NovelToon NovelToon
Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ovelia.shin

Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.

Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

KANCING YANG TERTINGGAL

Nadira masih berdiri di depan meja rias ketika suara ketukan terdengar dari pintu.

Tok. Tok.

Ia segera memasukkan kancing hitam itu ke dalam genggamannya.

“Siapa?”

“Aku.”

Suara Arga.

Nadira tidak langsung membuka pintu.

“Kenapa?”

“Aku mau bicara.”

Nadira menatap pintu beberapa detik sebelum akhirnya membukanya.

Arga berdiri di sana dengan wajah serius.

Matanya langsung jatuh pada tangan Nadira yang mengepal.

“Apa yang kamu temukan?”

Nadira mengangkat alis.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Karena tadi aku dengar kamu bicara sendiri.”

“Tidak ada apa-apa.”

“Nadira.”

Nada suara Arga melembut.

“Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu.”

Nadira tertawa kecil.

“Sekarang kamu peduli?”

Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.

“Aku selalu peduli.”

“Tidak.”

Nadira menggeleng.

“Kamu peduli ketika semuanya sudah terlalu besar. Ketika masalahnya sudah meledak. Tapi sebelum itu, kamu selalu memilih diam.”

Arga menunduk.

Ia tidak bisa menyangkal.

“Aku cuma tidak mau keluargaku semakin membencimu.”

“Dan kamu pikir dengan membiarkan mereka menyakitiku, mereka akan berhenti?”

Arga tidak menjawab.

Nadira akhirnya membuka telapak tangannya.

Kancing hitam itu terlihat jelas.

“Aku menemukan ini.”

Arga mengambilnya.

Ia memperhatikan kancing tersebut cukup lama.

“Ini bukan punyaku.”

“Aku tahu.”

“Kamu yakin?”

“Aku sangat yakin.”

Nadira menunjuk ke arah lemari.

“Kemarin malam aku melihat seseorang keluar dari kamarku. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena lampunya mati.”

Arga langsung menatapnya.

“Kenapa baru bilang sekarang?”

“Karena saat itu aku pikir mungkin aku salah lihat.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku tidak yakin.”

Arga menggenggam kancing tersebut.

“Kita cari tahu bersama.”

Nadira menatapnya.

“Kita?”

“Ya.”

Ada sedikit keraguan di mata Nadira.

Namun sebelum ia menjawab, terdengar suara langkah dari lorong.

Keduanya langsung menoleh.

Rani berdiri beberapa meter dari mereka.

“Apa yang kalian lakukan?”

Arga segera memasukkan kancing itu ke saku.

“Tidak ada.”

Rani memperhatikan gerakannya.

“Kalian membicarakan gelang Ibu?”

“Tidak,” jawab Nadira.

Rani menatap Nadira tajam.

“Kalau begitu kenapa wajahmu seperti orang menemukan sesuatu?”

Nadira tersenyum.

“Memangnya wajah orang yang menemukan sesuatu seperti apa?”

Rani tidak menjawab.

Ia justru menatap Arga.

“Kak, Ibu mencarimu.”

“Sebentar lagi aku ke sana.”

Rani mengangguk lalu pergi.

Namun saat berbalik, wajahnya berubah.

Tangannya mengepal.

Ia tahu sesuatu.

Dan Nadira melihatnya.

Malam harinya, rumah kembali sepi.

Nadira sengaja tidak tidur.

Ia duduk di kamar dengan lampu dimatikan.

Arga sebenarnya sudah menyuruhnya beristirahat, tetapi Nadira menolak.

Sekitar pukul sebelas malam, terdengar suara langkah pelan di luar kamar.

Nadira menahan napas.

Gagang pintu bergerak.

Perlahan.

Seseorang mencoba membuka pintu.

Nadira berdiri tanpa suara.

Pintu terbuka sedikit.

Bayangan seseorang muncul.

Nadira segera menyalakan lampu.

Orang itu terkejut.

Rani.

Mereka saling menatap.

“Rani?”

Rani tampak gugup.

“Aku… aku cuma mau mengambil sesuatu.”

“Dari kamarku?”

“Aku salah kamar.”

Nadira berjalan mendekat.

“Benarkah?”

“Iya.”

“Kalau salah kamar, kenapa kamu membawa kunci cadangan?”

Wajah Rani seketika pucat.

Nadira menatap tangannya.

Di sana ada kunci kecil.

Rani buru-buru menyembunyikannya.

“Ini bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

Rani tidak menjawab.

Nadira melangkah lebih dekat.

“Kenapa kamu masuk ke kamarku malam itu?”

“Aku tidak pernah masuk ke kamarmu.”

“Kamu yakin?”

“Yakin!”

Suara Rani meninggi.

Namun justru itu yang membuat Nadira semakin yakin.

“Aku belum bilang malam yang mana.”

Rani membeku.

Nadira tersenyum tipis.

“Berarti kamu memang tahu ada malam tertentu.”

Rani mundur satu langkah.

“Nadira…”

“Sekarang aku ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Siapa yang menyuruhmu?”

Rani menatapnya dengan wajah tegang.

Belum sempat menjawab, suara Bu Ratih terdengar dari ujung lorong.

“Rani!”

Rani langsung menoleh.

“Ibu?”

Bu Ratih berdiri di sana.

Tatapannya berpindah dari Rani ke Nadira.

Kemudian ke kunci yang masih berada di tangan Rani.

Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara.

Lalu Bu Ratih berkata pelan,

“Masuk ke kamar Ibu. Sekarang.”

Rani segera pergi.

Nadira tetap berdiri di tempat.

Ia memperhatikan ibu dan anak itu berjalan menjauh.

Namun sebelum menghilang di tikungan, Rani sempat menoleh.

Tatapannya bukan lagi penuh kemenangan.

Melainkan ketakutan.

Nadira menggenggam ujung bajunya.

Sekarang ia semakin yakin.

Gelang itu hanyalah awal.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang disembunyikan keluarga Arga darinya.

Dan tanpa mereka sadari Nadira sudah mulai membuka satu per satu rahasia mereka.

1
tanjiro azuma
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!