Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Tak Terduga
Langit malam Kota Metropolitan tidak pernah benar-benar tidur. Kilau lampu dari gedung-gedung pencakar langit berpendar menembus kaca jendela penthouse mewah milik keluarga Wirya Negara di lantai 30. Dari ketinggian ini, kota tampak seperti hamparan permata yang tenang. Namun, ketenangan di luar itu sangat berbanding terbalik dengan badai kehancuran yang sedang melanda bagian dalam ruangan tersebut.
Rafa Sasmita berdiri mematung di dekat pintu masuk. Napasnya tercekat, seolah oksigen di ruangan seluas lapangan tenis itu tiba-tiba menguap. Sepasang sepatu hak tinggi wanita yang bukan miliknya tergeletak begitu saja di lantai foyer—sebuah pemandangan ganjil yang menyambutnya sepulangnya dari perjalanan bisnis singkat selama tiga hari di luar kota.
Hatinya sempat mencemaskan Evan, suaminya. Ia mengira suaminya kelelahan mengurus proyek besar Negara Group, perusahaan raksasa yang telah ia bantu bangun dari titik nol selama empat tahun terakhir. Selama pernikahan itu, Rafa dengan sukarela menanggalkan kariernya sebagai arsitek penuh waktu menjanjikan demi mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengurus rumah tangga, merawat Evan, dan menjaga nama baik keluarga konglomerat tersebut.
Langkah kaki Rafa yang gemetar membawanya mendekati ruang keluarga yang terhubung langsung dengan bar mini pribadi. Suara tawa renyah bercampur desahan manja terdengar samar, semakin mendekat, semakin menghujam ulu hatinya.
"Kamu ini ada-ada saja, Ev. Kalau istri kamu tiba-tiba tahu bagaimana?" suara perempuan melengking manja terdengar menyayat kesunyian.
"Dia tidak akan tahu. Jadwal penerbangan pulangku besok pagi. Lagipula, biarpun dia tahu, apa yang bisa dia lakukan? Tanpa aku, dia bukan apa-apa," jawab suara bariton yang sangat dikenal Rafa—suara suaminya sendiri, Evan Wirya Negara.
Rafa merasakan dunia di sekelilingnya berputar hebat. Pegangan pada tali tas tangannya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Dengan sisa keberanian yang ada, ia mendorong pintu kaca geser yang sedikit terbuka.
Deg.
Pemandangan di hadapannya meremukkan sisa-sisa kewarasannya dalam satu detik.
Evan, pria yang sangat dicintainya, berdiri tanpa sehelai benang pun di tubuh bagian atas, tengah memeluk erat seorang wanita yang duduk di atas meja bar marmer hitam. Wanita itu adalah Zaskia Mulandari, sosialita muda yang dikenal kerap menghiasi halaman majalah gosip berkat gaya hidup bebasnya. Malam itu, Zaskia mengenakan dress mini transparan berwarna merah menyala yang hampir tidak menyisakan ruang untuk imajinasi. Pakaian itu begitu minim, mengekspos lekuk tubuhnya secara vulgar tanpa secercah rasa risih.
****
Yang membuat lambung Rafa terasa diaduk-aduk bukan hanya fakta perselingkuhan itu sendiri, melainkan cara Zaskia menatapnya. Alih-alih terkejut atau ketakutan karena kepergok basah, Zaskia justru melingkarkan kedua tangannya semakin erat di leher Evan. Senyum penuh kemenangan terukir di bibir merah merekahnya. Dengan sengaja, Zaskia menempelkan dadanya ke dada Evan seraya menjulurkan lidah mengejek ke arah Rafa, menampilkan kemesraan menjijikkan itu tanpa secuil pun rasa malu.
"Oh, lihat siapa yang datang lebih cepat dari jadwal," bisik Zaskia dengan nada suara yang sengaja dibuat mendesah, matanya menatap Rafa penuh meremehkan.
Evan menoleh perlahan. Raut wajah suaminya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Tidak ada kepanikan, tidak ada penyesalan. Yang ada hanyalah tatapan dingin, datar, dan penuh kejenuhan—tatapan yang menyiratkan bahwa kehadiran Rafa di sana adalah sebuah gangguan kecil yang menyebalkan.
"Rafa," ucap Evan datar, seraya merapikan jubah mandinya sekadarnya tanpa benar-benar turun dari posisinya yang mendekap Zaskia. "Kamu rupanya datang kecepatan."
Rafa merasa tenggorokannya kering. Air mata yang mendesak keluar tertahan oleh rasa syok yang teramat sangat. Suaranya tercekat di kerongkongan. "Evan... apa-apaan ini? Zaskia... di rumah kita? Di atas meja kita...?"
Zaskia terkekeh kecil, suara tawa yang terdengar sangat merendahkan martabat seorang istri. "Ayolah, Mbak Rafa. Jangan naif begitu. Di zaman sekarang, pria sukses seperti Evan butuh variasi, bukan cuma istri kaku yang kerjanya cuma bisa diam di rumah dan menghabiskan uang suami."
****
"Tutup mulutmu, Zaskia!" bentak Rafa akhirnya, suara serak penuh amarah meluncur dari bibirnya yang bergetar. Ia menatap tajam ke arah wanita jalang itu. "Ini rumahku! Rumah tangga kami!"
"Rumah tangga?" Evan tiba-tiba menyela dengan nada suara dingin yang mengiris hati Rafa lebih tajam daripada pisau bermata dua. Pria itu melangkah maju, berdiri di hadapan Rafa dengan tatapan penuh kebencian. "Rumah tangga macam apa yang kamu bicarakan, Rafa? Selama empat tahun ini, apa yang sudah kamu berikan selain kehampaan?"
Rafa terpaku. "Aku memberikan segalanya untukmu, Evan! Aku mengorbankan karierku, masa mudaku, seluruh hidupku untuk mengurusmu dan keluarga ini!"
"Pengorbanan?" Evan tertawa sinis, sebuah tawa dingin yang membuat darah Rafa mendidih sekaligus membeku. "Pengorbanan apa? Yang kamu maksud pengorbanan itu adalah ketidakmampuanmu memberikan keturunan? Empat tahun, Rafa! Empat tahun aku dan keluargaku bersabar menunggu rahimmu membuahkan hasil. Tapi apa hasilnya? Nol besar! Kamu mandul! Kamu wanita mandul yang tidak berguna!"
****
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir pria yang pernah berjanji di hadapan altar suci untuk mencintainya dalam suka dan duka. Setiap suku kata dari kalimat itu menghujam jantung Rafa, meremukkan harga dirinya berkeping-keping.
Sebelum Rafa sempat membalas hantaman mental tersebut, suara derap langkah kaki berhak tinggi terdengar menggema dari arah lift pribadi penthouse. Pintu lift terbuka dengan bunyi ding yang nyaring, memunculkan sesosok wanita paruh baya berkalung berlian besar dengan ekspresi wajah penuh amarah membara.
Nena Apriandini, ibu kandung Evan sekaligus ibu mertua Rafa.
Wanita paruh baya itu melangkah masuk dengan angkuh, matanya tajam menatap kekacauan di ruang keluarga sebelum akhirnya mendarat penuh jijik pada sosok Rafa yang tengah gemetar.
"Ada apa ini, teriak-teriak tidak tahu malu?!" bentak Nena dengan suara melengking tinggi, suaranya terdengar melengking bak petasan banting yang meledak secara membabi buta di ruang tamu yang luas itu.
Zaskia langsung memasang wajah melas buatan, bergelayut manja di lengan Evan. "Tante... lihat istri Evan. Dia mendatangi kami dan berteriak-teriak marah, padahal dia sendiri yang tidak bisa becus melayani suami."
Nena mendengus kasar. Ia melotot tajam ke arah Rafa, rahangnya mengeras penuh kebencian yang mendalam. Selama empat tahun pernikahan ini, Nena memang tidak pernah menyukai Rafa. Di mata sang mertua, latar belakang keluarga Rafa yang biasa saja sudah menjadi dosa besar, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Rafa belum juga memberikan cucu laki-laki penerus tahta Negara Group.
"Kamu ini ya, perempuan tidak tahu diuntung!" seru Nena sambil melangkah mendekat dengan langkah berat penuh amarah. "Sudah menumpang hidup di keluarga kaya raya, tidak bisa memberikan keturunan, sekarang malah berani membuat keributan di hadapan anakku dan calon menantuku yang terhormat?!"