NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17: Langkah Pertama Yoyo Keluar Rumah

Manisnya rasa permen stroberi sore itu terbukti bukan sekadar penawar rasa pahit di lidah Viona, melainkan simbol dari babak baru yang kian merekat di mansion keluarga Oliver.

Efek samping obat penenang yang sempat menyiksa Viona berangsur-angsur hilang dalam waktu semalam.

 Pijatan lembut dari tangan kokoh Oliver dan perhatian detailnya yang tak terduga menjadi suntikan energi yang luar biasa bagi tubuh dan jiwa wanita itu.

Pagi berikutnya, Viona terbangun dengan tubuh yang segar bugar.

Ketika ia melangkah turun ke ruang makan, suasana hangat sudah menantinya.

Oliver, yang biasanya sarapan dalam keheningan yang dingin, kini sesekali menanggapi celotehan Yoyo dengan gumaman lembut atau senyuman tipis yang sangat menawan.

Namun, agenda terbesar hari ini bukanlah tentang bisnis Oliver yang meroket tajam pasca-runtuhnya keluarga Lin, melainkan sebuah rencana besar yang telah dirancang Viona secara matang. Rencana untuk membawa Yoyo melakukan lompatan terbesar dalam hidupnya: melangkah keluar dari gerbang mansion.

"Yoyo,"

panggil Viona lembut setelah sarapan selesai.

Ia berlutut di depan kursi gadis kecil itu, menggenggam kedua tangan mungilnya.

"Hari ini udaranya sangat cerah. Burung-burung camar kertas yang kita tempel di 'Peta Kerajaan Bahagia' kemarin sepertinya ingin melihat burung yang asli di luar. Bagaimana kalau hari ini kita pergi ke taman kota? Kita bisa membawa cookies cokelat yang kita panggang kemarin."

Mendengar kata "taman kota" dan "luar", tubuh Yoyo seketika menegang.

Sendok kecil di tangannya terlepas, berdenting pelan di atas piring marmer.

Ketakutan lama yang sempat mereda kini kembali membayang di mata bulatnya.

 Dua tahun mengurung diri membuat dunia di luar gerbang tinggi rumahnya tampak seperti wilayah penuh monster yang siap merenggut kebahagiaannya.

"Luar... luar rumah?"

bisik Yoyo, suaranya bergetar.

Ia menoleh ke arah Oliver dengan tatapan meminta perlindungan, seolah berharap ayahnya akan melarang ide tersebut.

Oliver, yang bersiap mengenakan jas kerjanya, menghentikan kegiatannya.

Ia menatap putrinya, lalu beralih menatap Viona.

Ada kilatan keraguan di mata elang Oliver. Ia tentu ingin putrinya sembuh, namun ia juga takut jika pemaksaan ini justru memicu kembali trauma masa lalu Yoyo.

Viona menyadari keraguan di antara ayah dan anak itu.

Ia meremas lembut tangan Yoyo, menarik atensi anak itu kembali padanya.

"Yoyo tidak perlu takut. Kita tidak akan pergi sendirian. Ayah juga akan ikut bersama kita. Dan tentu saja, Ksatria Emas akan menjaga di depan."

Goldie, yang mendengar namanya disebut, langsung berdiri dan menegakkan telinganya, mengeluarkan gonggongan rendah yang mantap seolah sedang berkata, “Aku siap mengawal!”

Oliver tertegun mendengar namanya disebut dalam rencana dadakan ini.

Hari ini ia memiliki tiga rapat penting dengan dewan direksi.

Namun, saat ia menatap mata jernih Viona yang memancarkan keyakinan mutlak, dan melihat mata bulat Yoyo yang menatapnya dengan penuh harap, Oliver tahu apa yang harus ia prioritaskan.

"Rapat bisa ditunda atau dilakukan secara daring," ucap Oliver datar, melepaskan kembali kancing jasnya dengan gerakan yang santai namun penuh wibawa.

"Aku akan menyetir sendiri. Kita pergi ke taman yang paling sepi di distrik utara."

Mendengar konfirmasi dari ayahnya, ketegangan di bahu mungil Yoyo sedikit mengendur. Dengan perlahan, anak itu mengangguk.

"Kalau... kalau ada Ayah, Bibi Viona, dan Goldie... Yoyo mau mencoba."

Pukul sepuluh pagi, mobil SUV hitam mewah milik Oliver terparkir di dekat area hijau Taman Distrik Utara.

Viona sengaja memilih tempat ini karena areanya dipenuhi oleh pohon-pohon pelindung yang rindang, hamparan rumput yang luas, dan yang paling penting:

suasananya sangat tenang pada hari kerja.

Pintu mobil terbuka.

Oliver melangkah keluar terlebih dahulu, disusul oleh Goldie yang langsung mengendus udara luar dengan ekor yang mengibas riang. Viona turun kemudian, lalu berbalik untuk membantu Yoyo.

Yoyo berdiri di ambang pintu mobil, kakinya yang mengenakan sepatu bot merah kecil tampak terpaku.

Ia menatap hamparan rumput luas di depannya.

Baginya, melangkah turun dari mobil ini setara dengan melintasi batas dunia yang tidak ia kenal.

Napas anak itu mulai memburu, dan jemari kecilnya mencengkeram erat ujung blus krem yang dikenakan Viona.

"Bibi... di luar sangat luas. Yoyo... Yoyo takut," bisik anak itu, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

Oliver berjalan memutari mobil, lalu berlutut tepat di samping pintu tempat Yoyo berada.

Pria bertubuh tegap itu mengulurkan tangan kanannya yang besar dan kokoh.

"Yoyo, tatap Ayah," perintah Oliver lembut namun penuh kekuatan.

Yoyo menatap ayahnya.

"Dua tahun lalu, Ayah gagal menjaga Ibumu. Tapi hari ini, di sini, Ayah bersumpah dengan nyawa Ayah sendiri bahwa tidak akan ada satu hal buruk pun yang bisa menyentuhmu. Pegang tangan Ayah."

Viona ikut mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Yoyo yang sebelah lagi.

"Bibi juga ada di sini, Sayang. Mari kita ambil langkah pertama kita bersama-sama. Satu... dua... tiga."

Dengan dukungan dua kekuatan besar di hidupnya, Yoyo akhirnya menggerakkan kaki kecilnya.

"Tap."

Sepatu bot merahnya menyentuh rumput hijau yang basah oleh embun pagi.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, kaki Yoyo merasakan permukaan bumi di luar rumahnya.

Begitu kakinya menapak sepenuhnya, tidak ada monster yang datang menyerang.

Tidak ada suara benturan yang menakutkan.

Yang ada hanyalah embusan angin sejuk yang membelai wajahnya dan aroma tanah serta rumput yang sangat segar.

Yoyo mengerapkan matanya, lalu sebuah senyuman perlahan terbit di wajah gembilnya.

"Bibi... rumputnya dingin dan empuk!"

Viona tidak bisa menahan rasa harunya.

Air mata kebahagiaan mengalir di pipinya saat melihat putrinya akhirnya berhasil memecahkan kutukan traumanya sendiri.

Ia berlutut dan memeluk Yoyo erat-erat.

"Iya, Sayang! Dunia luar itu sangat indah. Yoyo sudah menjadi putri yang paling berani hari ini."

Goldie melompat riang di sekitar mereka, menggonggong gembira seolah merayakan kemenangan sang Putri Kecil.

Oliver berdiri tegak di samping mereka, menatap pemandangan itu dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa lega dan syukur.

Batu besar terakhir yang menyumbat hatinya selama dua tahun ini kini benar-benar telah dihancurkan oleh keberanian putrinya dan ketulusan wanita yang ada di depannya.

Mereka menghabiskan dua jam berikutnya di bawah pohon yang rindang.

Viona menggelar tikar kotak-kotak merah, menata kotak berisi cookies cokelat buatan mereka dan botol minum hangat.

Yoyo, yang awalnya hanya berani duduk di dekat Viona, perlahan-lahan mulai berani mengejar Goldie yang berlari membawa bola di atas rumput.

Suara tawa renyahnya yang lepas menggema di taman yang sunyi, menciptakan simfoni kehidupan yang begitu dirindukan Oliver.

Oliver duduk di atas tikar di samping Viona, bersandar pada batang pohon dengan satu kaki yang ditekuk.

Jas kerjanya sudah ia lepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku.

Matanya tidak pernah lepas dari sosok Yoyo yang sedang tertawa bersama Goldie di kejauhan.

"Aku tidak pernah membayangkan hari ini akan benar-benar datang,"

 ucap Oliver tiba-tiba, suaranya rendah dan terdengar sangat pribadi di tengah embusan angin taman.

Viona menoleh, menatap profil samping wajah tampan Oliver yang kini tampak begitu rileks.

"Setiap kesembuhan membutuhkan waktu, Oliver. Yoyo hanya butuh alasan yang cukup kuat untuk merasa aman, dan hari ini, kamu memberikan alasan itu padanya melalui janjimu tadi."

Oliver memalingkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata jernih Viona.

Jarak di antara mereka begitu dekat hingga Viona bisa mencium aroma maskulin kayu cendana yang bercampur dengan kesegaran udara taman.

"Bukan hanya karena janjiku, Viona,"

ujar Oliver serius, tangannya terulur perlahan, menggenggam jemari tangan Viona yang berada di atas tikar.

Genggamannya hangat, posesif, dan penuh dengan emosi yang tak lagi disembunyikan.

"Alasan terbesar Yoyo berani melangkah keluar adalah karena ada kau yang memegang tangannya yang lain. Kau yang menanamkan fondasi rasa aman itu di rumah kita selama sebulan ini."

Jantung Viona berdegup kencang mendengarkan kata "rumah kita".

 Sentuhan tangan Oliver di jemarinya menyalurkan getaran manis yang membuat pipinya merona hangat di bawah sinar matahari siang.

"Aku hanya melakukan apa yang ku bisa, Oliver..." bisik Viona tulus.

 "Karena melihat Yoyo bahagia, jiwaku juga merasa utuh kembali."

Oliver tersenyum—sebuah senyuman penuh yang sangat menawan dan langka.

Pria itu mempererat genggaman tangannya, lalu menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Viona hingga wanita itu bisa merasakan embusan napasnya yang hangat.

"Kau sudah melakukan lebih dari cukup, Nyonya Oliver. Langkah pertama Yoyo hari ini adalah bukti bahwa kau bukan lagi sekadar pelindung kontrak. Mulai hari ini, aku tidak akan membiarkanmu berpikir untuk pergi dari hidup kami, bahkan setelah kontrak satu tahun itu berakhir."

Mendengar deklarasi mutlak dari sang tirani dingin, Viona merasa seluruh dunianya dipenuhi oleh rasa manis yang tak terukur.

Di bawah rindangnya pohon ek dan tawa lepas Yoyo yang berkari di atas rumput, langkah pertama keluar rumah hari ini bukan hanya menjadi kemenangan atas trauma masa lalu, melainkan awal dari ikatan suci yang sesungguhnya—di mana lembaran kertas kontrak telah terbakar habis oleh cinta yang nyata dan mutlak di antara mereka bertiga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!