Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Kabar tentang persaingan bisnis antara Vale Group dan Ashford Group dengan cepat menyebar di kalangan siswa Starline High School, mengingat banyak dari mereka berasal dari keluarga-keluarga yang juga terlibat dalam dunia bisnis serupa. Bisik-bisik mulai terdengar di berbagai sudut koridor sekolah.
"Katanya Vale Group bakal jadi saingan berat buat Ashford Group sekarang," bisik salah satu siswa kelas 11 kepada temannya, tidak menyadari Aria yang kebetulan lewat di dekat mereka.
Aria berhenti sejenak, mendengarkan percakapan itu dengan seksama sebelum melanjutkan langkahnya. Sebagai kakak Rean, ia cukup peka terhadap segala hal yang mungkin bisa mempengaruhi kehidupan adiknya di sekolah, termasuk gosip-gosip semacam ini.
Di kelas 10-B, topik serupa juga mulai menjadi bahan pembicaraan, meski dengan nada yang lebih penasaran dibanding provokatif.
"Rean, kudengar keluargamu bakal saingan bisnis sama keluarga Kieran," celetuk salah satu teman sekelas saat istirahat, penasaran ingin tahu lebih lanjut.
"Aku juga baru tahu dari ayahku," jawab Rean jujur, tidak berusaha menyembunyikan apa pun. "Tapi itu urusan bisnis orang tua, kan? Nggak ada hubungannya sama pertemanan kita di sekolah."
Jawaban itu, meski sederhana, cukup untuk meredakan rasa penasaran teman-temannya, mengingat sikap terbuka dan tidak defensif yang selalu ditunjukkan Rean dalam menghadapi berbagai situasi.
Namun tidak semua orang di sekolah memandang situasi itu dengan cara yang sama santainya. Beberapa siswa dari kelompok yang lebih kompetitif mulai mencoba memancing reaksi dari kedua belah pihak, penasaran melihat bagaimana persaingan bisnis keluarga besar itu akan mempengaruhi dinamika sosial di sekolah.
---
Di ruang OSIS, situasi serupa juga mulai dirasakan. Beberapa anggota OSIS yang mengetahui kabar itu memperhatikan interaksi antara Rean dan Kieran dengan rasa penasaran yang tidak sepenuhnya bisa mereka sembunyikan.
"Kalian berdua masih baik-baik aja, kan?" tanya Sophia hati-hati, ketika mereka bertiga kebetulan berada di ruang OSIS bersamaan sore itu.
"Kenapa memangnya?" Kieran mengangkat alis, meski sudah menduga arah pertanyaan itu.
"Ya, soal berita bisnis keluarga kalian," Sophia menjelaskan, sedikit ragu mengungkitnya. "Aku cuma khawatir itu bakal mempengaruhi kerja sama kalian di OSIS."
Kieran dan Rean saling bertukar pandang sejenak, sebelum keduanya hampir bersamaan menggelengkan kepala.
"Itu urusan bisnis orang tua kami," jawab Kieran tegas. "Nggak akan mempengaruhi kerja sama kita di sini."
"Setuju," Rean menambahkan, tersenyum meyakinkan. "Kita di sini kerja bareng buat sekolah, bukan buat kepentingan perusahaan masing-masing."
Jawaban tegas dan kompak itu membuat Sophia tersenyum lega, senang melihat kedewasaan yang ditunjukkan keduanya dalam menyikapi situasi yang berpotensi rumit tersebut.
"Bagus kalau begitu," katanya, kembali fokus pada pekerjaan yang sedang mereka kerjakan bersama.
---
Sepulang sekolah, Rean menceritakan situasi itu kepada Aria yang menjemputnya di gerbang sekolah, mengingat Darius sedang sibuk dengan rapat mendadak terkait pengumuman ekspansi bisnis tersebut.
"Banyak yang nanya-nanya soal itu di sekolah," cerita Rean, duduk di kursi penumpang mobil.
"Wajar, sih," Aria mengangguk, memahami situasi itu dengan bijak. "Berita bisnis besar kayak gini emang selalu jadi bahan omongan, apalagi di lingkungan sekolah elite kayak Starline."
"Tapi aku sama Kieran udah sepakat, itu nggak akan ganggu kerja sama kita di OSIS," jelas Rean, memberi tahu keputusan yang telah mereka ambil bersama.
Aria tersenyum bangga mendengar kedewasaan yang ditunjukkan adiknya. "Bagus, itu sikap yang tepat. Persaingan bisnis itu urusan orang dewasa, kalian nggak perlu ikut terseret ke dalamnya."
Percakapan itu memberi ketenangan tersendiri bagi Rean, meski ia tahu situasi ini mungkin akan terus menjadi bahan pembicaraan di sekolah untuk beberapa waktu ke depan. Namun dengan sikap tegas yang telah ia dan Kieran sepakati bersama, ia merasa cukup yakin bahwa hubungan kerja sama mereka di OSIS akan tetap solid, terlepas dari dinamika bisnis yang terjadi di level yang jauh lebih besar dari kehidupan sekolah mereka sehari-hari.
---
Beberapa minggu setelah kabar persaingan bisnis mereda dari topik hangat di sekolah, sebuah kesempatan muncul yang benar-benar menguji kekompakan Rean dan Kieran sebagai rekan kerja di OSIS — kompetisi debat antar sekolah yang mempertemukan Starline High School dengan beberapa sekolah elite lainnya, termasuk sekolah yang kebetulan menjadi mitra bisnis dekat Ashford Group.
"Kita perlu bentuk tim debat terbaik untuk mewakili sekolah," jelas kepala sekolah dalam rapat khusus yang melibatkan OSIS dan guru pembimbing debat. "Mengingat reputasi sekolah kita dipertaruhkan di kompetisi ini."
Sebagai bagian dari kepengurusan OSIS, Rean dan Kieran ditugaskan bersama untuk mengoordinasikan persiapan tim debat sekolah, sebuah tanggung jawab besar yang mengharuskan mereka bekerja sama lebih intensif dari biasanya.
"Kita perlu susun jadwal latihan yang ketat," kata Kieran, membuka diskusi mereka di ruang OSIS sore itu. "Kompetisinya cuma tiga minggu lagi."
"Aku setuju," Rean mengangguk, mencatat berbagai poin penting. "Menurutmu, siapa aja yang cocok masuk tim?"
Mereka mendiskusikan berbagai kandidat potensial, mempertimbangkan kemampuan berbicara, penguasaan materi, hingga kemampuan berpikir cepat di bawah tekanan — kriteria yang harus dipenuhi calon anggota tim debat sekolah.
"Aria, kakakku, punya pengalaman debat yang bagus," usul Rean, teringat pencapaian kakaknya di kompetisi debat regional sebelumnya. "Mungkin dia bisa bantu jadi pelatih tambahan."
"Ide bagus," Kieran setuju. "Aku juga kenal beberapa siswa kelas 11 yang berpengalaman, bisa kita ajak gabung sebagai mentor."
Kerja sama mereka berjalan lancar, menunjukkan kekompakan yang semakin solid meski di tengah bayang-bayang persaingan bisnis keluarga mereka yang masih menjadi topik pembicaraan di kalangan tertentu.
---
Ketika latihan tim debat mulai berlangsung, Aria bergabung sebagai salah satu pelatih tambahan, membawa pengalamannya sebagai kapten tim debat kelas 11 untuk membantu mengasah kemampuan tim yang lebih muda.
"Argumen kalian masih terlalu lemah di bagian kontra," kritik Aria tegas namun membangun, memperhatikan sesi latihan debat internal yang berlangsung di ruang klub debat.
Kieran, yang ikut mengamati sesi latihan itu, sesekali memberikan masukan teknis terkait struktur argumen, sementara Rean lebih fokus pada koordinasi logistik dan jadwal latihan yang harus tetap berjalan lancar.
"Kalian berdua kerja bagus banget," puji Aria di sela latihan, memperhatikan kekompakan Rean dan Kieran dalam mengelola persiapan tim. "Nggak nyangka kalian bisa sekompak ini."
"Kita cuma fokus sama tujuan yang sama," jawab Kieran sederhana, melirik sekilas ke arah Rean yang sedang sibuk mencatat jadwal latihan berikutnya.
Rean mengangguk setuju, tersenyum tulus. "Lagian, kompetisi ini penting buat sekolah kita, jadi wajar kalau kita kerja sama sebaik mungkin."
Jawaban sederhana itu mencerminkan kedewasaan yang telah tumbuh dalam diri Kieran sejak berbagai pengalaman yang mereka lalui bersama sepanjang semester ini — sebuah bukti nyata bahwa hubungan personal yang tulus mampu mengatasi berbagai tekanan eksternal, termasuk persaingan bisnis keluarga yang sempat mengkhawatirkan banyak pihak di awal kemunculannya.
---
Menjelang malam, ketika latihan tim debat berakhir dan seluruh anggota mulai membubarkan diri, Rean dan Kieran tertinggal sejenak merapikan ruangan bersama.
"Makasih udah kerja bareng seserius ini," kata Kieran, menyusun kursi-kursi yang berserakan kembali ke posisi semula.
"Sama-sama," Rean tersenyum, membantu merapikan sisa perlengkapan latihan. "Aku yakin, kalau kita terus kompak kayak gini, tim kita punya peluang bagus buat menang kompetisi nanti."
Kieran mengangguk setuju, merasakan optimisme yang sama terhadap persiapan tim yang telah mereka kelola bersama dengan penuh dedikasi. Kekompakan mereka, yang dulu terasa mustahil terbentuk di awal semester penuh kecurigaan dan persaingan, kini menjadi bukti nyata bahwa waktu dan pengalaman bersama mampu mengubah dinamika hubungan yang paling rumit sekalipun menjadi sesuatu yang jauh lebih tulus dan saling menghargai.