NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14 — Naik Kelas

Pertandingan kedua dimulai sebelum roti kering Tri habis.

Bang Somad muncul dari belakang papan skor sambil membawa kartu peserta baru. “Tunduk pada Nasib, kau mau ambil laga berikutnya sekarang atau menunggu sampai orang lupa cara kau mencuri uang mereka?”

Tri menelan cepat. “Berapa?”

“L0 biasa. Hadiah dasar lima ribu. Tapi kalau menang lagi, poinmu cukup untuk tantangan naik.”

“Tantangan naik bayar berapa?”

Bang Somad tersenyum seperti pedagang yang akhirnya mendengar doa. “L1 menang satu laga dua puluh ribu. Kalau kau berani.”

Tri menyimpan sisa roti.

“Panggil lawan.”

Nomor tujuh belas belum sempat dibawa turun dari arena. Teknisi Bengkel Hitam hanya menampar panel bahunya dua kali, menyemprot busa pendingin ke lutut kiri, lalu mengangkat ibu jari.

Perbaikan khas tempat murah.

Tidak membuat aman.

Hanya membuat belum mati.

Tri masuk kembali ke kokpit.

Kali ini penonton tidak lagi tertawa sekeras tadi. Beberapa masih mengejek, tetapi suara mereka punya nada menunggu. Orang-orang suka pendatang baru yang kalah. Mereka lebih suka pendatang baru yang menang dengan cara kotor dan bisa dipertaruhkan.

Lawan kedua naik dari sisi barat.

Mecha itu hitam kusam, badannya lebih padat daripada si Otot Merah Muda. Tidak banyak hiasan. Tidak banyak warna. Kedua bahunya rendah, kedua lengannya pendek dan tebal. Tipe orang yang tidak mengejar pukulan indah, hanya ingin menabrak sampai tulang mesin lawan keluar.

ID di layar:

Palu Batu.

“Nama lebih baik,” gumam Tri. “Mungkin lebih bodoh.”

Pengeras suara menggelegar. “Laga L0, poin sepuluh. Tunduk pada Nasib melawan Palu Batu!”

Lampu turun.

Palu Batu tidak bicara.

Ia langsung maju.

Langkahnya pendek, rapat, berat. Lantai arena bergetar setiap kali telapak besinya turun. Pusat massanya rendah. Tidak mudah dibuat jatuh. Pelindung sendinya juga lebih rapi daripada lawan pertama.

Penonton berseru.

“Hajar dari dekat!”

“Jangan kasih dia pegang sendi!”

Jadi mereka sudah belajar.

Bagus.

Tri menarik tuas kanan. Nomor tujuh belas mundur miring, tidak terlalu jauh. Kalau ia mundur terus, lawan akan menekan sampai dinding. Kalau ia maju terlalu cepat, lengan pendek Palu Batu akan mengunci pinggangnya dan menghancurkan kokpit.

Ia butuh lawan mengira dirinya berhasil.

Palu Batu menabrak.

Tri membiarkan bahu kiri nomor tujuh belas terkena.

Benturan membuat giginya beradu. Panel bahu menjerit. Lampu peringatan baru menyala. Penonton bersorak karena mengira pendatang baru itu akhirnya tertangkap.

Palu Batu mengunci.

Dua lengan pendeknya menekan sisi tubuh nomor tujuh belas, mencoba meremukkan rangka dada. Tekanan Daya Indra naik kasar. Tri merasakan sakit tumpul di belakang mata.

Terlalu dekat.

Tepat.

Ia melepas tangan kiri dari tuas utama, menekan tiga tombol manual di bawah panel, lalu mematikan respon bahu kiri nomor tujuh belas selama satu detik.

Mecha-nya mendadak lemas sebelah.

Palu Batu kehilangan titik tekan.

Pada saat itu, Tri memutar pinggang mesin ke kanan.

Bukan untuk lepas.

Untuk masuk lebih dalam.

Tangan kanan nomor tujuh belas menyelip ke bawah pelindung ketiak lawan, tempat kabel hidrolik kecil menekan dari dalam setiap kali kedua lengan mengunci. Palu Batu punya pelindung luar kuat, tetapi tak ada orang waras yang melapis ketiak dengan pelat mahal.

Tri menarik.

Satu kabel putus.

Palu Batu menggeram. “Tikus!”

“Tikus hidup lebih lama dari palu.”

Tri menekan lutut ke bagian dalam kaki lawan, lalu menarik kabel kedua.

Kunci pelukan Palu Batu melemah.

Nomor tujuh belas menyelip keluar seperti baut longgar dari mesin tua. Begitu bebas, Tri tidak mundur. Ia berputar ke belakang lawan, menendang bagian belakang tumit kanan, lalu memukul sisi pinggang yang baru terbuka.

Kali ini bukan mencabut kristal.

Itu terlalu cepat.

Terlalu mencolok.

Ia hanya merusak penahan beban.

Palu Batu masih bisa berdiri, tetapi setiap kali ia berputar, pinggang kanannya terlambat seperempat detik. Bagi penonton, itu terlihat seperti kelambatan biasa. Bagi Tri, itu seperti pintu yang dibuka dengan sopan.

Ia masuk lagi.

Satu pukulan palsu ke kepala.

Palu Batu mengangkat lengan.

Tri menurunkan tubuh, telapak nomor tujuh belas menekan celah lutut kiri lawan, dua jari masuk, putar seperempat.

KLIK.

Pengunci lutut kiri lepas.

Palu Batu jatuh berlutut.

Sorakan pecah lagi.

“Lagi!”

“Dia melakukannya lagi!”

“Tangan pendatang baru itu kotor!”

Palu Batu mencoba menghantam lantai untuk memantul bangkit. Tri sudah menunggu. Nomor tujuh belas melompat ke samping, menarik pelat bahu kiri lawan yang tadi terbuka saat ia mengangkat lengan.

Pelat itu tercabut setengah.

Sistem keseimbangan lawan merah.

Hitungan mundur muncul.

Palu Batu masih bergerak, tetapi makin ia memaksa, makin sendi yang dilepas bekerja salah. Akhirnya ia berhenti. Satu gerakan lagi bisa membuat kokpitnya ikut terjepit.

“Pemenang, Tunduk pada Nasib!”

Lampu hijau.

Penonton kali ini benar-benar berdiri.

Ada yang tertawa, ada yang mengumpat karena kalah taruhan, ada yang mulai menyebutnya tukang bongkar. Nama itu menyebar lebih cepat daripada asap mesin.

Tri keluar dari kokpit.

Kepalanya lebih pusing daripada laga pertama. Perutnya kosong lagi. Ia mengambil roti kering, lalu berhenti saat melihat layar peserta.

Hadiah laga: 5.000 kredit.

Bonus taruhan: 4.800 kredit.

Potongan perantara: 800 kredit.

Total diterima: 9.000 kredit.

Poin bertambah: 10.

Total poin: 50.

Di bawahnya muncul pemberitahuan baru.

Tantangan promosi tersedia.

Bang Somad berjalan cepat menghampirinya. Matanya bersinar. “Ada peserta L1 yang menerima tantangan cepat. Menang, kau naik L1 malam ini. Hadiah dua puluh ribu. Kalau kalah, kau mungkin masih bisa makan lewat sedotan.”

Tri menatap saldonya.

Sembilan belas ribu dari dua laga.

Belum cukup.

Tidak akan pernah cukup kalau ia berhenti saat angka mulai menarik.

“Ambil.”

Bang Somad menepuk meja. “Aku suka anak miskin. Mereka tidak punya waktu untuk takut.”

“Saya punya waktu,” kata Tri. “Saya hanya menghitungnya mahal.”

Tantangan promosi dimulai sepuluh menit kemudian.

Lawan L1 bernama Badak Besi.

Mecha-nya tidak cepat, tetapi semua bagian depannya keras. Ia bukan tipe yang bisa dibongkar dengan satu tarikan kabel. Sendi pentingnya dilindungi pelat rangkap, dan setiap pelat dipasang untuk menerima hantaman. Orang ini tahu pendatang baru di depannya suka bermain dengan celah.

Tri menyukai lawan yang belajar.

Itu berarti harga kemenangan naik.

Begitu lampu turun, Badak Besi maju dengan langkah menyamping, menutup akses ke lutut dan pinggang. Tinjunya tidak liar. Setiap pukulan membuat Tri mundur setengah langkah. Nomor tujuh belas yang sudah lelah mulai mengeluarkan suara buruk dari dada.

Tekanan Daya Indra naik lagi.

Tri merasakan panas di hidung.

Ia segera menurunkan keluaran.

Tidak boleh mimisan.

Tidak di sini.

Ia mengubah cara main.

Tidak membongkar dari luar.

Ia membuat lawan membongkar dirinya sendiri.

Tri mundur ke sisi arena yang lantainya pernah retak oleh pertandingan sebelumnya. Retakan itu kecil, tertutup debu, tetapi sensor kaki mesin berat akan membacanya terlambat jika datang dari sudut kanan.

Badak Besi menekan.

Tri pura-pura tersandung.

Penonton berteriak.

Badak Besi menerjang untuk mengakhiri.

Kaki kanannya menginjak retakan.

Sensor telapak berkedip.

Hanya satu kedipan.

Tri menghantam sisi lututnya dari bawah.

Pelat rangkap tidak pecah.

Tetapi poros dalamnya menerima beban dari arah yang salah, bersamaan dengan dorongan tubuh Badak Besi sendiri.

KRAK.

Suara itu kecil.

Di kokpit lawan, mungkin terdengar seperti akhir.

Tri menyelip ke samping, menekan bahu Badak Besi, dan membiarkan tubuh besarnya terus maju tanpa lutut yang benar. Mecha berat itu jatuh menabrak dinding pelindung.

Sebelum ia bangkit, Tri sudah berada di punggungnya.

Tiga ketukan.

Satu di pengunci bahu.

Satu di jalur pendingin.

Satu di panel keseimbangan.

Tidak hancur.

Cukup lumpuh.

Hitungan mundur mulai.

Kali ini penonton tidak langsung berteriak.

Mereka melihat Badak Besi yang keras, rapi, dan jelas lebih mahal daripada nomor tujuh belas, terbaring seperti pintu gudang yang engselnya dicabut.

Lalu suara mereka meledak.

“Tunduk pada Nasib!”

“Bongkar!”

“Bongkar!”

Lampu hijau menyala.

Promosi berhasil.

L1.

Tri melepas antarmuka, menahan pusing, dan menerima lembar kredit dari mesin pembayaran. Hadiah dua puluh ribu masuk setelah potongan. Total malam ini cukup untuk mengirim cicilan pertama ke Pak Ilyas dan tetap menyisakan uang makan yang tidak membuat Bu Wening marah jika tahu.

Ia sedang menghitung biaya cat murah untuk menyamarkan nomor tujuh belas saat arena sebelah tiba-tiba sunyi.

Bukan sunyi biasa.

Sunyi orang melihat sesuatu terlalu cepat untuk dipahami.

Tri menoleh.

Di arena timur, sebuah Mecha ringan baru saja menarik busur pendek. Lawannya belum sempat bergerak. Satu kilatan perak melesat, menembus celah bahu, memutus sistem kendali, lalu membuat Mecha lawan jatuh berlutut dalam satu detik.

Layar arena timur menyala.

Pemenang: TepiBaratKarang.

Tri berhenti menghitung.

Mecha ringan itu menurunkan busur.

Dari balik kaca kokpit gelap, seolah-olah ada tatapan yang melewati lampu, penonton, dan dua arena, lalu jatuh tepat pada tangan nomor tujuh belas yang baru saja dipakai Tri membongkar Badak Besi.

Tri mengangkat kepala.

Tatapan itu tidak menghindar.

Bang Somad di belakangnya berkata dengan suara rendah, “Itu bukan lawan L1 biasa.”

Tri menatap ID di layar timur.

TepiBaratKarang.

Ia menyimpan nama itu bersama saldo malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!