Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24 : Yang Berkedip
Cairan kental dari Pohon Induk masih netes di kepala mereka berlima.
Tes... tes...
Dingin, lengket. Bau tanah busuk yang dicampur ludah.
Maira yang mukanya masih dibekap selendang leher Bima, udah gak tahan. Rambut kuncirnya masih basah, selendangnya bau keringet Bima campur cairan putih tadi, di kulit kepalanya masih kerasa geli kayak ada cacing yang belum keusap.
Dia narik napas panjang lewat hidung buat nenangin diri.
Tapi pas dia narik napas, bau busuk dari cairan Pohon Induk itu masuk hidungnya.
Asin, anyir, kayak bangkai.
Spontan, Maira muntah di dalam bekapannya. Gak keluar, ketahan selendang. Matanya mendelik, dia teriak.
"HAA..."
Jeritannya ketahan, cuma jadi -HMMMPH!- ketahan kain, tapi suaranya lolos. Cukup keras buat mecahin hening 10 detik.
Bima langsung bekap lebih kenceng, dua tangan. "Sstt! Maira, diam. Jangan bersuara."
Terlambat.
Di batang pohon tepat di atas kepala mereka, mata yang dari tadi melek setengah langsung...
Dipp...
Kebuka. Lebar. Gede. Sepiring makan.
Bola matanya putihnya bukan putih, tapi kuning keruh. Urat merahnya gede-gede, kayak akar merah yang gerak-gerak. Pupilnya hitam legam, ngeliat lurus ke bawah, ke Maira yang dibekap.
Mata itu berkedip. Sekali. Pelan.
Dipp...
Kelopak kayunya seret, bunyi -krek-.
Maira yang dibekap liat itu, dia berontak makin kenceng. Matanya nangis.
Satu detik setelah mata pertama itu berkedip, di pohon sebelahnya...
PLETAKK!!
Mata kedua buka. Lebih gede lagi. Urat merahnya lebih banyak. Ikutan kedip, ngeliat ke Gilang.
Terus di pohon sebelahnya lagi...
PLETAK! PLETAK! PLETAK_
Satu-satu. Kayak lampu dinyalain orang satu-satu. Dari 1 jadi 2, dari 2 jadi 7, dari 7 jadi hampir semua pohon di sekitar mereka yang tadinya merem, sekarang punya 1 mata yang buka. Semua gede, semua uratnya merah, semua berkedip pelan-pelan, gak barengan. Kedipnya random, jadi kesannya mereka lagi ngobrol pakai kedipan.
Hutan yang tadinya gelap, sekarang terang sedikit karena pantulan puluhan mata basah itu.
Elina yang di samping gemetaran. Refleks dia ngerogoh saku carrier, ngambil senter kecil.
Dia nyalain, arahnya ke mata gede di atas kepala Maira.
CRING!!
Cahaya putih senter nembak langsung ke pupil mata itu.
Reaksinya instan.
Mata gede itu langsung merem. Kenceng. Kelopak kayunya nutup sampai bunyi -GDEBUK- kayak orang silau kesakitan. Cairan putihnya muncrat ke samping.
Elina lega. "Ternyata ngaruh!"
Dia arahin senternya ke mata kedua, ketiga. Semua mata yang kena senter langsung merem, nutup, silau.
Tapi pas senternya dia matiin, buat hemat batre...
PLETAK! PLETAK! PLETAK!
Semua mata yang tadi ditutup senter, buka lagi barengan. Lebih lebar dari sebelumnya. Urat merahnya makin keliatan jelas, kayak marah.
Dan sekarang semua mata itu gak kedip random lagi. Semua ngarah ke satu titik.
Ke senter di tangan Elina.
Elina ngerasa tangannya dingin, senternya netes cairan dari atas, licin.
Bima liat, dia langsung dorong tangan Elina yang pegang senter turun ke bawah. Jangan disorotin lagi.
Dia bisik, suaranya hampir gak ada, cuma gerak bibir, tapi semua bisa baca:
"Jangan liat lama-lama."
Maira yang masih dibekap, baru sadar. Semua mata di sekitar mereka itu tidak bisa terkena cahaya.
Maira menoleh ke Bima dan Bima langsung paham tatapan gadis itu.
Begitupun Elina, Arga dan Gilang. Mereka sadar satu hal. Pohon bermata peka terhadap cahaya.
" Guys, gue ada ide."ucap Bima sangat pelan tapi masih bisa didengar yang lain.
" Jangan bersuara. Kita jalan pelan-pelan. Jalan nunduk."lanjut Bima dengan gerakan bibir tanpa suara.
Semua mengangguk setuju.
Mereka diam di tempat layaknya patung. Menunggu sampai mata-mata itu kembali tertutup. Satu menit yang terasa satu jam itu pun berlalu dan benar saja mata-mata itu satu persatu mulai menutup lagi.
Setelah dirasa aman, barulah mereka bisa bernapas lega meski perlahan.
Bima memberi isyarat dengan tangannya lalu mereka kembali berjalan. Bima didepan, Gilang dibelakangnya, lalu Elina, Maira dan paling belakang Arga yang mengawasi sekitarnya.
Mereka berjalan dengan sangat hati-hati, berusaha agar kaki mereka tak menginjak ranting atau apapun yang menimbulkan bunyi.
Sebab setiap ada yang kepleset injak ranting maka 1 mata dekat mereka langsung melek dan mengeluarkan akar yang akan nyari sumber suara itu.
Baru melangkah beberapa meter, kaki Maira tak sengaja nginjak ranting kecil hingga menimbulkan bunyi krek kecil.
Suara kecil itu berhasil membuat akar-akar didalam tanah merespon cepat, mencuat dan mulai melilit kaki Maira.
Maira hampir menjerit pas akar melilit kakinya. Beruntung Arga sigap dan langsung membekap mulut Maira dengan tangannya.
"Jangan teriak Mai." ucap Arga sangat pelan.
Maira mengangguk dalam diam, berusaha untuk tidak bersuara sebisa mungkin.
Bima, Gilang dan Elina menoleh saat mendengar suara tertahan Maira. Elina sontak menutup mulutnya pakai tangan, syok melihat kondisi Maira yang kelilit akar.
Bima dan Gilang langsung bergerak, memotong akar-akar itu dengan pisau dan cutter yang mereka bawa.
" Tahan... Tetap tenang."ucap Bima dengan gerakan bibirnya.
Akar-akar itu cukup kuat namun berhasil dipotong meski membutuhkan waktu beberapa menit.
Sat.. set.. sat... set..
Akar itu menggeliat lalu kembali masuk kedalam tanah. Maira selamat.
Bima kembali memberi kode dengan tangannya agar mereka melanjutkan perjalanan. Mereka... akhirnya berjalan pakai isyarat.
Kali ini formasi berubah. Bima tetap didepan pimpin jalan, Maira dan Elina nyusul dibelakang Bima, lalu Gilang dan Arga, tetap di belakang.
Entah kenapa, tiba-tiba tenggorokan Arga gatal. Gatal pengen digaruk. Ia berusaha nahan tapi semakin di tahan justru tenggorokannya bergejolak.
Uhukk.. Uhuukk..
Mata-mata di pohon sekitar seketika langsung melek, menatap tajam ke sumber suara. Dan akar-akar didalam tanah kembali mencuat, bergerak cepat kearah suara batuk Arga.
Bima dan yang lain terkejut dan sontak menoleh.
Terlambat..
Dalam hitungan detik akar-akar itu sudah melilit Arga cepat. Menyeret Arga ke semak tanpa sempat mereka berekspresi.
" ARGA!!"
***
***