Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas di Tengah Hutan Pinus
Pagi itu, kabut tipis masih tampak memeluk dahan-dahan pohon pinus tinggi yang mengelilingi kawasan *penthouse* pribadi Victor Thorne di pinggiran kota Amsterdam. Udara terasa begitu segar, bercampur dengan aroma tanah basah seusai hujan gerimis semalam. Dari balik dinding kaca raksasa di ruang utama lantai dua, Freya Zivanka menatap kosong ke arah lanskap alam yang terhampar luas di luar sana.
Pemandangannya sungguh luar biasa indah. Hijau daun yang kontras dengan arsitektur modern bangunan *penthouse* berlantai tiga itu menciptakan kesan damai yang absolut. Tidak ada suara bising klakson mobil, tidak ada deru mesin pabrik, dan yang pasti, tidak ada tatapan curiga dari orang-orang sekitar. Tempat ini sepenuhnya terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar, tersembunyi rapat di balik lebatnya hutan yang hanya bisa diakses melalui jalur khusus berkeamanan ketat.
Namun, di balik keindahan dan kemewahan tingkat dewa yang tersaji di hadapannya, dada Freya justru merasa sesak.
Ia memeluk kedua bahunya sendiri yang terbalut cardigan rajut tebal berwarna beige. Hari ini adalah hari pertama ia resmi menempati tempat ini secara permanen sebagai bagian dari kontrak perjanjiannya dengan Victor Thorne. Semalam, setelah perbincangan sengit namun menenangkan di ruang tamu, Victor memastikan bahwa segala kebutuhan logistik, pelunasan biaya rumah sakit sang ibu, hingga beasiswa adiknya, Steven, telah diurus tuntas oleh tim kepercayaannya. Victor meninggalkannya menjelang subuh karena harus bersiap menghadapi rapat pemegang saham internasional di pusat kota Amsterdam, meninggalkan Freya sendirian di dalam sangkar emas yang sunyi ini.
"Kamu sekarang aman di sini, Freya," gumam Freya pelan pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang bimbang. "Ini semua demi Ibu dan Steven. Kamu harus kuat."
Meski akalnya tahu bahwa keputusan ini adalah satu-satunya jalan keluar terbaik dari krisis finansial keluarganya, nuraninya sebagai seorang gadis muda tetap merasa asing. Ruang tamu tempat ia berdiri memiliki luas yang bahkan melebihi ukuran rumah petak tempat ia dan keluarganya tinggal dulu. Perabotan custom-made dari brand interior ternama dunia, lampu gantung crystal mewah yang berkilauan, serta jajaran sofa kulit Italia berwarna charcoal mendominasi ruangan. Semuanya berteriak tentang kekayaan mutlak seorang Victor Thorne.
Freya melangkah pelan menuruni tangga melingkar berlapis kayu ek menuju lantai dasar yang terhubung langsung dengan dapur terbuka berkonsep gourmet. Ia membuka kulkas dua pintu yang ternyata sudah terisi penuh oleh berbagai macam bahan makanan segar, buah-buahan impor, aneka pastry dari bakery bintang lima di pusat kota, serta deretan botol wine mahal dan sparkling water.
Merasa tenggorokannya kering, Freya mengambil sebotol air mineral dingin, lalu berjalan menuju pintu kaca geser besar yang mengarah langsung ke halaman belakang berupa dek kayu luas (wooden deck) yang dilengkapi dengan kursi berjemur dan jaccuzi pribadi berpemanas air.
Sambil menikmati tegukan air mineralnya, Freya memejamkan mata sejenak, membiarkan angin pagi menyapu helaian rambut hitam kecoklatan miliknya yang tergerai bebas. Pikirannya melayang kembali pada rentetan kejadian gila yang membawanya sampai ke titik ini. Dari gadis biasa yang berjuang mati-matian membayar uang kuliah dan obat ibunya, hingga malam penuh keintiman di kamar hotel mewah bersama sang konglomerat dingin, berujung pada status baru sebagai wanita simpanan di dalam kontrak eksklusif.
Buzzz... Buzzz...
Getaran pelan dari ponsel pintar yang ia letakkan di atas meja luar mendadak membuyarkan lamunannya. Freya bergegas meraih benda pipih itu. Layar menyala terang menampilkan sebuah nama panggilan yang membuat jantungnya berdegup kencang: **Victor**.
Freya menelan ludah sebelum menggesek tombol hijau. "Halo..." sapanya dengan suara pelan.
"Kamu sudah bangun?" suara bariton Victor langsung menyapa indra pendengarannya, terdengar begitu berat, tegas, namun ada nada hangat yang disembunyikan di balik sela-sela napasnya. "Aku kira kamu masih kelelahan dan tidur sampai siang."
"Aku sudah bangun sejak jam tujuh tadi," jawab Freya, jemarinya secara tidak sadar meremas ujung cardigan-nya. "Suasana di sini... sangat tenang. Terlalu tenang, malah."
Di ujung sambungan sana, terdengar helaian napas Victor, disusul suara kertas dibalik dan bisikan samar asistennya sebelum Victor kembali fokus sepenuhnya pada Freya. "Aku tahu tempat itu mungkin terasa asing buat kamu di awal. Tapi itu adalah tempat paling aman di seluruh Amsterdam untuk saat ini. Tidak ada seorang pun yang bisa menemukanmu di sana, bahkan Annelise atau pers sekalipun."
Mendengar nama Annelise disebut, ada secercah rasa tidak nyaman yang melintas di dada Freya. Meskipun ia belum pernah bertatap muka langsung dengan wanita berdarah Belanda pilihan Nyonya Valen itu, cerita singkat dari Victor malam itu sudah cukup membuat Freya paham bahwa Annelise adalah bayangan masa lalu yang sewaktu-waktu bisa menjadi ancaman besar bagi posisinya saat ini.
"Aku mengerti, Victor," jawab Freya lirih. "Terima kasih... untuk semuanya. Untuk urusan ibu dan Steven juga."
"Jangan berterima kasih dulu, Freya," sahut Victor dengan nada rendah yang sukses membuat bulu kuduk Freya meremang. "Kamu menjalankan bagianmu dalam kontrak, dan aku menjalankan bagianku. Itu adil. Tapi ingat klausul utamanya: jangan pernah mencoba keluar dari kawasan penthouse tanpa izin atau sepengetahuanku. Keamananmu adalah harga mati."
"Iya, aku ingat. Aku tidak akan kemana-mana," jawab Freya patuh.
"Bagus. Hari ini aku ada rapat pleno gabungan dengan para investor Eropa sampai sore nanti, jadi aku mungkin baru bisa menyusul ke penthouse agak malam. Tapi kulkas di sana sudah penuh, pelayan pribadi datang mengantar laundry bersih lewat pintu servis otomatis pukul sepuluh nanti. Manfaatkan fasilitas yang ada. Jangan buat dirimu stres."
"Baiklah... selamat bekerja, Victor."
"Hmm. See you tonight, Freya."
Tut... tut... tut...
Sambungan terputus. Freya kembali menatap layar ponselnya yang padam. Pria itu selalu bernada memerintah dan penuh dominasi, namun di saat yang sama, ada perhatian protektif yang tidak bisa Freya abaikan begitu saja.
Pukul sepuluh tepat, sesuai dengan ucapan Victor, bel pintu utama berbunyi pelan. Freya yang sedang membaca sebuah novel di ruang tengah berjalan mengintip dari layar interkom dinding. Terlihat seorang pria paruh baya berpakaian rapi dengan lambang perusahaan logistik tepercaya sedang meletakkan beberapa kotak belanjaan segar dan keranjang pakaian bersih di rak khusus dekat pintu masuk servis. Sesuai instruksi, pintu tersebut bekerja secara otomatis tanpa perlu Freya harus bertatap muka langsung dengan orang luar, menjaga kerahasiaan tempat tinggalnya tetap steril.
Merasa bosan terus-menerus duduk di dalam ruangan, Freya memutuskan untuk menjelajahi setiap sudut penthouse megah tersebut. Lantai dua ternyata dikhususkan untuk kamar tidur utama dan ruang kerja pribadi Victor. Kamar tidur utama itu sangat luar biasa luas, didominasi warna monokrom dengan tempat tidur king-size berseprai linen hitam arang yang sangat empuk. Di salah satu sisi dinding terdapat jendela kaca melengkung yang menyuguhkan pemandangan langsung ke pucuk-pucuk pohon pinus.
Freya melangkah masuk ke dalam walk-in closet yang terhubung dengan kamar mandi utama. Betapa terkejutnya ia ketika melihat lemari-lemari kaca di sana sudah terisi penuh dengan deretan pakaian wanita baru berukuran pas untuk tubuhnya—mulai dari pakaian santai sehari-hari, pakaian tidur berbahan sutra lembut, gaun malam elegan, hingga jubah mandi berlogo eksklusif. Victor rupanya telah memerintahkan asistennya untuk membelikan seluruh keperluan pakaian Freya sebelum ia tiba di sana, memperhitungkan setiap detail kecil agar Freya merasa nyaman tanpa perlu membawa barang-barang lamanya yang sederhana.
"Pria ini benar-benar... merencanakan semuanya dengan sangat teliti," gumam Freya takjub sambil menyentuh lembut gaun tidur silk berwarna emerald yang tergantung rapi.
Menjelang siang hari, Freya memutuskan untuk mencoba memasak makan siang sendiri di dapur minimalis. Ia mengambil beberapa bahan segar dari kulkas: dada ayam, jamur kancing, pasta *fettucine*, dan krim segar. Aktivitas memasak selalu menjadi salah satu cara ampuh bagi Freya untuk mengusir rasa penat dan kecemasan di dalam kepalanya.
Bau harum mentega, bawang putih, dan tumisan jamur perlahan memenuhi ruangan dapur yang luas itu. Sambil menunggu air rebusan pasta mendidih, Freya bersenandung kecil, menikmati momen langka di mana ia bisa bernapas tanpa harus memikirkan tagihan rumah sakit yang menumpuk atau ancaman pengusiran dari apartemen lamanya. Untuk sesaat, di dalam sangkar emas ini, ia merasa seolah-olah menjadi nyonya rumah yang sah—bukan sekadar gadis kontrak yang terikat perjanjian rahasia.
Pukul dua siang, ia menikmati hidangan pasta buatannya sendiri di meja makan marmer sambil menatap layar laptopnya, mengecek beberapa materi kuliah digital yang dikirimkan oleh Steven lewat surel agar ia tidak ketinggalan mata pelajaran. Adiknya itu sempat mengirim pesan singkat beberapa jam lalu, mengabarkan bahwa ia sudah mulai mengikuti perkuliahan dengan tenang dan berencana menjenguk ibu mereka di rumah sakit sore nanti. Hati Freya merasa jauh lebih ringan membaca kabar tersebut.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung selamanya.
Menjelang sore hari, saat matahari mulai condong ke barat dan memancarkan cahaya jingga keemasan yang menembus celah-celah hutan pinus, suasana di sekitar penthouse mendadak terasa sedikit berbeda. Freya yang sedang duduk di sofa ruang tengah membaca buku tiba-tiba mendengar suara decitan ban mobil yang melintas di jalan setapak aspal khusus di luar gerbang hutan.
Freya langsung menegakkan duduknya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
Apakah Victor sudah pulang? Ini masih jam empat sore. Katanya baru akan datang malam hari? batin Freya bertanya-tanya.
Ia melangkah pelan menuju jendela kaca besar di lantai dua, mengintip ke arah area parkir bawah tanah melalui pantulan kaca. Sebuah mobil sedan hitam berukuran besar tampak terparkir rapi di sana. Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria bertubuh tinggi atletis keluar dari balik kemudi.
Itu benar-benar Victor Thorne.
Namun, ada yang berbeda dari gestur tubuh pria itu hari ini. Victor tampak mengenakan kemeja putih yang lengan kugulungnya sampai siku, dasinya sudah dilepas, dan kancing atasnya terbuka lebar. Tapi rahang tegasnya terlihat jauh lebih mengeras dari biasanya, dan langkah kakinya menaiki tangga luar menuju pintu utama tampak begitu cepat dan penuh tekanan, seolah ada hal besar yang sedang mengganggu pikirannya di kantor pusat.
Cklek!
Pintu utama penthouse terbuka lebar dengan bunyi mekanis yang tegas. Victor melangkah masuk ke dalam ruangan, melepaskan jas kerjanya dengan kasar dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa dekat pintu. Napas pria itu sedikit memburu, dan matanya yang tajam langsung menyapu seisi ruangan hingga akhirnya menangkap sosok Freya yang berdiri terpaku di ujung tangga lantai dua.
Melihat ekspresi wajah Victor yang tampak murka dan lelah secara bersamaan, nyali Freya mendadak ciut. Ia mengerjap pelan, perlahan melangkah menuruni tangga menghampiri pria itu.
"Victor... kamu sudah pulang? Kenapa cepat sekali? Ada apa?" tanya Freyahati-hati, suaranya terdengar sangat lembut di tengah keheningan ruangan.
Victor tidak langsung menjawab. Pria berbadan kekar itu berdiri tegak di tempatnya, menatap Freya lekat-lekat seolah ia sedang memastikan bahwa gadis di hadapannya ini benar-benar nyata dan berada di tempat aman. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam sebelum Victor akhirnya melangkah mendekat dengan langkah lebar.
Sebelum Freya sempat merespon, Victor sudah merengkuh tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Pelukan itu begitu kuat, begitu erat, seolah Victor sedang mencengkeram satu-satunya jangkar yang bisa menahannya agar tidak jatuh dalam badai amarah di dunia luar.
Freya terkesiap kaget. Ia bisa merasakan degup jantung Victor bergemuruh kencang di balik kemeja putih pria itu, tidak beraturan dan sarat akan emosi yang tertahan.
"Victor... ada apa? Kamu kenapa?" bisik Freya cemas, kedua tangannya secara perlahan terangkat untuk membalas pelukan Victor, melingkar di punggung pria itu dengan penuh kelembutan.
Victor membenamkan wajahnya di ceruk leher Freya, menghirup dalam-dalam aroma vanila alami bercampur wangi sabun mandi yang menguap dari kulit gadis itu. Napas hangat Victor yang menerpa kulit lehernya membuat Freya merinding, namun ia bisa merasakan getaran halus di tubuh pria perkasa tersebut—sesuatu yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya dari seorang Victor Thorne.
"Jangan pernah... mencoba pergi dari tempat ini, Freya," suara Victor terdengar sangat serak, bergetar rendah di telinga gadis itu, penuh dengan intonasi kepemilikan mutlak dan rasa frustrasi yang mendalam. "Bahkan jika suatu hari nanti orang-orang mencarimu, tetaplah bersembunyi di sini di dalam pelukannya."
Freya tertegun. Kata-kata itu menusuk langsung ke dalam relung hatinya. Ia bisa merasakan bahwa hari ini, di dunia korporat yang kejam di luar sana, Victor baru saja menghadapi sesuatu yang sangat melelahkan dan membuat emosinya nyaris meledak. Dan di saat pria itu berada di titik terlelahnya, tempat pertama yang ia tuju bukanlah rumah mewah keluarganya di pusat kota, bukan pula pelukan wanita sosialita seperti Annelise, melainkan penthouse tersembunyi ini—menemukan ketenangan di dalam pelukan gadis kontrakannya sendiri.
"Aku tidak akan kemana-mana, Victor," balas Freya tulus, suaranya berbisik lembut menenangkan badai di dalam jiwa pria itu. Ia mengeratkan pelukannya, mengusap pelan punggung bidang Victor dengan penuh kasih sayang yang mulai tumbuh tanpa ia sadari. "Aku di sini. Aku tidak akan pergi."
Victor mengangkat kepalanya perlahan, menatap manik mata Freya yang memancarkan ketulusan murni. Di bawah temaram lampu gantung ruang utama, jarak di antara wajah mereka teramat dekat. Rasa lelah dan amarah yang tadi menggelayuti wajah Victor perlahan meleleh, digantikan oleh sorot mata lapar dan penuh kebutuhan emosional yang mendalam.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Victor menangkup rahang Freya dengan kedua tangan besarnya, lalu mencium bibir gadis itu dengan penuh kerinduan dan hasrat yang membara. Ciuman itu bukan lagi sekadar pelampiasan fisik seperti malam-malam sebelumnya, melainkan sebuah bentuk persembunyian mutlak dari dunia luar—di mana dua jiwa yang kesepian saling mengaitkan takdir mereka di dalam sangkar emas yang tenang di tengah lebatnya hutan pinus Amsterdam.