Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : FAJAR BERDARAH DI OUROBOROS
Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika gerbang besi kediaman Ouroboros terbuka lambat. Suara deru mesin mobil-mobil hitam yang bergerak pelan memecah keheningan pagi yang berkabut.
Di ruang tengah, Elara duduk tenang di kursinya, sementara sang Ayah sudah berada di sana, duduk di sofa utama dengan cerutu yang menyala.
Di sudut ruangan, Adrian berlutut dengan tubuh gemetar dan wajah yang pucat, dijaga oleh dua pengawal bersenjata. Julian berdiri agak jauh di dekat pilar, melipat tangan di dada, siap menyaksikan akhir dari Adrian.
Pintu ganda ruang tengah terbuka.
Dante melangkah masuk. Jas hitamnya tampak sedikit kusut, dan ada cipratan darah kering yang samar di kerah kemejanya.
Langkah kakinya tegap, bergaung di atas lantai marmer, ia menjinjing sebuah kantong kain hitam tebal yang basah di bagian bawahnya.
Dante berjalan melewati Adrian, lalu berhenti di depan Elara.
"Tugas selesai," ucap Dante, suaranya yang berat dan serak.
Ia meletakkan kantong hitam itu di atas lantai dengan bunyi 𝘨𝘦𝘥𝘶𝘣𝘳𝘢𝘬 yang berat.
Semua orang di ruangan itu tahu apa isinya—kepala sang informan, sekaligus tanda bahwa seluruh geng rival di dermaga barat telah dibantai habis tanpa sisa.
Dante kemudian meraba saku jasnya, mengeluarkan sebuah diska lepas, dan menyerahkannya kepada Elara. "Semua bukti digital, rekaman transaksi, dan dokumen jalur logistik yang dicuri oleh tikus ini sudah diamankan."
Elara menerima diska lepas itu, lalu melirik sekilas ke arah ayahnya.
Ayah mengembuskan asap cerutunya perlahan, tatapan matanya beralih ke Adrian. Keheningan yang mengikuti setelahnya jauh lebih menyiksa.
"Adrian," suara sang Ayah menggelegar rendah, dingin dan sarat akan kekecewaan.
"Aku memungutmu dari jalanan, memberimu nama, dan mengizinkanmu mencicipi kemewahan Ouroboros. Dan ini caramu membalas budi?"
"A-Ayah... tolong dengarkan aku..." Adrian merangkak maju, mencoba meraih ujung sepatu ayahnya. "Aku dijebak! Elara—Elara yang merencanakan semua ini untuk menyingkirkanku!"
𝘗𝘭𝘢𝘬
Salah satu pengawal langsung menghantam tengkuk Adrian dengan popor senjata, membuatnya tersungkur mencium lantai.
"Kau menjual jalur barat untuk memuaskan egomu yang kerdil," ucap sang Ayah, bahkan tidak sudi melihat wajah Adrian yang bersimbah air mata. "Dalam organisasi ini, pengkhianat cuma dibayar pakai satu hal. Nyawa."
Adrian langsung lemas, ia tahu tidak ada ampunan dari mulut pria itu.
Namun, sang Ayah menoleh ke arah Elara, seolah memberikan hak sepenuhnya kepada sang putri.
Elara berdiri, menatap Adrian dari ketinggian tempatnya berdiri dengan tatapan kosong, tanpa rasa kasihan sedikit pun.
"Mati terlalu mudah untukmu, Adrian," ucap Elara datar.
"Kau sangat menyukai ruang bawah tanah, bukan? Kau suka menyiksa orang di sana. Ayah, kurasa jalur barat tidak boleh kosong. Biarkan Adrian membersihkan kekacauan di sana... sebagai pelayan tingkat paling bawah tanpa nama. Lucuti semua hak khususnya, kurung dia di sayap bawah tanah, dan pastikan dia bekerja sampai sisa darahnya habis untuk organisasi ini."
Sang Ayah terdiam sejenak, lalu menyeringai tipis, menyetujui hukuman yang jauh lebih menyiksa daripada kematian instan bagi seseorang yang gila hormat seperti Adrian. "Lakukan seperti yang dikatakan Elara. Seret dia keluar dari pandanganku."
"Tidak! Ayah! Elara! Bunuh saja aku! Bunuh aku!!" lolong Adrian histeris saat kedua pengawal menyeret tubuhnya keluar dari ruangan secara paksa. Suara teriakan frustrasinya perlahan menjauh dan menghilang di balik lorong bawah tanah.
Setelah ruangan kembali sunyi, sang Ayah berdiri, menepuk pundak Elara, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan bersama sisa pengawal.
Kini, hanya tersisa Elara, Dante yang kembali berdiri di belakangnya, dan Julian yang masih terpaku di sudut ruangan.
Julian melangkah mendekat, menatap kantong hitam di lantai, lalu beralih menatap Dante dan Elara bergantian.
"Kemenangan yang bersih, Nona Elara. Dan pengawal Anda... dia benar-benar pedang yang mengerikan," ucap Julian, matanya berkilat penuh arti saat menatap Dante, mengakui bahwa ia baru saja melihat bagaimana rantai itu bekerja dengan sempurna.
Elara menatap konsultan itu. "Pertunjukan sudah selesai, Tuan Julian. Kembali ke tugas Anda, atau Anda ingin menjadi penghuni berikutnya di sayap bawah tanah?"
Julian terkekeh rendah, membungkuk hormat, lalu melangkah mundur dan pergi meninggalkan ruangan dengan pikiran yang dipenuhi oleh bayangan Elara yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Saat pintu tertutup, Elara berbalik menatap Dante. Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk merapikan kerah kemeja Dante yang bernoda darah.
"Kamu terluka?" tanya Elara lembut.
Dante membiarkan tangan Elara menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya sendiri yang menggila hanya karena perhatian itu. "Ini bukan darahku, Elara. Aku selalu aman selama aku tahu aku harus kembali kepadamu."
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..