NovelToon NovelToon
Semuanya Palsu

Semuanya Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: likaa0_0

Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 9 Mama?

“R-Rey?”

Rey tersentak begitu mendengar suara itu.

Ia menoleh dan mendapati Sasha sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Wajah Rey tampak begitu terkejut hingga Sasha merasa tidak enak hati.

“Maaf, Rey... Aku tidak bermaksud bikin kamu kaget.”

“tidak apa-apa, Sasha.”

Sasha memperhatikan wajah Rey yang masih terlihat sedikit tegang.

“Tapi... kenapa kamu sampai kaget begitu?”

Rey segera berusaha mengendalikan ekspresinya. Ia tidak boleh membiarkan Sasha mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Hmm... sebenarnya tadi aku sedikit kaget gara-gara lihat kostum hantu di karnaval. Jadi, pas kamu tiba-tiba muncul, refleks aja aku terkejut.”

“Karnaval?”

Rey mengangkat ibu jarinya ke belakang, menunjuk ke arah jalan tempat karnaval berlangsung dan Sasha sedikit memiringkan tubuhnya untuk melihat dari balik bahu Rey.

Dari kejauhan, cahaya lampu warna-warni tampak berkelap-kelip. Suara musik dan keramaian juga terdengar samar-samar terbawa angin.

“Ohh... iya..iya aku melihat itu.”

Sasha kembali menatap Rey setelah mengetahui bahwa ada karnaval

“Ya ampun, Putra...eh, maksudku... Rey.”

Ekspresi Rey langsung berubah. Ia memasang wajah masam begitu mendengar nama panggilan itu.

“Sebenarnya, Sasha...Aku lebih suka dipanggil Rey”

“Hehehe... iya, maaf.”

Sasha tersenyum canggung.

 “Kebiasaan.” (ujar Rey dengan kesal)

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Rey langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Sasha.

Sasha mengkerutkan keningnya karena kebingungan atas sikap rey

“Rey? Kamu mau ke mana?”

“Mau beli sate taichan.”

Jawaban Rey terdengar singkat tanpa sedikit pun menghentikan langkahnya Sasha hanya bisa berdiri di tempat sambil memperhatikannya pergi.

“Aneh banget...” (gumam sasha)

“Apa jangan-jangan aku salah ngomong tadi?”

Ia menggaruk kepalanya sendiri kemudian mengangkat bahu dan berjalan pergi

“Ah, sudahlah. Besok juga paling sudah baik-baik saja.”

................

Beberapa menit berjalan, akhirnya Rey tiba di sebuah warung sate taichan yang cukup ramai. Aroma daging yang sedang dibakar sangat wangi dan lezat membuat nafsu makan Rey meningkat, saat Rey masuk selangkah warung makan seorang pedagang langsung menyambutnya dengan ramah.

“Selamat datang, Kak. Mau pesan berapa tusuk?”

Rey segera berjalan mendekati pedagang dan memutuskan memesan lima belas tusuk.

“Lima belas tusuk sate taichan.”

“Siap. Lima belas tusuk, totalnya tiga puluh lima ribu.”

Rey mengangguk lalu merogoh saku depan hoodienya untuk mengambil dompet Namun, sebelum sempat mengeluarkan uang, terdengar suara dari kaki kirinya.

“Rey... kenapa kamu tidak pergi menemui Dokter Haris?”

Rey membeku malu Suara itu berasal dari ankle monitor kecil yang terpasang di pergelangan kaki kirinya. Penjual sate yang berdiri di depannya kebingungan dengan datangnya suara itu muncul ia menoleh ke kanan-kiri untuk mencari asal suara itu tapi ia tidak menemukannya.

“Hmm... suara apa itu tadi?”

Rey langsung memasang wajah canggung. Ia buru-buru mengeluarkan uang dari dompet dan menyerahkannya kepada penjual.

“E-eh... dibungkus saja, Mbak.”

“Oh... iya mas.”

Penjual menerima uang tersebut dengan ekspresi bingung. Namun, belum sempat Rey merasa lega, suara dari ankle monitor kembali terdengar.

“Rey, kenapa kamu tidak menjawab?”

Rey pura-pura tidak mendengar dan tak terjadi apa-apa

“Rey!”

tetap diam.

“Rey!!!”

pedagang Setelah menerima uang segera menuju ke tempat pemanggang untuk menyiapkan pesanan. Rey memastikan pesanannya masih diproses, ia segera meninggalkan warung dan berjalan ke sisi bangunan yang sedikit lebih sepi, Sesampainya di sana, Rey menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang di sekitar Barulah ia mengangkat sedikit ujung celana kirinya, memperlihatkan ankle monitor yang terpasang erat di pergelangan kakinya.

“Hey...”

(bisiknya dengan nada kesal)

“Aku nggak kabur dari Paradise. Bisa nggak kalau mau ngomong jangan keras-keras? Bikin malu saja.”

“Bukankah aku sudah memintamu pergi menemui Dokter Haris?” suara dari ankle monitor

Suara dari alat itu terdengar tegas.

“Aku tahu kamu pergi ke sebuah warung makan.”

“Kalau kamu sudah tahu, kenapa masih ngomong sama aku di tempat ramai seperti tadi?”

“Kalau sampai ada orang yang curiga gimana? Rey... kamu mulai bandel!!!”

Nada suara dari anakle monitor terdengar semakin serius.

“Aku memintamu menemui Dokter Haris demi kebaikanmu sendiri.”

"iya makanya....."

Rey hendak membalas, tetapi tiba-tiba pandangannya ke arah seorang anak kecil di depannya. Seorang anak kecil berdiri beberapa meter dari tempatnya dan sedang menatap ke arahnya dengan wajah bingung tatapan anak itu kemudian beralih pada kaki Rey tanpa pikir panjang segera menurunkan kaki kirinya serta ujung celananya.

"iya... Ini habis ini pulang" (ujar Rey)

Ia memutus pembicaraan tanpa menunggu jawaban.

Dengan langkah santai, Rey kembali berjalan menuju warung, berusaha bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.

Sementara itu, anak kecil tadi masih berdiri mematung di tempatnya, menatap Rey dengan rasa penasaran serta kebingungan.Setelah mengambil pesanan sate taichan Rey langsung pergi pulang.

Ia membuka pintu depan perlahan, lalu mengintip ke kanan dan kiri. Ia memastikan keadaan rumah cukup aman dan tidak melihat keberadaan Dwi, Setelah yakin, Rey melangkahkan kakinya masuk sambil membawa kantong plastik berisi sate.

Namun, baru beberapa langkah, seorang asisten rumah tangga yang sedang berada di ruang tengah menyapanya.

“Selamat malam, Mas Rey.”

Rey langsung tersentak Kaget segera buru-buru memperbaiki ekspresinya agar tidak di curigai assisten rumah tangganya

“Kamu? e-eh... Mbak. Mama sudah pulang?”

“Belum, Mas.”

“Syukurlah...”

Tanpa banyak bicara lagi, Rey segera menaiki tangga menuju kamarnya. Langkahnya dibuat santai, seolah tidak sedang berusaha menghindari seseorang.

Sesampainya di lantai atas, Rey berhenti di depan pintu kamarnya.Ia memutar gagang pintu.

"kreekkk...."

Pintu terbuka.Namun, langkah Rey langsung terhenti.

Seorang wanita berdiri tepat di hadapannya (Dwi)

Wanita itu ternyata sudah menunggunya di dalam kamar. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara tatapannya tertuju tajam kepada Rey.

“Selamat malam, anak Mama.”

Nada suara Dwi terdengar terlalu tenang, Rey menatapnya dwi dengan ekspresi datar,

Dwi melirik kantong sate yang dibawa Rey.

“Gimana? Enak sate yang kamu beli?”

Rey tidak menjawab.

“Perasaan tadi Mama menyuruhmu menemui Dokter Haris, bukan? apakah membeli sate termasuk tindakan yang salah? Jangan mengalihkan pembicaraan.”

Rey tahu dirinya tidak akan bisa menghindar lagi.

“Iya... iya. Aku tahu aku salah.”

“Kalau begitu, apa alasanmu melakukan itu?”

Rey berjalan melewati Dwi dan duduk di kursi samping Dwi lalu meletakkan satenya di atas meja

“aku malas menjelaskannya.”

Rey meletakkan kantong sate di atas meja, kemudian membuka laptop.

“Intinya, aku sedang tidak mood pergi ke sana.”

Dwi menatap Rey dengan kesal. Namun, ia berusaha menahan emosinya.

“Rey...”

Tidak ada jawaban.

“Mama tahu kamu sedang merasa tidak baik sekarang. Tapi kamu juga tahu, kan, kenapa Mama menyuruhmu menemui Dokter Haris?”

Rey tetap menghiraukan Dwi mencoba mendekat

kemudian meletakkan tangannya di bahu Rey dengan lembut. Namun, sentuhan itu justru membuat tubuh Rey menegang Dalam sekejap, Rey menepis tangan Dwi hingga Dwi terkejut atas sikapnya Rey.

“Mama cuma khawatir dengan keadaanmu.”

Rey perlahan menoleh. Rey menatap ke arah Dwi Dengan tatapan marah serta mata kirinya berubah menjadi merah menyala layaknya anomali,

Rey berdiri dan suaranya terdengar lebih berat.

“BERHENTI MENJADI MANUSIA YANG EGOIS MENGATUR SEGALA KEHIDUPANKU, LIHAT APA YANG KAMU LAKUKAN PADA TUBUHKU SERTA PIKIRANKU!!!"

Napasnya memburu Rey, melangkah maju mendekatinya. Dwi mundur perlahan tetapi wajahnya tetap tenang Seolah ia sudah pernah melihat Rey berada dalam kondisi seperti ini.

“Nak.. Sadarlah"

Namun, Rey seakan tidak mendengar Kesadarannya perlahan tenggelam Amarah dan sesuatu yang jauh lebih gelap mengambil alih dirinya.

“rey..."

Dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar, Rey mendorong Dwi hingga terjatuh. segera rey menindih dwi tanpa kesadaran penuh Rey langsung mengigit bahu, merobeknya lalu memakannya

kesadaran Rey yang menghilang tiba-tiba ia mendengar suara yang tidak asing baginya

“Putra...”

Suara itu terdengar begitu lembut.

Rey terdiam.

“Putra... anak Mama..."

Di hadapannya, sosok Dwi perlahan berubah Wajah itu kini menjadi wajah seseorang yang sangat ia kenal.

Almarhum mamanya

“Putra...”

Sosok itu tersenyum lembut.

“Kamu tidak boleh bandel, ya, Nak.”

Tangannya terangkat dan menyentuh pipi kanan Rey dengan penuh kasih sayang.

“Mama...?”

Suara Rey bergetar. Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya. Untuk sesaat, semua amarah dalam dirinya lenyap Namun ketika air mata itu jatuh ke lantai, sosok di hadapannya kembali berubah.

Wajah almarhum mamanya seketika menghilang.

Yang tersisa adalah Dwi.

Rey terdiam.

Ia menatap Dwi dengan perasaan bersalah yang begitu dalam.

“Ma...”

Rey mundur, seolah baru tersadar dari apa yang telah dilakukannya, Tubuhnya bergetar, Mulutnya di penuhi oleh darah, Ia menundukkan kepala dan mulai menangis Dwi bangkit perlahan, lalu mendekati Rey.

Tanpa mengatakan apa-apa, Dwi memeluknya.

Rey sempat terdiam sebelum akhirnya membalas pelukan itu.

“Ma... maafkan aku, Mama...”

Suaranya pecah di tengah tangisan Dwi mengusap punggung Rey perlahan.

“Kamu tidak salah, Nak...”

Rey semakin erat memeluknya.

“Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu.”

Dwi menarik napas panjang.

“namun takdir yang mempermainkanmu nak"

Ia mengusap kepala Rey dengan lembut Rey hanya bisa menangis dalam pelukan Dwi dengan darah yang masih menetes dari bahunya.

1
Dian Dian
good job👍
likaa: makasih kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!