Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab⁷
Erwin berdiri mematung di ambang pintu, jas mahal yang masih melekat di tubuhnya bahkan belum sempat dilepas. Tatapannya bergantian menatap kedua anaknya yang menangis sambil memeluk kedua kakinya, lalu beralih kepada Davina yang berdiri beberapa meter di hadapannya dengan penampilan yang benar-benar berantakan.
Rambut wanita itu tampak pendek sebelah seperti digigit tikus. Riasan wajahnya luntur hingga maskara mengalir di pipi, sementara gaun krem yang dikenakannya basah dan dipenuhi noda hitam bekas air pel.
Untuk beberapa detik, Erwin hanya terdiam. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi di rumahnya.
"Papa..." Laura terisak sambil memegang pipinya yang masih terasa perih. "Tante Davina pukul Laura..."
"Tante juga dorong adek... Huwaaa..." Lionel yang berdiri di samping sang kakak ikut menangis tersedu-sedu.
Mata Erwin langsung tertuju pada pipi Laura, bekas lima jari yang memerah terlihat sangat jelas di kulit putih putrinya. Rahang Erwin mengeras, Ia berjongkok lalu mengusap lembut pipi Laura.
"Sakit?"
Laura mengangguk pelan sambil terus menangis. "Sakit, Pa...."
Entah mengapa, dada Erwin tiba-tiba terasa sesak. Selama ini, Naura bahkan tidak pernah sekalipun membentak kedua anak mereka, apalagi sampai mengangkat tangan. Sementara baru sehari Naura pergi, putrinya sudah mendapat tamparan.
Erwin perlahan berdiri, tatapannya kini mengarah lurus kepada Davina. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Mas, mereka yang mulai duluan!" Davina yang sejak tadi menahan emosi langsung meledak.
Wanita itu menunjuk rambutnya yang sudah rusak. "Lihat ini! Rambutku digunting sampai begini! Lalu mereka menyiramku pakai air bekas pel! Gaunku rusak! Make-up-ku juga hancur!"
"Anak-anak Mas benar-benar keterlaluan!" Davina berbicara dengan nada tinggi sambil menunjuk kedua anak itu bergantian.
Laura spontan memeluk kaki Erwin lebih erat.
"Kami cuma..."
Belum sempat gadis kecil itu menyelesaikan kalimatnya, Davina kembali memotong. "Mereka bohong! Mereka sengaja mau membuatku marah! Aku sudah berusaha sabar dari pagi, Mas. Aku membujuk mereka makan, mengajak mereka bermain, tapi mereka malah mengerjaiku! Apa salahku?"
Erwin tidak langsung menjawab, Ia justru memanggil salah seorang pelayan yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan.
"Diono."
Pria paruh baya itu tampak terkejut dipanggil.
"Ya, Tuan."
"Ceritakan semuanya."
"Untuk apa tanya pelayan?" Davina langsung menoleh tajam. "Aku sudah menjelaskannya padamu, Mas."
Erwin tetap menatap Diono. "Aku ingin mendengar dari orang yang melihat langsung."
Pelayan itu tampak ragu, tatapannya bergantian mengarah kepada Erwin dan Davina. Ia tahu, apa pun yang dikatakannya bisa membuat salah satu dari mereka marah.
"Ada masalah?" tanya Erwin lagi.
Diono menelan ludah. "Maaf, Tuan... saya takut."
"Tidak usah takut, aku yang bertanggung jawab."
Mendengar kalimat itu, Davina mulai gelisah.
Diono akhirnya menarik napas panjang. "Memang benar, Non Laura menggunting rambut Nona Davina. Dan Tuan kecil Lionel menyiram air bekas pel."
Davina langsung mengangguk cepat. "Nah, kan!"
"Tapi... mereka melakukan itu setelah..." Diono kembali ragu.
"Setelah apa?" Erwin mulai kehilangan kesabaran.
"Setelah Nona Davina memaksa mereka memanggil beliau Mama."
Deg.
Laura mengusap air matanya, wajahnya memerah karena menangis. "Tante bilang Mama sudah nggak ada di rumah ini, jadi kami harus panggil Tante dengan sebutan Mama. Aku nggak mau, aku cuma punya satu Mama."
Suara serak gadis kecil itu membuat hati para pelayan ikut terasa sesak.
"Iya... Mama kami cuma Mama Naura." Lionel yang masih terisak mengangguk kuat. “Kami nggak mau Mama lain."
"Itu... hanya bercanda." Wajah Davina berubah pucat.
"Bercanda?" Erwin menatap tajam.
Davina buru-buru mengangguk. "Aku hanya ingin mereka cepat dekat denganku, supaya nanti lebih mudah."
"Lebih mudah untuk siapa?" Erwin mengembuskan napas panjang.
Davina terdiam.
Erwin kembali menatap Diono. "Lanjutkan."
"Setelah itu, Non Laura menangis. Dan Tuan Lionel juga ikut menangis, mereka tidak mau sarapan karena menunggu Nyonya Naura menemani." Pelayan itu kembali berbicara.
Erwin perlahan mengepalkan tangan, bayangan Naura yang setiap pagi bangun lebih awal demi menyiapkan sarapan untuk anak-anak tiba-tiba muncul di kepalanya. Selama ini, Ia menganggap semua itu sebagai hal yang biasa. Kini, setelah Naura pergi barulah ia sadar... tidak semua orang mampu menggantikan peran seorang ibu.
"Terus?" tanya Erwin pelan.
Diono menundukkan kepala. "Setelah Nona Davina di-prank oleh anak-anak... beliau kehilangan kesabaran. Beliau menampar Nona Laura, lalu mendorong Tuan kecil Lionel. Sebenarnya kami ingin melerai, Tuan. Tapi... kami tidak berani. Karena Nona Davina melarang siapa pun ikut campur."
Wajah Erwin kini benar-benar berubah dingin. Ia memandang Davina cukup lama hingga wanita itu mulai merasa tidak nyaman.
"Mas, aku benar-benar emosi. Mereka membuatku kehilangan kesabaran. Aku juga manusia biasa, enggak mungkin aku diam saja."
Erwin menatap kedua anaknya yang masih menangis, lalu kembali menatap Davina. Dengan suara rendah yang justru terdengar lebih menyeramkan, ia kembali berujar. "Davina, mereka memang salah karena mengerjaimu. Tapi, mereka tetap anak-anak. Sementara kau... adalah orang dewasa."
Davina membeku, karena sejak menjalin hubungan terlarang dengan Erwin, untuk pertama kalinya pria itu tidak membelanya. Pria itu bahkan menatapnya dengan kekecewaan yang begitu jelas.
Dan Laura, gadis kecil itu diam-diam menggenggam tangan adiknya. Meski pipinya masih terasa sakit, dalam hati gadis kecil itu hanya memiliki satu harapan.
Mama... cepat pulang.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂