Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Nadia dan dua pengawal berjas hitam berdiri siaga di belakangnya.
"Siapa yang kalian sebut anak pungut dan penjual mi ayam tadi?" tanya Rio melangkah maju dengan aura membunuh yang sangat pekat.
Leo dan Rika langsung menelan ludah dengan susah payah merasakan tekanan aura yang dikeluarkan Rio.
Mereka tahu persis betapa kejamnya Rio jika sedang marah besar.
"R... Rio? Kamu sudah pulang dari Surabaya?" sapa Rika dengan suara yang mendadak bergetar ketakutan.
"Aku tanya siapa yang kalian hina tadi Rika!" bentak Rio dengan suara yang menggelegar hingga membuat Rika tersentak mundur.
Rio melangkah cepat dan langsung mencengkeram kerah jas merah marun yang dipakai Leo.
"Kamu pikir kamu siapa berani datang ke rumahku dan membuat ibuku menangis hah?!" desis Rio tepat di depan wajah sepupu tirinya itu.
"L... lepaskan Rio! Aku ini keponakan Paman Bramantyo!" gagap Leo mencoba melepaskan cengkeraman tangan Rio yang sekeras besi.
"Keponakan tidak berguna yang bisanya cuma menyedot uang perusahaan seperti lintah darat," ejek Rio mengangkat tubuh Leo sedikit.
Bugh!
Rio meninju perut Leo dengan keras hingga pemuda itu terbatuk-batuk mengeluarkan air liur.
"Itu pukulan karena kamu berani memanggil ibuku gembel," desis Rio kejam.
"Tolong hentikan Rio! Jangan pukul anakku!" jerit Rika panik mencoba menarik tangan Rio namun langsung ditahan oleh pengawal.
Bramantyo hanya diam duduk di kursinya menikmati pemandangan bagaimana Rio mendisiplinkan keluarga benalu itu.
Dia sama sekali tidak berniat melerai karena Rika dan Leo memang pantas mendapatkannya.
Rio melepaskan cengkeramannya membuat Leo jatuh berlutut di tanah sambil memegangi perutnya yang kesakitan.
"Kalian dengar ini baik-baik parasit menjijikkan."
"Saham lima puluh persen itu sudah resmi menjadi milikku, dan seluruh Grup Sentosa berada di bawah kendaliku sekarang," tegas Rio dengan sorot mata meremehkan.
"Kalau kalian masih mau mendapat uang saku bulanan dari perusahaan, tutup mulut busuk kalian dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi."
Rio menunduk menatap Leo yang masih terbatuk-batuk di bawah kakinya.
"Atau besok pagi kalian berdua akan bangun di tempat pembuangan sampah sama seperti adikku Rizky," ancam Rio dengan senyum miring yang sangat mengerikan.
Mendengar nama Rizky disebut dan ancaman dibuang ke tempat sampah membuat Rika dan Leo merinding ketakutan.
Mereka tahu Rio bukan tipe orang yang hanya sekadar menggertak kosong.
Darmawan dari Grup Harimau saja bisa dia hancurkan dalam semalam apalagi mereka berdua yang tidak punya kekuatan apa-apa.
"A... ayo kita pulang Leo, orang ini sudah gila," bisik Rika buru-buru membantu anaknya berdiri.
"Kita balas dia di rapat keluarga besar besok lusa," bisik Leo dengan wajah penuh dendam sambil berjalan pincang keluar dari taman.
Mereka berdua lari terbirit-birit meninggalkan rumah utama Sentosa dengan rasa malu dan ketakutan yang luar biasa.
Rio mendengus pelan dan merapikan jasnya yang sedikit kusut.
"Maafkan keributan ini Kakek, Rio tidak bisa menahan emosi kalau ada yang menghina Ibu," ucap Rio membungkukkan badannya pada Bramantyo.
Bramantyo tersenyum hangat dan menepuk pelan bahu cucu kesayangannya itu.
"Kamu melakukan hal yang benar Rio, Kakek juga muak melihat tingkah mereka berdua."
"Tapi kamu harus berhati-hati Rio, rapat keluarga besar besok lusa pasti akan sangat panas karena mereka pasti akan menghasut tetua yang lain," peringatkan Bramantyo dengan raut wajah serius.
"Kakek tenang saja, Rio sudah menyiapkan kejutan khusus untuk mereka di rapat nanti," jawab Rio dengan senyum licik yang penuh perhitungan.
"Rio permisi ke dalam dulu Kek, mau melihat keadaan Ibu," pamit Rio berjalan masuk ke dalam rumah.
Rio berjalan menyusuri lorong panjang menuju kamar ibunya dengan langkah cepat.
Sesampainya di depan pintu kamar, Rio mendengar suara isak tangis pelan dari dalam.
Hati Rio terasa sangat perih mendengar ibunya kembali menangis.
Cklek.
Rio membuka pintu kamar perlahan dan melihat Santi sedang duduk di tepi ranjang membelakanginya.
"Ibu? Kenapa Ibu menangis sendirian di sini?" sapa Rio lembut berjalan menghampiri ibunya.
Santi buru-buru mengusap air matanya dan memaksakan sebuah senyuman.
"Ibu tidak menangis Rio, cuma kelilipan debu tadi di taman," dusta Santi menutupi kesedihannya.
Rio berlutut di depan ibunya dan memegang kedua tangan keriput wanita tua itu.
"Ibu jangan bohong sama Rio, Ibu pasti sedih dengar omongan Tante Rika tadi kan?" tebak Rio dengan tatapan penuh kasih sayang.
Santi menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata anaknya.
"Ibu sadar diri nak, Ibu memang cuma orang kampung yang tidak pantas berada di rumah semewah ini," isak Santi pelan.
"Kehadiran Ibu di sini cuma bikin kamu dan Tuan Besar malu kalau ada tamu keluarga yang datang."
"Lebih baik Ibu pulang ke rumah petak saja Rio, Ibu tidak mau kamu diejek punya ibu gembel," mohon Santi dengan air mata yang kembali menetes.
Mendengar permintaan ibunya itu membuat Rio merasa dadanya seperti ditusuk ribuan jarum.
Ibunya yang sudah menderita belasan tahun masih saja memikirkan reputasi anaknya dibandingkan kebahagiaannya sendiri.
"Ibu dengarkan Rio baik-baik," ucap Rio mengeratkan genggaman tangannya.
"Rio tidak pernah sekalipun merasa malu punya ibu seorang penjual mi ayam."
"Ibu adalah wanita paling hebat di dunia ini karena sudah membesarkan Rio dengan keringat Ibu sendiri."
Rio mencium punggung tangan ibunya dengan sangat lembut dan penuh hormat.
"Rumah ini, perusahaan Sentosa, dan semua kekayaan Rio tidak ada artinya kalau Ibu tidak ada di samping Rio."
"Ibu tidak boleh ke mana-mana, tempat Ibu adalah di sini bersama Rio selamanya," janji Rio dengan suara yang sangat tegas dan tulus.
Mendengar ketulusan dari anak sulungnya itu membuat Santi menangis haru dan memeluk kepala Rio erat-erat.
"Terima kasih nak, Ibu bangga sekali sama kamu," isak Santi menciumi rambut anaknya.
"Ibu janji tidak akan menangis lagi karena omongan orang jahat, Ibu akan kuat buat nemenin kamu di sini."
Rio tersenyum lega mendengar janji ibunya tersebut.
"Nah begitu dong, Ibu harus kuat supaya bisa lihat Rio menghancurkan semua orang yang berani menghina Ibu besok lusa," batin Rio membulatkan tekadnya untuk membersihkan parasit di keluarganya.