NovelToon NovelToon
Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Status: tamat
Genre:Evolusi dan Mutasi / Reinkarnasi / Action / Zombie / Hari Kiamat / Antagonis / Tamat
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: mamang to get her....

"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."

Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.

Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 Serangga Di Terowongan Bawah Tanah

Malam kian larut, menyelimuti kawasan lereng pegunungan dengan kegelapan yang pekat dan dingin. Di tengah rerimbunan semak belukar yang basah oleh embun, Shido Koichi memimpin sisa-sisa kelompok SMA Fujimi merayap menuju sebuah lubang terowongan tua yang tertutup akar-akar pohon liar.

Terowongan drainase tua itu berbau tembaga dan lumpur membusuk. Air dangkal setinggi mata kaki mengalir lambat, membawa aura dingin yang membekukan jemari kaki mereka.

"Pelan-pelan..." bisik Shido dengan nada gemetar penuh ambisi yang gila. Matanya menyala dalam kegelapan. "Sesuai peta drainase kawasan ini, saluran air ini terhubung langsung dengan sistem pembuangan limbah sekunder di bagian basement bawah bentengnya."

Takashi Komuro berjalan tepat di belakang Shido, memapah Rei Miyamoto yang badannya makin membara karena demam tinggi. Di belakang mereka, Saya Takagi dan Kohta Hirano melangkah dengan napas terengah-engah. Rasa lapar yang melilit perut dan bayangan akan makanan hangat di dalam benteng Thomas menjadi satu-satunya bahan bakar yang membuat kaki-kaki lemas mereka tetap melangkah.

"Kalau pria itu terbangun bagaimana, Takashi?" bisik Saya cemas, meraba kacamata retaknya. "Dia... dia bukan manusia biasa. Kau lihat sendiri bagaimana dia membunuh beruang raksasa itu!"

"Dia cuma satu orang!" gertak Takashi, berusaha menguatkan hatinya sendiri meskipun dadanya berdegup kencang karena takut. "Dia pasti sedang tidur nyenyak di atas kasur empuknya. Kita cuma butuh masuk, mengambil makanan dan obat-obatan, lalu mengunci salah satu ruangan untuk tempat kita bertahan!"

Mereka tidak tahu betapa lugunya pemikiran tersebut.

Di dalam ruang kontrol utama Fortress Mansion, Thomas berdiri santai di depan konsol utama dengan cangkir kopi panas di tangannya.

Ia bahkan tidak perlu melihat layar monitor secara terus-menerus. Sistem pemindai sonar dan tekanan hidro-sensorik di sepanjang saluran drainase bawah tanah benteng telah mendeteksi gelombang riak air yang tidak wajar sejak sepuluh menit yang lalu.

BZZZT...

Layar monitor seketika menampilkan grafik termal merah bergerak lambat di dalam saluran pipa drainase bawah tanah. Tepat berada di bawah area garasi sekunder.

"Menyerusup lewat terowongan air tua?" Thomas menggelengkan kepala pelan dengan senyum sinis yang mengembang di balik cangkir kopinya. "Taktik tikus got yang sangat tebak-tebakan."

Thomas tidak menyalakan sirine peringatan. Ia tidak memicu perangkap pemotong otomatis yang terpasang di pipa.

Bagi Thomas yang kini memiliki Evolusi Tier 2 Puncak dengan Regenerasi Abadi dan Exoskeleton Chitin, sistem pertahanan mekanis benteng terasa terlalu membosankan. Ini adalah kesempatan sempurna untuk menguji dominasi mutlak fisiknya secara langsung terhadap mereka yang masih berpegang teguh pada prasangka dunia lama.

Ia mengendurkan lehernya hingga terdengar bunyi berderak tipis: KRAK.

Tanpa membawa senjata api, tanpa baju zirah Kevlar, Thomas hanya mengenakan celana taktis hitam dan kaus tanpa lengan. Ia berjalan santai menuruni tangga spiral menuju lorong pembuangan basement.

KLIK... KRAAK.

Di ujung terowongan lumpur, Shido berhasil memotong kawat kisi-kisi pembuangan tua dengan pemotong besi karat yang ia temukan di jalan. Pintu kisi-kisi itu terbuka, memperlihatkan lorong basement benteng yang bersih, terang oleh lampu darurat redup, dan hangat.

"Berhasil..." cicit Shido dengan tawa tertahan yang hampir histeris. "Kita berhasil masuk!"

Shido merangkak keluar lebih dulu, disikuti oleh Takashi, Rei, Saya, dan Kohta. Mereka mendarat di atas lantai beton basement yang kering. Aroma udara bersih tanpa bau busuk kiamat seketika memenuhi paru-paru mereka, membuat mereka terpana.

"Makanan... pasti ada dapur di sekitar sini," bisik Kohta dengan mata berbinar-binar, air liurnya hampir menetes.

Namun, sebelum mereka sempat melangkah satu sentimeter pun ke arah koridor utama, sebuah suara langkah kaki yang teratur dan tenang menggema dari balik kegelapan lorong depan.

TAP... TAP... TAP...

Langkah kaki itu begitu stabil, berirama, dan memancarkan tekanan aura yang membuat udara hangat di dalam ruangan mendadak terasa membeku.

Kelompok itu membeku kaku. Takashi pasang kuda-kuda, mengacungkan tombak kayu tumpulnya dengan tangan gemetar hebat.

Dari balik bayang-bayang pilar beton, sosok Thomas muncul perlahan.

Ia tidak membawa senjata apa pun di tangannya. Dada dan tangannya yang berotot padat terpampang jelas. Matanya yang hitam pekat menatap kelima orang itu bagaikan seorang raja yang sedang memandangi sekumpulan kecoak yang mengotori ubin istananya.

"Selamat datang di tempat pemotongan hewan," bisik Thomas dingin, suaranya bergema halus namun menusuk hingga ke tulang sumsum mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!