"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 KETEGASAN DI BALIK KELEMBUTAN
Waktu di dinding paviliun Ruang Budaya menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit sore.
Sinar matahari yang menembus jendela kayu berlapis kaca kusam itu kini telah berubah warna menjadi jingga keemasan, menciptakan bayang-bayang panjang dari rak-rak buku dan instrumen gamelan di lantai.
Wira menyandarkan gagang sapu ijuk ke dinding dengan napas terengah-engah.
Peluh sebesar biji jagung membasahi pelipisnya, mengalir turun melewati luka di sudut bibirnya hingga menimbulkan sensasi perih yang menyengat. Kemeja putihnya yang robek di bagian bahu kini telah basah oleh keringat dan kotor oleh noda debu.
Selama lebih dari empat puluh lima menit, ia menyapu seluruh area paviliun yang luasnya nyaris menyamai lapangan basket itu tanpa henti.
Otot-otot lengan dan punggungnya yang biasanya ia gunakan untuk melayangkan pukulan dalam tawuran, kini terasa kaku dan pegal luar biasa hanya karena mengayunkan sapu.
Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menoleh ke arah meja administrasi. Asmara masih di sana, duduk tegak bagaikan arca dewi yang tak tergoyahkan oleh waktu.
Gadis itu baru saja menutup satu buku besar bersampul kulit tua dan mulai membuka buku lainnya, jarinya dengan telaten membalik halaman yang sudah menguning.
Keheningan yang dingin di antara mereka membuat Wira merasa nyaris gila.
Ia benci situasi ini.
Ia benci merasa bersalah, dan ia benci melihat Asmara yang memperlakukannya seolah ia hanyalah udara kosong.
Otak begajulan Wira mulai bekerja keras mencari celah.
Di Bogor, ia selalu punya cara untuk keluar dari masalah. Entah itu dengan ancaman, adu fisik, atau menggunakan uang jajannya yang lumayan besar dari hasil keuntungan warung sate ayahnya. Semua orang punya harga. Semua aturan punya celah kompromi. Itulah hukum jalanan yang ia percayai.
Wira meletakkan sapu, lalu melangkah perlahan mendekati meja Asmara. Ia menarik sebuah kursi kayu kosong dan duduk berhadapan dengan gadis itu, hanya dipisahkan oleh tumpukan buku inventaris.
Mendengar suara kursi ditarik, Asmara menghentikan gerakan pulpennya, namun matanya tidak terangkat. Ia menunggu Wira berbicara.
"Lantainya udah selesai gue sapu," Wira membuka percakapan, suaranya sedikit serak karena kelelahan dan dehidrasi. Ia sengaja tidak menggunakan nada membentak seperti tadi, mencoba melembutkan suaranya untuk menarik simpati.
Asmara akhirnya mengangkat pandangannya. Matanya yang jernih memindai lantai kayu jati di sekeliling ruangan yang kini memang sudah terbebas dari gumpalan debu dan daun kering. Gadis itu lalu mengangguk pelan.
"Baik. Langkah selanjutnya, Mas Wira silakan ambil lap basah dan ember di toilet paviliun belakang. Pel lantai yang sudah disapu, lalu lap rak buku bagian A menggunakan lap microfiber kering yang tadi," instruksi Asmara, persis seperti nada operator telepon yang membacakan panduan.
Wira mendesah panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Ra..." panggilnya.
Ia sengaja memangkas kata 'Asmara' menjadi panggilan yang lebih akrab, mencoba mencairkan kebekuan.
Asmara tidak merespons perubahan panggilan itu. Ia hanya menatap Wira, menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Gue capek," keluh Wira jujur. Ia menunjuk tangannya yang memar dan bibirnya yang robek.
"Lo lihat sendiri kan kondisi gue? Gue abis berantem. Badan gue remuk semua. Dan sekarang gue disuruh ngepel ruangan segede ini sendirian?"
"Itu adalah konsekuensi dari tindakan Mas Wira sendiri," jawab Asmara tanpa nada kasihan sedikit pun. "Tidak ada yang memaksa Mas untuk berkelahi siang tadi."
Wira menggigit bibir bawahnya, menahan diri agar tidak kembali terpancing emosi.
"Oke, gue tahu gue salah. Gue ngaku. Tapi lo juga capek kan, Ra? Lo pasti pengen buru-buru pulang. Lo anak OSIS, pasti banyak tugas sekolah yang belum lo kerjain di rumah. Terjebak di sini sama gue tiap sore selama sebulan penuh itu buang-buang waktu lo juga."
Asmara terdiam. Sorot matanya menyipit samar, mulai menangkap arah pembicaraan Wira. "Lalu, apa maksud Mas Wira?"
Melihat ada sedikit celah, Wira langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua sikunya bertumpu di atas meja. Ia memasang wajah serius layaknya seorang pengusaha yang sedang mempresentasikan penawaran bisnis yang menggiurkan.
"Gue punya usul. Sebuah win-win solution buat kita berdua," bisik Wira setengah berkonspirasi. "Gimana kalau kita kompromi aja soal hukuman ini?"
"Kompromi bagaimana?"
"Gini," Wira menurunkan suaranya, melirik ke arah pintu seolah takut ada yang menguping. "Gue tahu Mang Ujang, tukang kebun sekolah, biasanya baru pulang jam lima sore kan? Gimana kalau gue bayar Mang Ujang buat ngerjain tugas gue di sini? Gue bakal bayar dia dua kali lipat dari gajinya sebulan. Mang Ujang yang nyapu, Mang Ujang yang ngepel."
Wira tersenyum, merasa rencananya sangat brilian. "Atau, kalau Mang Ujang nggak mau, kita bikin kesepakatan lain. Gue bakal bersihin ruangan ini dobel-dobel di hari Senin, Selasa, Rabu. Jadi gue ngerjain jatah hari Kamis, Jumat, Sabtu sekalian. Dengan begitu, sisa hari lainnya kita nggak usah ke sini. Lo bisa pulang cepat, gue juga bisa bebas. Lo tinggal absen aja nama gue full hadir sebulan. Pak Anton nggak bakal ngecek ke sini tiap hari, kan?"
Wira menatap Asmara dengan penuh harap.
Ia bahkan sudah merogoh dompet kulit di saku celana belakangnya, siap mengeluarkan lembaran uang jika gadis itu meminta "uang tutup mulut" sebagai bagian dari kesepakatan.
"Sebagai gantinya, gue bakal traktir lo makan atau beliin lo apa pun yang lo mau tiap istirahat selama sebulan penuh. Gimana, Ra? Adil kan? Ruangannya tetep bersih, tugas lo sebagai pengawas selesai tanpa lo harus capek-capek nungguin gue, dan gue bisa istirahat," pungkas Wira, wajahnya memancarkan rasa percaya diri.
Keheningan yang sangat pekat turun menyelimuti meja itu.
Wira menunggu dengan napas tertahan.
Ia yakin, sekeras apa pun Asmara, gadis itu pasti akan tergoda oleh logika efisiensi ini.
Siapa juga yang mau terjebak di ruangan berdebu jika ada jalan keluarnya?
Namun, harapan Wira menguap dalam sekejap ketika ia melihat perubahan raut wajah Asmara.
Tidak ada senyum setuju. Tidak ada binar ketertarikan.
Justru, suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat.
Wajah kuning langsat Asmara yang biasanya teduh kini mengeras.
Sepasang mata bulatnya menatap Wira dengan ketajaman yang membuat Wira secara refleks menarik kembali tubuhnya untuk bersandar ke kursi.
"Mas Wira pikir," suara Asmara meluncur, terdengar sangat pelan namun memiliki ketajaman layaknya belati yang baru diasah, "tanggung jawab bisa dibeli dengan uang?"
Wira tersentak. "B-bukan gitu maksud gue, Ra. Ini soal efisiensi—"
"Tutup dompet Mas," potong Asmara mutlak.
Jarinya menunjuk ke arah dompet di tangan Wira dengan pandangan jijik.
Wira buru-buru memasukkan kembali dompetnya, mendadak merasa seperti pencuri yang tertangkap basah.
Asmara berdiri dari kursinya. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja, menatap Wira dari posisi yang sedikit lebih tinggi.
Untuk pertama kalinya, Wira melihat sisi keras dari sang putri Abdi Dalem.
Ketenangan Asmara bukanlah ketenangan air telaga yang lemah, melainkan ketenangan arus bawah laut yang sanggup menggulung kapal pesiar terbesar sekalipun.
"Dengarkan saya baik-baik, Mas Wira," ucap Asmara, setiap patah katanya diucapkan dengan penekanan yang sangat jelas. "Pak Anton menghukum Mas di sini bukan karena sekolah kekurangan tenaga kebersihan. Kalau sekolah hanya butuh ruangan ini bersih, mereka bisa menyuruh Mang Ujang sejak kemarin-kemarin tanpa perlu melibatkan Mas."
Asmara mengambil napas pendek, menahan amarah yang elegan.
"Hukuman ini diberikan agar Mas Wira menyadari kesalahan Mas. Agar tangan yang Mas gunakan untuk menyakiti orang lain itu belajar merawat sesuatu. Agar ego Mas yang setinggi langit itu dipaksa menunduk untuk membersihkan debu-debu yang selama ini Mas remehkan."
"Tapi ini kan cuma tugas sosial, Ra! Ujung-ujungnya yang dinilai lantai bersih atau nggak!" kilah Wira, masih berusaha membela diri meski nyalinya mulai menciut.
"Ujung-ujungnya bukan lantai yang bersih, Mas Wira. Tapi jiwa Mas yang dibersihkan!" balas Asmara tegas, suaranya menggema di sudut-sudut paviliun.
"Menyogok orang lain untuk mengerjakan hukuman Mas, atau memalsukan absen kehadiran... itu bukan win-win solution. Itu adalah manipulasi. Itu adalah tindakan seorang pengecut yang lari dari tanggung jawabnya."
Kata 'pengecut' itu kembali dilontarkan, dan kali ini terasa jauh lebih menyakitkan karena menampar moralitas Wira secara langsung.
"Uang saku Mas yang banyak, logika jalanan Mas yang menganggap semuanya bisa diselesaikan dengan 'kesepakatan' kotor, tidak berlaku di ruangan ini," lanjut Asmara.
Matanya berkilat marah, sebuah kemarahan yang dipicu oleh rasa kecewa terhadap integritas pemuda itu.
"Saya adalah pengurus OSIS. Dan lebih dari itu, saya adalah seseorang yang diajarkan sejak kecil untuk memegang teguh amanah. Kalau Mas Wira mengira saya bisa disogok dengan makanan kantin dan janji pulang cepat, maka Mas telah salah besar menilai saya."
Wira terdiam membisu.
Mulutnya sedikit terbuka, kehabisan kata-kata.
Argumennya hancur lebur tanpa sisa.
Logika jalanan Bogor yang ia banggakan rontok berkeping-keping di hadapan prinsip baja gadis keraton Jogja ini.
Asmara menarik kembali tubuhnya, berdiri tegak dan merapikan celemeknya. Ia memandang Wira dengan tatapan final.
"Selama satu bulan ke depan, Mas Wira akan berada di ruangan ini setiap hari dari jam tiga sampai jam lima sore. Mas Wira akan mengepel lantai itu dengan tangan Mas sendiri. Mas Wira akan membersihkan rak buku itu sampai tangan Mas pegal. Saya akan mengawasi Mas detik demi detik, dan saya tidak akan menuliskan kehadiran Mas di absen ini jika Mas tidak menyelesaikan tugas dengan keringat Mas sendiri."
Asmara mengangkat lembar absensi di clipboard-nya, menunjukkannya tepat di depan wajah Wira.
"Tidak ada kompromi. Tidak ada kesepakatan rahasia. Apakah penjelasan saya sudah cukup masuk ke dalam logika Mas Wira, atau perlu saya eja satu per satu?"
Di titik ini, Wira Aji Pratama benar-benar kehabisan napas.
Ia tidak lagi melihat Asmara sebagai gadis lemah lembut yang bisa digertak atau dibujuk.
Ternyata...
Di balik senyum menenangkan dan suara halusnya selama ini...
Tersimpan ketegasan dan disiplin yang begitu kokoh, lebih keras dari batu karang.
Asmara memiliki integritas yang tidak bisa dibengkokkan oleh siapa pun, apalagi oleh rayuan murahan seorang pemuda begajulan.
Wira menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa sangat, sangat kerdil dan tak berharga di hadapan seorang perempuan.
"Udah," jawab Wira parau. Suaranya nyaris berbisik. "Gue ngerti."
"Bagus," balas Asmara dingin.
Ia kembali duduk di kursinya, menarik buku inventarisnya kembali mendekat. "Ember dan kain pel ada di toilet belakang. Saya tunggu lantai ini bersih sebelum jam lima."
Tanpa membantah sedikit pun, Wira bangkit dari kursinya.
Ia melangkah gontai menuju toilet belakang, mengambil ember plastik yang berat dan kain pel kusam.
Sambil mengisi air ke dalam ember, Wira memandangi pantulan wajahnya sendiri di kaca wastafel yang retak.
Luka di bibirnya tak sebanding dengan luka di egonya.
Namun anehnya, di balik rasa malu yang menyiksanya, ada sebuah rasa hormat yang luar biasa besar mulai tumbuh dan mengakar di dadanya untuk Asmara.
Gadis itu tidak hanya menaklukkannya dengan kelembutan, tapi juga menghancurkannya dengan ketegasan yang tak tertembus.
Wira memeras kain pel itu sekuat tenaga.
Ia tahu sekarang, jalan untuk mendapatkan kembali senyum gadis itu tidak akan bisa ditempuh lewat jalan pintas.
Ia harus merangkak dari bawah, melewati debu dan keringat.