NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ancaman untuk raka

Pagi itu, Nayla tidak langsung bangun dari tempat tidur.

Ia terbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar lamanya. Pesan terakhir dari nomor tidak dikenal terus berputar di kepalanya.

*Besok, Raka akan membayar karena memilih membela kamu.*

Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman kosong.

Suara perempuan di telepon semalam terdengar terlalu yakin. Terlalu tenang. Seolah orang itu sudah menyiapkan sesuatu dan hanya menunggu waktu yang tepat.

Nayla meraih ponselnya di meja samping ranjang.

Pukul 06.12.

Tidak ada pesan baru.

Tidak ada panggilan dari Arga.

Namun justru keheningan itu membuat Nayla semakin gelisah.

Ia membuka percakapan dengan Dimas. Pesan semalam masih terlihat.

**Dimas:** Tolong jangan keluar sendirian besok pagi. Pak Raka dan Bu Laras akan mengatur langkah selanjutnya.

Nayla menatap nama Raka di layar ponselnya.

Semalam, ia ingin menelepon pria itu. Ingin memastikan Raka baik-baik saja. Ingin memperingatkannya langsung tentang ancaman yang diterima.

Namun Nayla menahan diri.

Raka sedang menghadapi pemeriksaan proyek, tekanan media, dan masalah dari Arga serta Siska. Nayla tidak ingin membuat semuanya terasa lebih berat.

Tetapi pagi ini, ia tidak sanggup hanya menunggu kabar.

Nayla mengetik pesan.

**Nayla:** Selamat pagi, Pak. Saya hanya ingin memastikan Bapak baik-baik saja.

Ia menatap kalimat tersebut beberapa detik sebelum mengirimnya.

Pesan terkirim.

Tidak ada balasan.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Nayla mulai merasa cemas.

Ponselnya tiba-tiba berdering.

Bukan dari Raka.

Dimas menelepon.

“Halo, Mas Dimas?” Nayla segera mengangkat.

“Selamat pagi, Bu Nayla.” Suara Dimas terdengar cepat dan serius. “Apakah Ibu sedang di rumah?”

“Iya. Ada apa?”

“Pak Raka tidak bisa dihubungi sejak pagi.”

Nayla langsung duduk tegak.

“Maksudnya tidak bisa dihubungi?”

“Ponselnya mati. Sopir beliau datang ke rumah, tetapi mobil Pak Raka sudah tidak ada. Petugas keamanan apartemen juga melihat beliau keluar sendiri sekitar pukul lima pagi.”

Jantung Nayla berdetak sangat cepat.

“Beliau pergi ke kantor?”

“Belum datang, Bu.”

Nayla teringat ancaman semalam.

*Raka akan membayar karena memilih membela kamu.*

Tangannya langsung dingin.

“Mas Dimas,” katanya pelan, “semalam saya menerima telepon dari nomor tidak dikenal.”

Dimas terdiam.

“Orang itu bilang Pak Raka akan membayar karena membela saya.”

Nada suara Dimas berubah semakin tegang. “Kenapa Ibu tidak langsung menelepon saya?”

“Saya sudah kirim tangkapan layarnya. Saya pikir—”

“Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti.” Dimas menarik napas. “Tapi sekarang saya perlu Ibu tetap di rumah. Jangan keluar sendiri.”

“Apa Pak Raka dalam bahaya?”

“Saya belum bisa memastikan. Kami sedang mencari lokasi terakhirnya.”

Nayla memejamkan mata.

Rasa bersalah langsung menghantamnya.

Seandainya ia tidak menerima bantuan Raka.

Seandainya ia tidak pergi ke kafe malam itu.

Seandainya foto mereka tidak tersebar.

Namun Nayla segera teringat kata-kata Raka: orang yang menyebarkan cerita palsu adalah pihak yang salah, bukan dirinya.

Tetapi mengetahui itu tidak membuat rasa takutnya hilang.

“Mas Dimas,” ujar Nayla, “apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan?”

“Untuk sekarang, tetap bersama keluarga. Jangan menjawab nomor asing atau membuka pintu untuk siapa pun. Kalau ada kabar, saya hubungi Ibu.”

Panggilan berakhir.

Nayla menatap layar ponselnya.

Tubuhnya terasa lemas.

***

Bu Ratih menemukan Nayla duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat.

“Nayla?” panggil ibunya. “Kamu kenapa?”

Nayla mengangkat wajah.

“Pak Raka hilang.”

Bu Ratih langsung duduk di sampingnya.

“Apa maksudnya hilang?”

“Mas Dimas bilang ponselnya mati. Beliau keluar dari apartemennya pagi-pagi, tapi belum sampai kantor.” Suara Nayla mulai bergetar. “Semalam ada yang mengancam. Dia bilang Pak Raka akan membayar karena membela aku.”

Bu Ratih memegang bahu Nayla.

“Dengar, jangan langsung membayangkan yang paling buruk.”

“Tapi kalau ancamannya benar?”

“Kita belum tahu.” Bu Ratih berbicara tegas, tetapi tetap lembut. “Yang kita tahu, orang itu ingin kamu takut. Jangan memberi mereka kekuasaan dengan menyalahkan diri sendiri.”

Nayla mengangguk kecil.

Namun pikirannya tetap penuh bayangan buruk.

Di luar kamar, suara Pak Hendra terdengar sedang berbicara di telepon. Mungkin Bu Ratih sudah memberi tahu ayahnya. Tidak lama kemudian, Pak Hendra masuk dengan wajah serius.

“Papa sudah bicara dengan teman di kepolisian,” katanya. “Kalau dalam beberapa jam tidak ada kabar, kita buat laporan resmi. Tapi sekarang kita tunggu informasi dari kantor.”

Nayla menatap ayahnya.

“Pa, aku mau ke kantor.”

“Tidak,” jawab Pak Hendra cepat.

“Aku mungkin tahu sesuatu.”

“Kamu tidak tahu di mana Raka berada.”

“Tapi aku tahu siapa yang mengancam.”

“Dan itu justru alasan kamu tidak boleh pergi sendirian.”

Nayla menggigit bibir.

“Aku tidak mau cuma diam.”

“Kamu bukan diam,” kata ayahnya. “Kamu sedang menjaga diri agar tidak menjadi korban berikutnya.”

Kata-kata itu membuat Nayla terdiam.

Ia tahu Papa benar.

Namun rasa tidak berdaya adalah hal yang paling ia benci saat ini.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Nayla langsung menegang.

Foto yang dikirim menunjukkan sebuah ruangan gelap. Hanya ada bagian tangan laki-laki di sudut gambar, dengan jam tangan hitam yang sangat Nayla kenali.

Jam tangan Raka.

Di bawah foto itu, tertulis:

**Nomor tidak dikenal:** Jangan khawatir. Dia masih baik-baik saja, selama kamu menurut.

Nayla menutup mulutnya agar tidak menjerit.

Bu Ratih meraih ponsel dari tangannya.

Wajah ibunya berubah pucat saat melihat foto tersebut.

Pak Hendra segera mendekat.

“Ini sudah cukup,” katanya dengan suara berat. “Kita lapor sekarang.”

Nayla mengangguk.

Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.

Kini bukan lagi sekadar ancaman.

Raka benar-benar berada dalam bahaya.

Ponsel Nayla kembali bergetar.

Pesan kedua masuk.

**Nomor tidak dikenal:** Datang ke gudang lama di Jalan Kencana pukul sebelas. Datang sendiri. Jangan bawa polisi. Jangan beri tahu siapa pun.

Nayla membaca pesan itu dengan napas tersengal.

Di bawahnya, ada satu kalimat lain.

**Nomor tidak dikenal:** Kalau kamu tidak datang, dia tidak akan pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!