Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — JANGAN PANGGIL AKU ISTRI
Kehangatan baru yang mekar di antara Naya dan Arka ternyata membawa tantangan tersendiri. Ketika tembok kebencian di antara mereka runtuh, menjaga jarak di depan orang lain mendadak menjadi sepuluh kali lipat lebih sulit daripada sebelumnya.
Senin sore, suasana di rumah keluarga Pradipta sangat tenang. Tante Elena sedang pergi mengajar di kelas memasak alumni universitas, sementara Om Adrian ada pertemuan di kantor cabang luar kota. Rumah dua lantai itu kembali dikuasai penuh oleh dua pengantin remaja tersebut.
Naya sedang duduk berselunjur di atas sofa ruang keluarga, memangku laptop sambil menggarap laporan kelompok mata pelajaran Sosiologi. Di meja kaca depan sofa, tergeletak dua piring kecil berisi camilan pisang goreng dan dua gelas teh hangat.
Arka yang baru selesai mandi melangkah masuk ke ruang keluarga. Cowok itu mengenakan celana kain santai dan kaus polo abu-abu. Tanpa ragu, Arka mendudukkan dirinya di sebelah Naya—begitu dekat hingga paha mereka bersentuhan tipis.
Arka meraih satu pisang goreng, lalu melirik layar laptop Naya. "Analisis perubahan sosialnya masih kurang runtut di paragraf dua, Naya. Poin dampak modernisasinya belum kamu masukkan."
Naya yang sedang mengetik mendadak menghentikan jarinya. Ia memutar kepala, menatap Arka dengan cemberut manja. "Duh, Pak Ketua OSIS, ini kan tugas sosiologi kelas IPS, bukan berkas rapat OSIS! Jangan cerewet deh!"
Naya berniat mengambil gelas tehnya, tetapi tangannya justru menyenggol ujung piring hingga hampir jatuh. Dengan refleks cepat, Arka menahan piring itu.
"Tuh kan, selalu tidak hati-hati," tegur Arka pelan, mengusap lembut jemari Naya yang memegang piring.
Perlakuan manis Arka yang mendadak itu membuat pipi Naya merona hangat. Karena suasana rumah yang sepi dan pikirannya yang dipenuhi rasa nyaman, Naya refleks berucap tanpa berpikir panjang.
"Makasih ya, Suamiku..."
Kata itu meluncur begitu mulus dan alami dari bibir Naya.
Seketika itu juga, suasana di ruang keluarga membeku.
Naya membelalakkan matanya lebar-lebar, menyadari apa yang baru saja terlepas dari mulutnya. Tangannya refleks menutupi bibirnya sendiri.
Arka yang tadinya hendak menyesap teh ikut tersentak kaku. Tangannya melayang di udara dengan cangkir keramik yang tertahan di depan bibir. Manik mata hitamnya menatap Naya dengan binar kaget yang teramat nyata.
"M—maksud gue... aduh!" Naya gagap setengah mati, wajahnya membakar panas sampai ke ujung telinga. "Gue... gue typo ngomong! Maksud gue tadi—"
Arka meletakkan cangkirnya kembali ke meja kaca dengan dentuman pelan. Wajahnya yang sempat merona tipis dengan cepat berubah menjadi sangat serius. Laki-laki itu menegakkan posisi duduknya, menatap Naya lurus-lurus dengan tatapan mata yang dalam dan tegas.
"Naya," suara Arka terdengar sangat rendah dan teratur. "Jangan pernah membiasakan memanggil saya dengan sebutan seperti itu. Bahkan saat kita cuma berdua di rumah."
Naya yang tadinya merasa malu luar biasa mendadak merasa dadanya tersengat oleh perubahan nada bicara Arka yang begitu cepat. Rasa gengsinya yang biasanya tinggi kembali terusik.
"Ngapain sih lo tegang banget?!" sembur Naya kesal, menyilangkan tangan di dada dan membuang muka. "Cuma salah ucap di rumah sendiri ini! Tante Elena sama Om Adrian juga lagi nggak ada di rumah! Kenapa sih lo harus selalu seserius ini?!"
"Karena kebiasaan di rumah bisa terbawa refleks ke sekolah, Naya," tegas Arka tanpa kompromi. Laki-laki itu melangkah mengikis jarak, menatap mata bulat Naya yang menyiratkan kekesalan. "Kamu pikir apa yang akan terjadi kalau kamu tidak sengaja memanggil saya seperti itu di depan Saskia, Reno, atau Pak Danu di koridor sekolah?"
Naya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mengalihkan pandangannya ke layar laptop. "Ya kan bisa dibilang becanda..."
"Tidak ada orang yang menganggap sebutan 'Suami' di umur kita sebagai bercandaan biasa, Naya," potong Arka cepat, nadanya merendah namun amat menekan. "Kalau sampai rahasia pernikahan kita terbongkar di sekolah sekarang, dampaknya bukan cuma kita dipanggil ke ruang Kepala Sekolah. Kamu bisa dikeluarkan, nama baik orang tua kita tercoreng, dan seluruh kehidupan sekolah kita bakal hancur."
Kata-kata Arka dijatuhkan dengan penekanan logis yang teramat pekat.
Naya menelan ludah kasar. Suasana panas di dadanya perlahan runtuh, digantikan oleh pemahaman pahit akan kenyataan yang mereka hadapi. Naya menundukkan kepalanya, meremas ujung kaus piyamanya. Ia tahu Arka benar. Kenyataan bahwa mereka adalah suami-istri sah secara hukum di usia SMA tetaplah sebuah rahasia besar yang teramat berbahaya jika tersingkap ke publik.
Arka yang melihat Naya mendadak diam dan menunduk lesu menghembuskan napas panjang. Raut kaku di wajah sang Ketua OSIS perlahan melunak.
Arka mengulurkan tangannya, dengan lembut menyentuh dagu Naya dan mengangkat wajah cewek itu pelan agar mata mereka kembali bertatapan.
"Saya tidak bermaksud memarahi kamu," kata Arka dengan suara yang berubah menjadi sangat lembut dan tulus. "Saya cuma ingin melindungi kamu. Dan melindungi hubungan kita."
Melindungi hubungan kita.
Frasa itu menghantam dada Naya dengan kehangatan yang dahsyat. Naya menatap manik mata hitam Arka yang memancarkan rasa protektif yang jujur.
"Gue paham..." bisik Naya pelan, matanya berkaca-kaca tipis. "Maaf ya... gue emang suka kelepasan."
Arka menyunggingkan senyum tipis nan tampan di bibirnya. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Naya yang hangat. "Makanya, kita harus buat aturan baru. Lebih ketat dari perjanjian kertas yang dulu."
"Aturan baru apa lagi, Pak Ketua?" tanya Naya dengan senyum tipis yang kembali terbit.
Arka menarik duduknya sedikit, menatap Naya dengan raut penuh pertimbangan. "Pertama, tidak boleh ada panggilan khusus atau frasa intim di tempat umum, maupun di rumah kalau tidak dalam kondisi benar-benar aman."
"Oke, setuju," sahut Naya.
"Kedua, di sekolah, jarak kita harus tetap seperti biasa. Tidak boleh jalan berduaan di koridor kalau tidak ada alasan urusan OSIS atau kelas," lanjut Arka.
"Iya, iya, paham."
"Dan ketiga..." Arka jeda sejenak, menatap Naya dengan binar mata yang sarat akan makna tersembunyi, "...tidak boleh membuat siapa pun curiga, termasuk teman-teman terdekat kamu."
Naya mengangguk-angguk mantap. "Siap! Tenang aja, gue ini jago akting kok!"
Namun, teori selalu jauh lebih mudah daripada praktik.
Baru saja aturan baru itu disepakati sore harinya, keesokan harinya di sekolah, aturan-aturan tersebut justru menjelma menjadi ujian paling menyiksa bagi mereka berdua.
Saat jam istirahat pertama di kantin sekolah yang ramai, Naya sedang berdiri di antrean soto ayam bersama Saskia. Tiba-tiba, Arka melintas di koridor luar kantin bersama Dito.
Mata Naya dan Arka bertabrakan secara tidak sengaja di udara.
Bukannya bersikap dingin atau membuang muka seperti biasanya, Arka justru refleks menghentikan langkahnya sebentar, memberikan tatapan lembut dan anggukan pelan nan hangat ke arah Naya—sebuah tatapan yang teramat jelas bukan tatapan antar Ketua OSIS dan siswi biasa.
Naya yang melihat tatapan itu mendadak tersedak ludahnya sendiri, wajahnya merona merah padam dalam sekejap. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke panci soto dengan jantung yang berdebar liar.
Di seberang koridor, Dito menyenggol lengan Arka sambil menahan tawa renyah. "Pak Ketua... aturan tidak boleh terlihat terlalu dekatnya mana tuh? Mata lo hampir lepas ngeliatin Naya."
Arka berdeham keras dengan raut salah tingkah, buru-buru melangkah cepat menjauhi kantin.
Di saat yang sama, Saskia yang berdiri di sebelah Naya menyipitkan matanya curiga, menatap Naya dan Arka secara bergantian. "Nay... kok muka lo merah banget? Terus tadi Arka ngapain ngeliatin lo kayak gitu?"
Naya membelalakkan matanya panik. Mampus! Aturan baru baru dibuat semalam, tapi harinya baru mulai udah mau hancur aja!
"G—gak ada apa-apa! Ini kuah soto uapnya panas banget!" elak Naya gelagapan, meraba dadanya yang berdegup kencang.
Di balik aturan kaku dan janji untuk saling menjaga rahasia, Naya dan Arka mulai menyadari satu hal: ketika hati sudah saling memiliki, berpura-pura menjadi asing di depan dunia ternyata merupakan hal paling rumit yang harus mereka jalani.