Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaca Jendela, Revisi Kontrak, dan Aturan Kantor Nona Pengacara
Enam bulan sejak kelulusan Universitas Beijing.
Di lantai 18 sebuah gedung perkantoran di kawasan elit Wangjing, logo perusahaan bertuliskan 'PT. Campus Relay Logistics' terpampang megah di dinding lobi. Apa yang dulunya hanya ide mentah di atas kertas proposal kampus, kini telah menjadi perusahaan rintisan logistik mikro terbesar yang menguasai jaringan pesan-antar di seluruh universitas di Beijing.
Suasana kantor pusat itu sangat sibuk. Telepon berdering, karyawan berlalu-lalang dengan *lanyard* di leher, dan suara ketikan *keyboard* memenuhi udara.
Di sudut paling tenang di lantai itu, terdapat sebuah ruangan kaca dengan tulisan 'Kepala Departemen Legal' di pintunya.
Di dalam ruangan ber-AC yang dingin itu, Lin Xiao duduk tegak di balik meja kebesarannya. Penampilannya benar-benar berbeda dari masa mahasiswanya. Ia mengenakan blus sutra berwarna *emerald* dan rok span hitam. Rambutnya disanggul rapi ala *french twist*, dan sepasang kacamata anti-radiasi berbingkai emas bertengger di hidung mancungnya. Sang ketua kelas kini telah berevolusi menjadi wanita karier yang auranya bisa membuat staf *intern* menunduk takut.
Lin Xiao memijat pangkal hidungnya, menatap tajam draf kontrak setebal lima puluh halaman dari calon investor baru mereka.
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan.
Seorang pria jangkung melangkah masuk dengan gaya yang terlampau santai untuk ukuran sebuah kantor profesional. Kang Lu Feng. Sang CEO muda itu tidak mengenakan jas hari ini, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan urat-urat lengannya yang kokoh. Dasi abu-abunya sedikit dilonggarkan.
Lin Xiao mendongak, menatap Lu Feng dari balik kacamatanya dengan pandangan datar.
"Presiden Kang," tegur Lin Xiao dengan suara dingin dan formal. "Apakah Anda tidak diajari cara mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan karyawan Anda?"
Lu Feng tidak menjawab. Cowok itu menyeringai jahil, berjalan mendekati meja Lin Xiao, lalu menutup tirai *blinds* otomatis yang menutupi kaca ruangannya dengan menekan sebuah *remote* kecil di dinding. Bunyi *klik* terdengar saat pintu dikunci dari dalam.
Dalam sekejap, ruangan transparan itu berubah menjadi ruang tertutup yang sangat privat.
"Nggak perlu ketuk pintu kalau bos mau inspeksi kinerja Kepala Legal-nya," jawab Lu Feng dengan suara berat yang serak.
Ia berjalan memutar, menghampiri kursi Lin Xiao. Tanpa permisi, Lu Feng menopangkan kedua tangannya di sandaran kursi Lin Xiao, mengurung wanita itu dari belakang. Ia membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan leher Lin Xiao, menghirup aroma *peach* yang selalu menjadi candunya.
"Wangi banget. Pakai parfum baru, Pengacara Lin?" bisik Lu Feng, sengaja menyapukan hidungnya di kulit leher Lin Xiao.
Tubuh Lin Xiao sedikit menegang, namun ia berusaha keras mempertahankan wajah judesnya. Ia memutar kursinya tiba-tiba, menghadap Lu Feng yang kini berdiri menjulang di depannya.
*Prak!*
Lin Xiao melempar draf kontrak yang sedang ia baca ke atas meja, tepat di depan Lu Feng.
"Berhenti bercanda, Lu Feng. Ini jam kantor," omel Lin Xiao, meski suaranya tidak segalak tatapannya. Ia menunjuk dokumen itu dengan ujung pulpen mahalnya. "Lihat Pasal 7 ayat 3. Investor dari Grup Han mencoba memasukkan klausul *drag-along right* yang bisa memaksa kita menjual saham perusahaan kapan pun mereka mau. Kalau kamu menandatangani ini besok pagi, kamu sama saja menyerahkan lehermu untuk digorok oleh mereka."
Lu Feng menatap dokumen itu sekilas dengan wajah malas, lalu kembali menatap wajah serius pacarnya.
"Itulah gunanya gue gaji lo mahal-mahal, Lin Xiao. Buat nyari celah yang nggak gue ngerti," ucap Lu Feng santai. Cowok itu tiba-tiba duduk di ujung meja kerja Lin Xiao, tepat di sebelah tumpukan dokumen, kakinya yang panjang menjuntai dengan bebas.
"Turun dari mejaku, Presiden Kang. Tidak sopan," desis Lin Xiao, memelototi Lu Feng.
"Aturan kantor siapa yang bikin?" Lu Feng mengangkat sebelah alisnya.
"Kamu."
"Nah, berarti gue bebas ngelanggar," Lu Feng tersenyum miring. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, tangan besarnya meraih pinggang Lin Xiao, menarik kursi beroda itu hingga merapat ke sela-sela kedua kakinya.
Mata Lin Xiao membelalak kaget. Jarak mereka kini nyaris tidak ada. Ujung hidung mereka bersentuhan.
"L-Lu Feng... di luar banyak karyawan..." cicit Lin Xiao panik, melirik ke arah tirai tertutup di belakang cowok itu. Jika ada yang masuk, habislah wibawanya sebagai Kepala Legal yang garang.
"Tirainya udah gue tutup, pintunya udah gue kunci. Nggak akan ada yang berani masuk ruangan lo tanpa izin," bisik Lu Feng, menatap bibir Lin Xiao yang dilapisi lipstik merah *matte*. "Lagian, gue udah pusing banget dari tadi pagi *meeting* sama vendor. Kepala gue rasanya mau meledak. Gue butuh *charger*."
Lin Xiao menggigit bibir bawahnya. Melihat raut lelah yang tersembunyi di balik mata sayu Lu Feng, pertahanan profesionalnya perlahan runtuh. Sejak perusahaan ini meraksasa, beban kerja Lu Feng meningkat berkali-kali lipat. Membangun bisnis ternyata jauh lebih menyiksa daripada ujian nasional mana pun.
"Hanya lima menit," bisik Lin Xiao akhirnya, mengalah. "Setelah itu kamu harus kembali ke ruanganmu dan membaca revisi draf ini."
Lu Feng menyeringai menang. "Tiga puluh menit. Lo nggak tau seberapa gila gue nahan diri buat nggak narik lo ke ruangan gue tiap kali lo lewat depan meja *boardroom* pakai rok pensil itu."
Sebelum Lin Xiao sempat melayangkan protes soal waktunya, Lu Feng sudah menundukkan wajahnya dan meraup bibir wanita itu dengan rakus.
Berbeda dengan ciuman lembut di masa SMA, ciuman ini dipenuhi oleh hasrat, dominasi, dan rasa frustrasi orang dewasa yang kelelahan oleh dunia kerja. Lin Xiao mengerang tertahan di tenggorokannya. Tangan Lu Feng merambat naik ke tengkuknya, sedikit mengacak rambut *french twist*-nya yang rapi, sementara tangan satunya menarik pinggang Lin Xiao agar semakin merapat.
Lin Xiao memejamkan mata, membiarkan dirinya tersapu oleh gelombang kehangatan yang Lu Feng berikan. Tangannya yang awalnya mencengkeram tepi meja kini berpindah, meremas kemeja hitam Lu Feng, membalas ciuman cowok itu dengan tak kalah intens.
Di dalam ruangan kedap suara itu, hanya terdengar suara napas yang memburu dan detak jantung yang beradu. Sensasi melakukan hal ini di tengah jam kantor, di balik tirai dengan puluhan karyawan bekerja di luar sana, memberikan suntikan adrenalin yang luar biasa bagi mereka berdua.
*Tok. Tok. Tok.*
Suara ketukan pintu yang cukup keras tiba-tiba terdengar, membuat Lin Xiao tersentak mundur bagai disengat listrik!
Ia buru-buru mendorong dada Lu Feng hingga kursi berodanya terdorong mundur ke belakang mejanya. Napas Lin Xiao terengah-engah, wajahnya semerah tomat, dan ia panik membenarkan rambut serta lipstiknya menggunakan kamera ponsel.
"Pengacara Lin? Maaf mengganggu, ada revisi dokumen dari divisi *finance* yang harus ditandatangani sekarang," suara sekretaris Lin Xiao, seorang gadis muda bernama Mei, terdengar sayup-sayup dari luar.
Lu Feng, yang masih duduk santai di atas meja, hanya tertawa tanpa suara melihat kepanikan pacarnya. Ia menyeka ujung bibirnya sendiri menggunakan ibu jari.
"A-aku akan memeriksanya sepuluh menit lagi! Taruh saja di meja depanmu, Mei!" balas Lin Xiao dengan suara sedikit bergetar, berusaha membuatnya terdengar senormal mungkin.
"Baik, Pengacara Lin." Suara langkah kaki terdengar menjauh.
Lin Xiao menghela napas panjang, menatap Lu Feng dengan tatapan membunuh. "Kamu! Keluar sekarang juga! Kalau lipstikku sampai berantakan dan mereka tahu, aku akan benar-benar menggugatmu dengan pasal pelecehan di tempat kerja!"
Lu Feng tertawa lepas, akhirnya melompat turun dari meja. Ia merapikan kerah kemejanya, terlihat seratus kali lipat lebih segar dari saat ia baru masuk tadi. Baterainya sudah penuh.
"Silakan gugat gue, Pengacara Lin. Nanti gue bayar dendanya pakai cincin berlian sama surat nikah," goda Lu Feng sambil berjalan menuju pintu.
Cowok itu menekan *remote* untuk membuka kunci pintu dan menaikkan *blinds*. Dalam hitungan detik, aura santai dan menggodanya hilang tak berbekas, digantikan kembali oleh aura dingin dan berwibawa khas Presiden Direktur PT Campus Relay.
"Tolong selesaikan revisi kontrak Grup Han sebelum jam pulang kantor. Saya tunggu di ruangan saya," ucap Lu Feng dengan nada formal dan suara lantang yang bisa didengar staf di luar, sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu seolah tidak terjadi apa-apa.
Lin Xiao hanya bisa mengelus dadanya, menyandarkan punggung ke kursinya sambil menatap dokumen yang berserakan. Ia menggelengkan kepala, tersenyum kecil melihat jejak kusut di kemejanya sendiri.
Dunia kerja mungkin jauh lebih kejam dan menguras energi daripada masa sekolah, tapi memiliki seorang Kang Lu Feng sebagai atasannya—sekaligus kekasihnya—membuat setiap hari di kantor ini tidak akan pernah membosankan.