahnya. Aku punya banyak waktu."
"Maka aku akan memastikan kau tidak punya waktu," Adrian menyandar di kursinya. "Mulai saat ini, aku tidak akan mengurungmu di sini. Pengawasan Rosa terlalu lemah, dan kamarmu terlalu banyak 'senjata'."
Kayna menyipitkan mata. "Maksudmu?"
"Kau akan pindah ke kamar di sayap timur. Kamarku," titah Adrian. "Kamar itu tidak memiliki jendela yang bisa dibuka, tidak ada bantal bulu angsa, dan perabotannya terbuat dari batu pualam utuh. Dan yang paling penting..." Adrian menatap tajam ke arah Kayna. "...aku akan tidur di sana. Aku akan mengawasimu sendiri, dua puluh empat jam sehari."
Mata Kayna membelalak. *Tidur di kamar yang sama dengan Duke Adrian? Diawasi non-stop oleh pria yang seharusnya ingin menghabisinya?*
"Itu tidak masuk akal!" protes Kayna. "Kau tunangan Freya! Apa kata dunia jika kau mengurung tunanganmu di kamarmu sendiri?!"
"Dunia akan berpikir bahwa aku sedang memastikan tunanganku yang 'sakit mental' tidak mencelakai dirinya sendiri," jawab Adrian tanpa emosi. "Lagipula, pertunangan kita sudah di ambang kehancuran sejak kau mendorong Freya. Reputasiku sudah hancur. Menambah sedikit skandal tidak akan mengubah apa-apa."
Kayna menggeram frustrasi. Ia menatap sekeliling kamar mewahnya, lalu menatap Adrian yang kini menatapnya balik dengan tatapan tak tergoyahkan.
Pria ini gila. Mereka berdua sama-sama gila.
"Baiklah," ucap Kayna akhirnya, menyilangkan tangan di dada. "Pindahkan aku ke kamarmu. Tapi kalau aku mati karena bosan di sana, itu salahmu."
Adrian hanya mengangkat sebelah alisnya. "Aku akan mengambil risiko itu."
..gagal terus🤣