Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan biarkan nyonya COD
Di ruang galeri sudah berdiri seorang wanita cantik mengenakan white dress casual lengkap dengan tas dari merek internasional ternama.
"Nyonya, ini Tuan saya, namanya Tuan Chandra," ucap Sisi memperkenalkan.
Wanita itu membalikkan badannya lalu melempar senyum anggun. "Selamat pagi, Tuan Chandra. Maaf mengganggu waktunya."
"Kewajiban saya menyambut Anda, Nyonya." Chandra membalas senyuman tersebut dengan ramah.
"Pengelola galeri tua ini tampan sekali... Kok dia mau ya tinggal di tempat tua begini?" batin wanita tersebut, lirikan matanya memindai dari ujung kaki sampai kepala Chandra yang tertutup kacamata hitam.
"Silakan duduk, Nyonya." Chandra menggeser kursi. "Sisi, kamu siapkan minuman, ya."
"Baik, Tuan!" Sisi bergegas melangkah ke dapur.
Chandra dan wanita tersebut kini duduk berhadapan di satu meja.
"Kalau boleh tahu, nama Nyonya siapa?"
"Oh iya, ini..." Jawab wanita tersebut seraya menyodorkan kartu namanya.
"Nyonya Meilina, Presiden Direktur Liontin Group rupanya," ucap Chandra membaca kartu nama sambil tersenyum.
"Saya lagi cari lukisan yang authentic. Kalau memang di sini ada lukisan kuno, saya juga menerima."
"Kalau lukisan kuno, saya tidak punya, Nyonya. Tapi kalau untuk authentic, saya punya lukisan yang dibuat oleh tangan saya sendiri."
"Benarkah?" tanya Meilina terkejut.
"Sudah tampan, punya jiwa seni lagi... Dia jomblo enggak ya?" batin Meilina kegirangan di balik senyumannya yang elegan.
"Tentu, sebentar saya bawakan ke sini." Chandra bangkit lalu mengambil tiga gulungan lukisan miliknya.
"Itu lukisan apa?"
"Tiga gulungan ini berlukiskan tiga hewan suci, Nyonya. Pertama in—"
"Sebentar!" Meilina memotong perkataan Chandra.
"Ada apa, Nyonya?"
"Bisa tidak, jangan panggil saya Nyonya? Panggil namaku saja, Meilina. Aku capek terlalu formal."
(BEYBEH! — Sound effect backsound)
"Emang boleh bilang kayak gitu ke seorang Presdir?"
"Dia muji aku, hihi!" batin Meilina berbunga-bunga.
"Aku panggil Mei? Atau Lina?" tanya Chandra polos.
"Panggil Mei saja, karena aku mungkin lebih muda dari kamu," ucap Meilina sambil tersenyum manis.
"Aduh, mulai lagi... Yueji sudah lewat belum ya?" batin Chandra dengan mata melirik cemas ke arah pintu kamar.
"Ahahaha, baik Nona Mei. Jadi per—"
"Sebentar!" potong Meilina lagi.
"Hmm, gimana?"
"Bisa tidak, enggak usah pakai Nona?" ucap Meilina yang kini melepas kaca mata hitamnya, menatap penuh godaan.
"Mati aku!" batin Chandra makin meronta-ronta ketakutan.
"Hehe, baik. Jadi begini Mei, pertama..."
"Sebentar!"
Wajah Chandra seketika berubah datar. Ia berusaha ekstra sabar menahan kekesalan.
"Bisa bagi kontak WhatsApp enggak?"
"Hehehe... Tentu, tentu Mei." Chandra tertawa canggung, lalu membuka kode scan kontaknya.
Ting-Tong! (Kontak berhasil disimpan).
"Sudah? Tidak ada hal lain lagi sebelum aku lanjutin nih?" tanya Chandra memastikan.
"Hehehe, silakan lanjutkan."
"Jadi begini Mei, lukisan pertama ini adalah lukisan dari sang Burung Api (Phoenix). Ini dulu saya gambar, ke—"
AWUAWUAWAKYU SMS! (Dering ponsel Chandra berbunyi nyaring).
[Tampan, nanti malam kosong tidak?] — Pesan masuk dari Meilina.
Wajah Chandra seketika semrawut. Ingin marah tapi tidak bisa, karena Meilina sang Presdir Liontin Group ini punya potensi cuan yang sangat besar.
"Mei, katanya tidak ada yang lain..." ucap Chandra sambil memperlihatkan layar chat dari Meilina.
"Kan malu kalau ngomong langsung..." ucap Meilina pelan sambil melirik nakal.
"Sayangnya, aku sudah punya istri," jawab Chandra tegas sambil mengangkat jari manisnya yang dilingkari cincin pernikahan.
Seketika wajah Meilina berubah jutek. Ia bergegas berdiri. "Sudahlah, aku tidak jadi beli!" bentak Meilina sambil menghentakkan kakinya kesal.
"Aneh-aneh banget wanita zaman sekarang," batin Chandra dongkol.
Meilina membalikkan badannya hendak pergi. Namun sebelum melangkah...
"Yakin kamu tidak mau membeli lukisanku dari Tuan yang terhormat?" Suara pudar sang Phoenix bergema gaib tepat di telinga Meilina.
Meilina membalikkan badan. Dari lukisan Phoenix yang terbuka di tangan Chandra, mata burung api itu memancarkan cahaya pendar emas yang membakar.
"Lu-lukisan ini bisa bicara?" tanya Meilina terbata-bata.
Wajah Chandra makin melas dan pasrah. "Hah, ternyata wanita ini gila. Sayang banget, cantik-cantik gila," batin Chandra prihatin melihat tingkah Meilina.
"Mana ada lukisan berbicara, Mei? Kamu ke sini sendiri apa bawa asisten?"
"Oh iya..." Meilina merogoh ponselnya. "Nana, kamu masuk sekarang!"
"Baik, Nona," jawab asisten pribadi Meilina dari balik telepon.
Tak lama, muncul wanita cantik berpenampilan formal mengenakan blazer dan rok hitam pendek. "Ada apa, Nona?"
"Coba kamu pastikan lukisan itu benar-benar bicara atau tidak!"
"Hah?" Asistennya terkejut lalu menatap Chandra bingung. "Nona tidak salah bicara, kan?"
"Aihh, coba kamu dekati saja lukisan itu!"
"Baik, Nona."
Wanita bernama Nana itu meminta izin pada Chandra untuk memeriksa lukisan sejenak. Lima menit berlalu, ia kembali ke samping Meilina. "Biasa saja, Nona. Sama seperti lukisan pada umumnya."
"Baiklah, ayo kita pulang." Mereka membalikkan badan kembali.
"Apa aku terlalu banyak mengonsumsi minuman ya?" gumam Meilina memegang jidatnya sambil melangkah keluar.
"Hahaha! Tubuhmu berjodoh denganku, Bocah! Bawa aku ke rumahmu!" Kembali suara Phoenix bergema kencang—dan kali ini sang asisten pun ikut mendengarnya!
Mereka berdua kompak berbalik secara mendadak. Seketika mata kedua wanita itu terbelalak lebar, seakan tak percaya dengan apa yang ada di depan mata. Terbentuk siluet wujud Phoenix raksasa yang begitu sempurna dan membara tepat di belakang tubuh Chandra!
"Benar-benar hidup!" teriak kedua wanita itu histeris.
"Hidup?" Chandra kebingungan, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. "Pastilah hidup, aku ini manusia wahai Nona-Nona! Kalau tidak mau beli, pergi saja!" Chandra sudah tidak bisa menahan kekesalannya lagi.
"Jadi! Jadi aku beli lukisan itu! Berapa harganya?"
"Satu juta saja," jawab Chandra singkat, sudah terlanjur malas melayani.
"Baik, mana kode QR pembayarannya?" Ponsel Meilina kembali meluncur cepat dari tas branded-nya.
Dengan malas, Chandra menyodorkan layar ponsel yang menampilkan barcode pembayaran.
Ting-Tong! (Pembayaran berhasil: Rp1.000.000.000).
"Apa?!" Mata Chandra melotot hampir keluar, mulutnya menganga lebar.
"Anggap saja itu hadiah atas kesabaranmu melayaniku," ucap Meilina santai.
"Dua hari dapat dua miliar... Satu tahun aku bisa jadi orang terkaya di kota ini!" batin Chandra bersorak bahagia, senyum lebar terukir manis di wajahnya.
"Baiklah, ini pegang lukisannya. Terima kasih banyak, terima kasih..." Chandra membungkukkan badannya berkali-kali sambil membungkus lukisan tersebut.
"Nona, sepertinya pengelola galeri ini tidak menyadari keajaiban lukisannya," bisik Nana pelan.
"Baguslah, jadi aku punya alasan untuk datang lagi dan basa-basi," bisik Meilina dengan senyuman nakal.
Meilina sempat membuka sedikit gulungan tersebut. "Wah, cantiknya... Garis detail dan pewarnaannya begitu sempurna," decak kagum Meilina. "Aku pastikan akan kembali lagi. Jadi persiapkan lukisan yang lainnya ya, Tampan," goda Meilina lalu melangkah keluar galeri bersama asistennya.
"Hah, akhirnya kelar juga..." Chandra menghela napas lega, ambruk terduduk di kursi tamu. "Untung saja Yueji belum ke sini..." gumamnya menopang dagu dengan satu tangan.
"Untung apa?"
"HUUAAAAA!"
BRAK!
Chandra tersentak kaget hingga kursinya bergeser. "Jangan ngagetin gitu dong, Sayang!" ringis Chandra kesal.
"Ngagetin apa? Bukannya sudah biasa?"
"Wajahmu itu hijau kayak Hulk!"
Yueji meraba wajahnya sendiri. "Ohh, ini namanya masker, Sayang. Tadi aku lihat orang yang ngomong jualan di ponsel, kata dia 'klik keranjang kuning'. Aku klik, aku beli deh..."
"Ohh, sudah bisa belanja online ya kamu... Hehe," ucap Chandra tersenyum. Namun sedetik kemudian... "Belanja? Apa?!" Wajah Chandra berubah pucat pasi.
"Masker. Katanya sebentar lagi datang," jawab Yueji santai.
Tit... tit... tit... (Suara klakson dan alarm mundur mobil dari halaman depan galeri).
"Mundur... mundur ya, mantap!"
Chandra segera berlari ke depan bersama Yueji.
"Yey! Belanjaanku datang!" teriak Yueji kegirangan.
Di depan galeri kini terparkir mobil pikup yang membawa tumpukan penuh kardus masker wajah.
"Mati aku!"
BRUKK! Chandra pingsan di tempat.
"Sayang, kok tidur di luar? Sayangggg!!!"