NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kau Siakan

Wanita Yang Kau Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.

Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.

Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.

​Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.

​Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Rasa Sakit yang Diabaikan

   ​Keesokan harinya, tubuh Mahira terasa sangat berat saat terbangun di atas tempat tidur. Kepala bagian belakangnya berdenyut hebat, bagaikan ditimpa beban berkuintal-kuintal.

   Saluran pernapasan dan tenggorokannya terasa kering dan panas, sementara seluruh persendian tubuhnya ngilu tak tertahankan. Sejak semalam, efek angin malam yang dingin ditambah tekanan emosional dan rasa kecewa mendalam membuat daya tahan tubuhnya ambruk seketika.

   ​Mahira menyentuh dahinya sendiri dengan punggung tangan. Panas. Suhu tubuhnya melonjak tinggi hingga bibirnya yang pucat tampak sedikit pecah-pecah.

   ​Dengan sisa tenaga yang ada, Mahira berusaha mendudukkan diri di tepi ranjang. Ia menghela napas panjang seraya memegangi kepalanya yang berputar. Namun, kewajiban sebagai seorang istri tetap menuntun jiwanya untuk beranjak.

   Ia memakai pakaian luarnya, menyanggul rambutnya dengan rapi, lalu melangkah keluar kamar dengan tumpuan tangan yang sesekali berpegangan pada dinding koridor rumah.

   ​Di ruang tengah, Ziko baru saja keluar dari kamar utamanya dengan kemeja kantor yang sudah terpasang rapi. Pria itu tampak sibuk menyesuaikan ikatan dasinya di depan cermin besar.

   ​Mahira mendekat pelan-pelan. Suaranya terdengar sangat parau dan lemah. "Mas Ziko... mau berangkat sekarang? Baju dan berkas Mas di meja kerja sudah aku rapikan."

   ​Ziko melirik Mahira dari pantulan cermin. Pria itu sedikit mengerutkan dahi melihat wajah istrinya yang sangat pucat dan matanya yang sayu berair. Namun, bukannya menanyakan keadaan atau menunjukkan rasa khawatir, Ziko justru mendengus pelan.

   ​"Hira, kamu ini kenapa lagi?" tegur Ziko ketus seraya mengambil jasnya. "Jangan pasang wajah muram pagi-pagi begini! Kamu masih mau bahas soal semalam? Mas kan sudah bilang, jangan kekanak-kanakan!"

   ​Mahira memegang pinggiran meja demi menahan tubuhnya yang sedikit limbung. "Aku tidak sedang membahas semalam, Mas. Tubuhku... panas sekali sejak subuh tadi. Kepala dan dadaku sakit."

   ​Bukannya bersimpati, Ziko justru mengibaskan tangannya dengan pandangan muak.

   ​"Alasan lagi," cetus Ziko tanpa rasa iba sedikit pun. "Kamu itu cuma malas kan? Dikit-dikit mengeluh sakit, dikit-dikit merasa kurang sehat. Lihat Clarissa, semalam dia makan malam sama kita, tapi pagi ini sudah bangun subuh untuk rapat dengan investor luar negeri. Wanita karier yang tangguh itu tidak gampang mengeluh cuma gara-gara demam kecil!"

   ​Kata-kata Ziko menghantam dada Mahira dengan kejam. Mahira menatap suaminya lekat-lekat, mencoba mencari setitik empati di dalam manik mata pria yang dulu berjanji di depan almarhum ayahnya untuk selalu menjaganya dalam suka dan duka. Namun, yang ia temukan hanyalah sikap dingin yang tidak peduli.

   ​"Aku benar-benar sakit, Mas..." lirih Mahira berbisik.

   ​"Sudahlah, Hira! Jangan bikin kepalaku makin pusing sebelum berangkat kerja!" potong Ziko tegas seraya mengambil kunci mobilnya dari atas meja. "Di meja ada obat generik, minum saja itu! Jangan manja!"

   ​Tanpa mengusap dahi istrinya, atau mengulurkan tangan untuk mengecek suhu tubuh Mahira, Ziko melangkah begitu saja melewati Mahira dan menghilang di balik pintu depan.

   ​Rasa sakit fisik yang meremukkan tubuh Mahira makin menjadi-jadi ketika matahari mulai meninggi. Baru saja Mahira meneguk segelas air hangat di dapur, suara langkah kaki yang menghentak keras menggema di sepanjang koridor.

   ​Bu Rani muncul dengan gaun cantiknya, memegang sebuah kipas tangan. Wajah tua itu dipenuhi dengan kerutan kemarahan.

   ​"Mahira!" pekik Bu Rani melengking. "Kamu ngapain jam segini masih duduk-duduk malas di dapur? Luar biasa ya kamu, Ziko baru berangkat kerja, kamu sudah berani bersantai-santai."

   ​Mahira mendongak pelan, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang mulai samar. "Maaf, Bu... Tubuh saya benar-benar panas hari ini. Kepala saya berputar...."

   ​"Halah! Jangan pakai alasan sakit untuk kabur dari pekerjaan rumah!" bentak Bu Rani seraya mendekati Mahira dan menunjuk-nunjuk wajah menantunya dengan kipas di tangannya. "Kamu pikir rumah sebesar ini bersih sendiri? Lihat pekarangan depan dan halaman samping. Daun-daun kering menumpuk dari kemarin belum kamu sapu. Belum lagi rumput liar yang makin tinggi."

   ​"Bu, halaman luar sangat luas...." sahut Mahira dengan suara bergetar. "Bisakah saya menyapunya nanti sore setelah suhu tubuh saya agak mendingan? Saya benar-benar lemas."

   "Tidak ada nanti-nanti!" tegas Bu Rani tanpa belas kasihan. "Nanti jam sebelas siang teman-teman arisan saya mau datang ke sini! Saya tidak mau ya mereka melihat rumah ini kotor seperti kapal pecah gara-gara punya menantu yang pemalas seperti kamu. Cepat ambil sapu lidi di belakang dan bersihkan seluruh halaman sampai mengkilap!"

   ​"Tapi, Bu~"

   ​"Tidak ada tapi-tapi. Mau saya adukan lagi sama Ziko kalau kamu membangkang? Biar Ziko makin sadar betapa tidak gunanya kamu jadi istri!" ancam Bu Rani sengit.

   ​Mahira terdiam. Pandangannya meredup. Ditatapnya wajah ibu mertuanya yang dipenuhi dengki dan keangkuhan. Tidak ada gunanya memohon pada hati yang sudah tertutup batu.

   ​Dengan langkah yang sempoyongan, Mahira berjalan menuju pintu belakang untuk mengambil sapu lidi dan pengki. Udara luar di halaman rumah yang terik mulai membakar kulitnya, namun di dalam tubuhnya, rasa dingin menggigil merayap hingga ke tulang sumsum.

   ​Mahira mulai mengayunkan sapu lidi itu di atas rumput dan marmer pekarangan depan. Setiap kali ia membungkuk untuk mengambil tumpukan daun kering, pandangannya seketika berkunang-kunang. Peluh dingin menetes deras dari pelipisnya, membasahi leher dan pakaian sederhananya.

   ​Di dalam rumah yang sejuk ber-AC, Bu Rani duduk nyaman di sofa ruang tamu sambil menikmati teh hangat dan menonton televisi, sesekali melirik ke luar jendela hanya untuk memastikan Mahira terus bekerja tanpa henti.

   ​"Sapu yang bersih di sebelah kanan itu! Jangan ada daun yang tersisa satu pun!" teriak Bu Rani dari balik jendela kaca yang dibuka sedikit.

   ​Mahira tidak menjawab. Jemarinya yang gemetaran meremas gagang sapu lidi itu makin erat. Dunianya seolah berputar balik. Di tengah rasa sakit yang mendera kepalanya dan rasa dingin yang menggigil seluruh tubuhnya, bayangan kebaikan-kebaikan kecil yang pernah ia lakukan untuk keluarga ini berkelebat di ingatannya.

   ​Ia pernah menjahit baju Bu Rani yang robek hingga larut malam. Ia pernah merawat Ziko semalaman penuh saat suaminya terbaring tipus di awal pernikahan mereka tanpa memejamkan mata sedikit pun. Namun kini, saat dirinya terbaring lemah tak berdaya, tidak ada satu orang pun yang mengulurkan segelas air hangat dengan tulus.

   ​Bruk!

   ​Lutut Mahira akhirnya menyerah. Tubuhnya yang lemas ambruk menimpa tumpukan daun kering di pekarangan rumah. Sapu lidi di tangannya terlepas dan menggelinding di atas tanah. Napas Mahira terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat, menahan rasa panas yang membakar seluruh kesadarannya.

   ​Dari dalam rumah, Bu Rani yang melihat Mahira terjatuh dari jendela justru berdecak jengkel dan keluar dengan langkah tergesa-gesa.

   ​"Ya ampun, Mahira! Kamu ini dramatis sekali sih!" omel Bu Rani seraya menendang pelan ujung sapu lidi yang tergeletak di dekat kaki Mahira. "Jatuh begitu saja pakai acara pingsan-pingsanan. Bikin malu kalau dilihat tetangga. Cepat bangun!"

   ​Mahira perlahan membuka matanya yang kusam. Ia menatap telapak tangannya yang tergores kerikil tajam hingga mengeluarkan sedikit darah. Tidak ada air mata yang menetes. Hatinya telah mati rasa.

   ​Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Mahira menegakkan tubuhnya kembali. Ia mengabaikan rasa perih di tangannya, mengabaikan pusing yang menghantam kepalanya, dan kembali memegang gagang sapu lidi itu.

   ​Ia terus menyapu halaman hingga daun terakhir bersih dari pekarangan.

   ​Saat Mahira akhirnya kembali melangkah memasuki kamarnya yang dingin, ia berjalan menuju cermin. Ditatapnya bayangan dirinya yang pucat, lemas, dan bersimbah keringat dingin.

   ​Mahira menyunggingkan senyum paling tipis di bibirnya yang pecah-pecah.

   ​"Sedikit lagi, Mahira...." bisiknya pada diri sendiri di depan cermin, suaranya pelan namun mengandung kebangkitan yang tak tergoyahkan. "Biarkan mereka menumpuk seluruh kezaliman ini sampai puncaknya. Karena ketika saatnya tiba, tidak akan ada satu pun kata maaf yang bisa menyelamatkan mereka dari kehancuran."

1
Ma Em
Mahira sdh bertindak dan tdk lama lagi Ziko dan Bu Rani akan jadi gelandangan .
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘
Sri Widiyarti
semoga lekas bangkrut ziko ...
Sri Rahayu
Ziko...Ziko....ini buah dari keserakahan, keegoisan dan ketololan mu Ziko 🤪🤪🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Oke....
total 1 replies
Sri Rahayu
suka dgn tokoh Mahira...tegas tdk ada ampun utk Ziko /Good//Good//Good/ lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
Mahira sdh mulai mengeluarkan taringnya siap mengoyak Ziko, bu Rani dan Clarissa... lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
berpestalah kalian bertiga Ziko, bu Rani dan Clarissa...merayakan kebangkrutan Ziko 😇😇😇🤪🤪🤪...lanjut Thorf😘😘😘
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
lope lope utk Mahira /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/.... dan vote utk Authorr...ditunggu lanjutan nya😘😘😘😘😘
Nasir: Makasih Kak...
total 1 replies
Sri Rahayu
suka ceritanya Thorr, lanjutin donk kepo ma si Ziko, mama nya n Clarisa setelah proposalnya ditolak....tetap optimis Thorr dan semangat selalu 😘😘😘😘😘
Nasir: Besok ya...
total 1 replies
Ika
luar biasa
Sri Rahayu
kehancuran menunggu mu Ziko 🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Besok ya.. m
total 1 replies
EVA OKTASARI
padahal ceritanya bagus lho thor,semangat thor sampai cerita tamat
Nasir: Entahlah Kak... tapi kenyataannya tdk banyak yg tertarik. Sedih sih. Bisa saja saya tamatkan di sini, tapi gak kontrak. Sebab klo dikontrakpun gak dpt apa2 selain dr pembaca. Pdhl udah sy usahakan boom bab, tp msh blm tercapai retensi. Semoga di bab 40 retensi tercapai...
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Lanjut kak Author ceritanya bagus kok sat set juga penyelesaiannya cepat, Tetap Semangat Jangan Pindah ke Tempat lainnya 🙏
Nasir: Makasih ya Kak... 🙏🙏🙏
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Tetap Semangat Melanjutkan ceritanya bagus tidak bertele2 kakak AUTHOR , ditunggu kelanjutannya ya 🙏
Nasir: Makasih Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
asyikkk...Mahira uda nyuruh Jessi menolak proposal prshn Ziko...kebangkrutan akan Ziko rasakan bgt jg dgn nenek lampir yg sombong 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Ma Em
lama Thor Mahira keluar dari rumah Ziko , entah maunya Mahira apa msh tinggal dirumah Ziko meskipun selalu dihina dan dijadikan babu tiap hari
Nasir: Sabar ya Bun....
total 1 replies
Ma Em
kenapa sih Mahira msh mau bertahan dirumah Ziko dan rela dihina dan diinjak harga dirinya .
Sri Rahayu
Mahira keren...uda dihina, direndahkan tp tetap tenang...nunggu bom waktu yg akan diledakkan nya 🤩🤩🤩...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu: eh salah bukan Ardi tp Ziko...maaf salah sebut nama /Silent/
total 4 replies
Sri Rahayu
jgn tanda tangan proposal dr pershn Ardi...mereka bertiga jahat pd mu Mahira...biarkan saja prshn Ardi kolaps... lanjut Thorr😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!