Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.
Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.
Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sejarah Saintess Pertama
Mungkin karena kejadian dengan Viscountess Bourne, Violet menyambut Countess Loraine keesokan harinya dengan tubuh yang masih tegang.
Countess Loraine adalah wanita cantik dengan rambut pirang terang, mata cokelat, dan raut wajah lembut. Ia menyambut Violet dengan senyum lebar. Kecantikannya bahkan seperti tokoh dalam lukisan.
Apa semua bangsawan berpangkat tinggi memang secantik ini?
Dengan gugup, Violet mencubit ujung roknya dan sedikit menekuk lutut, persis seperti yang diajarkan Viscountess kepadanya.
Mata Countess Loraine langsung membulat.
“Ya ampun...”
Violet mendongak dengan bingung. Wajah sang Countess terlihat begitu serius sampai-sampai ia mulai khawatir telah melakukan kesalahan. Jangan-jangan cara memberi salamnya salah?
Tubuh Violet semakin kaku karena tegang.
Namun, perkataan Countess Loraine justru di luar dugaannya.
“Sepertinya aku tidak perlu mengajarinya apa pun. Memangnya masih ada yang harus kuajarkan? Dia bahkan sepertinya lebih baik daripada putriku.”
Countess Loraine menoleh kepada Meirra yang berdiri di sampingnya. Meirra tersenyum lebar lalu mengangguk. Ia tampak begitu bangga karena Violet mendapat pujian.
“Yang Mulia ingin Saintess tidak hanya mempelajari etiket, tetapi juga memahami berbagai hal tentang negeri ini.”
“Oh, begitu.”
Countess Loraine kembali menatap Violet dan tersenyum hangat.
"Senang bertemu denganmu, gadis cantik. Kalau begitu, bisakah kita memulai kelasnya?"
"Ya."
Namun, Violet tidak bisa langsung merasa tenang. Ia tidak tahu kapan wanita ini akan berubah seperti Viscountess sebelumnya. Jadi, ia hanya berdiri kaku sambil diam-diam berharap hari ini tidak perlu menerima pukulan lagi.
Bagaimanapun, beliau seorang Countess. Pasti dia akan sangat tegas.
Jantung Violet berdebar gelisah.
“Bukan begitu caranya, Saintess.”
Benar saja. Baru tiga langkah berjalan, postur Violet sudah berantakan. Countess Loraine mendekatinya dan berkata dengan lembut, “Setiap kali melangkah, kepalamu semakin menunduk. Jaga punggung tetap lurus dan bahu sedikit tegak.”
Countess Loraine sendiri yang membetulkan posisi tubuh Violet dengan tangannya. Berbeda dengan Viscountess sebelumnya yang bahkan enggan menyentuhnya dan hanya memberikan perintah, sentuhan langsung itu membuat Violet lebih mudah memahami apa yang harus dilakukan.
“Ya ampun, Saintess sangat pintar. Dulu saat mengajari putriku, aku sampai kewalahan.”
Violet mendengarkan keluhan sang Countess yang sengaja mengajaknya berbicara agar ia tidak terlalu tegang. Namun, ia tidak bisa menjawab. Mengingat semua yang diajarkan sekaligus mempraktikkannya saja sudah cukup membuatnya kewalahan.
Setelah itu, mereka akan makan siang bersama. Baru memikirkannya saja Violet sudah merasa cemas.
Makan adalah bagian yang paling banyak menuntut etiket. Berkali-kali ditegur oleh orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya membuat Violet selalu gelisah setiap kali makan di depan orang lain. Ia bahkan sulit menikmati makanannya dengan tenang.
Meirra juga mengkhawatirkan hal itu.
Dan kekhawatirannya ternyata benar.
-
“Arahnya terbalik, Saintess.”
Violet tersentak dan tanpa sengaja menjatuhkan garpu yang sedang dipegangnya. Ternyata cara menyisihkan daging ikan yang dilakukannya salah.
Mendapat teguran lagi, Violet terlalu gugup sampai menjatuhkan pisau. Bunyi dentingnya terdengar keras saat jatuh ke atas piring.
Violet langsung bangkit dari kursinya. Countess Loraine tampak kebingungan melihat tingkahnya, tetapi Violet sudah berdiri di hadapannya sambil mengangkat roknya.
“Apa yang sedang Anda lakukan, Saintess?” tanya sang Countess.
Violet hanya bisa berharap hukumannya tidak akan terlalu lama.
“Saya akan mengakui kesalahan saya, dan menerima hukuman.”
Countess Loraine terdiam cukup lama. Violet diam-diam mengangkat wajah untuk melihat reaksinya.
Jangan-jangan sikap seperti ini malah membuatnya semakin marah?
Namun, sang Countess justru terlihat sangat kebingungan.
Meirra sedang berada di luar, jadi ia tidak bisa bertanya kepada orang lain. Mau tidak mau, ia pun meminta penjelasan langsung kepada Violet.
“Jangan-jangan Viscountess Bourne mendisiplinkanmu seperti ini?”
Violet mengangguk.
Countess Loraine kembali terdiam.
'Apa dia marah, kenapa dia tidak memukulku?'
Violet memejamkan mata rapat-rapat dan meringkuk ketakutan. Saat itulah ia merasakan pelukan hangat.
“Ah, Saintess...”
Countess Loraine memeluknya hingga Violet tanpa sengaja melepaskan rok yang tadi diangkat tinggi-tinggi. Ketika Violet hendak mengangkatnya kembali, sang Countess segera menggenggam tangannya.
“Tenanglah. Aku tidak akan memukulmu.”
Bisikan lembut itu terdengar di atas kepala Violet. Napas sang Countess terasa hangat. Tubuhnya juga mengeluarkan aroma yang menenangkan.
Benarkah dia tidak akan memukulku? Jangan-jangan dia akan memberiku hukuman dengan cara lain.
“Tidak ada pukulan di antara kita, aku janji. Memukul anak adalah cara mendidik yang sangat kejam. Astaga... Aku memang hanya mendengar sekilas tentang apa yang terjadi, tapi tidak kusangka akan separah ini.”
Nada suaranya lembut dan penuh perhatian. Setidaknya, Violet yakin sang Countess memang tidak berniat menyakitinya.
Sejak saat itu, Violet makan perlahan sambil terus memperhatikan sang Countess. Setiap kali ia melakukan sesuatu dengan benar, Countess Loraine akan langsung memujinya.
“Benar, seperti itu.”
“Ya, bagus sekali.”
Pujian dan dorongan itu membuat Violet yang biasanya begitu tegang saat makan perlahan merasa lebih tenang. Masalah yang selama ini membuatnya ketakutan ternyata bisa dilaluinya tanpa kesulitan.
Violet masih sering merasa cemas, tetapi sedikit demi sedikit ia mulai percaya bahwa Countess Loraine benar-benar tidak akan menyakitinya. Tubuhnya pun mulai lebih rileks, dan pujian sang Countess yang berlebihan membuat kepercayaan dirinya tumbuh sedikit demi sedikit.
Bahkan Ledian sampai mengatakan bahwa Violet kini benar-benar terlihat seperti seorang Lady.
Cedric yang sesekali berpapasan dengannya pun tampak ingin mencari-cari alasan untuk mengusiknya, tetapi akhirnya hanya menggerakkan bibirnya kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Namun, ternyata masih ada masalah lain.
Violet ternyata belum bisa membaca. Memang, Viscountess pernah mengajarinya dan Ledian juga sering membantunya, tetapi sampai sekarang ia masih belum benar-benar menguasainya. Apalagi Viscountess mengajarinya tanpa memperhatikan sejauh mana Violet memahami pelajarannya. Karena itu, bisa dibilang Ledian-lah yang sebenarnya menjadi gurunya.
Melihat Violet kebingungan, Countess Loraine langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
“Tidak apa-apa. Mari kita luangkan waktu untuk belajar membaca. Sekarang, dengarkan baik-baik. Aku akan menceritakan betapa menakjubkannya kekuatan seorang Saintess.”
Nada bicaranya begitu lembut hingga Violet mengangguk.
Cerita itu tidak jauh berbeda dari yang pernah ia dengar.
Dahulu, dunia diliputi kegelapan ketika kejahatan menyebar dan merasuki segala sesuatu. Tidak ada seorang pun yang percaya kepada Tuhan. Bahkan mereka mengutuk-Nya.
Abyss, kaki tangan iblis, begitu mengerikan hingga kesatria sehebat apa pun tidak mampu menghadapinya. Hingga akhirnya Asteria, Saintess pertama sekaligus utusan Tuhan, muncul dan mengakhiri kegelapan tersebut.
Namun, kejahatan tidak pernah benar-benar lenyap. Setiap kali Abyss bangkit kembali, Saintess pun akan muncul untuk mengalahkannya.
Asteria, Saintess pertama, lahir di negeri ini dan di sinilah ia mengalahkan Abyss. Karena itulah negeri tersebut kemudian dinamai Asteria.
Alur ceritanya tidak jauh berbeda dari dongeng yang dulu diceritakan ibunya. Hanya saja, tokoh anak laki-laki, pemuda, dan lelaki tua yang ada dalam dongeng tidak pernah muncul dalam catatan sejarah.
Selain itu, Saintess yang selama ini terasa seperti sosok dari dunia dongeng ternyata benar-benar tercatat dalam sejarah, layaknya tokoh-tokoh besar lainnya. Ia tak lagi terasa seperti sosok dari kisah fantasi, melainkan salah satu tokoh penting yang pernah hidup.
“Tuhan telah memberi kita berkah. Berkat-Nya, kita bisa menemukan Saintess secepat ini.”
Saintess adalah simbol Tuhan. Sebagai utusan-Nya, kedudukan Saintess dianggap setara dengan Paus, pemimpin tertinggi kuil, dan Raja, penguasa tertinggi negeri.
Bahkan, kedudukannya dikatakan lebih tinggi daripada keduanya.
Namun, Benarkah begitu?
Melihat bagaimana orang-orang memperlakukannya, Violet justru sulit mempercayainya.
Mereka memang menghormatinya sebagai Saintess, tetapi Violet bisa merasakan bahwa di balik penghormatan itu, mereka juga memandang rendah dirinya. Bahkan para pelayan di kediaman Marquis pun sama.
Hanya Seina yang pernah memperlakukannya dengan tulus. Untungnya, Meirra yang datang setelah Seina pergi juga tidak seperti mereka.
Wajah Violet kembali muram.
“Saintess adalah sosok yang muncul ketika negeri berada dalam bahaya dan menyelamatkan dunia."
Lily dan Rose pernah berkata bahwa mereka sedang menunggu kedatangan Saintess.
Seperti apa sebenarnya seorang Saintess?
Terkadang, Violet membayangkan Saintess seperti putri dalam dongeng yang dulu diceritakan ibunya. Lalu bagaimana dengan Amelisse dan Lysia? Mereka pasti benar-benar seperti seorang putri, tidak seperti dirinya.
“Apakah aku juga harus mengalahkan Abyss?”
Countess Loraine mengangguk mendengar pertanyaan Violet.
“Kapan Abyss akan datang?”
“Tidak ada yang tahu. Bisa saja sekarang, besok, atau bahkan sepuluh tahun lagi.”
Violet langsung merasa takut.
Aku saja tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Bagaimana mungkin Saintess sepertiku bisa mengalahkan Abyss?
“Apa aku akan menghadapi Abyss sendirian?”
“Tentu. Lihat bagian ini. Di buku ini tertulis tentang hukum larangan yang ditetapkan oleh Raja pertama Asteria.”
Violet mengikuti bagian yang ditunjuk sang Countess dengan terbata-bata. Tulisan dengan tinta merah itu tampak sangat penting.
“Ini adalah hukum yang ditetapkan oleh Raja pertama, Arendelle, sekaligus larangan tertinggi di negeri ini. Dalam pertarungan suci antara Saintess dan Abyss, tidak seorang pun rakyat Asteria boleh ikut campur.”
Violet menelan ludah.
“Kenapa? Aku takut kalau sendirian. Bagaimana aku bisa mengalahkan monster itu seorang diri?”
Mendengar suara Violet yang nyaris seperti memohon, Countess Loraine menjawab, “Karena hanya Saintess yang mampu mengalahkan Abyss. Raja pertama pasti tidak ingin ada pengorbanan yang sia-sia. Beliau sendiri pasti pernah melihat orang-orang tewas di tangan Abyss sebelum Saintess muncul.”
Violet menundukkan kepala.
Bertarung melawan Abyss saja sudah menakutkan. Dan aku harus melakukannya sendirian?
“Jangan khawatir. Saintess dipilih langsung oleh Tuhan, bukan?”
Sepertinya Tuhan salah memilih.
Bagaimanapun juga, Violet masih sulit menerima kenyataan bahwa dirinya adalah Saintess.
“Kalau Abyss muncul besok bagaimana?”
Itulah yang paling dikhawatirkan Violet. Ia tidak mampu melakukan apa pun. Jika Malum benar-benar muncul sekarang, dunia mungkin akan hancur begitu saja tanpa bisa melawannya.
“Jangan khawatir soal itu juga. Berdasarkan catatan sejarah, Abyss selalu muncul setelah Saintess tumbuh cukup besar, tepatnya setelah mencapai usia dewasa. Tuhan pasti sudah mengatur semuanya."
Tentu saja, kalau Tuhan tidak salah perhitungan.
“Aku tidak bisa.”
Melihat orang-orang yang mengenakan zirah saja sudah membuatnya takut. Lantas, bagaimana mungkin ia bisa mengalahkan Abyss? Bagaimana caranya menghadapi monster mengerikan bermata merah yang konon ukurannya sebesar sebuah kastel?
Begitu menyadari apa yang harus dilakukannya, Violet ingin melarikan diri saat itu juga. Ia tidak memiliki kekuatan maupun kemampuan untuk melakukannya. Lalu, bagaimana mungkin ia diharapkan melawan monster seperti itu?
Countess berkata, “Jangan khawatir. Anda pasti bisa. Saintess-Saintess sebelumnya juga berhasil melakukannya.”
Mendengar itu, Violet merasakan kejanggalan yang sulit dijelaskan. Countess memang sedang menyemangatinya dengan kata-kata yang hangat. Namun, ucapan itu justru terdengar seperti sebuah tuntutan—seolah-olah karena semua Saintess sebelumnya mampu melakukannya, ia pun wajib melakukan hal yang sama.
Tiba-tiba ia menjadi Saintess. Lalu, ia diberi tahu bahwa ia harus membunuh monster mengerikan yang selama ini hanya ia dengar dari cerita ibunya. Katanya, tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya selain dirinya.
Namun, Violet bahkan belum bisa membaca. Ia juga belum mampu berjalan dengan anggun. Satu-satunya kemampuan yang ia miliki hanyalah sesekali dapat memahami bahasa binatang. Mana mungkin ia menyuruh burung untuk membunuh Abyss?
“Saintess sebelumnya, Amelisse, juga berhasil melakukannya. Begitu pula Saintess sebelum beliau, Lysia. Jadi, Anda juga pasti bisa.”
Amelisse dan Lysia pasti berbeda dari Violet. Mereka tentu gadis-gadis bangsawan yang layaknya putri dalam dongeng. Kedudukan mereka jauh di atas Violet yang terlahir sebagai rakyat jelata.
Violet pernah mendengar dari Viscountess bahwa dirinya adalah Saintess pertama yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Semua Saintess sebelumnya merupakan putri-putri dari keluarga bangsawan terpandang.
Setiap kali membicarakan hal itu, Viscountess selalu memandang Violet seolah masih meragukan bahwa dirinya benar-benar seorang Saintess. Ketika ditanya mengenai pekerjaan orang tuanya dan Violet menjawab bahwa ibunya bekerja di rumah jagal, wajah Viscountess langsung mengernyit, seolah baru saja mendengar sesuatu yang menjijikkan.
Namun, orang yang paling meragukan bahwa Violet benar-benar seorang Saintess adalah dirinya sendiri.
Kenapa aku harus melakukan itu?
Pertanyaan mendasar itu muncul begitu saja.
Namun, Violet secara naluriah memahami alasannya. Ia bisa tinggal di tempat ini tanpa dipukuli, menikmati makanan lezat, mengenakan pakaian indah, dan tidur dengan nyaman—semua itu karena dirinya adalah Saintess.
Karena itulah ia tidak berani bertanya. Ia lebih memilih mengubur pertanyaan tersebut jauh di dalam hatinya. Rasanya, mempertanyakannya saja merupakan sesuatu yang tidak boleh dilakukan.
Countess kembali melanjutkan pelajaran. Ia menyadari suasana hati Violet memburuk setelah mendengar tentang Abyss, sehingga sebisa mungkin ia menghindari hal-hal yang dapat membuat Violet semakin tertekan. Sebaliknya, ia terus memberinya pujian.
Untuk pertama kalinya Violet mendengar seseorang memuji dirinya anggun. Hatinya pun perlahan melunak.
Masih lama sebelum semua itu terjadi. Tidak ada gunanya mencemaskannya sekarang.
Dengan pikiran itu, Violet kembali mengikuti ajaran Countess dengan tenang. Ia memang belum sepenuhnya mempercayai sang Countess, tetapi setidaknya ia yakin wanita itu tidak akan memarahi atau menyakitinya.
......................
Lambat laun, Violet mulai terbiasa dengan kehidupan barunya. Tanpa terasa, dua musim telah berlalu sejak ia datang. Musim panas dan gugur telah lewat, dan musim dingin pun semakin dekat.
Dulu, Violet selalu menggigil kedinginan. Ia hanya memiliki selimut tipis yang dililitkan erat-erat ke tubuhnya sebelum tertidur di atas lantai kayu yang dingin. Karena itu, setiap kali musim dingin mendekat, ia selalu mengkhawatirkan hawa dingin yang akan datang.
Namun, orang-orang di tempat ini tampaknya tidak terlalu mencemaskan musim dingin. Berbeda sekali dengan saat Violet masih tinggal di Flower Street.
“Udara mulai dingin. Sepertinya salju akan segera turun.”
“Benar.”
Violet menjawab ucapan Countess sambil menatap langit.
Saat itulah pandangannya jatuh pada kalender.
“Ada apa, Saintess?”
Countess bertanya karena suara Violet terdengar berbeda dari biasanya.
“Seminggu lagi ulang tahunku.”
“Apa?!”
“Apa?!”
Meirra yang sedang menyiapkan teh, ikut berseru kaget.
Kenapa mereka bereaksi seperti itu?
Meirra memang sesekali bertindak sembarangan seperti ini.
Apa dia tidak akan dimarahi?
Namun, bahkan di hadapan Countess, Meirra tidak bisa menahan diri. Countess sendiri sampai menutupi mulutnya yang terbuka dengan kipas.
Violet hanya memiringkan kepala, memperhatikan reaksi kedua wanita itu. Meirra bahkan melupakan sopan santun dan langsung memegang kedua bahu Violet, lalu mengguncangnya.
“Ke-kenapa Anda baru mengatakan itu sekarang? Nona, coba katakan lagi. Benarkah itu?!”
Tubuh Violet terguncang sampai pandangannya ikut berkunang-kunang. Namun, yang membuatnya heran, Countess sama sekali tidak berusaha menghentikan Meirra yang mengguncang bahu seorang Saintess.
“Memangnya, kenapa aku harus memberitahu soal ulang tahunku?”
Jawaban Violet justru membuat keadaan semakin aneh.
Keduanya menatap wajah Violet dengan ekspresi pasrah. Violet pun mulai bertanya-tanya apakah dirinya telah melakukan kesalahan lagi.
......................
Violet merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tiba-tiba saja suasana di kediaman menjadi begitu sibuk. Melihat orang-orang yang tampak gelisah, Violet tidak berani bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya memperhatikan mereka sambil membaca situasi.
Keesokan harinya, kegelisahan aneh yang menyelimuti kediaman itu mencapai puncaknya.
“Nona, mau coba pakai gaun ini?”
Meirra mengeluarkan sebuah gaun berwarna ungu. Violet menatap gaun itu, lalu memandang wajah Meirra yang tersenyum lebar.
Violet langsung menggeleng.
“Tidak mau.”
Saat sedang bersikeras, Violet cenderung berbicara tanpa basa-basi.
Meirra pun memasang wajah kecewa.
“Aku sudah tahu gaun ini tidak akan cocok untukku.”
Tidak ada seorang pun di kediaman ini yang pernah mengatakan bahwa gaun cocok untuknya.
“Eh, siapa yang bilang begitu?”
“Kak Carlisle dan Kak Cedric.”
Mendengar itu, wajah Meirra seketika berubah.
“Tidak mungkin! Tuan Muda Carlisle benar-benar mengatakan itu?”
Violet mengangguk. Ia masih mengingatnya dengan jelas. Entah ingatannya yang telah berubah atau tidak, saat itu pria tersebut mengerutkan kening dan mengatakan bahwa gaun yang dikenakannya tidak cocok.
“Benar-benar tidak peka. Kenapa dia harus mengatakan hal seperti itu?”
Meirra menggerutu sambil menyodorkan gaun itu kepada Violet.
“Tuan Muda Carlisle sebenarnya tidak seburuk itu. Mungkin ada alasan di balik ucapannya.”
“Apa hubungannya alasan dengan mengatakan gaun ini tidak cocok?”
Violet menggerutu dengan keras kepala, membuat Meirra justru tertawa.
“Ah, lucunya. Saya justru senang melihat Nona bicara terus terang seperti itu.”
Violet malah melirik Meirra dengan cemas setelah mengatakan hal tersebut. Namun, Meirra hanya tersenyum ramah.
Meit memang aneh.
Violet sudah beberapa kali mengatakan hal-hal buruk tentang Tuan Muda pertama, tetapi Meirra tidak pernah melaporkannya kepada Marquis. Ia justru menanggapi perkataan Violet dan bahkan sering memuji hal-hal kecil yang dilakukannya.
“Tapi begini, Nona.”
“Hmm?” Violet menjawab polos.
Meirra seketika memasang ekspresi memelas.
“Kalau Nona tidak memakainya, nanti saya dimarahi Tuan. Bagaimana, ya?”
Mendengar itu, Violet akhirnya mengangguk dengan wajah enggan.
Meirra pun langsung tersenyum lebar.
......................
Setelah berganti gaun, Violet berjalan menyusuri koridor dengan tenang. Untungnya, setelah belajar etiket dari Countess, Violet mulai terbiasa berjalan mengenakan gaun. Lagipula, betisnya kini tidak lagi dipenuhi memar kebiruan atau luka akibat cambukan, jadi wajar jika langkahnya terasa lebih santai.
Violet berusaha menjaga ekspresinya agar Meirra tidak tersinggung, tetapi gaun itu tetap terasa sangat merepotkan baginya. Sejak awal, gaun yang dikenakan para putri bangsawan memang terasa tidak cocok untuk dirinya yang berasal dari kalangan rakyat jelata.