Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Darah dari Klan Xiao
Hujan turun di Kota Batu Hitam pada hari kedelapan.
Bukan hujan air. Hujan abu hitam.
Abu itu terbang dari arah Pegunungan Tujuh Pedang, dari arah Klan Xiao. Setiap kepingan abu yang jatuh ke kulit terasa dingin dan meninggalkan rasa gatal seperti bisikan. Para pemburu iblis di kota tahu apa artinya. Itu adalah abu iblis. Itu berarti segel besar telah bocor, dan iblis tingkat rendah sudah mulai terbakar oleh matahari dunia manusia saat mencoba keluar di siang hari.
Kedai Teh milik Xiao Chen tetap buka. Pintu kayunya terbuka, uap teh jahe mengepul melawan udara dingin yang penuh abu. Di dalam, Xiao Chen sedang mengajari Ling'er cara menuang teh tanpa tumpah. Tangan kecil Ling'er gemetar, tapi dia serius.
"Bos Teh, di luar... di luar ada orang aneh," bisik Ling'er sambil mengintip dari jendela.
Di luar kedai, di tengah jalan becek yang penuh abu hitam, berdiri dua sosok yang sama sekali tidak cocok dengan Kota Batu Hitam.
Yang pertama adalah seorang wanita muda berbaju merah muda yang dulu cantik, tapi kini jubahnya robek-robek, rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat karena kehabisan darah dan qi. Liu Yue.
Yang kedua adalah seorang pria tua berjanggut putih yang dulu selalu terlihat agung dan tak terkalahkan, kini punggungnya bungkuk, satu lengannya hilang, jubah emas Tetua Agungnya sobek dan berlumuran darah hitam yang mengering. Xiao Tianlong.
Mereka tidak berani masuk. Mereka berlutut di tengah jalan, di bawah hujan abu hitam. Dan mereka berlutut menghadap ke arah Kedai Teh.
Orang-orang di Kota Batu Hitam berkumpul dari jauh, berbisik. Geng Harimau Hitam yang biasanya garang, kini hanya menonton dari atap, tidak berani mendekat ke radius 50 meter dari kedai itu sejak kejadian Hu San.
Liu Yue mengangkat kepalanya, suaranya serak karena menangis selama tiga hari.
"KAKAK CHEN! XIAO CHEN! TOLONG!"
Teriakan itu membuat Ling'er kaget dan bersembunyi di belakang Xiao Chen.
Xiao Chen tidak berhenti menuang teh. Tangannya stabil. Uap teh terus naik.
"Kakak Chen, aku mohon! Klan... klan sudah hancur! Ayahku mati! Paman Kedua mati! Xiao Feng... Xiao Feng dibawa iblis hidup-hidup! Mereka memakan kakinya di depan kami!"
Liu Yue merangkak maju, lututnya berdarah karena batu-batu tajam di jalan. Tetua Agung Xiao Tianlong mengikuti di belakangnya, kepalanya masih menunduk.
"Kami salah! Kami semua salah! Tetua Agung mengakui dia salah! Kami pikir jurang itu kosong! Kami tidak tahu! Kami tidak tahu kau... kau menahan semua itu sendirian selama seribu tahun!"
Xiao Chen akhirnya meletakkan tekonya. Dia berjalan ke pintu kedai, tapi tidak keluar. Dia berdiri di ambang pintu, di batas antara kedainya yang hangat dan dunia luar yang dingin dan penuh abu.
Dia menatap Liu Yue. Wanita yang dulu dia janjikan akan dia lindungi seumur hidup ketika mereka masih berumur 6 tahun. Wanita yang menginjak cincin pertunangan mereka di depan 1000 orang.
"Liu Yue," kata Xiao Chen, suaranya datar tanpa emosi, "Kenapa kau datang ke sini?"
Liu Yue mengangkat sebuah gulungan kain putih yang berlumuran darah. Surat Darah. Itu adalah sumpah paling tinggi di Klan Xiao, ditulis dengan darah jantung Tetua Agung.
"Kami... kami datang untuk memohonmu kembali! Kembalilah menjadi penjaga jurang! Klan akan memberimu segalanya! Posisi Tetua Agung! Gudang harta! Aku... aku bersedia menikah denganmu lagi! Aku akan menjadi istrimu! Aku akan melayanimu seumur hidup!"
Mendengar itu, Tetua Agung Xiao Tianlong akhirnya mengangkat kepalanya. Mata tuanya yang dulu penuh kesombongan kini hanya ada penyesalan dan ketakutan. Dia membenturkan kepalanya ke tanah, ke lumpur yang penuh abu hitam.
"Xiao Chen... cucuku... tidak, Tuan Xiao Chen... kakek salah. Kakek buta. Seribu tahun kau menjaga kami, dan kami membalasmu dengan tumbal. Sekarang... sekarang anak-anak di klan berteriak memanggil namamu setiap malam. Mereka pikir kau akan datang seperti dulu. Tolong... kembalilah. Atau bunuh kami saja di sini, agar kami tidak perlu kembali melihat mereka dimakan."
Suasana jalan menjadi sangat hening. Semua orang menahan napas. Mereka tidak tahu siapa pria penjaga jurang ini, tapi mereka bisa merasakan beban 1000 tahun dalam kata-kata Tetua Agung itu.
Xiao Chen menatap Surat Darah itu. Lalu dia menatap abu hitam yang menempel di jubah Liu Yue. Abu iblis.
Dia ingat. Setiap malam, dia membunuh iblis-iblis itu agar abu seperti ini tidak pernah sampai ke Klan Xiao. Dia ingat bagaimana dia menutup hidung anak-anak Klan Xiao dengan selimut agar mereka tidak menghirup abu ini saat dia diam-diam membersihkan atap mereka di malam hari.
Seribu tahun kebaikan, dibalas dengan satu hari pengkhianatan.
Xiao Chen melangkah keluar dari kedainya. Untuk pertama kalinya, dia menginjak hujan abu hitam. Abu itu yang biasanya membuat kultivator Foundation Establishment batuk darah, tidak bereaksi sama sekali saat menyentuh kulitnya. Bahkan abu itu tampak menghindarinya.
Dia berjalan mendekati Liu Yue dan Tetua Agung yang masih berlutut. Dia mengambil Surat Darah itu dari tangan Liu Yue yang gemetar.
Semua orang mengira dia akan menerimanya.
Xiao Chen membuka gulungan itu. Membacanya sekilas. Lalu, di depan mata Liu Yue dan Tetua Agung, dia merobeknya.
_KRETEK!_
Suara kain robek itu terdengar lebih keras dari petir.
Dia merobek Surat Darah menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu melemparkannya ke udara. Serpihan yang penuh sumpah darah itu bercampur dengan hujan abu hitam dan hilang.
"Aku sudah bilang di gerbang klan hari itu," kata Xiao Chen pelan, tapi setiap orang di jalan mendengarnya dengan jelas. "Mulai hari itu, Klan Xiao dan aku tidak ada hubungan lagi."
"Jurang itu bukan urusanku lagi. Klan Xiao bukan urusanku lagi. Kau," dia menunjuk Liu Yue, "bukan urusanku lagi."
Liu Yue terduduk lemas, air matanya bercampur dengan lumpur. "Kakak Chen... kau... kau tega melihat kami semua mati? Anak-anak... ada anak-anak di klan..."
Xiao Chen berbalik. Dia sudah akan kembali ke kedainya yang hangat.
Tapi langkahnya berhenti karena kalimat Tetua Agung.
"BUNUH AKU!"
Tetua Agung berteriak sambil menghunus belati dan meletakkannya di lehernya sendiri. "Kalau kau tidak mau kembali, bunuh aku di sini! Aku tidak punya muka untuk kembali! Aku lebih baik mati di tanganmu, cucuku, daripada mati dikoyak iblis! Setidaknya, darahku bisa menebus sedikit dosaku padamu!"
Xiao Chen menoleh. Dia melihat belati itu bergetar di tangan tua itu.
Dia menghela napas panjang. Napas pertama yang terdengar lelah setelah 7 hari hidup tenang.
Dia mengangkat tangannya. Bukan untuk membunuh Tetua Agung. Dia mengarahkan telapak tangannya ke arah Pegunungan Tujuh Pedang, ke arah asal hujan abu hitam.
Dari telapak tangannya, tidak ada cahaya keemasan yang indah. Hanya angin. Angin hitam yang sama dengan abu itu, tapi jauh lebih pekat, lebih berat, lebih tua.
Angin itu terbang, membelah hujan, terbang 300 kilometer dalam sekejap, dan menghantam retakan segel di Jurang Iblis.
Di Klan Xiao, para murid yang sedang bertahan mati-matian di dalam formasi pelindung yang sudah retak, tiba-tiba melihat gelombang iblis yang akan menerjang mereka... berhenti. Semua iblis tingkat rendah itu tiba-tiba berhenti, gemetar, lalu berbalik dan lari kembali masuk ke dalam jurang, sambil melolong ketakutan. Seolah-olah mereka baru saja merasakan kehadiran raja mereka yang jauh lebih menakutkan dari mereka.
Retakan segel yang tadinya selebar 10 meter, menyusut menjadi selebar 1 meter karena hantaman angin hitam itu. Tidak tertutup, tapi cukup untuk menghentikan gelombang besar.
Di Kota Batu Hitam, hujan abu hitam berhenti.
Xiao Chen menurunkan tangannya. Wajahnya sedikit lebih pucat.
"Itu," katanya kepada Tetua Agung yang masih berlutut dengan belati di leher, "adalah teh terakhir yang aku traktir untuk Klan Xiao. Satu hembusan. Untuk anak-anak yang tidak bersalah di klan yang tidak pernah meludahiku. Setelah ini, jika segel itu jebol lagi... jangan datang ke sini lagi. Karena lain kali, yang keluar dari jurang bukan lagi iblis yang kalian kenal."
Dia kembali masuk ke kedainya. Dia mengambil sapu dan mulai menyapu abu hitam yang masuk ke dalam kedainya.
"Peraturan kedai: Jangan berisik, jangan bawa darah masuk," katanya kepada Liu Yue dan Tetua Agung yang masih mematung di luar. "Kalian sudah melanggar keduanya. Pergi."
Liu Yue dan Tetua Agung saling pandang. Mereka tahu, ini adalah belas kasihan terakhir. Mereka membungkuk dalam-dalam sampai dahi mereka menyentuh lumpur, lalu berjalan tertatih-tatih kembali ke arah pegunungan, membawa kabar bahwa iblis telah mundur, tapi penjaga mereka tidak akan pernah kembali.
Ling'er yang melihat semua itu dari dalam, menarik ujung jubah Xiao Chen.
"Bos Teh... kenapa Bos Teh membantu mereka padahal mereka jahat?"
Xiao Chen berhenti menyapu. Dia menatap cangkir tehnya yang masih hangat.
"Karena aku bukan membantu mereka, Ling'er," jawabnya pelan. "Aku membantu diriku sendiri. Jika aku membiarkan mereka mati semua hari ini, maka 1000 tahun yang aku habiskan di jurang akan benar-benar menjadi tidak ada artinya. Aku tidak ingin 1000 tahunku menjadi sampah. Aku ingin 1000 tahunku... menjadi harga yang kubayar untuk bisa menyeduh teh dengan tenang hari ini."
Di luar, langit Kota Batu Hitam kembali cerah. Tapi jauh di dalam Jurang Iblis, di kegelapan yang paling dalam, Raja Iblis Mata Seribu yang merasakan angin hitam itu tersenyum dengan seribu matanya.
"Dia akhirnya mengakuinya... Dia adalah Raja kami."