Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjanjian di saat paling mendesak
Aslan terdiam lama, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberanian untuk bertanya hal yang paling berat di dunia. Akhirnya suaranya terdengar pelan, penuh kerinduan yang tak bisa disembunyikan:
“Lalu bagaimana Ayah dan Ibu sekarang?”
Pertanyaan itu menghantamku seketika, membuatku tersentak hebat dan menoleh cepat. Udara di ruangan itu terasa mendadak berat dan sesak, seolah tak ada cukup oksigen untuk bernapas. “Pasti… mereka baik-baik saja di sana,” jawabku terbata-bata, memaksakan senyum meski hatiku hancur berkeping-keping, lalu segera menunduk cepat agar ia tak melihat air mata yang mulai menggenang di mataku. Tak berani menatapnya lama — takut ia melihat kebohongan yang tertulis jelas di mataku.
Aslan diam saja, menatapku lekat dalam diam. Dari sorot matanya yang sayu dan memerah, terlihat jelas rasa sakit dan kemarahan yang ia simpan sendirian, rapat dan terkunci — seolah ia sudah tahu, seolah ia hanya menunggu aku mengakuinya.
Aku bangkit perlahan, menatapnya sejenak dengan rasa bersalah yang menyesakkan dada, lalu melangkah keluar. Menutup pintu sangat pelan, seolah takut membangunkan kenyataan pahit yang sedang tidur di dalam sana. Setiap langkah terasa terseret beban tak terlihat, pikiran berputar kacau tanpa henti: Apakah Ayah dan Ibu benar-benar masih hidup? Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu secepat ini? Apakah ada jalan lain?
Saat tanganku hendak memutar gagang pintu menuju halaman, bahuku ditepuk keras dari belakang. Berputar cepat — itu perawat, wajahnya penuh kecemasan.
“Keluarga pasien Aslan?”
Jantung berdegup kencang penuh ketakutan, seolah tahu kata-kata berikutnya akan mengubah segalanya. “Benar, kakaknya! Ada apa? Adikku kenapa?!”
“Ikut segera ke ruangan, harus segera ditangani,” jawabnya singkat namun tegas. Aku berlari mengikuti langkahnya yang cepat dan cemas. Di sana, Aslan meringis hebat di atas ranjang, kedua tangannya mencengkeram kepala dengan kuat, menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
“Sakit sekali… kepalaku, Kak… sakit sekali…” suaranya terengah, penuh penderitaan yang menyayat hati.
Aku mendekat, tubuh gemetar hebat. “Lan, katakan bagian mana yang sakit! Bertahan sebentar ya, Kakak di sini!”
Tiba-tiba tangannya menepis pelukanku cukup kasar, matanya terpejam rapat menahan sakit. “Pergi Kak… tinggalkan aku sendiri!”
Aku terpaku, bingung bercampur ketakutan luar biasa. Apa yang salah dengannya? Mengapa ia menolakku? Tak lama kemudian dokter datang, memeriksa dengan teliti dan serius, lalu keluar ruangan untuk berbicara denganku. Aku segera mengejarnya dengan langkah tak stabil.
“Operasi harus dilakukan hari ini juga,” ucapnya tegas dan serius, tak ada ruang untuk menawar. “Jika ditunda, nyawanya terancam nyata. Setiap jam yang berlalu memperkecil peluangnya untuk selamat.”
Kaki lemas tak bertenaga mendengarnya, seolah tanah di bawah kakinya runtuh. Dokter menepuk pundakku pelan — penuh simpati namun tak berdaya — lalu pergi meninggalkanku sendirian di lorong yang panjang dan dingin.
Perawat menyusul, berdiri di sampingku dengan nada lembut namun tak bisa ditawar. “Segera selesaikan administrasi pembayaran di pendaftaran agar tim siap operasi. Kami akan menunggu.”
Langkahku terhuyung menyusuri lorong yang terasa tak berujung, dada sesak berat seolah tertindih batu raksasa. Enam ratus juta… angka itu kini terasa jatuh ke jurang terdalam tanpa dasar — bukan lagi nanti, bukan lagi besok, tapi hari ini. Tanpa sadar aku keluar dari gedung, duduk sendirian di bangku taman rumah sakit yang sepi, menangis dalam diam di pagi yang cerah namun terasa kelabu bagiku. Bingung, lelah, tak berdaya — sejenak aku tak peduli tatapan orang lewat. Memejamkan mata rapat, berdoa dalam hati dengan segala sisa kekuatan yang tersisa: Tuhan, tunjukkanlah jalan yang tak terduga. Aku tak tahu lagi harus ke mana.
Masih menunduk dalam, membiarkan air mata mengalir bebas membasahi pipi, hingga sepasang sepatu kulit hitam mewah yang berkilau muncul tepat di hadapanku. Perlahan aku mengangkat kepala — dan seketika seluruh dunia di sekitarku hening total.
Di sana berdiri sosok tinggi menjulang — sekitar seratus sembilan puluh dua sentimeter. Tubuhnya tegap dan kokoh, bahu lebar namun luwes; kemeja putih yang tersetrika rapi memperlihatkan garis otot yang jelas — bukan tenaga kasar, melainkan ketegasan yang terlatih sejak lama, terkontrol dan mematikan namun memukau.
Wajahnya… belum pernah kulihat yang seindah dan sekuat ini. Rahang tegas namun garisnya lembut, kulit putih halus seperti porselen bersih yang tak ternoda. Alis cokelat keemasan tebal dan rapi, membingkai sepasang mata biru jernih seperti es abadi — tajam dan menembus, namun entah mengapa tersimpan kelembutan yang tak terduga, menembus sampai ke dasar hatiku yang paling dalam. Hidung lurus dan mancung, bibir berwarna merah muda alami yang tenang dan berwibawa — membuatku sesak napas hanya dengan memandangnya. Rambut pirang keemasan bergelombang halus sedikit berantakan secara alami, justru menambah ketenangan dan karisma yang menyelimuti segalanya. Seolah ia berasal dari dunia yang belum pernah kukenal — dunia yang penuh kemegahan, kekuasaan, dan rahasia.
Siapa dia? Orang berpengaruh penting? Kenapa berhenti tepat di depanku? Apa yang sebenarnya dicari?
Belum sempat berpikir lebih jauh, suara yang berat dan tenang terdengar jelas — sopan namun penuh kedalaman yang tak bisa diukur:
“Selamat pagi. Bolehkah saya meminta sedikit waktumu?”
Jantung berdegup liar tak terkendali. Suara ini… persis sama dengan penolongku semalam di lorong gelap. Benar-benar dia? Bahkan postur dan ciri-ciri lain persis seperti yang kuingat samar-samar — sosok yang menyelamatkanku, lalu menuduhku, lalu membiarkanku pergi.
“Eh… selamat pagi, Tuan. Maaf, ada keperluan penting menemui saya?” jawabku pelan dan terbata-bata, segera menunduk cepat karena malu dan canggung di hadapan sosok yang begitu sempurna sementara aku tampak berantakan seperti ini.
Jawabnya lugas namun tetap sopan, matanya tak lepas dari wajahku seolah sedang menghafal setiap inci dariku:
“Mungkin kau lupa pertemuan semalam, tapi aku tak melupakannya. Langsung saja: aku ingin mengajakmu menyepakati sebuah perjanjian. Ikutlah sebentar, tempatnya benar-benar aman bagimu.”
Perjanjian?
Keraguan menyelimuti seketika. Dia sopan, tenang, berwibawa — tapi tetap orang asing yang baru kukenal kemarin. Jangan-jangan ada jebakan tersembunyi di balik senyum tenangnya? Jangan-jangan ini cara lain untuk menindas dan memanfaatkanku? Namun kuatkan hatiku — aku tak mudah tertipu. Jika ada yang aneh, pasti tahu kapan harus mundur. Entah kenapa, meski akal penuh curiga dan takut, sesuatu di dalam hatiku berbisik pelan namun tegas — aku harus percaya dan mengikuti langkah pria ini. Dia adalah satu-satunya keajaiban yang datang saat semua pintu tertutup rapat.