Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.
Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.
Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Kemurkaan Sang Dewi Es
Di tepi kolam darah naga yang mendidih, udara terasa begitu kental oleh teror. Tuan Muda Yun Che, pewaris Sekte Pedang Awan Biru yang beberapa saat lalu berkoar dengan arogansi setinggi langit, kini tak lebih dari seekor anjing yang gemetar di bawah tatapan sang algojo.
Melihat tangan Zeng Niu yang terulur meminta cincin penyimpanannya, serta mayat tetuanya yang mengambang santai di kolam darah, pertahanan mental Yun Che hancur total.
"A-Aku akan memberikannya! Aku akan memberikan semuanya! Tolong, Senior, ampuni nyawaku ini!" Yun Che meratap histeris. Dengan tangan bergetar hebat, ia menarik cincin giok dari jarinya. Tetua kedua yang masih hidup di belakangnya pun ikut berlutut, buru-buru melepaskan cincin penyimpanannya sendiri tanpa berani menatap wajah Zeng Niu.
Zeng Niu tersenyum puas. Ia baru saja hendak mengambil cincin-cincin itu.
Namun, tepat pada detik itu...
KRAAAAAAK!
Permukaan kolam darah naga yang mendidih dengan suhu ribuan derajat itu mendadak membeku! Lapisan es biru setebal tiga kaki merambat dengan kecepatan yang tak masuk akal, membekukan darah, dinding fosil, hingga tulang-tulang raksasa di dalam gua tersebut. Suhu anjlok menembus titik nol mutlak, menciptakan badai salju kecil di udara tertutup.
Zeng Niu menghentikan tangannya di udara. Tulang Perak Asura-nya yang biasanya tahan terhadap segala elemen ekstrem tiba-tiba merinding hebat. Bulu kuduk nya berdiri serentak.
Sebuah Niat Membunuh yang jauh lebih dingin dan lebih kuat daripada Niat Ketiadaannya sendiri merembes dari arah belakang.
Zeng Niu menelan ludah pelan, perlahan menoleh.
Zhao Ying melangkah maju dari lorong. Setiap kali ujung sepatu sutranya menyentuh tanah, bunga teratai es mekar di atas bebatuan fosil. Roda Bintang di punggungnya tidak lagi berputar samar, melainkan memancarkan pendaran biru kosmik yang menekan Hukum Langit di dalam Istana Naga itu sendiri!
Mata biru jernih Dewi Es itu kini segelap palung samudra abadi. Hawa amarahnya yang sedari tadi ditahan, kini dilepaskan sepenuhnya.
Melihat ekspresi Zhao Ying, Zeng Niu tanpa sadar mundur satu langkah.
Sebagai seorang asura yang telah membantai ratusan ribu nyawa dan menantang kaisar langit, Zeng Niu tidak pernah mengenal rasa takut. Namun saat ini, insting bertahan hidup prianya menjerit keras. Ia tahu betul, ia tidak berani lagi mencoba menenangkan singa betina yang sedang marah ini.
"Bahkan seorang algojo pun tahu kapan harus diam," batin Zeng Niu sambil mengusap lengannya yang merinding. "Sehebat apa pun kultivasi seorang pria, wanita tetaplah eksistensi yang jauh lebih berbahaya jika sudah benar-benar marah."
Zeng Niu dengan patuh melangkah mundur, memberi jalan sepenuhnya pada Zhao Ying, membiarkan Tuan Muda malang itu menghadapi kiamat yang sesungguhnya.
Yun Che dan tetua yang tersisa menengadah, wajah mereka yang pucat kini berubah menjadi biru akibat radang dingin yang menyerang meridian mereka secara lansung.
Zhao Ying berhenti tepat di depan Yun Che. Ia menatap pemuda itu layaknya menatap setumpuk kotoran di dasar jurang.
"Tadi kau bilang... kau ingin aku membuka kerudungku?" suara Zhao Ying mengalun merdu, namun setiap suku katanya terdengar seperti lonceng kematian. "Kau bilang, kau ingin menjadikanku pelayan pedangmu?"
Yun Che membelalakkan matanya. Hawa dingin dari Niat Ascendant Menengah Zhao Ying langsung membekukan darah di pembuluhnya. Ia bahkan tidak bisa menggerakkan rahangnya untuk memohon ampun, hanya bisa mengeluarkan suara mengerang ketakutan dari tenggorokannya.
"Tidak ada seorang pun di Tiga Puluh Tiga Langit yang berani memintaku melayani mereka," bisik Zhao Ying dingin.
Ia melentikkan jarinya dengan sangat pelan.
CRAT!
Udara di sekitar mulut Yun Che tiba-tiba memadat menjadi ratusan jarum es yang luar biasa tipis. Jarum-jarum itu melesat menembus bibir, pipi, dan lidah Tuan Muda itu, menjahit mulutnya dengan es abadi yang memancarkan rasa sakit luar biasa hingga menembus jiwanya!
"MMPH! MMPHHH!!!" Yun Che berguling-guling di lantai, matanya melotot memancarkan siksaan neraka. Ia mencoba menggaruk wajahnya, namun tangannya pun perlahan mulai membeku.
Tetua kedua dari Sekte Pedang Awan Biru tidak tahan lagi. Ditekan oleh kematian yang begitu mengerikan, akal sehatnya putus. Ia membakar esensi darahnya, berniat melarikan diri menggunakan teknik teleportasi darah.
"Lari?" Zhao Ying bahkan tidak menoleh padanya.
Sang Dewi Es hanya menghentakkan ujung kakinya ke tanah.
WUUUSSSSH!
Sebuah pilar es kosmik meledak dari bawah kaki tetua tingkat Soul Transformation Akhir itu. Pilar itu langsung menembus perut sang tetua, membekukan Dantian, organ dalam, hingga jiwa Nascent Soul-nya dalam seperseribu detik. Sang tetua terhenti di udara, berubah menjadi patung es transparan dengan ekspresi keputusasaan yang membeku abadi.
Zhao Ying kemudian kembali menatap Yun Che yang kini telah berubah menjadi gumpalan es dari leher ke bawah.
"Kau menyukai pedang?" Zhao Ying mengangkat tangannya. Puluhan pedang es bermanifestasi di udara, memancarkan Niat Langit yang menekan. "Kalau begitu, jadilah sarung pedang untuk selamanya."
JLEB! JLEB! JLEB!
Pedang-pedang es itu menghujam tanpa ampun, menembus setiap titik meridian utama di tubuh Yun Che. Pemuda arogan itu tidak langsung mati, melainkan terperangkap dalam status antara hidup dan mati, Dantiannya perlahan-lahan dihancurkan oleh Qi Es Abadi selama seratus tahun ke depan tanpa bisa bergerak atau berteriak!
Setelah menyelesaikan hukumannya, Roda Bintang di punggung Zhao Ying meredup. Suhu di dalam gua perlahan kembali normal, meski kolam darah itu tetap membeku menjadi es merah.
Zhao Ying berbalik, menatap Zeng Niu dengan mata yang sudah kembali jernih dan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kita sudah selesai di sini. Ayo lanjutkan perjalanan," ucap Zhao Ying dengan nada lembut yang biasa.
Zeng Niu menelan ludah, buru-buru mengangguk dengan senyum kaku. Ia dengan cepat memungut dua cincin penyimpanan yang jatuh dari tangan mayat-mayat tersebut, tidak berani berkomentar sedikit pun mengenai kekejaman yang baru saja ia saksikan.
"Catatan untuk diriku sendiri," Zeng Niu membatin sambil berjalan cepat mendahului Zhao Ying. "Jangan pernah, dalam keadaan apa pun, membiarkan orang lain merendahkannya di depanku, sebelum dia yang turun tangan lebih dulu!"
Dua Jam Kemudian — Pusat Naga Primal
Mengikuti petunjuk cahaya dari lempengan tembaga, Zeng Niu dan Zhao Ying terus melangkah menembus labirin pembuluh darah fosil. Semakin dalam mereka masuk, tekanan primordial semakin mencekik. Qi fana sama sekali tidak bisa digunakan di sini; kultivator biasa akan merasa seolah sedang berjalan memanggul sebuah gunung di pundak mereka.
Namun, Tulang Perak Asura Zeng Niu justru merasa seperti ikan yang kembali ke air. Hawa primordial ini terus menekan otot dan tulangnya, memaksanya menyerap sisa-sisa Kristal Kekacauan di Dantiannya dengan lebih cepat.
Akhirnya, lorong fosil itu berakhir di sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari selaput daging yang telah mengkristal.
Gerbang kristal itu telah dihancurkan secara paksa. Pecahan-pecahannya berserakan di tanah.
Zeng Niu menyipitkan matanya. "Ada yang masuk lebih dulu. Dan dilihat dari jejak cakar yang melelehkan kristal ini... ini adalah perbuatan kadal-kadal dari Laut Abadi Utara."
Klan Naga Banjir. Dengan fisik naga yang mereka miliki, mereka memang kelompok yang paling diuntungkan di dalam alam rahasia yang menekan Qi ini.
Zeng Niu dan Zhao Ying melangkah masuk melalui gerbang kristal yang hancur itu.
Pemandangan di baliknya membuat napas mereka sempat terhenti sesaat.
Ini bukanlah rongga gua, melainkan sebuah dunia kecil di dalam dada sang naga! Di tengah-tengah ruang hampa raksasa tersebut, melayang sebuah benda yang besarnya menyamai sebuah kota.
Sebuah Jantung Fosil Raksasa.
Meski telah membatu dan mati selama jutaan tahun, Jantung Naga Primal itu masih memancarkan pendaran cahaya keemasan dari retakan-retakannya. Dari celah-celah tersebut, mengalir turun cairan kental berwarna emas murni yang memancarkan vitalitas kuat.
Itu adalah Sumsum Emas Naga Primal!
Harta yang bisa mengubah fisik siapa pun menjadi dewa!
Namun, di bawah jantung raksasa yang melayang itu, suasana tidaklah damai. Di sebuah pelataran tulang yang sangat luas, sedang terjadi pertempuran berdarah yang mengguncang ruang.
Tiga kelompok kultivator dari berbagai faksi Langit Selatan, yang entah bagaimana berhasil bertahan dari tekanan primordial, kini sedang dikepung dan dibantai.
Pelakunya adalah kelompok Klan Naga Banjir yang dipimpin oleh Tuan Muda Ao Kuang dan Tetua Pelindung tingkat Ascendant mereka, Ao Shan.
Klan Naga Banjir telah memanggil wujud asli mereka. Sepuluh manusia bersisik itu kini telah berubah bentuk menjadi naga-naga banjir berukuran puluhan tombak. Dengan fisik naga mereka, mereka kebal terhadap penekanan Qi di tempat ini dan membantai kultivator fana layaknya harimau di tengah kawanan domba.
"Bunuh mereka semua!" raung Ao Kuang dari atas punggung salah satu naga bawahannya, wajahnya dipenuhi kesombongan dan kegilaan. "Bilik Jantung Naga ini adalah milik Klan Naga Banjir! Esensi leluhur kami tidak akan jatuh ke tangan serangga-serangga fana!"
Tetua Ao Shan, yang berada dalam wujud setengah naga dengan cakar emas raksasa, baru saja merobek tubuh seorang tetua tingkat Soul Transformation Akhir dari faksi musuh menjadi dua bagian, membiarkan hujan darah menyirami pelataran tulang.
Zeng Niu berdiri di ujung pelataran, menyandarkan Nisan Petir Asura-nya di bahu. Ia menyaksikan pembantaian itu dengan senyum yang mulai mekar perlahan.
Darah asuranya mendidih. Sumsum Naga Emas telah ada di depan mata, dan kebetulan sekali, ia melihat sekumpulan kadal gemuk yang bisa ia jadikan bahan pemanasan sebelum menelan harta kosmik tersebut.
"Hei, Kadal Air!" teriakan Zeng Niu yang diperkuat oleh Niat Ketiadaan menggelegar ke seluruh penjuru Bilik Jantung Naga, menghentikan pertempuran sejenak.
Ao Kuang dan Tetua Ao Shan serentak menoleh.
Begitu mata Ao Kuang melihat sosok pemuda berjubah hitam yang berdiri di pintu masuk, wajahnya yang tadinya beringas langsung pucat pasi. Ingatan akan teror saat ia dipaksa bersujud di kedai kembali menghantam benaknya.
"K-Kau... Pemuda Barbar itu!" Ao Kuang menunjuk Zeng Niu dengan tangan gemetar.
Zeng Niu melangkah maju dengan santai.
"Kau masih hidup rupanya. Bagus," Zeng Niu menyeringai biadab. "Karena kebetulan sekali, untuk memurnikan Sumsum Naga Primal di atas sana, aku membutuhkan beberapa darah naga segar sebagai pelarut."
Zeng Niu mencabut pedangnya, petir ungu meledak menentang hukum alam rahasia tersebut.
"Kalian menyerahkan kepala kalian sendiri, atau aku harus memotongnya satu per satu?"