Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14: Keputusan di Persimpangan
Pintu penthouse tertutup rapat dengan dentung pelan yang menggelegar di dalam dada Aira. Setiap langkah kakinya yang menyusuri lorong lift terasa begitu berat, seolah dipatok oleh beban kenyataan pahit yang baru saja terkuak. Udara malam yang berhembus dingin di luar gedung penthouse menyengat kulitnya, tetapi rasa nyeri dan sesak yang menghimpit dada Aira jauh melampaui dinginnya malam itu.
Di dalam ruangan penthouse, Reynand mematung seorang diri. Kepalan tangannya yang tadi mengudara menatap pintu kayu yang telah tertutup rapat kini melonggar pelan, menyisakan jemari yang gemetaran dan rasa penyesalan yang membakar jiwa.
Selama ini, Reynand sengaja menutup rapat-rahat lembaran hitam masa lalu itu demi melindungi Aira dari trauma dan rasa sakit. Ia mengira bahwa dengan memberikan perlindungan terbaik, kasih sayang tulus, serta masa depan yang cerah di sisinya, bayang-bayang kelam kecelakaan pabrik sepuluh tahun lalu tidak akan pernah terkuak. Namun, ia terlalu naif. Musuh-musuhnya di luar sana bergerak jauh lebih cepat dan licik, mengorek luka lama untuk menghancurkan kebahagiaan mereka tepat dari akarnya.
Hari-hari berikutnya berlalu dalam kesunyian yang menyiksa.
Aira memilih untuk mengasingkan diri dan tinggal sementara di apartemen kecil lamanya—tempat sederhana yang penuh kenangan sebelum ia melangkah masuk ke dunia Aristha Tower. Ia mematikan akses dari nomor-nomor yang tidak dikenal, serta enggan mengangkat panggilan telepon maupun menerima karangan bunga yang dikirimkan Reynand setiap pagi. Setiap kali bayangan wajah tulus dan tatapan hangat Reynand terlintas di pikirannya, air mata Aira kembali menetes tanpa bisa dibendung.
Di satu sisi, hatinya yang paling dalam tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat mencintai pria itu. Namun di sisi lain, beban mental tentang kenyataan bahwa kematian tragis ayahnya terjadi di bawah naungan korporasi keluarga Aristha membuat Aira ragu untuk melanjutkan langkah menuju pelaminan.
Sementara itu, di Aristha Tower, suasana kerja berubah menjadi sangat mencekam. Reynand bekerja bagaikan mesin yang tak mengenal lelah maupun tidur. Tatapan matanya yang biasanya dingin kini memancarkan aura kegelapan dan amarah yang siap menghancurkan siapa pun dalang di balik peretasan dan pencurian dokumen arsip tersebut.
Bersama dengan bantuan tim investigasi rahasia milik Nyonya Rosalinda, tim IT kepercayaan Aristha Group akhirnya berhasil melacak alur peretasan dan identitas pengirim pesan misterius tersebut.
Ternyata, dalang utama di balik sabotase emosional ini bukan sekadar Devan yang mencoba membalas dendam dari balik sel, melainkan mantan Direktur Operasional lama yang dulu ikut bertanggung jawab atas kelalaian standar keselamatan kerja pabrik sepuluh tahun silam. Pria tua itu sengaja memicu benturan emosional antara Aira dan Reynand agar fokus keluarga Aristha terpecah, sehingga kejahatan penggelapan dana fasilitas keselamatan yang dilakukannya puluhan tahun lalu tidak terseret ke meja hijau.
Malam puncak pesta pertunangan yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan akhirnya tiba.
Aula megah Grand Ballroom di hotel bintang lima pusat kota tampak berkilau mewah berhiaskan ribuan mawar putih segar dan lampu kristal yang memancarkan pendar emas. Para tamu undangan kelas atas—mulai dari kalangan pebisnis terpandang, pejabat tinggi, hingga kerabat dekat keluarga Aristha—mulai memadati ruangan. Nyonya Rosalinda berdiri anggun menyambut para tamu dengan senyum menawan, namun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa cemas yang mendalam karena sang calon pengantin wanita belum juga terlihat hingga satu jam sebelum acara dimulai.
Di ruang persiapan pengantin yang berada di lantai atas, Aira duduk terpaku menatap pantulan dirinya di depan cermin rias yang megah. Balutan gaun malam berwarna champagne beraksen kristal perak membungkus tubuhnya dengan sangat indah, membuat penampilannya malam itu bagaikan seorang putri kerajaan. Namun, raut wajahnya menyiratkan kelelahan batin dan keraguan yang masih menyisa.
Di atas meja rias, tergeletak sebuah kotak kayu lapuk berisi surat-surat peninggalan almarhum ayahnya. Aira baru saja selesai membaca kembali lembar demi lembar catatan lama sang ayah. Dalam catatan itu, ayahnya menuliskan betapa gigihnya almarhum pimpinan Aristha—ayah dari Reynand—yang kala itu berjuang memberikan ganti rugi layak dan menindak tegas para oknum direktur yang lalai, meski dihalangi oleh permainan politik internal perusahaan. Catatan itu menjadi bukti kuat bahwa keluarga Reynand bukanlah penjahat yang sengaja mencelakai keluarganya, melainkan korban dari keserakahan oknum pengurus lama.
Klek.
Suara engsel pintu ruang persiapan yang terbuka pelan memecah keheningan ruangan.
Aira menoleh dari cermin. Di ambang pintu, berdiri sosok Reynand Aristha. Pria itu tampak sangat tampan dan berwibawa dalam balutan tuksedo hitam rapi buatan penjahit Italia, dengan rambut tersisir sempurna. Namun, di balik ketampanannya, terdapat kepucatan dan kecemasan mendalam yang menghiasi raut wajahnya saat sepasang mata tajam itu menemukan keberadaan Aira.
Reynand melangkah masuk perlahan, menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Aira. Untuk pertama kalinya, sang CEO dingin yang tak pernah menunjukkan kelemahan di hadapan siapa pun kini menatap Aira dengan sorot mata yang begitu rapuh dan penuh pengharapan.
"Aira..." panggil Reynand dengan suara bariton yang lirih dan parau. "Terima kasih... terima kasih karena kamu tetap datang malam ini."
Aira meletakkan surat sang ayah kembali ke dalam kotak kayu, lalu berdiri dari kursi riasnya. Ia menatap Reynand lekat-lekat, merasakan debaran jantungnya yang kembali bergemuruh hebat seperti saat pertama kali mereka menyadari perasaan satu sama lain.