Semua benda di dunia memiliki harga.
Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.
Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.
Yang diberikannya hanyalah... diskon.
Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.
Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.
Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.
Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Wajah Huang Ruoxi seketika pucat mendengar suara ayahnya yang semakin mendekat. Dia menoleh panik ke arah Lin Liu, matanya melebar penuh kecemasan yang jarang dia tunjukkan sepanjang pertemuan mereka.
"Cepat sembunyi," bisiknya tegang, mendorong Lin Liu ke balik rak handuk besar di sudut ruang tunggu itu, sesaat sebelum pintu terbuka menampilkan sosok ayahnya yang berdiri dengan alis terangkat curiga.
"Kau bicara dengan siapa tadi, Ruoxi?" tanya ayahnya, matanya menyapu ruangan kecil itu dengan teliti.
"Tidak dengan siapa-siapa, Ayah. Aku hanya menelepon teman," Huang Ruoxi menjawab cepat, suaranya berusaha terdengar setenang mungkin meskipun jantungnya berdegup kencang.
Ayahnya menatapnya lama, tidak sepenuhnya percaya, namun akhirnya menghela napas dan mengangguk. "Cepat kembali. Om Liu Feng sudah menunggu, dan jangan sampai kau membuatnya menunggu lebih lama lagi. Pertunanganmu bulan depan itu penting untuk kelangsungan bisnis keluarga kita, jangan sampai kau merusaknya dengan sikap kekanak-kanakanmu."
"Iya, Ayah," jawab Huang Ruoxi datar, meskipun matanya menunduk menyembunyikan kekesalan yang tertahan.
Begitu ayahnya berbalik pergi, Huang Ruoxi menghela napas lega, bersandar ke pintu yang baru saja tertutup. Lin Liu keluar perlahan dari balik rak handuk, wajahnya menunjukkan keprihatinan yang tulus.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Lin Liu pelan.
"Aku baik-baik saja," Huang Ruoxi menjawab cepat, meskipun suaranya sedikit bergetar. "Ini bukan pertama kalinya ayahku memaksakan sesuatu padaku."
"Kalau kau tidak mau dijodohkan, kenapa tidak bilang langsung ke ayahmu?" Lin Liu bertanya, meskipun dia tahu pertanyaan itu mungkin terlalu naif.
Huang Ruoxi tertawa getir, tatapannya kosong menerawang ke arah lantai. "Kau pikir semudah itu? Bisnis keluargaku sedang di ambang kebangkrutan. Pernikahan ini satu-satunya cara ayahku menyelamatkan perusahaan, dengan modal dari keluarga Liu Feng. Aku hanyalah alat tukar dalam kesepakatan itu."
Lin Liu terdiam, tidak menyangka di balik kemewahan yang tampak dari luar, gadis di hadapannya menyimpan beban yang tidak kalah berat dari masalahnya sendiri. "Itu tidak adil untukmu."
"Hidup memang tidak pernah adil," Huang Ruoxi menjawab pelan, sebelum kembali memasang topeng angkuhnya, seolah tidak ingin terlihat rapuh lebih lama lagi. "Sudah, jangan bahas ini lagi. Ingat pelajaran yang kuberikan tadi, dan jangan pernah muncul di depanku dengan penampilan norak lagi."
Dia melangkah keluar ruang tunggu itu dengan kepala tegak, namun sebelum benar-benar pergi, dia berhenti sejenak, menoleh ke arah Lin Liu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Terima kasih sudah menemaniku tadi, meskipun cuma sebentar," katanya pelan, hampir seperti bisikan, sebelum buru-buru berbalik dan menghilang di balik pintu, seolah malu telah mengucapkan kalimat yang terlalu jujur itu.
Lin Liu berdiri sendirian di ruang tunggu kecil itu, pikirannya dipenuhi bayangan wajah Huang Ruoxi yang berubah-ubah antara angkuh, rapuh, dan tulus dalam waktu singkat. Dia menghela napas, menatap pantulan dirinya di cermin ruang tunggu itu.
Tiba-tiba layar biru itu muncul lagi.
...[MISI "JEJAK YANG HILANG": Rp2.450.000 / Rp15.000.000]...
...[WAKTU TERSISA: 289:14:22]...
Lin Liu menatap angka itu, menghela napas panjang menyadari betapa jauhnya jarak antara dirinya dan target yang harus dia capai. Namun di tengah keletihan itu, dia merasakan sesuatu yang baru—sebuah tekad yang lebih kuat dari sebelumnya, seolah pertemuannya dengan Huang Ruoxi hari ini telah menyalakan sesuatu dalam dirinya yang selama ini padam.