Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 Turis Selalu Melihat ke Atas
Kalau kalian ingin mencari turis...
Tidak sulit.
Kalian tidak perlu membuka peta.
Tidak perlu bertanya pada polisi.
Cukup cari orang yang berjalan sambil mendongak.
Kemungkinan besar...
Itu turis.
Aku berdiri di depan stasiun Saint-Michel sambil mengangkat beberapa koran.
"Le Monde! Le Figaro!"
"Berita pagi!"
"Berita terbaru!"
Tak sampai satu menit, seorang pria berambut pirang menghampiriku.
"English?"
Aku mengangguk.
"Little."
"Do you have today's newspaper?"
Aku mengangkat satu koran.
"Fresh."
"Printed this morning."
"Probably warmer than my breakfast."
Pria itu tertawa kecil.
Ia menyerahkan lima euro.
Aku memberinya koran.
Lalu...
Aku menatap uang itu.
Lima euro.
── Maël kepada kalian ──
Kalau kalian kaya...
Lima euro mungkin cuma harga kopi.
Kalau kalian sepertiku...
Lima euro adalah alasan untuk tersenyum sepanjang pagi.
── Kembali ke cerita ──
"Merci."
Kataku.
Pria itu melambai sebelum pergi.
Aku memasukkan uang itu ke dalam saku sambil bersiul pelan.
Belum sampai lima langkah...
Seseorang merangkul leherku dari belakang.
"Salut, voleur."
Halo, pencopet.
Aku tidak perlu menoleh.
"Halo juga, tikus got."
Orang itu tertawa keras.
Namanya Léo.
Usianya hampir sama denganku.
Tubuhnya lebih pendek.
Mulutnya lebih berisik.
Dan rambutnya...
Aku yakin sudah bertahun-tahun tidak mengenal sisir.
"Kau jual berapa?"
"Tiga."
"Baru?"
"Baru."
Léo mendesah dramatis.
"Aku kalah."
"Kau memang selalu kalah."
"Hei."
Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Aku pelanggan tetap polisi."
"Kau bangga?"
"Sedikit."
Aku memukul pelan bahunya.
Léo tertawa.
"Ayo."
"Kemana?"
"Lihat."
Ia menunjuk ke arah trotoar.
Sebuah rombongan wisata baru saja turun dari bus.
Sekitar tiga puluh orang.
Semuanya membawa kamera.
Topi.
Tas selempang.
Dan...
Peta.
Banyak sekali peta.
Léo tersenyum seperti anak kecil melihat toko permen.
"Buffet."
Katanya.
Aku menggeleng.
"Itu manusia."
"Buffet manusia."
"Tetap manusia."
Ia menyenggol lenganku.
"Lihat yang pakai topi merah."
Aku mengikuti arah jarinya.
Seorang pria setengah baya sibuk memotret bangunan tua.
Tasnya terbuka.
Dompetnya terlihat jelas.
"Cuma sekali."
Bisik Léo.
Aku menggeleng.
"Aku masih jualan."
"Sebentar saja."
"Non."
"Satu dompet."
"Non."
"Setengah dompet?"
Aku menoleh.
"Memangnya dompet bisa dibelah?"
Léo berpikir beberapa detik.
"Masuk akal."
Aku menggeleng sambil tertawa.
Kadang aku heran.
Bagaimana anak ini bisa bertahan hidup dengan otak seperti itu.
Seekor merpati tiba-tiba hinggap di dekat kakiku.
Ia menatap croissant yang sedang dimakan seorang turis.
Aku ikut menatap.
Merpati itu menoleh kepadaku.
Aku menoleh kepadanya.
Kami saling diam.
── Maël kepada kalian ──
Merpati Paris itu sombong.
Serius.
Mereka tidak takut manusia.
Malah kadang mereka seperti sedang menilai kita.
Yang membedakan kami cuma satu.
Kalau aku mencuri roti...
Polisi mengejarku.
Kalau merpati mencuri roti...
Orang-orang bilang,
"Awww... lucunya."
Hidup memang tidak adil.
── Kembali ke cerita ──
Tiba-tiba...
Plak!
Merpati itu terbang.
Croissant milik turis tadi ikut melayang.
"Astaga!"
Teriak si turis.
Merpati itu mendarat di lampu jalan sambil membawa setengah croissant di paruhnya.
Aku menunjuk ke atas.
"Itu dia pelakunya."
Turis itu ikut melihat.
"Can you catch it?"
Aku mengangkat bahu.
"Sir..."
"Itu merpati."
"Bukan Pokémon."
Léo langsung tertawa sampai membungkuk.
Bahkan turis itu akhirnya ikut tertawa.
"Paris is crazy."
Katanya.
Aku mengangguk mantap.
"No."
"Paris is Paris."
Belum sempat tawa kami reda...
Dari kejauhan terdengar suara peluit panjang.
Piiiiiit!
Léo langsung menegang.
"Itu..."
Aku mengangguk.
"Polisi."
"Kenapa mereka ke sini?"
Aku belum sempat menjawab.
Seorang anak kecil berlari sekencang mungkin melewati kami.
Di tangannya ada sebuah tas wanita.
Di belakangnya, seorang perempuan berteriak panik.
"Au voleur! Au voleur!"
"Pencuri!"
Seluruh jalan mendadak gempar.
Anak itu berlari ke arah gang sempit.
Dua polisi mengejarnya.
Dan tanpa sengaja...
Anak itu menabrak bahuku hingga tumpukan koranku berhamburan ke jalan.
"Aduh!"
"Maaf!"
Teriaknya tanpa berhenti.
Koran-koranku beterbangan.
Beberapa jatuh ke jalan.
Beberapa diinjak orang.
Sementara si pencuri sudah menghilang di tikungan.
Aku hanya bisa memandangi koran-koran yang kini berserakan.
Léo menatapku.
Aku menatap Léo.
Lalu aku menghela napas panjang.
"Hari ini..."
Kataku pelan.
"...baru jam sembilan."
Koran-koranku beterbangan ke mana-mana.
Satu masuk ke genangan air.
Dua tersangkut di roda sepeda.
Sisanya...
Ya, sisanya sedang diinjak-injak orang yang bahkan tidak sadar mereka baru saja menginjak berita pagi.
Aku memejamkan mata.
Menarik napas.
Menghembuskannya perlahan.
"Baik..."
kataku pelan.
"Jangan marah."
Léo mengangguk.
"Iya."
"Jangan emosi."
"Iya."
"Tarik napas."
"Iya."
Aku membuka mata.
"Lalu..."
Aku menunjuk koran yang sudah basah.
"...siapa yang mau ganti rugi?"
Léo langsung tertawa sampai memegang perut.
"Itu baru Maël yang kukenal."
Aku berjongkok memunguti koran satu per satu.
Masih bisa dijual?
Sebagian.
Sebagian lagi...
Lebih cocok dijadikan alas tidur malam nanti.
Seorang pria tua berhenti di depanku.
"Ini punyamu?"
Ia menyerahkan satu koran yang hampir terbang tertiup angin.
"Merci."
kataku sambil menerimanya.
Pria itu tersenyum kecil lalu melanjutkan jalannya.
── Maël kepada kalian ──
Orang sering bilang kota besar itu kejam.
Tidak salah.
Tapi tidak sepenuhnya benar juga.
Kadang...
Kebaikan itu masih ada.
Hanya saja bentuknya kecil.
Mengembalikan koran.
Membukakan pintu.
Atau sekadar tersenyum kepada orang asing.
Jangan meremehkan hal-hal kecil.
Orang sepertiku bisa bertahan hidup karenanya.
── Kembali ke cerita ──
"Maël."
Suara Léo berubah serius.
Aku menoleh.
"Anak tadi."
"Hm?"
"Dia bukan anak kelompok Pont Neuf."
Aku berhenti.
"Maksudmu?"
"Aku belum pernah melihatnya."
Aku ikut memandang ke arah gang tempat anak itu menghilang.
Kalau benar begitu...
Artinya ada kelompok baru.
Dan itu bukan kabar baik.
Di jalanan Paris ada aturan yang tidak pernah ditulis.
Setiap jembatan.
Setiap stasiun.
Setiap sudut.
Selalu ada yang menjaga.
Bukan polisi.
Anak jalanan.
Kalau ada orang baru masuk wilayah tanpa izin...
Biasanya akan terjadi keributan.
"Umurnya masih kecil."
gumamku.
"Paling sebelas."
Léo mengangguk.
"Makanya aneh."
Kami saling berpandangan.
Tanpa banyak bicara...
Kami langsung berlari ke arah gang sempit itu.
"Hei!"
teriakku.
"Tunggu!"
Gang itu jauh lebih sepi dibanding jalan utama.
Dinding-dinding batu tua dipenuhi coretan.
Tempat sampah berjejer di sisi kiri.
Seekor kucing hitam melompat kaget ketika kami lewat.
Di ujung gang...
Kami mendengar suara.
"Kasih sini!"
"Kataku kasih!"
"Jangan!"
Aku mempercepat langkah.
Belok.
Lalu berhenti mendadak.
Tiga remaja yang lebih tua mengepung anak kecil tadi.
Tas curian itu sudah berada di tanah.
Salah satu dari mereka menendang perut si anak hingga ia jatuh terduduk.
"Aku yang ambil!"
teriak anak itu.
"Itu hasilku!"
"Hasilmu?"
Seorang remaja bertubuh besar tertawa sinis.
"Di jalanan tidak ada kata 'hasilmu'."
"Yang kuat yang makan."
Aku mengepalkan tangan.
Léo berbisik pelan.
"Jangan."
"Mereka bertiga."
"Aku bisa menghitung."
"Mereka juga lebih besar."
"Aku juga bisa melihat."
Léo menarik lenganku.
"Maël."
"Apa?"
"Kita bukan polisi."
Aku menatap anak kecil itu.
Wajahnya kotor.
Bibirnya berdarah.
Tetapi ia masih berusaha melindungi tas itu dengan tubuhnya.
Entah kenapa...
Aku melihat diriku sendiri beberapa tahun lalu.
Sendirian.
Kelaparan.
Tidak ada yang membela.
Aku menghela napas panjang.
"Ya ampun..."
gumamku.
"Aku benci kalau hati nuraniku sedang rajin bekerja."
Léo memukul dahinya sendiri.
"Aku tahu kau bakal bilang begitu."
Aku menyerahkan tumpukan koran kepadanya.
"Tolong pegang."
"Buat apa?"
"Kalau rusak lagi..."
Madame Colette bisa membunuhku.
"Terus kau?"
Aku menggulung satu koran hingga padat seperti tongkat.
"Sedikit negosiasi."
Léo menatap koran di tanganku.
"Itu senjata?"
"Bukan."
"Terus?"
"Alat komunikasi."
Dengan santai aku melangkah mendekati ketiga remaja itu.
"Bonjour, messieurs."
Sapaku sambil tersenyum lebar.
Ketiganya menoleh bersamaan.
Remaja bertubuh paling besar mengernyit.
"Apa maumu?"
Aku melihat tas di tanah.
Lalu melihat anak kecil yang masih meringis kesakitan.
Kemudian kembali menatap mereka.
"Maaf mengganggu."
kataku ramah.
"Tapi..."
Aku mengangkat gulungan koran di bahu.
"...kalian mau beli koran?"
Mereka bertiga terdiam.
Léo menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Astaga..."
bisiknya.
"Dia benar-benar menawari preman beli koran."
Aku tersenyum polos.
"Diskon kalau beli tiga."
Suasana hening.
Lalu...
Remaja bertubuh besar itu melangkah mendekat.
Ia tersenyum tipis.
"Oh..."
katanya pelan.
"Berarti kau ingin ikut campur."
Aku masih tersenyum.
"Kalau boleh jujur..."
Aku melirik ke arah pembaca.
── Maël kepada kalian ──
Ini bagian yang biasanya tidak kusukai.
Karena setelah ini...
Biasanya ada yang pulang dengan hidung berdarah.
Dan anehnya...
Sering kali itu aku.
── Kembali ke cerita ──
Remaja itu mengepalkan tinjunya.
Aku menggenggam gulungan koranku lebih erat.
Gang sempit itu mendadak terasa sunyi.
Dan untuk pertama kalinya hari itu...
Aku sadar.
Mungkin menjual koran jauh lebih aman daripada membuka mulut.
Remaja bertubuh besar itu memutar lehernya hingga terdengar bunyi krek.
"Kau lucu."
katanya.
"Terima kasih."
jawabku santai.
"Ibuku juga bilang begitu."
Léo berdeham pelan dari belakang.
"Maël..."
"Apa?"
"Ibumu bahkan belum pernah bertemu orang itu."
"Oh iya."
Aku mengangguk.
"Berarti itu pendapatku sendiri."
Ketiga remaja itu saling berpandangan.
Yang paling kurus mulai kehilangan kesabaran.
"Boss..."
bisiknya.
"Dia mengejek kita."
"Sudah kuduga."
jawab si bertubuh besar.
Aku mengangkat telapak tangan.
"Sebentar."
"Apa lagi?"
"Kalian beli korannya dulu."
"Tidak."
"Yakin?"
"Tidak."
"Sayang sekali."
Aku menghela napas dramatis.
"Padahal halaman depannya menarik."
"Apa isinya?"
Aku membuka koran yang masih kugulung.
Kubaca keras-keras.
"Tiga orang bertubuh besar gagal menakuti seorang penjual koran."
Léo langsung membalikkan badan.
Bahunya berguncang.
Aku tahu.
Dia sedang berusaha keras agar tidak tertawa.
"Kurang ajar."
geram salah satu dari mereka.
Aku tersenyum.
"Terima kasih."
"Aku belum selesai."
"Aku juga."
Belum sempat remaja itu mendekat...
Suara peluit polisi terdengar lagi dari jalan utama.
Piiiiit!
Ketiga remaja itu langsung menoleh.
Insting.
Di jalanan, suara peluit polisi lebih ampuh daripada alarm kebakaran.
Aku memanfaatkan momen itu.
"Eh..."
kataku sambil menunjuk ke belakang mereka.
"Bukannya itu polisi?"
Mereka spontan menoleh.
Aku langsung berteriak sekuat tenaga.
"Monsieur l'agent! Ici!"
"Pak Polisi! Di sini!"
Suara langkah kaki memang terdengar dari arah jalan utama.
Belum tentu menuju gang ini.
Tapi siapa peduli?
Yang penting mereka percaya.
"Woi!"
teriak si bertubuh besar.
"Lari!"
Dalam hitungan detik...
Ketiganya kabur seperti tikus melihat sapu.
Aku berdiri mematung.
Léo keluar dari belakang tempat sampah sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Serius?"
"Apa?"
"Itu trik paling tua sedunia."
"Tapi berhasil."
"Iya..."
Ia mendesah.
"Itulah yang membuatku kesal."
Aku menyeringai.
"Kadang otak lebih murah daripada otot."
Léo menunjuk kepalaku.
"Kalau begitu kenapa isi kepalamu tetap kosong?"
"Itu supaya angin bisa lewat."
"Kau memang tidak bisa diselamatkan."
Aku tertawa.
Anak kecil tadi masih terduduk di tanah.
Ia menatap kami dengan wajah bingung.
"Sudah aman."
kataku sambil mengulurkan tangan.
"Ayo berdiri."
Anak itu ragu beberapa detik sebelum menerima uluran tanganku.
Tangannya dingin.
Sangat dingin.
"Kau tidak apa-apa?"
Ia mengangguk pelan.
"Bohong."
kataku.
"Bibirmu berdarah."
Ia buru-buru mengusap darah di sudut bibirnya menggunakan lengan baju.
"Aku baik."
Aku mengenal jawaban itu.
Semua anak jalanan selalu menjawab begitu.
"Aku baik."
Padahal sering kali...
Kami bahkan lupa rasanya benar-benar baik.
"Namamu siapa?"
Ia menunduk.
"Éli."
"Éli?"
Ia mengangguk.
"Sudah berapa lama di jalan?"
"Dua minggu."
Aku dan Léo saling berpandangan.
Dua minggu.
Pantas saja.
Masih terlalu bersih.
Masih terlalu jujur.
Masih terlalu percaya bahwa dunia akan bersikap adil.
Aku mengambil tas wanita yang tadi diperebutkan.
Masih utuh.
Belum dibuka.
"Kau mengambil ini?"
Éli mengangguk.
"Kenapa?"
Ia terdiam.
Lama sekali.
Sampai akhirnya terdengar suara lirih.
"Adikku sakit."
Aku tidak langsung menjawab.
"Ayah?"
"Tidak ada."
"Ibu?"
"Bekerja."
"Di mana?"
Ia menggeleng.
"Tidak tahu."
Aku menghela napas pelan.
Paris memang kota besar.
Tapi kota sebesar apa pun tetap bisa membuat seseorang kehilangan keluarganya.
Léo mendekat.
"Jadi sekarang bagaimana?"
Aku melihat tas itu.
Lalu melihat Éli.
Kemudian menatap jalan utama.
Di kejauhan, perempuan pemilik tas masih terlihat panik ditemani dua polisi.
Aku menutup mata beberapa detik.
"Kalau tas ini kita kembalikan..."
gumamku.
"Dia tidak dapat uang."
"Iya."
"Kalau tidak dikembalikan..."
"Orang itu kehilangan semuanya."
"Iya."
Léo menepuk bahuku.
"Selamat."
"Apa?"
"Kau baru saja bertemu masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan bercanda."
Aku tertawa kecil.
"Iya..."
Untuk pertama kalinya pagi itu...
Aku tidak punya jawaban.
Aku memegang tas itu lebih erat.
Lalu perlahan menoleh ke arah kalian.
── Maël kepada kalian ──
Kalian pernah berada di posisi seperti ini?
Memilih yang benar...
Tapi membuat seseorang kelaparan.
Atau memilih yang salah...
Demi menyelamatkan seseorang yang kalian kenal.
Kalau kalian jadi aku...
Apa yang akan kalian pilih?
Sayangnya...
Di jalanan, kita tidak punya banyak waktu untuk berpikir.
Dan keputusan yang kuambil beberapa detik setelah ini...
Akan mengubah hidupku selamanya.
── Kembali ke cerita ──
Aku menarik napas dalam.
"Éli..."
kataku pelan.
"Ikut aku."
Anak itu mengangkat kepalanya.
"Ke mana?"
Aku tersenyum tipis.
"Mengembalikan tas."
Léo langsung mengangkat alis.
"Dan setelah itu?"
Aku menatapnya sambil tersenyum jahil.
"Setelah itu..."
"...kita cari cara mendapatkan makan siang yang tidak membuat polisi mengejar kita."
"Untuk sekali ini saja."
Léo terkekeh.
"Itu terdengar jauh lebih sulit daripada mencopet."
Aku mengangkat bahu.
"Makanya seru."
Matahari mulai naik lebih tinggi.
Dan tanpa kusadari...
Hari biasa itu baru saja berubah menjadi awal dari petualangan yang tidak pernah kubayangkan.
Éli menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil.
"Mengembalikan... tasnya?"
Aku mengangguk.
"Iya."
"Tapi..."
Ia menelan ludah.
"Aku lapar."
Kalimat itu membuatku diam beberapa detik.
Lapar.
Bukan karena rakus.
Bukan karena manja.
Benar-benar lapar.
Aku merogoh sakuku.
Dua euro.
Lima puluh sen.
Kalau kuberikan semuanya...
Aku juga tidak akan makan siang.
Léo memperhatikan wajahku, lalu langsung menghela napas panjang.
"Oh, jangan."
"Apa?"
"Jangan pakai wajah itu."
"Wajah apa?"
"Wajah 'aku akan melakukan sesuatu yang bodoh'."
Aku pura-pura berpikir.
"Loh?"
"Aku memang punya wajah begitu?"
"Sayangnya iya."
Aku tertawa kecil.
Kemudian kuselipkan dua euro itu ke tangan Éli.
"Belok kiri dari gang ini."
"Ada boulangerie."
"Beli roti."
"Jangan permen."
"Jangan soda."
"Roti."
Éli menatap uang itu bergantian dengan wajahku.
"Kau... yakin?"
"Kalau tidak yakin, uangnya sudah kutarik lagi."
Ia menggenggam uang itu erat-erat.
Matanya mulai memerah.
"Merci..."
"Sudah."
Aku mengibaskan tangan.
"Jangan menangis."
"Aku tidak pandai menghadapi orang yang menangis."
Léo menyenggol bahuku.
"Kau juga tidak pandai menghadapi polisi."
"Itu benar."
"Jadi hari ini kau lengkap."
Aku terkekeh.
Éli berlari kecil menuju ujung gang.
Beberapa langkah kemudian ia berhenti.
Menoleh.
"Lalu tasnya?"
Aku mengangkat tas wanita itu.
"Serahkan padaku."
Ia mengangguk sebelum kembali berlari.
Aku memperhatikan punggung kecilnya sampai menghilang di tikungan.
── Maël kepada kalian ──
Kalian tahu kenapa anak-anak jalanan sering berlari?
Bukan karena kami suka olahraga.
Kami hanya terbiasa hidup dengan satu aturan.
Kalau ada kesempatan...
Lari.
Kalau ada masalah...
Lari.
Kalau ada polisi...
Lari lebih cepat.
── Kembali ke cerita ──
Aku dan Léo keluar dari gang.
Jalan utama masih ramai.
Perempuan pemilik tas berdiri di dekat halte sambil berbicara dengan dua polisi.
Wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
"Aku tidak suka ini."
gumam Léo.
"Aku juga."
"Kalau mereka melihat kita..."
"Mereka akan mengira kita pelakunya."
Aku mengangguk pelan.
"Itulah sebabnya kita tidak boleh mendekat."
Léo mengernyit.
"Terus?"
"Kita buat mereka mendekat."
"Hah?"
Aku tersenyum.
"Percaya padaku."
"Itu justru yang kutakutkan."
Aku mengabaikannya.
Di trotoar seberang jalan berdiri seorang petugas kebersihan kota yang sedang menyapu daun-daun kering.
Aku menghampirinya.
"Bonjour, Monsieur."
Pria itu menoleh.
"Bonjour."
Aku mengangkat tas di tanganku.
"Maaf mengganggu."
"Aku menemukan tas ini."
Ia melihat logo kecil di tas itu.
Lalu memandang perempuan yang masih panik di seberang jalan.
"Itu miliknya?"
"Kurasa begitu."
Pria itu mengangguk.
"Tunggu di sini."
"Tidak."
jawabku cepat.
Ia mengernyit.
"Kenapa?"
Aku menggaruk tengkuk.
"Kalau polisi melihatku memegang tas ini..."
"...aku harus menjelaskan banyak hal."
Pria itu menatap pakaianku.
Sepatu lusuh.
Jaket usang.
Topi yang warnanya sudah sulit ditebak.
Lalu ia tersenyum kecil.
"Aku mengerti."
Ia benar-benar mengerti.
Tanpa bertanya macam-macam, pria itu membawa tas tersebut menyeberang jalan.
Aku dan Léo hanya berdiri dari kejauhan.
Perempuan itu langsung memeluk tasnya begitu tas itu diserahkan.
Ia berkali-kali mengucapkan,
"Merci... merci beaucoup..."
Salah satu polisi mulai bertanya kepada petugas kebersihan itu.
Petugas itu menunjuk...
Ke arah kami.
Léo langsung menoleh.
"Dia nunjuk kita."
"Iya."
"Maël."
"Apa?"
"Aku punya firasat buruk."
"Tenang."
"Bagaimana aku bisa tenang?"
"Karena..."
Aku tersenyum tipis.
"...kalau kita lari sekarang, kita benar-benar terlihat bersalah."
Léo memejamkan mata.
"Mengapa aku berteman denganmu?"
"Karena aku tampan."
"Bukan."
"Karena aku baik."
"Juga bukan."
Aku berpikir beberapa detik.
"Karena aku sering traktir."
"Itu lebih masuk akal."
Aku baru saja hendak tertawa ketika kedua polisi itu mulai berjalan ke arah kami.
Langkah mereka tenang.
Tidak tergesa-gesa.
Justru itu yang membuat jantungku berdebar.
Aku menelan ludah.
Di jalanan Paris ada satu hal yang selalu membuatku gugup.
Bukan suara sirene.
Bukan borgol.
Melainkan polisi yang berjalan sambil tersenyum.
Karena biasanya...
Mereka sudah yakin akan menang.
── Maël kepada kalian ──
Kalian pernah merasa jantung berdebar hanya karena seseorang berjalan ke arah kalian?
Kalau belum...
Bagus.
Semoga kalian tidak pernah mengalaminya.
Karena saat itu terjadi, kalian akan sadar...
Bahwa kadang rasa takut tidak datang sambil berteriak.
Ia datang dengan langkah yang pelan.
Dan pagi itu...
Rasa takut sedang memakai seragam polisi.