NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 : Panen Bunga Kemuning dan Bayangan di Lereng Bukit

Musim kemarau panjang yang gersang di Desa Karang Tumpuk akhirnya benar-benar luruh, digantikan oleh musim hujan yang menyiram bumi dengan kesejukan tanpa henti. Pohon-pohon di sekitar rumah panggung tua milik almarhumah Nyai Seruni tumbuh makin hijau dan rindang. Di bawah naungan atap kayu yang mulai lapuk namun terawat, bunga-bunga kemuning yang ditanam Sari di bekas tempat pembuangan air kembang tujuh rupa milik bibinya kini mekar sempurna. Kelopaknya yang putih bersih menebarkan aroma wangi yang sangat lembut dan menenangkan setiap kali terpaan angin sore berembus melintasi teras.

Kehidupan bergerak dengan sangat tenteram dan tertata. Tidak ada lagi intrik dari pedagang antik seberang laut seperti Juragan Maliki yang panik akibat kehilangan pusaka, tidak ada lagi ancaman dari orang-orang kota bertangan besi seperti Pak Broto Ranusastro yang kini sibuk menghabiskan hartanya untuk berbuat kebajikan di tempat lain. Dan yang paling utama, nama Nyai Seruni tak lagi menjadi momok menakutkan yang dihindari oleh warga saat malam tiba. Nama itu kini perlahan melunak, menjadi sebuah kenangan pahit yang dijadikan pelajaran oleh warga Karang Tumpuk tentang betapa merusaknya sifat iri, dengki, dan dahaga akan ilmu hitam.

Pagi itu, warung makan milik Sari tampak lebih ramai dari biasanya. Suara dentang mangkuk porselen, adukan sendok pada cangkir teh, dan gelak tawa pengunjung mememuhi seluruh teras rumah panggung. Orang-orang dari desa tetangga yang melintas hendak menuju pasar kecamatan selalu menyempatkan diri untuk mampir. Mereka tidak lagi melirik rumah tua itu dengan rasa waswas atau bulu kuduk berdiri, melainkan dengan perut lapar yang merindukan gurihnya kuah soto buatan Sari.

Di sudut teras, Si Mbah—kera hitam legam yang kini sudah menganggap dirinya sebagai 'kepala pelayanan' warung—sedang sibuk menjalankan tugas rutinnya. Dengan selembar serbet bersih yang dililitkan di pinggang bagaikan sarung, Si Mbah membawa nampan kayu berisi cangkir-cangkir teh hangat ke meja pengunjung. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian, ia meletakkan cangkir itu satu per satu di depan Pak Karto sang RT dan beberapa sesepuh desa yang sedang berkumpul.

"Terima kasih, Mbah! Pelayananmu makin hari makin mirip pelayan rumah makan mewah di kota," puji Pak Karto sambil tertawa senang, lalu menyerahkan sepotong pisang rebus sebagai 'upah'.

Si Mbah menepuk dadanya dua kali dengan bangga, mengangguk santai dengan posisi tubuh tegak, lalu melompat ke atas meja sambil mengupas pisangnya.

"Mbah! Jangan makan dulu, meja sebelah sana belum diusap!" panggil Sari dari balik jendela dapur sambil tertawa geli melihat tingkah laku rekan kecilnya itu.

Si Mbah mendelik pelan, menyimpan sisa pisangnya di balik lipatan kain serbet di pinggangnya, lalu meraih kain lap dan bergegas meluncur turun. Tingkahnya yang jenaka dan serba paham itu sukses membuat seluruh pembeli di warung meledak dalam tawa renyah.

Saat matahari mulai bergeser ke barat dan menyiram desa dengan warna keemasan, Mbok Sumi datang berjalan perlahan dari arah hilir, dituntun oleh Marno sang pande besi. Perempuan tua dengan mata buta sebelah itu memegang sekeranjang bunga kantil, mawar kampung, dan kenanga segar yang baru dipetik dari halaman gubuknya.

Sari bergegas menyambut mereka di tangga teras, menyapu sisa-sisa tepung dari tangannya. "Mbok Sumi, Kang Marno... mari duduk dulu. Biar Sari ambilkan soto hangat dan teh poci untuk makan sore."

Mbok Sumi tersenyum lembut, wajahnya yang penuh kerutan tampak sangat teduh. Ia menggeleng pelan. "Tidak usah repot-repot, Sari. Mbok ke sini bukan mau makan soto, tapi mau mengajakmu."

Sari mengerutkan kening, menatap Mbok Sumi dan Marno bergantian. "Mengajak ke mana, Mbok?"

"Ke pemakaman desa di lereng bukit," jawab Mbok Sumi tulus. "Hari ini tepat seratus hari sejak kepulangan bibimu, Seruni. Mbok ingin menabur bunga dan berkirim doa di atas makamnya."

Mendengar ucapan Mbok Sumi, dada Sari bergetar hebat. Rasa haru yang membuncah mendadak menyumbat tenggorokannya. Mbok Sumi adalah korban yang paling menderita akibat kejahatan bibinya di masa lalu—ia kehilangan suami, anak lelaki satu-satunya, harta benda, hingga kesehatan fisiknya. Namun kini, justru perempuan berhati mulia itulah yang pertama kali ingat dan mengajak untuk menabur bunga di atas pusara sang mantan dukun.

Sari menahan genangan air mata di sudut matanya. Ia mengangguk pelan dengan suara serak. "Baik, Mbok. Tunggu sebentar, Sari ambilkan payung dan siap-siap dulu."

Pemakaman Desa Karang Tumpuk terletak di lereng bukit sebelah utara yang teduh, dinaungi oleh pepohonan Kamboja tua dan pohon asam yang tinggi menjulang. Suasana di sana sangat tenang, diiringi suara gemercik air sungai kecil yang mengalir di dasar jurang.

Gundukan tanah pemakaman Nyai Seruni tampak terawat rapi. Rumput-rumput hijau tumbuh subur di atasnya, dan tanah bumi yang dulu sempat bergejolak seolah menolak jasadnya kini telah merengkuh pusara itu dalam kedamaian murni. Tidak ada lagi bau busuk empedu yang menyengat atau hawa panas ghaib yang membakar kulit.

Sari, Mbok Sumi, Marno, dan Si Mbah berdiri mengelilingi makam sederhana tersebut. Dengan jemarinya yang gemetar namun penuh rasa hormat, Mbok Sumi menaburkan mahkota bunga kantil, kenanga, dan potongan daun pandan di atas gundukan tanah basah itu.

"Seruni..." bisik Mbok Sumi lembut, suaranya menyatu dengan deru angin sore yang berembus perlahan di antara dahan pohon asam. "Tenanglah di alam sana. Rasa sakit, racun, dan ilmu hitam yang dulu menguasai pikiranmu sudah musnah. Kami yang kau tinggalkan sudah memaafkanmu dengan tulus. Semoga jiwamu mendapatkan ampunan dari Yang Maha Kuasa."

Sari berlutut di tepi makam, mengelus batu nisan kayu sederhana milik bibinya. Air mata keharuan menetes membahasi tanah.

"Bibi..." ucap Sari lirih. "Rumah panggung kita sudah terang sekarang. Warung kita ramai, dan warga desa tidak lagi membenci nama keluarga kita. Segala peninggalan ilmu hitam milik Bibi sudah musnah terbakar. Janji Sari untuk membersihkan nama dan tempat ini sudah Sari penuhi."

Angin sore berhembus makin kencang melintasi pemakaman, menerbangkan beberapa helai kelopak bunga kemuning yang dibawa Sari. Rasa hangat yang sangat menenangkan mendadak melingkupi dada Sari—seolah-olah keberadaan ghaib yang tadinya muram kini telah pergi membawa kedamaian.

Namun, di tengah suasana hening dan syahdu itu, Si Mbah yang tadinya duduk tenang di atas batu nisan mendadak menegakkan telinganya. Bulu di tengkuk kera hitam itu berdiri tegak. Ia menghentikan gigitan pisangnya, lalu menoleh patah-patah ke arah semak-semak lebat yang berada di batas hutan pegunungan—tepat di atas lereng pemakaman.

"Uuk...? Uuk...!" Si Mbah mengeluarkan suara geraman rendah yang sangat asing, suara yang belum pernah didengar Sari sejak kera itu bertobat.

Marno yang peka terhadap perubahan aura di sekitarnya langsung memegang hulu pisau pemotong kayu di pinggangnya. "Ada apa, Mbah?"

Si Mbah tidak menjawab. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah kegelapan di balik pepohonan liar. Di sana, di antara bayang-bayang pohon jati tua yang merenggut cahaya sore, berdiri sebuah siluet tinggi kurus. Siluet itu menggunakan jubah kain mori kusam yang terikat di bagian kepala, membungkuk kaku seolah sedang mengamati prosesi tabur bunga dari kejauhan.

Aroma bau minyak melati busuk—aroma yang sangat mirip dengan racun petunduk milik Nyai Seruni, namun terasa bertumpuk puluhan kali lebih pekat—tiba-tiba bertiup menyengat hidung mereka.

Srekk... srekk...

Suara gesekan kain pada semak-semak kering terdengar pelan, melangkah mundur perlahan sebelum akhirnya siluet itu lenyap ditelan kegelapan hutan rimba.

"Kang Marno... bau apa ini?" bisik Sari sambil memegang lengan Marno. Wajahnya mendadak pucat. Bau ini terlalu familiar, namun rasanya jauh lebih tua dan lebih berat ketimbang ilmu hitam yang pernah dipelajari bibinya.

Marno berdiri membentengi Sari dan Mbok Sumi. Matanya menatap tajam ke arah lereng atas. "Itu... bukan orang sembarangan. Seseorang sedang mengawasi makam Seruni."

Mbok Sumi yang tidak bisa melihat menepis udara di depannya dengan tangan gemetar. Wajah tua itu mendadak tampak sangat cemas. "Marno... Sari... bau ini... ini bukan minyak buatan Seruni. Ini bau ilmu dari Perguruan Gunung Tengger... tempat di mana Seruni dan para dukun tua mengambil perjanjian darah lima puluh tahun yang lalu!"

Suasana khidmat di pemakaman seketika sirna, berganti dengan bayang-bayang kecemasan baru yang merayap dingin.

Marno memutuskan untuk segera membawa Sari dan Mbok Sumi kembali ke desa sebelum kegelapan malam benar-benar turun. Selama perjalanan turun dari lereng bukit, tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Si Mbah terus melompat dari dahan ke dahan di atas kepala mereka, matanya liar menyapu setiap semak liar di kiri dan kanan jalan tanah, bertindak sebagai pengawal yang sangat waspada.

Sesampainya di rumah panggung, Sari bergegas menyalakan lampu-lampu minyak di teras dan dapur. Meski obor dan lampu sudah terang benderang, hawa dingin yang tak biasa seolah menempel di dinding-dinding kayu rumah tersebut.

Marno duduk di meja teras sambil mengasah pisau besinya dengan batu asah. Suara gesekan logam pada batu terdengar ritmis dan tegas di tengah kesunyian malam.

"Kang Marno," buka Sari sambil meletakkan secangkir kopi hitam panas. "Apa maksud Mbok Sumi tadi tentang Perguruan Gunung Tengger?"

Marno menghentikan gosokan batunya, menghela napas panjang hingga dada bidangnya naik turun. "Sebelum bibimu menjadi dukun independen di Karang Tumpuk, ia tidak belajar sendirian. Dulu, sewaktu masih muda dan hatinya hancur karena sakit hati, Seruni berguru pada seorang ketua aliran ghaib kuno di pedalaman pegunungan selatan. Orang-orang memanggilnya Mbah Jiwo Suro."

Sari mendengarkan dengan penuh perhatian. "Lalu?"

"Mbah Jiwo Suro adalah ketua dari jaringan ilmu hitam yang menjual minyak petunduk dan jimat tanah kepada para tuan tanah dan pejabat zalim di masa lalu," lanjut Marno dengan nada berat. "Bibimu bisa memiliki kotak kayu jati dan panci perunggu berukir ular karena ia meminjamnya dari pertapaan Mbah Jiwo. Ketika bibimu memutuskan kabur dan menyendiri di Karang Tumpuk puluhan tahun lalu, ia sebenarnya membawa lari sebagian rahasia kitab mantra milik perguruan itu."

Sari menahan napas. "Jadi... orang yang di atas bukit tadi..."

"Besar kemungkinan itu adalah murid atau utusan dari Mbah Jiwo Suro," tegas Marno. "Mereka mungkin baru mendengar kabar bahwa Seruni telah tewas dan semua barang-barangnya telah musnah. Tapi masalahnya, bagi aliran seperti mereka, musnahnya barang-barang sakral itu dianggap sebagai pengkhianatan besar yang harus dibayar dengan nyawa keturunan atau ahli warisnya."

Mendengar penjelasan itu, tubuh Sari gemetar tipis. Ia mengira dengan melebur panci perunggu dan membakar lontar-lontar tua bibinya, seluruh urusan mistis di rumah ini telah usai sepenuhnya. Namun kenyataannya, tindakan itu justru seperti memotong cabang pohon beracun tanpa menyadari bahwa akarnya yang raksasa masih tertanam jauh di dalam hutan rimba.

Malam makin larut. Setelah Marno pamit pulang ke bengkelnya untuk bersiap-siap dan menjaga gubuk Mbok Sumi, Sari mengunci seluruh pintu dan jendela rumah panggung rapat-rapat.

Ia duduk di tepi tempat tidurnya, memandangi Si Mbah yang tertidur gelisah di sudut kamar. Kera hitam itu sesekali terbangun, memandangi celah dinding kayu sambil mengeluarkan cicitan cemas.

Sari memeluk lututnya di atas kasur. Di bawah tempat tidurnya, lempengan perunggu polos bekas peleburan panci tua yang dijadikan ganjalan pintu mendadak terasa sedikit hangat. Dari luar rumah, di tengah suara jangkrik dan terpaan angin hujan yang gerimis, terdengar suara tembang macapat tua bernada samar-samar. Suaranya menyayat hati, merayap dari arah hutan bukit utara, membawa pesan bahwa ketenangan singkat di Desa Karang Tumpuk hanyalah jeda sebelum badai yang jauh lebih besar dan mengerikan datang menerpa.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!