NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Murka Alam Kurama

Kaaak! Kaaak! Kaaaak!

Jeritan itu meletus dari angkasa malam yang pekat, pecah menjadi gema serak berantai yang mengocok isi dada. Suara koakan parau—serupa gagak raksasa yang sedang melumat daging busuk—menerobos tebalnya kabut keperakan di Celah Ohara. Suara itu bukan berasal dari satu atau dua ekor burung, melainkan puluhan tenggorokan tak kasat mata yang bersahut-sahutan dari atas kanopi pohon cedar.

Rokusuke mematung. Telapak tangannya yang memegang gagang chokuto mendadak licin oleh keringat dingin. Bulu kuduk di sepanjang lehernya berdiri tegak, merespons hembusan angin beku yang mendadak meniup tengkuknya.

"A-apa itu...?" bisik seorang pembunuh Suppa di barisan belakang. Senjatanya bergetar hebat, beradu dengan seragam kulitnya hingga menimbulkan bunyi ketukan halus yang menyedihkan.

KAAAAK!

Sebelum kata-kata itu selesai diucapkan, kabut tebal di atas mereka terbelah secara mendadak. Sebuah bayangan jangkung meluncur turun dari dahan tertinggi dengan kecepatan yang menentang gravitasi. Kepakan sayap berbulu hitam selebar tiga meter menciptakan pusaran angin keras yang mengempaskan tanah dan dedaunan kering.

SRRAATTT!

Tanpa sempat mengelak, pembunuh Suppa yang bertanya tadi terangkat ke udara. Cakar daging berukur besar dan tajam bagai pisau jagal menembus kedua pundaknya, meremukkan tulang belikatnya dalam hitungan detik. Darah segar menyemprot deras dari celah luka, membasahi wajah rekan di sebelahnya sebelum jeritan pria itu terputus kaku. Tubuhnya dilemparkan begitu saja dari ketinggian belasan meter, menghantam batu tebing hingga kepalanya pecah berkeping-keping.

"Bumi Kurama tidak menerima darah haram!" sebuah suara berat bergelombang memantul dari celah tebing, terdengar seperti benturan dua batu besar di dasar sungai.

Sosok itu mendarat di atas batu datar persis di antara pasukan Suppa dan sisa-sisa shinobi Iga. Tingginya hampir dua setengah meter, bertubuh kekar dilapisi bulu tipis kehitaman. Wajahnya menyerupai burung pemangsa dengan paruh melengkung tajam berwarna gading kusam, sementara matanya yang bulat bundar memancarkan merah keemasan yang membara di kegelapan. Di punggungnya, sepasang sayap hitam raksasa mengepak pelan, melepaskan bau sangit seperti benang terbakar dan darah tua.

Ia adalah Karasu Tengu—yokai penjaga gunung yang legendaris.

Di belakang makhluk utama itu, dari balik pepohonan sugi yang merintih, muncul sosok-sosok yokai lainnya. Beberapa Daitengu berwajah merah padam dengan hidung panjang memegang kipas bulu raksasa, sementara di permukaan tanah, makhluk berbadan bulus berkulit licin dengan lubang air di kepalanya—Kappa pegunungan yang haus darah—merayap keluar dari celah-celah batu yang basah.

"Kembali berbaris! Bunuh makhluk-makhluk iblis ini!" teriak Rokusuke mencoba memulihkan kendali pasukannya. Keberanian yang didorong oleh rasa panik membuatnya mengayunkan pedang lurusnya ke arah Karasu Tengu. "Mereka hanya ilusi! Hanya sihir Iga!"

Dua pembunuh Suppa terdekat menerjang maju bersamanya, mengayunkan tombak pendek beracun menuju dada sang Karasu Tengu.

Namun halusinasi atau sihir tidak memiliki massa yang sanggup meremukkan besi.

BUMM!

Karasu Tengu mengibaskan salah satu sayap raksasanya dengan sentakan liar. Laju angin yang tercipta bagaikan dinding kayu tebal yang dihantamkan secara mendadak. Kedua pembunuh Suppa itu terlempar ke belakang, dada mereka ambles ke dalam akibat patahan tulang rusuk yang menembus organ dalam. Mereka muntah darah secara bersamaan sebelum tubuh mereka terkapar tak bernyawa di atas tanah basah.

Kaaak! Kaaaak!

Koakan parau kembali membahana dari kegelapan. Puluhan Karasu Tengu berukuran lebih kecil meluncur serentak dari angkasa bagaikan hujan anak panah hitam. Pembantaian yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Suasana Celah Ohara berubah menjadi neraka pembantaian yang mengerikan. Bau amis darah yang hangat mengepul di udara malam yang dingin.

Seorang pembunuh Suppa mencoba menangkis cakar yokai menggunakan wakizashi-nya, namun cakar baja alami milik sang Karasu Tengu memotong besi pedang itu hingga terbelah dua, sebelum menancap dalam ke dalam rahang bawah sang pembunuh dan mencabiknya hingga robek ke arah telinga. Darah merah pekat menyembur bagai pancuran liar, mengolesi batu-batu tebing dan daun-daun pakis.

Di sudut lain, dua orang Suppa terpojok oleh sosok Daitengu berwajah merah. Sang Daitengu mengibaskan kipas bulu raksasanya sekali. Angin berputar tajam bagai ribuan silet tak kasat mata melintas di udara, memotong jemari, telinga, dan leher kedua pembunuh itu hingga terpisah dari tubuh mereka. Jeritan kesakitan bergema parau, namun dengan cepat tenggelam oleh suara koakan gagak yang makin riuh dan gila.

Tanba Momochi dan Saburo bersandar pada dinding tebing, menatap pembantaian di depan mata mereka dengan napas terengah-engah. Darah mengalir dari luka di pelipis Tanba, mengaburkan penglihatannya.

"Tanba-sama..." bisik Saburo gagap, matanya membelalak lebar menatap seekor Kappa yang sedang menyeret usus seorang pembunuh Suppa yang masih melonjak-lonjak sakaratul maut. "Apakah... apakah ini ulah segel Sojobo di dalam diri Tuan Putri Mumei?"

Tanba tidak membalas seketika. Tangannya yang gemetar mengusap darah dari matanya. Ia menatap ke arah Karasu Tengu raksasa yang berada di tengah pertempuran. Makhluk itu bertarung bukan hanya dengan kebuasan alami, tetapi dengan semacam kepatuhan yang pekat terhadap sebuah wilayah.

"Segel Sojobo di tubuh Mumei adalah kunci Gunung Kurama," jawab Tanba dengan suara parau dan berat. "Niat membunuh dari pasukan Kanbei... racun yang hendak mereka tuangkan ke sumber air... telah meracuni kesucian gunung ini. Para penguasa Kurama tidak bertarung untuk kita, Saburo. Mereka bertarung untuk melindungi sang pewaris segel."

Di tengah kecakauan itu, Rokusuke menyadari bahwa pasukannya telah habis.

Dari tiga puluh prajurit Suppa terlatih yang dibawanya, kini hanya tersisa kurang dari empat orang yang masih berdiri, itu pun dalam kondisi cacat dan bersimbah darah. Lantai batu Celah Ohara kini berubah menjadi rawa merah tebal. Potongan organ, tumpukan usus, dan kepala-kepala manusia bertaburan di antara genangan darah yang mengepulkan uap hangat.

"Setan... Kalian semua setan!" jerit Rokusuke hysterical.

Satu Karasu Tengu mendarat persis di depan prajurit Suppa terakhir yang berdiri di sebelah Rokusuke. Paruh raksasa makhluk itu mematuk cepat ke depan, menembus batok kepala prajurit tersebut persis di antara kedua matanya. Bunyi krek retaknya tulang tengkorak bergema mengilukan, disusul suara sedotan gurih saat sang yokai menarik kembali paruhnya yang kini dilumuri darah dan cairan otak berwarna abu-abu.

Tubuh prajurit itu roboh seperti karung beras yang kempis.

Rokusuke mundur dua langkah, matanya liar memindai sekeliling. Bau kematian begitu pekat hingga membuatnya mual. Keberaniannya sebagai pimpinan pembunuh bayaran runtuh tanpa sisa, digantikan oleh ketakutan paling primitif yang bisa dirasakan seorang manusia.

Ia sadar, tidak ada emas di dunia ini yang sepadan dengan nyawanya. Informasi mengenai apa yang terjadi di Kurama—tentang keberadaan para yokai dan perlindungan gaib di gunung ini—harus sampai ke tangan Kuroda Kanbei.

"Aku harus keluar... Aku harus melapor..." bisik Rokusuke pada dirinya sendiri, suaranya gemetar pecah.

Dengan sisa kekuatan yang ada, Rokusuke mencabut dua bola bom asap terakhir dari sabuknya dan membantingnya kuat-kuat ke tanah.

BUMM!

Ledakan asap belerang tebal berwarna kuning meletus, membumbung tinggi dan menutupi pandangan di sekitar Celah Ohara. Suara koakan gagak terdengar marah dari balik gumpalan asap, disusul kepakan sayap-sayap besar yang mengaduk udara.

Tanpa membuang waktu, Rokusuke berbalik dan melompat terjun ke balik tebing terjal Ohara.

Ia tidak memanjat turun dengan perlahan. Dalam rasa panik yang memuncak, Rokusuke meluncur liar menelusuri dinding batu yang licin, membiarkan batu-batu tajam mengoyak kain seragam dan kulit tangannya. Pedang dan peralatannya dilemparkannya begitu saja ke dalam jurang demi meragankan beban tubuh.

Darah mengalir dari tapak tangannya yang terkoyak saat ia mencengkeram rantai paku di sepanjang jalur penurunan. Namun Rokusuke tidak peduli. Rasa sakit di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan ingatan tentang paruh raksasa yang melumat kepala pasukannya beberapa detik lalu.

KAAAAK!

Sebuah koakan keras meletus tepat di atas kepalanya.

Rokusuke menoleh ke atas sambil terus meluncur turun. Dari balik kabut keperakan di bibir tebing, sepasang mata merah menyala menatapnya lurus. Karasu Tengu raksasa itu berdiri di tepi jurang, tidak mengejarnya turun, melainkan hanya memperhatikan gerak-gerik sang pemimpin penyusup yang melarikan diri bagaikan tikus kelaparan.

Rokusuke berhasil mencapai dasar jurang yang terjal, kakinya terantuk batu hingga pergelangan kakinya terkilir dengan bunyi keras. Ia meringis kesakitan, terjerembap ke atas serasah daun basah yang berbau busuk.

"Hah... hah... hah..." Rokusuke merayap di atas tanah, menyeret kakinya yang cedera menembus kegelapan hutan di kaki gunung.

Ia terus bergerak seperti orang gila, menjauhi daerah Celah Ohara menuju jalur selatan yang mengarah ke jalan raya Kyoto. Baju mewahnya kini compang-camping, bernoda darah pasukannya sendiri, dan wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.

Namun, saat Rokusuke berhasil merayap keluar dari rapatnya pepohonan sugi dan menyentuh jalan setapak berlumpur di kaki gunung, langkahnya mendadak terhenti kaku.

Di hadapannya, berdiri sebuah kedai teh terlantar di tepi jalan. Dan di bawah naungan atap jerami kedai tersebut, seorang pria tua bertopi bambu lebar sedang duduk di atas bangku kayu, perlahan memutar biji-biji tasbih hitam di tangannya.

Biksu Tenkai.

Tenkai tidak mengangkat kepalanya, namun suaranya meluncur tenang menembus kegelapan malam, menyapa Rokusuke yang terkapar di atas lumpur.

"Pesan yang kaubawa untuk Kuroda Kanbei malam ini..." ujar Tenkai pelan, suara gesekan tasbihnya terdengar bagai detak lonceng kematian. "...apakah pesan itu ditulis dengan darahmu sendiri, atau darah musuhmu, Anak Muda?"

Rokusuke membeku, mencengkeram pisau kecil yang tersisa di pinggangnya dengan tubuh yang bergetar hebat.

1
Friend_A
bagus
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!