Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Warok memanggul keranjang anyaman berisi rempah dan tanaman obat, lalu melangkah lebar meninggalkan lokasi pertarungan. Jangkrik mengekor di belakang, namun benaknya masih dipenuhi oleh bayangan empat orang berjubah hitam tadi.
Mereka mampu bergerak dengan sangat rapi dan terukur. Mereka tidak panik saat melancarkan serangan, dan bahkan ketika memutuskan untuk mundur, mereka melakukannya secara serempak tanpa celah.
Jangkrik akhirnya membuka suara untuk memecah keheningan. "Warok."
"Hm?"
"Kalau tadi kau mau, kau sebenarnya bisa membunuh mereka berempat, kan?"
Warok tidak langsung menjawab. Ia baru angkat bicara setelah melangkah beberapa tindak. "Bisa."
"Lalu kenapa justru dilepas?"
"Kau ingat tiga pembunuh bayaran yang kita hadapi siang tadi?" Warok balik bertanya.
Jangkrik mengangguk. "Waktu itu kau membunuh mereka semua tanpa sisa."
"Karena mereka hanya segerombolan anjing liar," ujar Warok sembari menatap lurus ke jalan setapak di depan. "Yang barusan kita hadapi berbeda. Mereka adalah anjing yang memiliki tuan."
Jangkrik mulai menangkap arah pembicaraan gurunya. "Kalau mereka dibiarkan hidup... mereka pasti akan kembali melapor kepada tuannya."
Warok mengangguk puas. "Tepat. Kadang-kadang, dalam pertempuran, jauh lebih berguna membiarkan seekor tikus pulang dengan selamat ke sarangnya."
Sebuah senyuman tipis terukir di wajah Jangkrik. Ia mulai memahami cara berpikir taktis gurunya yang selalu memperhitungkan langkah ke depan.
Hari sudah benar-benar gelap ketika mereka tiba kembali di gubuk terpencil mereka. Warok tidak segera beristirahat. Pria perkasa itu justru memeriksa sekeliling, lalu menutup rapat semua pintu dan jendela kayu gubuk.
Setelah memastikan situasi aman, ia mengambil pisau lempar bergambar gagak yang diselipkannya di sabuk, lalu meletakkannya di atas meja kayu. Jangkrik mendekat, memperhatikan senjata itu dengan saksama.
"Apakah pisau itu memiliki keistimewaan?" tanya Jangkrik penasaran.
Warok mengangguk pelan. "Lihat ukirannya baik-baik."
Jangkrik mencondongkan tubuhnya. Baru sekarang ia bisa melihat detailnya dengan jelas di bawah temaram cahaya pelita. Burung gagak itu diukir dengan sangat halus pada bilah baja. Namun, yang menarik perhatian adalah sepasang matanya yang dihiasi dua titik merah kecil yang berkilau.
"Batu delima?" tebak Jangkrik.
"Bukan." Warok menyangkal.
Pria itu kemudian mengambil ujung belati kecil miliknya, menggores sedikit ibu jarinya sendiri, lalu mengoleskan setetes darah segar tepat ke atas sepasang mata burung gagak tersebut.
Sesaat kemudian... *Klik!*
Sebuah suara mekanisme yang sangat pelan terdengar dari dalam gagang pisau. Jangkrik membelalakkan mata saat melihat bagian pangkal gagang itu mendadak terbuka, memperlihatkan sebuah rongga rahasia. Di dalamnya, tersimpan gulungan kertas yang sangat kecil dan tipis.
Warok mengeluarkan gulungan itu dengan perlahan menggunakan ujung jarinya. "Surat rahasia..." gumamnya dengan suara berat.
Jangkrik ikut merapat, membaca deretan tulisan di dalamnya yang hanya terdiri dari beberapa kalimat pendek namun mencengangkan:
> *Cari "Pusaka Naga Tidur".*
> *Jangan biarkan Warok Ponorogo mendapatkannya.*
> *Bunuh siapa pun yang mengetahui letaknya.*
>
Ruangan gubuk mendadak sunyi senyap. Hanya ada suara kayubakar yang sesekali meletup di perapian. Jangkrik memandang gurunya dengan dahi berkerut. "Apa itu Pusaka Naga Tidur?"
Warok menggulung kembali surat kecil itu dengan ekspresi datar. "Aku tidak tahu."
"Kalau kau tidak tahu, lalu kenapa mereka secara spesifik menyebut namamu di surat ini?"
Warok terdiam cukup lama. Tatapan matanya mendadak menerawang jauh menembus dinding gubuk, seolah sedang menggali kembali sepotong masa lalu yang telah lama ia kubur dalam-dalam. "Aku pernah mendengar nama pusaka itu..."
"Dari siapa?"
"Guruku."
Jangkrik tersentak terkejut. Selama bersamanya, Warok hampir tidak pernah menyinggung sedikit pun tentang asal-usul atau masa lalunya. "Kau... punya guru?"
Warok melirik muridnya dengan tatapan tajam yang mengintimidasi. "Tentu saja. Tidak ada orang di dunia ini yang lahir lalu bisa langsung menyandang gelar Warok."
Jangkrik mengangguk paham. "Lalu... di mana gurumu sekarang?"
Warok tersenyum hambar, sebuah lengkungan dingin di sudut bibirnya. "Sudah mati."
"Karena usia tua?"
"Bukan," jawab Warok tenang. "Aku yang membunuhnya."
Jangkrik tertegun di tempatnya berdiri. Namun, entah mengapa, jawaban yang terdengar kejam itu justru terasa sangat masuk akal bagi dunia hitam yang mereka jalani.
Warok kemudian berjalan menuju perapian dan duduk bersila di depannya. "Di dunia kami, seorang murid yang telah berhasil melampaui kemampuan gurunya harus mengambil nyawa sang guru. Itulah tradisi tertinggi sekaligus akhir dari sebuah pewarisan ilmu."
Jangkrik menatap kobaran api yang menari-nari di depannya. Dalam hati, ia membatin dengan keyakinan penuh, *'Kalau begitu... memang sudah menjadi takdir seorang murid untuk membunuh gurunya.'*
Warok seolah mampu membaca isi pikiran bocah di hadapannya. "Tapi, jangan salah paham. Membunuh guru bukanlah sebuah tujuan akhir. Itu hanyalah akibat." Pria itu menjeda kalimatnya sejenak. "Tujuan sejati seorang murid adalah menjadi yang paling kuat."
Jangkrik mengangkat wajahnya. Sorot matanya kini kembali dipenuhi oleh tekad yang membara. "Kalau begitu... aku akan menjadi murid terbaik yang pernah kau miliki."
Warok menatapnya, lalu tersenyum puas. "Karena kau ingin menjadi yang terkuat?"
Jangkrik menggelengkan kepala dengan tegas. "Bukan. Karena aku ingin memastikan bahwa akulah orang yang nantinya akan mengubur jasadmu."
Keheningan sempat menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Namun, sesaat kemudian, tawa menggelegar Warok kembali pecah, mengguncang dinding-dinding gubuk tua mereka.
"Hahahahaha! Bagus! Itu baru muridku!"
Di luar gubuk, angin malam bertiup semakin kencang dan dingin. Di kejauhan, seekor gagak hitam terbang melintasi langit malam tanpa suara, membelah kegelapan.
Tak seorang pun dari mereka yang menyadari bahwa di balik rimbunnya dahan pohon tertinggi yang mengawasi gubuk, sepasang mata misterius sedang mengintai gerak-gerik mereka dengan saksama. Sosok misterius itu berbisik pelan pada kegelapan, "Jadi... Warok sudah mulai bergerak. Kabarkan segera kepada Ketua. Permainan menuju Pusaka Naga Tidur... telah resmi dimulai."
Selesai berbisik, bayangan hitam itu pun melompat dan menghilang, melebur bersama kepekatan malam.