Cherry adalah seorang gadis yang beruntung, ia memiliki keluarga yang hangat dan sangat menyayanginya, hidupnya seperti impian banyak gadis seusianya terlebih ia memiliki Kakak Laki laki yang selalu melindunginya Kevin, di sekolah berpacaran dengan pria paling populer sekaligus ketua OSIS Dion Prince, namun setelah kehadiran dua Pria bernama Bumi dan Langit hidupnya berubah, masa lalu yang selama ini ia cari kebenarannya perlahan mulai terungkap. Akankah Cherry berhasil mengetahui masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YirumaNitya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bumi dan Langit Kaivan Wijaya
Jalanan kota nampak lenggang di sore itu, Langit melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.
Hari itu ia hendak pergi menuju kota Nirwana, rasa rindu kepada maminya sudah tak terbendung lagi, meskipun sejak kecil maminya terkesan kurang mencintai Langit tapi Langit tidak serta Merta membencinya.
Kakeknya pernah bilang, bahwa sejak awal Bella alias maminya Langit tidak pernah menyetujui perjodohan antara dia dan Alfa Wijaya.
Bella bahkan sering kabur setelah kedua orangtuanya memaksa menepati perjodohan itu.
Kenyataan bahwa maminya lebih mencintai Bumi karena Bumi adalah anak dari cinta pertama maminya sungguh menyakitkan bagi Langit, tetapi ia tidak bisa membenci Bumi.
Karna perlahan ia tau bahwa membesarkan Bumi adalah hukuman atas perbuatan jahat yang maminya lakukan kepada keluarga Bumi.
Setelah menikah beberapa tahun dengan Alfa, Bella hamil dan melahirkan anak pertama mereka yang bernama Bumi Kaivan Wijaya, lalu setahun kemudian melahirkan seorang anak lagi Langit Kaivan Wijaya.
Saat berusia 3 Tahun, Bumi meninggal dalam kecelakaan pesawat yang mereka alami, saat itu Bella dan Bumi terbang untuk pergi ke Amerika demi kepentingan pengobatan Bella yang di diagnosis mengalami Bipolar dan skizofernia.
Karenanya Bella berkabung cukup lama, hingga Langit harus di asuh oleh Alfa dan Kakek Wijaya, Langit pun tidak pernah diberitahu soal kematian sodaranya, ia hanya tau Bumi ikut ibunya di Luar negeri, untuk pengobatan.
Hingga saat berusia 5 Tahun Maminya pulang dengan membawa Bumi kembali, yang tanpa Langit ketahui bahwa dia bukanlah Bumi saudara kandungnya, dia adalah Bumi yang sekarang menjadi saudaranya, anak dari cinta pertama Bella, Arman Pratama.
Ternyata setelah kematian Bumi anak pertamanya, Bella menjadi sangat hancur, penyakitnya tidak membaik, malah semakin parah, ia lari dari pengobatan, kembali ke dalam negeri, dan tanpa sadar melakukan hal bodoh yang iapun tak pernah menyadarinya.
Ia membakar seluruh kediaman Arman bersama keluarganya hingga akhirnya mereka harus tewas.
itu dikarenakan kondisi mentalnya yang kacau, ia mengetahui bahwa Arman memiliki keluarga yang sangat harmonis dan berbahagia, ia menikah dengan seorang dokter cantik bernama Meriska Putri, dan di karuniai 2 orang anak, laki laki dan perempuan.
Kehidupan mereka sangat bahagia, bahkan Arman menjadi pria yang juga cukup sukses dan berhasil mengembangkan bisnis hingga sukses dengan usahanya sendiri.
Yang paling menyakitkan bagi Bella adalah kenyataan bahwa wanita yang akhirnya dinikahi Arman adalah sahabatnya sendiri, sahabat yang bahkan tau sebesar apa rasa cinta Bella pada Arman Pratama. Hatinya sangat sakit dan merasa di Khianati.
Padahal yang Bella tidak tau, mereka menikah bukan karena ingin, namun karena sama sama ingin menyembuhkan luka.
Arman juga sangat hancur ketika ditinggal Bella untuk menikah dengan Alfa Wijaya, namun dia sadar posisinya sebagai orang biasa, ia tak ingin menghalangi Bella untuk mendapatkan kebahagiaan, dan juga tak ingin menjadi penyebab runtuhnya sebuah keluarga.
Bella melakukan semua itu karena penyakit mental yang ia alami, pengadilan tidak bisa menjeratnya, padahal justru Bella malah ingin sekali di penjara, lebih baik ia membusuk di penjara daripada harus hidup sebagai putri bangsawan dan menghabiskan waktunya bersama dengan Alfa Wijaya lelaki yang tak pernah ia cintai, lelaki yang membuat Bella harus kehilangan cinta pertamanya, lelaki yang selalu menyakitinya, dan membuat Bella mengalami penyakit mental.
Pada akhirnya demi menebus hutang nyawa pada Arman, Bella pun mengasuh dan merawat Angkasa anak Arman dan ia rawat selayaknya anak kandung, ia bahkan mengganti namanya anak itu menjadi Bumi Kaivan Wijaya, seolah olah Bumi memang anaknya bersama Alfa Wijaya, agar tidak ada satu orang pun selain keluarganya yang curiga.
Karena Alfa tidak ingin melihat Bella di Penjara, Alfa pun dengan berat hati menerima anak itu, hanya demi mempertahankan Bella tetap disisinya.
Bumi dan Langit hidup normal selayaknya kakak beradik selama bertahun tahun, namun semua terungkap saat sebelum pengumuman pewaris keluarga Wijaya selanjutnya.
Bumi diberitahu oleh Kakek Wijaya tentang asal usulnya, hal itu agar dikemudian hari Bumi tidak terkejut, Kakek pun tetap akan memberikan posisi itu pada Bumi karena bagi Kakek Bumi sudah ia anggap seperti cucu kandungnya sendiri, namun Bumi yang menolaknya.
Bumi lebih memilih untuk pulang ke tempat asalnya ke kota Jala, ia berniat untuk mencari keluarganya, dan memperoleh informasi tentang kejadian yang terjadi bertahun silam itu.
Ia menolak untuk mendapatkan posisi pewaris iya merasa semua itu memang milik Langit, bukan miliknya.
Karena tidak terima dengan pemberian posisi itu Langit berontak, dengan terpaksa Kakek menceritakan semua hal yang harus Langit ketahui.
Langit sadar posisinya, dan juga ia mengerti apa yang terjadi pada maminya Bella, kecewa pasti namun untuk membencinya Langit tidak berhak, mami, Bumi dan Langit mungkin adalah korban dari keegoisan orang orang di sekitar mereka.
* * *
Langit sampai di depan Villa super mewah milik keluarganya, Villa ini adalah kediaman utama keluarga Wijaya.
Selain gerbang tinggi yang di jaga banyak pengawal, saat pintu masuk utama terbuka munculah banyak pelayan yang akan siap untuk melayaninya.
"Selamat Sore Tuan Muda" Para pelayan itu dengan kompak menyapa Langit.
Langit menundukan kepalanya sedikit lalu dengan gontai berjalan masuk di dalam istana modern itu.
Pak Wawan kepala pelayan rumah itu mengikuti Langit bersiap untuk mendapatkan perintah darinya.
"Tuan apa ada yang diperlukan?" Tanya nya sopan.
"Kakek dimana pak?" Tanya Langit.
"Tuan Besar sedang ada meeting di luar kota, tuan Alfa sedang main golf..."
"Stop Pak, Langit tidak bertanya soal Alfa."
Pak Wawan terdiam.
"Mami dimana pak?" Tanya Langit masih terus berjalan menuju kamarnya dan diikuti oleh Pak Wawan yang ada di belakang beberapa langkah mundur dari tubuhnya.
"Nyonya ada di kamarnya."
"Okey sampe di sini aja pak, Langit mau jalan sendiri ke kamar mami"
Pak Wawan pamit mundur, sementara Langit bergegas menuju kamar Ibunya.
Langit mengatur nafasnya, bersiap menghadapi kemungkinan apapun yang terjadi, tepat di pintu kamar ibunya 2 orang pelayan menyapa Langit.
"Selamat Sore Tuan Muda" Kata keduanya kompak.
Langit tersenyum "Selamat Sore"
"Apakah Tuan mau menjenguk Nyonya besar?" Tanya salah satu dari kedua pelayan itu.
Langit mengangguk "Iya, tolong buka pintunya."
Mereka dengan sigap membukakan pintu untuk Langit.
Lalu dengan jelas langit melihat sosok maminya yang sedang terlelap tidur di kasur mewah dengan seprai sutra berwarna pastel.
Mbak Mirna selaku perawat mami bangkit dari duduknya lalu memberi hormat dan salam kepada Langit "Halo Mas Langit."
"Halo mba, apa dia sehat hari ini mbak?" Tanya Langit to the point.
"Sedang demam mas." Jawab Mba Mirna.
Langit menghela nafasnya "Sudah aku duga mba, pantas saja perasaanku gak tenang."
"Nyonya sangat sulit makan dan minum seminggu ini, ia terus memanggil nama Mas Bumi." Ujar Mba Mirna lagi membuat Langit sedikit sedih.
Langit tertunduk perasaan tidak dianggap dan diabaikan itu muncul lagi namun ia berusaha menepisnya, ia yakin semua terjadi karena maminya sakit, mentalnya sudah kacau.
Bisa saja yang ia rindukan memang Bumi saudara kandungnya yang sudah meninggal. Namun jikalau pun ia merindukan Bumi itu wajar saja karena selama setahun penuh Bumi memang sama sekali tidak pernah pulang ke rumah keluarga Wijaya, apalagi menjenguk mami.
Langit sangat mengerti perasaannya, bagaimana Bumi bisa ia pulang pada seorang wanita yang sebenarnya adalah pembunuh seluruh keluarganya. meskipun wanita itu sudah menyelamatkan hidupnya dan bertanggung jawab tetap saja rasa amarah dan dendam mungkin belum hilang dari benak Bumi.
"Boleh Langit mendekati dia Mba?" Tanya Langit takut takut.
Mba Mirna mengangguk, "silahkan mas, tapi jangan di bangunkan ya, mba takut dia histeris lagi."
"Baik mba."
Langit mendekati perempuan itu "Perempuan yang sangat cantik jelita walau tanpa make up, walau sedang kacau dan memiliki penyakit mental yang sangat parah.
Wanita ini adalah wanita yang sangat Langit sayangi, walopun karena wanita ini banyak rasa sakit yang Langit rasakan.
"Mih, sembuh ya mih." Langit mengelus lembut rambut Ibu kandungnya.
"Langit sayang banget sama mami, Langit selalu berdoa mami bisa sembuh ya mi, mi Langit kangen banget, gak apa apa mami benci Langit karena mirip banget sama Papi, gak apa apa mami benci Langit karena Langit anak Papi, asal mami bisa sembuh Langit gak apa apa dibenci mami." Pria itu terisak.
Mba Mirna, ikut menangis, ia sungguh merasa kasian pada Bocah Tampan itu. Padahal ibu kandungnya selalu mengabaikan dia, namun anak itu selalu mencintainya.
Langit menghapus air matanya "Mba apa kalau Bumi mau jenguk mami, mami akan mendingan?"
Mba Mirna menggeleng "Saya gak bisa memastikannya mas."
"Langit akan usaha, bujuk Bumi untuk mau janguk mami mba."
"Iya mas, semoga mas Bumi mau jenguk nyonya, saya juga gak tega sama nyonya mas." Ujar Mba Mirna dengan raut wajah sedih.
"Makasih ya mba udah rawat mamiku dengan baik, nanti langit akan kasih mba bonus."
"Terimakasih kembali mas." Ucap mba Mirna.
Pria itu keluar dari kamar nyonya besar Wijaya masih dengan tangis yang tak terbendung. Dalam benaknya terbanyang dan teringat jelas kenangan indah saat maminya masih sedikit ada kewarasan, maminya perhatian padanya meski mungkin ia jijik melihat wajah Langit yang mirip papinya, tapi mami masih bisa memperlakukan Langit dengan baik dan penuh kasih sayang.
Ia ingat momen rumah besar ini nampak hangat sekali, dengan ia dan saudaranya Bumi yang bercanda dan bermain seharian.
Kini rumah besar ini hanya layaknya penjara yang tak ada nilainya.
Sampai di kamarnya dia langsung mencuci wajahnya, pantulan dirinya terlihat dari kaca.
Wajah yang sangat ia benci, wajah yang 80 persen sangat identik dengan Alfa Wijaya. hanya 20 persen wajahnya yang mendapat polesan dari kecantikan ibunya.
Rambut kecoklatan, lesung pipi dalam juga warna kulit yang ia ambil dari mami.
Setelah selesai membasuh wajah, ia rebahan sebentar untuk mengembalikan moodnya, setelah ini ia harus laporan pada Kakeknya mengenai banyak hal.
Itu tiap satu bulan, gonta-ganti terus dong?!
Ya Salaam... 🗿🗿🗿