Nial Percy adalah seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—Gadis cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Apa yang seharusnya menjadi pertemuan tanpa makna justru menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit. Cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan kilau lembut di atas lantai kayu penthouse.
Perlahan, Queen membuka matanya. Sedetik kemudian, mata cantiknya langsung membelalak sempurna.
Nial tidur menyamping tepat di hadapannya, dengan satu lengan kekar yang mengunci pinggang Queen erat - erat. Masalahnya bukan hanya pelukan itu, melainkan fakta bahwa Nial sama sekali tidak mengenakan baju. Pria itu bertel@njang dada, memamerkan lekuk dada bidang dan perut berototnya yang terekspos begitu nyata dalam jarak sedekat ini.
"Sudah kuduga ... pria mesum ini memang tidak bisa dipercaya," Queen bergumam sangat pelan.
Nial tersenyum. "Selamat pagi, Sweetheart."
Mata elangnya perlahan terbuka, menatap Queen dengan binar geli yang teramat pekat. Ternyata pendengaran pria itu terlalu tajam untuk melewatkan gumaman barusan.
Deg!
Seketika Queen tersentak. Refleks, ia langsung melepaskan diri dari dekapan hangat pria itu, lalu mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang.
"Kau ... kenapa tidak pakai baju?!"
Nial tidak langsung menjawab. Ia mengubah posisinya menjadi telentang, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil menatap ekspresi panik Queen dengan wajah teramat lempeng.
"Mau mengecek CCTV?"
Kening Queen mengernyit dalam. "Apa?"
"Biar kau tahu," Nial menjeda kalimatnya, sengaja melirik lengannya sendiri lalu kembali menatap Queen dengan binar menggoda, "Siapa yang semalam merosot masuk ke dalam dekapanku, lalu memelukku duluan. Saking eratnya pelukan itu, aku terpaksa harus melepas bajuku karena sesak."
Skakmat.
Queen seketika merutuki dirinya sendiri dalam hati. Wajah cantiknya langsung memanas dengan rona merah yang menjalar ekstrem hingga ke ujung telinga.
Jadi kali ini, ia juga yang memulai?
"C—CCTV apa?" Queen tertawa. Ia buru - buru menyibak selimut dan turun dari ranjang sebelum otaknya semakin berputar ke mana - mana. "Aku ... aku mau mandi!"
Nial tersenyum tipis melihat wanitanya salah tingkah—sementara Queen melangkah setengah berlari menuju kamar mandi tanpa berani menoleh lagi ke belakang.
"Queen Lexian! kau dengan percaya diri membuat batasan, tapi kau sendiri juga yang melanggarnya." Queen memukul pelan kepalanya. Malunya luar biasa.
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat dan suara gemercik air mulai terdengar, Nial langsung merubah posisinya. Aura santai dan jenaka di wajahnya menguap dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi sedingin es saat ponsel di atas nakas bergetar intens.
Drrt.
Nial menyambar ponsel itu, lalu menggeser layar tanpa ragu.
"Hm," gumam Nial, menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Semua sudah siap," suara bariton Rayden terdengar dari seberang saluran, terdengar formal namun efisien. "Saya sudah mengumpulkan semua berkas dan menyiapkan apa yang anda minta.
Nial berdiri, berjalan perlahan menuju jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota Paris. Rahangnya mengeras samar, menatap tajam ke luar seolah sedang menyusun bidak catur di kepalanya.
"Bagus. Tahan dulu," titah Nial. "Jangan biarkan media menciumnya sedikit pun untuk saat ini. Keluarkan jika aku sudah memerintahkannya."
"Baik, Tuan." Rayden paham, keputusan Nial sudah final. Sebagai tangan kanan pria itu, ia hanya perlu menunggu.
•••
Ruang Makan
Aroma harum mentega, panggangan roti, dan kopi segar yang pekat langsung menyapa indra penciuman Queen begitu ia melangkah keluar dari area kamar. Di atas meja makan marmer yang panjang, berbagai hidangan sudah tersaji rapi—mulai dari croissant hangat, pancake dengan buah beri segar, hingga omelet lembut.
Nial yang sudah rapi mengenakan kemeja hitam kasual, berdiri di dekat meja.
"Aku tidak tahu pasti apa sarapan favoritmu, jadi aku meminta pelayan untuk menyiapkan beberapa menu," Nial melangkah mendekat, menuntun Queen duduk di kursi, lalu menunduk sedikit untuk mengecup singkat pipi wanitanya. "Cepat dimakan."
Queen tersenyum. "Ini terlalu berlebihan, Nial. Tapi terima kasih."
Hening kemudian merajai ruang makan mewah itu.
Nial dan Queen fokus pada makanan masing - masing. Hanya ada denting garpu dan pisau yang beradu pelan dengan piring.
Hingga akhirnya, suara berat Nial memecah keheningan.
"Setelah makan, bersiaplah. Aku akan mengantarmu pulang."
"Hm?" Queen menghentikan gerakan garpunya, "Sekarang? Maksudku ... ini bahkan belum ada dua puluh empat jam."
"Ya, aku tahu. Aku punya urusan di luar yang akan memakan waktu sedikit lama." jemari Nial bergerak maju untuk mengusap punggung tangan Queen yang berada di atas meja.
"Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian di penthouse ini, Sweetheart. Kupikir, akan lebih aman jika kau sudah berada di rumah kakakmu saat urusanku dimulai."
"Baiklah," jawab Queen lirih, memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya. Ia hanya bisa menerima.
Nial menyunggingkan senyum. "Kau akan meminta bertemu denganku secepatnya."
"Maksudmu?" dahi Queen berkerut dalam. Jelas bingung dengan ucapan Nial yang ambigu.
"Jangan dulu dipikirkan," Nial sengaja menggantung kalimatnya. Ia mengambil sapu tangan sutra dari atas meja dan mengusap sudut bibirnya. "Sekarang, habiskan makananmu, sweetheart."
Meskipun rasa penasaran melingkupi dada Queen, ia terpaksa menuruti kata - kata mutlak pria itu. Setelah sarapan yang mendadak terasa hambar karena diselimuti teka - teki selesai, mereka pun bersiap untuk pergi.
•••
Keheningan yang tidak biasa mengiringi perjalanan mereka membelah jalanan kota Paris yang masih dilapisi salju tipis.
Di balik kemudi, Nial tampak begitu tenang. Pria itu fokus menatap jalanan di depan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Sikap ini jelas berbanding terbalik dengan Nial beberapa jam lalu di kamar tidur—pria yang sempat mengeraskan rahang dan protes keras karena tidak terima Queen ingin buru - buru pulang.
"Nial." Tak tahan lagi dengan keanehan yang mencekik ini, Queen akhirnya memutuskan untuk bertanya.
Nial menoleh sekilas, "Hm?"
"Kau ... sakit?"
Tanpa menunggu persetujuan, tangan mungil Queen langsung terangkat, menempelkan punggung tangannya di atas dahi Nial lalu berpindah ke leher pria itu, mengecek suhu tubuh sang CEO. Siapa tahu pria ini mendadak demam hingga kepribadiannya tertukar.
Merasakan sentuhan tiba - tiba itu, Nial langsung tertawa kecil. Ia menangkap tangan Queen, mengecup telapak tangannya sekilas sebelum mengembalikannya ke pangkuan wanita itu.
"Tidak, Sweetheart, jangan khawatir. Aku sangat sehat."
"Kalau begitu, boleh aku tahu urusan apa yang akan kau kerjakan setelah mengantarku pulang?" tanya Queen lagi.
Satu alis tebal Nial terangkat tinggi, tampak terhibur dengan interogasi pagi ini. "Urusan penting."
"Ya, apa?" cecar Queen, semakin tidak sabar karena terus - menerus diberi jawaban abu-abu. "Kau tidak biasanya membiarkanku pulang secepat ini tanpa protes."
"Aku akan memberitahumu nanti," sahut Nial santai, kembali fokus pada jalanan di depan dengan seulas senyum tipis.
Otak Queen langsung berputar cepat. Hanya ada satu kesimpulan konyol yang melintas di kepalanya.
"Kau ... selingkuh, ya?"
Citt!
Mobil mewah itu sempat sedikit oleng sebelum Nial langsung mengendalikan setirnya kembali dengan mulus. Pria itu menginjak rem di lampu merah, lalu menoleh ke arah Queen.
"Apa?" Nial benar - benar terkejut. Matanya membelalak samar, menatap Queen seolah wanita itu baru saja mengatakan bahwa bumi itu kotak. "Apa kau bilang?"
"Kau mendadak membiarkanku pulang dan bilang punya urusan penting," tuduh Queen, melipat tangan di dada dengan wajah bersungut-sungut. "Siapa tahu kau mau menemui wanitamu yang lain setelah menyingkirkanku dari penthouse."
Nial mendengus ketat. Seringai miringnya kembali muncul, pekat dan sarat akan dominasi yang sangat khas seorang Nial Percy. Ia memajukan tubuhnya, mengurung jarak di antara mereka di dalam kabin mobil yang sempit, membuat Queen refleks memundurkan kepala.
"Selingkuh?" Nial mengulang kata itu dengan nada rendah yang bergetar seksi. Jari telunjuknya bergerak mencolek dagu Queen yang mengerucut sebal. "Satu wanita keras kepala sepertimu saja sudah sukses membuatku kehilangan akal sehat dan kurang tidur. Untuk apa aku menambah beban hidup dengan mencari wanita lain, hm?"
Wajah Queen seketika merona merah mendapat balasan frontal itu.
Nial mengacak rambut Queen gemas, lalu kembali menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi saat lampu berubah hijau. "Lagipula, seleraku sudah terlalu tinggi karena kau. Jadi singkirkan pikiran bodoh itu dari kepalamu."
udah seminggu belum update😂😂😂😂
lanjut thor🥰🥰🥰
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰