Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Killian tidak banyak bicara. Dengan wajah datar, ia mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Jemarinya bergerak cepat membuka sebuah folder, lalu memilih satu video. Ia menggeser ponsel itu ke tengah meja.
"Kalau masih menganggap aku sedang menghasutmu, lihat saja sendiri," kata Killian.
Vivienne menatap layar ponsel itu tanpa berkedip. Jantungnya berdegup semakin cepat. Entah mengapa, tiba-tiba ia merasa takut melihat apa yang akan ditampilkan.
Killian menekan tombol putar. Video itu pun mulai berjalan. Layar memperlihatkan area parkiran bawah tanah sebuah gedung studio, lalu terlihat ada sosok yang sangat dikenalnya berjalan dengan seorang wanita.
Dominic, suaminya. Pria yang selama ini selalu pulang membawa senyum hangat untuknya. Pria yang selalu menggenggam tangannya ketika ia menangis kehilangan dua calon buah hati mereka. Namun kini, dia tidak sendirian. Di sampingnya berjalan seorang wanita bergaun merah dengan tubuh tinggi semampai. Rambut panjangnya tergerai indah, sementara wajah cantiknya begitu mudah dikenali.
Giselle Moreau. Supermodel internasional yang hampir setiap hari menghiasi majalah dan papan iklan.
Keduanya berjalan berdampingan. Tangan mereka saling menggenggam dengan begitu akrab. Sesekali Giselle menatap Dominic sambil tersenyum manis.
Dominic membalas senyuman itu. Tatapan mereka dipenuhi kehangatan yang tidak mungkin dimiliki oleh dua orang yang hanya sekadar teman.
Vivienne langsung membekap mulutnya. Matanya membelalak.
"Ti-tidak!"
Suara Vivienne bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menggeleng pelan, seolah berharap apa yang sedang dilihatnya hanyalah ilusi.
"Ini pasti ...." Kalimatnya terhenti. Tak ada lagi alasan yang mampu ia gunakan untuk menyangkal kenyataan di depan matanya.
Video itu terus berlanjut. Dominic dan Giselle berhenti di samping mobil milik pria itu. Mereka berdiri saling berhadapan. Sesaat kemudian terdengar percakapan di antara keduanya.
Semakin lama Vivienne mendengarkan, semakin pucat wajahnya. Napasnya mulai tidak beraturan.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Dominic terasa seperti pisau yang mengoyak hatinya sedikit demi sedikit. Semua perhatian. Semua kasih sayang. Semua pengorbanan yang selama ini ia percaya sebagai bukti cinta. Dalam sekejap berubah menjadi kebohongan yang begitu menyakitkan.
Vivienne teringat bagaimana ia rela menjalani pengobatan berbulan-bulan. Ia rela menahan rasa sakit.
Menahan efek obat. Menahan rasa takut setiap kali menjalani pemeriksaan. Semuanya ia lakukan demi satu impian sederhana, menjadi seorang ibu. Dan semua itu, ternyata terjadi di saat suaminya sendiri menyimpan rahasia yang begitu kejam darinya.
"Dominic ...."
Suara Vivienne nyaris tak terdengar. Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan. Dadanya terasa sesak dan napasnya semakin pendek.
"Kenapa kamu tega melakukan semua ini kepadaku?"
Tubuhnya mulai gemetar hebat. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan sendiri. Ia berusaha tetap tegar. Namun, rasa sakit itu terlalu besar untuk ditahan. Vivienne menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Tega sekali kamu rencana itu kepadaku, Dominic!" Desisnya lirih dengan suara bergetar.
Refleks, tangan kiri Vivienne mencengkeram bagian bawah perut. Rasa nyeri tiba-tiba menjalar. Ia meringis pelan sambil membungkukkan badan.
Melihat keadaan sahabatnya, Estelle langsung berlutut di samping Vivienne. Dia menggenggam bahunya dengan panik.
"Vivi! Kamu tidak apa-apa?"
Vivienne hanya menggeleng pelan. Air matanya terus mengalir. Ia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Yang tersisa hanyalah rasa hancur.
Vivienne mengenal Killian sejak kecil. Mereka memang tidak pernah akur, sering bertengkar, saling mengejek, bahkan hampir setiap pertemuan selalu diwarnai adu mulut.
Namun, Vivienne tahu satu hal. Killian bukan tipe orang yang akan memalsukan bukti hanya untuk menjatuhkannya. Pria itu terlalu sombong untuk melakukan cara serendah itu. Artinya, apa yang baru saja ia lihat memang benar-benar terjadi.
"Brengsek kau, Dominic!"
Suara Estelle memecahkan keheningan. Tangannya menggebrak meja hingga gelas di atasnya bergetar. Wajah wanita itu memerah dipenuhi amarah.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri!"
Killian tetap duduk dengan tenang. Ia melirik Vivienne sekilas, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Sejak dulu, selera laki-lakimu memang buruk," ucapnya pelan dengan senyum mengejek.
Vivienne tidak menjawab.
Killian melanjutkan, "Selalu saja memilih laki-laki yang lemah dan tidak tahu berterima kasih."
Estelle menatap saudaranya tajam. "Kali ini aku setuju dengan ucapanmu."
Estelle kembali menggenggam tangan Vivienne. "Tenang, Vivi. Kamu tidak sendirian."
Nada suaranya kini jauh lebih lembut. Tatapan Estelle berubah tajam.."Aku tidak akan membiarkan Dominic dan perempuan itu hidup tenang setelah apa yang mereka lakukan kepadamu."
Vivienne menundukkan kepala. Air mata terus menetes ke pangkuannya. Matanya merah, rahangnya mengeras, giginya bergemeletuk menahan kemarahan yang terus bergolak di dalam dada.
Vivienne merasa ingin berteriak. Ingin menangis sekeras-kerasnya. Namun, suaranya seolah tertahan di tenggorokan.
Suasana ruang tamu kembali diselimuti keheningan. Beberapa saat kemudian, Killian memecah kebisuan. Tatapannya tertuju lurus ke arah Vivienne. Dengan nada serius, ia bertanya,
"Setelah mengetahui semua ini ...." Pria itu berhenti sejenak, memberi ruang bagi kata-katanya untuk meresap." Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
Vivienne mengangkat wajahnya perlahan. Kedua matanya yang sembap langsung menatap Killian dengan tajam. Tatapan itu dipenuhi kemarahan. Andai tatapan bisa melukai seseorang, mungkin Killian sudah berkali-kali tersungkur.
Vivienne mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dadanya masih terasa sesak setelah melihat video yang diputar Killian. Namun, saat pria itu menyinggung bayi di dalam kandungannya, amarahnya berubah menjadi naluri seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.
"Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi!" bentaknya dengan suara bergetar.
Killian mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"
Vivienne mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya. Kemudian, telapak tangannya berpindah mengelus lembut perutnya yang membesar. Sentuhan itu begitu hati-hati, seolah ia sedang menenangkan bayi kecil yang tumbuh di dalam rahimnya.
"Aku tidak akan menggugurkannya!" ucap Vivienne dengan tegas. "Karena bayi ini tumbuh di dalam rahimku berarti dia milikku."
Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Killian hanya menatapnya tanpa berkedip. Beberapa detik kemudian, sudut bibir pria itu terangkat membentuk seringai tipis.
"Ternyata kamu masih saja bodoh."
Vivienne langsung menatapnya tajam.
"Buat apa mempertahankan sesuatu yang bukan milikmu?" lanjut Killian dengan nada datar. "Cepat atau lambat, kenyataan itu tetap tidak akan berubah."
Kalimat itu terasa seperti pisau yang kembali mengiris luka di hati Vivienne. Air matanya semakin deras mengalir. Namun, ia tetap menggeleng pelan.
"Bukan begitu," bisik Vivienne lirih.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡