NovelToon NovelToon
Setetes Embun Penakluk Hati

Setetes Embun Penakluk Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Moora Ayunda

Dion Nugroho adalah lelaki yang memiliki segalanya.

Wajah tampan, kehidupan mewah, popularitas, dan nama besar keluarga yang membuat siapa pun mengenalnya. Ia adalah putra tunggal pemilik Anggoro Group, perusahaan obat-obatan medis ternama yang bisnisnya telah menjangkau berbagai penjuru dunia.

Namun, di balik semua kemewahan itu, Dion tumbuh menjadi lelaki yang dingin, cuek, angkuh, dan sulit dikendalikan.

Baginya, perhatian dari perempuan hanyalah sesuatu yang mengganggu.

Berkali-kali wanita datang membawa perasaan tulus, tetapi Dion tak pernah menghargainya. Ia terlalu terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan hingga lupa bahwa hati manusia bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan kekayaan.

Sampai suatu hari...

Seorang mahasiswi baru datang ke kampusnya.

Namanya Alya Andini.

Gadis sederhana yang berasal dari sebuah kampung kecil. Penampilannya jauh berbeda dari mahasiswi lain. Rambutnya selalu dikuncir dua, mengenakan kacamata bulat hitam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Ayunda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10 Perubahan Alya

Dion masih duduk di samping Alya.

Tatapannya kembali tertuju pada pipi kanan gadis itu.

Tanda hitam yang selama ini selalu terlihat di wajah Alya membuat Dion penasaran.

"Alya."

"Hmm?"

"Kenapa kamu selalu memakai riasan seperti itu di pipimu?"

Tangan Alya yang sedang merapikan buku langsung berhenti.

Ia menyentuh pipi kanannya.

"Ini?"

Dion mengangguk.

Alya terdiam cukup lama.

Kemudian perlahan menarik napas.

"Itu bukan tanda lahir."

Dion menatapnya.

"Jadi?"

Alya tersenyum tipis.

"Riasan."

Dion terlihat terkejut.

"Riasan?"

"Iya."

Alya menunduk.

"Aku sengaja membuatnya terlihat seperti tanda hitam."

"Kenapa?"

Alya tidak langsung menjawab.

Angin pagi berembus melewati taman. Beberapa helai rambutnya bergerak menutupi wajah.

"Aku tidak ingin terlihat terlalu cantik."

Dion terdiam.

Alya kemudian melanjutkan dengan suara lebih pelan.

"Dulu ibuku sangat cantik."

Ada perubahan dalam tatapannya.

"Sayangnya, kecantikan itu justru membuat banyak orang datang kepadanya dengan niat yang tidak baik."

Dion mengepalkan tangannya perlahan.

"Mereka hanya melihat ibu sebagai seseorang yang bisa dimanfaatkan."

Alya menatap jauh ke arah halaman kampus.

"Ibu pernah terlalu mencintai ayahku."

Suaranya semakin lirih.

"Tapi ayah meninggalkan ibu sejak aku masih bayi."

Dion tidak menyela.

"Ibu tidak pernah benar-benar bisa menerima kepergiannya. Setelah semua yang terjadi, ibu mengalami depresi dan hidupnya berubah."

Alya menunduk.

"Sejak saat itu, aku selalu takut."

"Takut apa?"

"Takut mengalami hal yang sama."

Alya menyentuh pipinya.

"Aku takut kalau orang melihat kecantikanku, mereka akan melihatku bukan sebagai manusia yang harus dihargai, tetapi sebagai sesuatu yang bisa mereka manfaatkan."

Dion menatap Alya dengan sorot mata lembut.

"Itulah sebabnya kamu membuat riasan ini?"

Alya mengangguk.

"Aku ingin terlihat biasa."

"Supaya tidak menarik perhatian?"

"Iya."

Dion terdiam beberapa saat.

Kemudian tangannya bergerak perlahan, tetapi berhenti sebelum menyentuh wajah Alya.

Ia tidak ingin membuat gadis itu merasa tidak nyaman.

"Alya."

"Iya?"

"Kamu tidak perlu mengubah wajahmu supaya orang lain belajar menghargaimu."

Alya menatapnya.

"Aku tahu dunia tidak selalu baik."

Dion tersenyum tipis.

"Tapi kamu juga tidak harus menghadapi dunia sendirian."

Mata Alya mulai berkaca-kaca.

"Dion..."

"Aku tidak akan memaksamu menghapus riasan itu."

Dion menatapnya dalam.

"Tapi kalau suatu hari kamu siap memperlihatkan wajahmu yang sebenarnya..."

Ia berhenti sejenak.

"Pastikan kamu melakukannya karena kamu sudah percaya diri, bukan karena tekanan siapa pun."

Alya menggigit bibirnya.

"Dan kalau ada orang yang berniat buruk?"

Dion menjawab tanpa ragu.

"Percaya padaku."

Alya terdiam.

"Aku akan selalu berdiri di sampingmu."

Untuk pertama kalinya, Alya merasa ada seseorang yang tidak tertarik pada kecantikannya semata.

Seseorang yang justru ingin melindunginya dari orang-orang yang mungkin berniat buruk.

Perlahan, Alya tersenyum.

"Kalau begitu..."

Ia mengambil tisu dari dalam tasnya.

"...aku akan mencoba percaya."

Dion tersenyum.

"Pelan-pelan saja."

Alya mengusap sedikit bagian riasan hitam di pipinya.

Namun belum sampai menghapus semuanya, ia berhenti.

"Belum sekarang."

Dion mengangguk.

"Baik."

Alya tersenyum kecil.

"Tapi minggu depan..."

Dion mengangkat alis.

"Minggu depan?"

Alya menutup bukunya.

"Aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu."

"Apa?"

"Rahasia."

Dion tertawa kecil.

"Kenapa semua orang hari ini suka menyimpan rahasia dariku?"

Alya hanya tersenyum.

Ia tidak mengatakan bahwa pesta dansa minggu depan akan menjadi pertama kalinya ia berani memperlihatkan kecantikannya tanpa rasa takut.

Dan yang paling penting...

Alya ingin Dion menjadi orang pertama yang melihat dirinya tanpa riasan hitam itu.

Bukan karena ia ingin mendapatkan pujian.

Tetapi karena ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa masa lalu ibunya tidak harus menjadi masa depannya.

Minggu depan akan menjadi awal baru bagi Alya.

Namun tanpa Alya ketahui...

seseorang dari masa lalu keluarganya ternyata sudah mengetahui tentang dirinya.

Dan orang itu juga tahu alasan sebenarnya mengapa Alya selama ini menyembunyikan kecantikannya.

Dion menatap Alya beberapa saat.

"Jadi selama ini tanda hitam itu hanya riasan?"

Alya mengangguk.

"Iya."

"Karena kamu ingin menyembunyikan kecantikanmu?"

Alya kembali mengangguk.

Namun kali ini ia tidak langsung menjelaskan.

Tatapannya berubah.

Seolah ada bagian dari masa lalu yang bahkan sulit untuk ia ceritakan.

"Ibuku pernah mengalami sesuatu yang buruk karena kecantikannya."

Dion terdiam.

Alya menarik napas panjang.

"Ibu pernah terlalu percaya kepada seseorang."

"Siapa?"

Alya menunduk.

"Ayahku."

Dion tidak bertanya lebih jauh.

Alya kemudian bercerita sedikit demi sedikit tentang ibunya.

Tentang bagaimana ibunya dahulu begitu cantik.

Tentang orang-orang yang datang dengan senyum dan kata-kata manis, tetapi ternyata hanya ingin memanfaatkan dirinya.

Tentang ayah Alya yang pergi ketika Alya masih bayi.

Dan tentang bagaimana kepergian itu membuat ibunya terpuruk begitu dalam.

"Ibu tidak pernah benar-benar sembuh setelah ayah pergi."

Alya menggenggam ujung lengan bajunya.

"Karena itu sejak kecil aku selalu diberi tahu untuk berhati-hati."

Dion menatapnya.

"Berhati-hati terhadap siapa?"

Alya mengangkat wajah.

"Orang yang terlalu tertarik pada apa yang terlihat dari luar."

Dion terdiam.

Untuk beberapa saat, hanya suara angin yang terdengar.

Kemudian Alya tersenyum kecil.

"Itulah sebabnya aku membuat riasan ini."

Dion memperhatikan pipinya.

"Aku mengerti."

Ia tidak memaksa Alya menceritakan lebih banyak.

Namun sebelum pembicaraan mereka berakhir, Alya tiba-tiba berkata,

"Ada satu hal yang tidak pernah ibu ceritakan kepadaku."

"Apa?"

Alya menatap jalan di depan mereka.

"Kenapa ayah benar-benar pergi."

Dion mengerutkan kening.

"Dia tidak pernah menjelaskannya?"

Alya menggeleng.

"Setiap kali aku bertanya, ibu selalu mengatakan..."

Alya berhenti.

"Jangan pernah mencari tahu."

Dion terdiam.

Kalimat itu terasa aneh.

Bukan sekadar nasihat seorang ibu.

Seolah ada sesuatu yang sengaja dikubur.

Sesuatu yang tidak boleh ditemukan kembali.

"Apa kamu pernah mencoba mencari tahu?" tanya Dion.

Alya menggeleng.

"Dulu pernah."

"Lalu?"

"Ibu memintaku berhenti."

"Kenapa?"

Alya menatap Dion.

"Aku tidak tahu."

Kemudian ia tersenyum tipis.

"Mungkin memang lebih baik masa lalu tetap menjadi masa lalu."

Dion mengangguk.

Namun jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa tidak beres.

---

Sore harinya, setelah Alya pulang dari kampus, ia menemukan sebuah amplop tipis terselip di antara pintu rumah.

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada alamat.

Alya mengernyitkan kening.

Ia mengambilnya.

Tangannya sedikit gemetar ketika membuka amplop tersebut.

Di dalamnya hanya ada satu lembar foto lama.

Foto seorang perempuan muda.

Ibunya.

Alya membeku.

Foto itu tampak sudah sangat tua.

Namun yang membuat napasnya tercekat bukanlah foto tersebut.

Di bagian belakangnya terdapat tulisan tangan yang pendek.

"Kecantikan itu tidak pernah benar-benar bisa disembunyikan."

Alya menatap kalimat itu lama.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

Ia membalik foto tersebut sekali lagi.

Tidak ada nama.

Tidak ada penjelasan.

Hanya sebuah tanggal lama.

Tanggal yang sama dengan tahun ketika ayahnya meninggalkan rumah.

Alya segera menggenggam foto itu erat.

"Siapa yang mengirim ini...?"

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan rumah.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alya merasakan sesuatu yang selama ini ia coba lupakan.

Ketakutan yang tidak sepenuhnya ia mengerti.

Dan tanpa Alya sadari...

di tempat lain, seseorang sedang membuka sebuah kotak tua.

Di dalamnya tersimpan beberapa foto lama.

Salah satunya memperlihatkan seorang perempuan yang sangat mirip dengan Alya.

Orang itu tersenyum tipis.

Lalu berkata pelan,

"Jadi... akhirnya dia sudah besar."

Setelah itu, kotak tersebut kembali ditutup.

Tidak ada nama.

Tidak ada penjelasan.

Hanya satu hal yang pasti.

Masa lalu yang selama ini disembunyikan Alya ternyata belum benar-benar pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!