"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Dicurigai
"Sayang, apa kamu selama ini bodoh? Kamu tidak tahu kalau Dinda itu menyukaimu?"
Mendengar kalimat itu, aku bisa mendengar Danu tertawa terbahak-bahak dari arah meja kami. Lucu saja jika calon istrinya itu terus-menerus mencurigaiku. Dulu, waktu pertama kali Belinda berbicara seperti itu, Danu mungkin sempat meragukanku. Namun, setelah membuktikan bahwa ucapan itu hanya omong kosong, ia memilih mengabaikan kecurigaan Belinda.
"Sayang, coba kamu lihat baik-baik. Wanita mana yang kalau menyukai seorang lelaki mau diajak jalan bertiga melihat kemesraan pasangan itu? Wanita mana yang kalau menyukai seorang lelaki mau minta maaf dengan mudah tanpa memedulikan harga dirinya? Dan masih banyak hal lainnya. Kamu jangan terus mencurigai Dinda. Sungguh, aku dan dia hanya teman masa kecil dan jadi sahabat. Tidak ada yang namanya cinta di antara kami berdua," jelas Danu sembari menatap ke arahku yang sedang mengantre memesan makanan.
"Sayang, aku sama dia itu sama-sama wanita. Jadi aku paham, Dinda memiliki penahan emosi yang bagus sehingga dia tidak akan tersinggung ataupun goyah. Percaya padaku, wanita seperti Dinda sulit diprediksi dan memiliki banyak rahasia," ucap Belinda lagi, berusaha meyakinkan Danu.
"Ini kamu semakin ngaco. Rahasia apa yang dimiliki Dinda? Dia sama aku itu tidak ada jaraknya, tidak ada rahasia di antara aku dan dia. Sudah, jangan banyak berpikir," sahut Danu. Obrolan mereka pun terhenti saat aku kembali sambil membawa nampan berisi makanan.
Kami bertiga saat ini berada di salah satu restoran ayam goreng yang sudah terkenal sejak bertahun-tahun lamanya.
"Dinda, ini kesukaan kamu," ucap Danu setelah memisahkan kulit dan daging ayam bagiannya, lalu menyerahkan kulit itu padaku.
"Sayang, kamu tahu gak? Dinda itu paling suka sama kulit ayam, tapi badannya gak gemuk-gemuk," ucap Danu lagi pada Belinda.
"Kamu mengatakannya sudah berulang kali, Dan. Bahkan saat kita bertiga pertama kali makan bersama," ucap Belinda kesal.
"Benarkah?" Danu tampak tak percaya. "Ah, mungkin karena sudah terbiasa, jadi aku mengatakannya terus-menerus."
Belinda makin bersungut-sungut. Ia lalu mengambil saus sebanyak mungkin dan menyelupkan suwiran daging ayam ke dalamnya. "Dan kamu harus ingat kalau aku sangat suka daging plus saus yang banyak seperti ini."
Melihat Belinda hendak menyuapkan daging bersaus tebal itu ke dalam mulut Danu, refleks aku berucap, "Bel, Dan gak suka saus banyak seperti itu."
"Lihat kan, Sayang? Dinda itu suka sama kamu, dia begitu perhatian. Apa kamu gak paham juga?" cetus Belinda seketika.
Jantungku berdegup kencang. Aku ketar-ketir, takut Danu memercayai ucapan Belinda. Namun, aku berusaha tetap tenang agar tidak memicu kecurigaan lebih lanjut.
"Dinda, lihatlah calon istriku mencurigaimu. Sepertinya kamu harus segera mencari pasangan dan menunda keberangkatanmu untuk jadi relawan," ujar Danu.
Aku tahu Danu belum menyerah menahan keputusanku untuk pergi. Namun bagiku, untungnya kalimat lelaki itu justru membuatku lolos dari tuduhan Belinda.
"Hem ... sepertinya aku harus ke toilet dulu. Kalian lanjutkan saja makannya. Untuk ke butik sepertinya aku tidak bisa ikut, aku mengantuk karena sudah bekerja dua shift, jadi ingin langsung pulang dan beristirahat," pamitku.
"Apa perlu kami antar?" tawar Danu.
"Tidak perlu. Kalian harus menghabiskan waktu bersama karena ini hal paling baik sebelum pernikahan, mencoba gaun pengantin dan mencari cincin, kan?" Aku beranjak dari tempat duduk setelah mengatakan itu.
"Kita ke toilet bersama," ucap Belinda tiba-tiba seraya berdiri mengekor di belakangku.
Danu membiarkan kami berdua pergi tanpa berpikir macam-macam, lalu melanjutkan makannya.
---
Sementara itu, di dalam toilet.
"Tunggu!" pekik Belinda, menghentikan langkahku.
"Aku tidak percaya kamu memiliki muka setebal ini. Kamu kira aku tidak tahu kalau kamu menyukai calon suamiku?" cecar Belinda lagi.
"Apa kamu merasa posisimu terancam?" tanyaku balik, menatapnya datar.
"Posisiku terancam? Kamu pura-pura lupa kalau empat hari lagi aku akan menyandang status Nyonya Saliyo?"
"Lalu, kenapa kamu menemuiku seperti ini? Sudahlah, Bel. Aku dan Danu sama sekali tidak memiliki perasaan seperti yang kamu tuduhkan. Jadi aku harap kamu bisa tidur nyenyak agar wajahmu segar saat menjadi pengantin," jawabku, lalu memutar tubuh untuk masuk ke salah satu bilik.
Namun, Belinda belum puas. Ia ingin membuktikan bahwa seluruh tuduhannya benar agar calon suaminya tidak lagi menganggapnya pembohong dan mau menjauhiku. Tanpa aba-aba, Belinda menarik rambut panjangku dari belakang hingga kepalaku terdongak. Aku mengaduh kesakitan.
"Apa yang kamu lakukan?!" Aku meremas pangkal rambutku sendiri untuk mengurangi rasa jambakannya.
"Aku ingin kamu mengakui perasaanmu pada Danu! Aku tahu kamu menyukainya!" hardik Belinda tanpa niat melepaskan genggamannya.
Aku bukan wanita lemah yang pasrah disiksa begitu saja. Tak tahan dengan rasa sakit di kulit kepalaku, aku menginjak kaki Belinda sekencang mungkin dengan tumit sepatu kusamku. Tak berselang lama, cengkeraman Belinda terlepas dan ia mengaduh kesakitan.
"Dasar jalang! Beraninya ka—"
"Ada apa ini?" Seorang petugas kebersihan mendadak muncul dan memotong makian Belinda.
"Kamu tidak lihat?! Wanita ini menginjak kakiku sampai aku tidak bisa berdiri! Panggilkan calon suamiku ke sini!" perintah Belinda dengan nada membentak.
Melihat petugas itu bergegas keluar, Belinda langsung menarik sudut bibirnya. Kali ini ia tampak puas dan tak akan membiarkanku lolos. Hanya butuh waktu beberapa menit sampai Danu datang dengan napas terengah-engah.
"Apa yang terjadi?" tanya Danu kaget. Ia melihat Belinda duduk bersimpuh di lantai, sementara aku bersandar di dinding sambil memegangi kepala yang masih terasa pening.
"Sayang, Dinda menginjak kakiku! Kamu tahu kan rambut Dinda panjang dan selalu tergerai? Saat aku di belakangnya, dia mengibas rambut itu lalu tersangkut di tanganku. Aku sudah berusaha menjelaskannya, tapi dia tidak mau mendengarkan dan malah menginjak kakiku! Aku tidak tahu dia punya masalah apa denganku, tapi dia terlihat sangat membenciku!" beber Belinda mengarang cerita, lengkap dengan raut wajah terzalimi.
Danu langsung menatapku tajam. Melihatku hanya diam tanpa membela diri, amarahnya tampak tersulut. Tanpa memintaku menjelaskan, Danu maju dan mencengkeram daguku dengan kasar.
"Apa yang kamu lakukan, Dinda?! Sejak kapan kamu jadi sejahat ini?"
"Lepas. Kepalaku masih pusing, bisakah kamu memberikan aku waktu untuk menjelaskan?" ucapku lirih namun tegas.
"Menjelaskan apa? Kamu mau bilang aku mengarang cerita?" sahut Belinda dari lantai.
"Apa aku bilang begitu? Lagipula kejadian ini hanya kamu, aku, dan Tuhan yang tahu," balasku seraya menghempaskan tangan Danu yang cengkeramannya mulai mengendur.
Aku menatap Danu lurus-lurus. "Bawa calon istrimu ke rumah sakit, atau kompres kakinya dengan air dingin agar bekas injakanku tidak semakin membuat ia kesakitan."
Mendengar kalimat dingin yang keluar dari mulutku, Danu tergugu. Tanpa ia sadari, aku melangkah pergi meninggalkannya. Rasanya baru kali ini aku menatapnya dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan dan kelelahan, seolah tak ada lagi ruang untuk rasa cinta yang selama ini kusimpan.
"Hai! Berhenti kamu, Dinda! Berhenti!" teriak Belinda seperti orang kesurupan. Namun, aku sama sekali tidak peduli dan terus berjalan tanpa menoleh lagi.
Danu yang baru tersadar akhirnya berjongkok untuk membantu Belinda berdiri, sembari bergumam kebingungan, "Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kamu menyinggungnya?"
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...