Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemeriksaan Kandungan
Sore itu Jeslyn dengan perutnya yang sudah membesar bak semangka matang, melangkah keluar dari pintu utama mansion. Ia sudah bersiap untuk agenda rutin yang sangat dinantikannya, pemeriksaan kandungan. Dokter Morgan sudah mengatur janji temu dengan seorang spesialis terbaik di rumah sakit swasta ternama, jadi Jeslyn tidak perlu khawatir soal antrean.
"Pak, langsung jalan ya. Kita tidak mau terlambat," perintah Jeslyn pada sopir pribadinya saat ia sudah duduk nyaman di kursi belakang.
Baru saja mesin mobil menderu dan mobil bergerak maju dua meter, sebuah motor besar tiba-tiba memotong jalur dan berhenti tepat di depan moncong mobil.
Citttt!
Sopir membanting stir sedikit ke kanan dan mengerem mendadak, membuat Jeslyn yang tidak siap nyaris terpelanting ke depan.
"Ya Tuhan!" pekik Jeslyn, memegang perutnya dengan panik.
Ia menatap keluar jendela dengan emosi yang sudah di ubun-ubun. Namun, amarahnya luntur saat melihat sosok yang turun dari motor itu. Itu Lucian. Ia masih berseragam sekolah lengkap, dengan wajah yang tampak kacau dan mata yang merah. Lucian membuka helmnya dengan gerakan kasar dan berjalan cepat menuju kaca jendela mobil Jeslyn, lalu mengetuknya berkali-kali dengan tidak sabaran.
Jeslyn segera menurunkan kaca jendela. "Lucian? Kamu mau bikin jantung Mami copot, ya? Ada apa?"
Lucian menatap Jeslyn dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara marah, takut, dan kesedihan yang mendalam.
"Mami mau pergi? Mami mau pergi meninggalkanku juga?"
Jeslyn mengerutkan kening, bingung setengah mati. "Meninggalkan? Maksudmu apa? Mami cuma mau ke rumah sakit buat periksa kandungan, sayang."
Lucian terdiam. Wajahnya yang tegang perlahan mengendur, namun guratan rasa traumanya masih sangat jelas. Tanpa menjawab, ia membuang helmnya begitu saja ke atas aspal, membuka pintu mobil, dan langsung menyerobot masuk ke samping Jeslyn.
"Lucian! Apa yang kamu lakukan?"
"Aku ikut," ucap Lucian singkat, nadanya tidak bisa dibantah.
"Tapi kamu baru pulang sekolah! Kamu belum ganti baju, kamu pasti capek. Jangan keras kepala, mending kamu istirahat saja di rumah," bujuk Jeslyn.
"Tidak mau," sahut Lucian keras kepala. Ia menyilangkan tangan di dada, membuang muka ke arah jendela.
"Aku mau lihat adikku. Aku mau pastikan Mami tidak akan pergi ke mana-mana."
Jeslyn menghela napas panjang. Ia tahu tatapan mata anak itu tatapan yang memohon supaya tidak ditinggalkan.
"Ya sudah, terserah kamu. Daripada kita debat di sini dan menghabiskan waktu, ayo kita berangkat."
Sesampainya di rumah sakit, suasana menjadi sedikit canggung. Karena ini rumah sakit umum yang cukup ramai, kehadiran Jeslyn yang sedang hamil besar dengan Lucian yang masih memakai seragam sekolah menarik perhatian banyak orang. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Lihat, itu wanita hamil besar, tapi didampingi anak sekolahan? Apa itu... hubungan terlarang?"
"Kasihan sekali, masih muda sudah jadi ibu, didampingi anaknya yang masih sekolah pula..."
Jeslyn merasa telinganya panas. Ia merasa sangat terganggu, tapi ia berusaha mengabaikannya. Namun, Lucian? Pemuda itu justru tampak tidak peduli sedikit pun. Ia tidak melepaskan lengan Jeslyn barang sedetik pun, bahkan terus menggelendot di lengan Jeslyn dengan posesif, seolah takut jika ia melepaskannya, Jeslyn akan menghilang.
"Mami jangan dengarkan mereka," bisik Lucian, suaranya terdengar dingin saat ia melirik tajam ke arah kerumunan yang berbisik-bisik.
"Mami tidak peduli, kok," bohong Jeslyn. Ia sangat bersyukur ketika mereka sampai di ruang tunggu dokter spesialis yang eksklusif, di mana privasi mereka sangat terjaga.
Pemeriksaan berjalan lancar. Jeslyn meminta dokter untuk memasang sekat penutup saat ia diperiksa, agar ia tidak perlu menunjukkan perutnya langsung di depan Lucian. Ia tahu Lucian mungkin masih canggung atau belum terbiasa dengan perubahan fisik yang drastis pada ibu tirinya.
Setelah pemeriksaan selesai, perasaan Jeslyn jauh lebih lega.
"Adikmu sehat, Lucian. Denyut jantungnya kuat sekali," ucap Jeslyn sambil tersenyum saat mereka berjalan keluar dari ruang periksa.
Lucian hanya mengangguk kecil, namun raut wajahnya tampak jauh lebih tenang. Ketakutan akan ditinggalkan yang tadi pagi ia rasakan seolah menguap begitu saja.
Saat mobil mereka tiba di depan pagar mansion, pemandangan lain menyambut mereka. Daniel duduk di atas motornya di depan pagar, tampak sedang menatap layar ponsel dengan bingung.
Lucian yang berada di dalam mobil menepuk keningnya sendiri dengan keras.
"Sial! Aku lupa!"
"Lupa apa?" tanya Jeslyn.
"Tadi aku janji mau main basket sama Daniel setelah pulang sekolah," gumam Lucian dengan wajah menyesal.
"Karena tadi aku panik melihat Mami pergi, aku jadi benar-benar lupa soal janji itu."
Jeslyn tertawa pelan. "Ya sudah, ajak dia masuk saja. Jangan bikin temanmu menunggu di luar, panas sekali di sana."
Lucian turun dari mobil, diikuti Jeslyn. Ia menghampiri Daniel yang tampak kesal.
"Eh, Dan... maaf ya. Tadi gue ada urusan mendadak sama Mami di rumah sakit."
Daniel menatap Lucian dengan tatapan aneh. "Rumah sakit? Lo kenapa? Lo sakit?"
"Bukan gue," Lucian menunjuk Jeslyn yang berjalan pelan menuju pintu.
"Adik gue tadi diperiksa."
Daniel tertegun sejenak, lalu wajahnya berubah menjadi ceria.
"Oh, astaga! Kirain ada apa. Ya sudah, tidak apa-apa, santai saja. Tapi karena gue udah terlanjur di sini, boleh nggak numpang minum? Haus sekali rasanya."
"Tentu saja boleh, masuklah," sahut Jeslyn dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
Daniel melangkah masuk ke dalam rumah dengan canggung, sementara Lucian merasa sedikit bersalah. Namun, melihat Daniel kini bisa masuk dengan bebas ke rumahnya sesuatu yang dulu mustahil membuat Lucian merasa sedikit lebih baik. Rumah ini bukan lagi kuburan yang sunyi. Rumah ini sekarang menjadi tempat di mana ia bisa membawa teman-temannya, tempat di mana ada Mami yang peduli, dan tempat di mana ia bisa merasa menjadi bagian dari sesuatu yang nyata.
Saat mereka bertiga masuk ke dalam ruang keluarga yang sejuk, Jeslyn segera memerintahkan pelayan untuk membawakan minuman segar.
"Jadi, basketnya batal, nih?" tanya Jeslyn sambil duduk di sofa empuk.
"Mungkin besok saja, Mami," jawab Lucian.
"Kalau Mami mengizinkan."
"Tentu saja," Jeslyn tersenyum.
"Tapi setelah itu harus makan siang bersama ya. Jangan sampai telat makan."
Daniel menatap interaksi itu dengan kagum. Ia teringat kembali percakapannya dengan Lucian di rooftop tempo hari. Benar saja, perubahan Jeslyn bukan sekadar akting. Ketulusan itu terpancar dari cara dia memperlakukan Lucian, bahkan cara dia menyambut Daniel tanpa rasa risih sedikit pun.
"Terima kasih, Tante Jeslyn," ucap Daniel sopan, sedikit tertunduk.
"Panggil saja Mami, seperti Lucian," goda Jeslyn, membuat Daniel tersipu malu.
Lucian yang melihat sahabatnya malu-malu hanya bisa mendengus pelan, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Untuk pertama kalinya, Lucian tidak lagi merasa perlu menjaga pertahanan diri yang tinggi. Ia merasa, dunia yang melenceng ini—dunia di mana ibunya pergi, ayahnya mulai berubah, dan ada wanita cerewet yang menjadi pelindungnya mungkin bukanlah sebuah bencana. Mungkin, ini adalah awal dari kehidupan yang seharusnya memang ia miliki sejak dulu.
"Mami," panggil Lucian pelan saat Jeslyn akan bangkit ke dapur.
"Ya, sayang?"
"Terima kasih... karena tidak benar-benar pergi tadi."
Jeslyn tertegun sejenak. Ia berjalan mendekat, mengusap puncak kepala Lucian dengan lembut.
"Mami tidak akan pergi ke mana-mana, Lucian. Mami janji."
Di ruang keluarga yang mewah itu, kebahagiaan terasa begitu sederhana. Tidak ada lagi rahasia besar, tidak ada lagi ketakutan akan ditinggalkan. Hanya ada tawa kecil Daniel, senyum tipis Lucian, dan kehangatan Jeslyn yang menyelimuti seluruh ruangan, membuat mansion itu benar-benar menjadi tempat yang layak disebut rumah.
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.